Oleh Aunur Rofiq
Faktor pendorong kemajuan Indonesia masih bertumpu pada sesuatu yang menjadi kekhususan (endowment factor), yakni sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara lain di dunia.
Abad ke-21 diyakini akan menjadi momentum kebangkitan ekonomi Asia. Dimotori oleh dua raksasa, China dan India, Asia akan menjadi pusat perhatian dunia. Jika abad ke-19 menjadi kebangkitan ekonomi Eropa, abad ke-20 milik Amerika Serikat, kini di abad ke-21 akan menjadi milik Asia.
Faktor pendorong kebangkitan ekonomi Asia adalah industrialisasi, urbanisasi, dan perdagangan dunia yang tumbuh pesat sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, seperti di China dan India.
Menurut laporan Goldman Sachs, dari negara anggota BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China), China dan India diperkirakan akan menjadi negara terbesar nomor satu dan tiga di dunia pada 2050, dan menjadi rival dari G-7.
Menurut laporan Standard Chartered dalam The Super Cycle Report (2010), China akan menjadi negara adidaya ekonomi pada 2020, negara ekonomi terbesar di dunia, dan India akan menjadi kekuatan ekonomi nomor tiga di dunia pada 2030, menggeser Jepang dan Jerman.
Optimisme yang tinggi tersebut telah menumbuhkan rasa percaya diri bangsa Asia lainnya, khususnya emerging economy, bahwa mereka juga bisa bangkit. Semua ingin menjadi bagian dari kebangkitan Asia, termasuk Indonesia.
Survei yang dilakukan McKinsey Global Institute (2012) menyebutkan Indonesia berpotensi menjadi negara maju, setidaknya akan tercapai pada tahun 2030. McKinsey Global Institute juga memperkirakan ekonomi Indonesia menjadi terbesar ketujuh dunia pada 2030 mendatang. Sementara Komite Ekonomi Indonesia (KEN) memperkirakan Indonesia menjadi negara maju menuju lima besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030.
Menurut McKinsey Global Institute (2012), ada beberapa faktor yang mendorong Indonesia menjadi negara industri maju, di antaranya sebagai berikut.
Pertama, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai paling stabil di dunia. Kesimpulan itu juga diperkuat oleh laporan Bank Indonesia bahwa perekonomian Indonesia paling stabil di dunia dalam periode empat sampai lima tahun terakhir.
Kedua, sekitar 90 persen pertumbuhan ekonomi nasional berasal dari wilayah di luar Jawa. Jadi, pertumbuhan ekonomi ini bukan hanya terjadi di Jawa atau Jakarta.
Ketiga, sekitar 11 persen ekspor komoditas berasal dari sektor nonmigas. Ini membantah mitos bahwa model pertumbuhan dalam negeri didominasi ekspor.
Keempat, pemakaian sumber daya sudah berkurang, bahkan sudah berkurang hingga 7 persen. Ini juga membantah bahwa sumber daya adalah penopang utama perekonomian.
Kelima, sekitar 60 persen pertumbuhan ekonomi ditopang oleh peningkatan produktivitas. Ini juga membantah bahwa pertumbuhan ekonomi hanya dari pertumbuhan angkatan kerja.
Landasan untuk Maju
Menurut McKinsey Global Institute (2012), jika diproyeksikan menjadi negara maju pada 2030, Indonesia perlu waktu 85 tahun untuk bisa menjadi negara maju. Sementara Inggris perlu waktu 250 tahun untuk bisa menggandakan produk domestik brutonya menjadi negara industri maju. Namun, China hanya perlu 12 tahun untuk melipatgandakan PDB-nya menjadi negara industri maju.
Kondisi perekonomian Indonesia dan sumber daya pendukungnya memang berbeda dengan negara lain sehingga diperlukan orientasi pembangunan yang berbeda dengan negara lain yang memiliki corak dan sumber daya perekonomian yang berbeda.
Indonesia tidak mengikuti strategi ekonomi sebagaimana negara maju lainnya karena Indonesia memiliki strategi sendiri yang lebih cocok yang tidak terlalu menekankan ekonomi berorientasi ekspor yang biasanya ditempuh oleh negara lain, seperti Malaysia, Singapura, China, dan Jepang.
Faktor pendorong kemajuan Indonesia masih bertumpu pada sesuatu yang menjadi kekhususan (endowment factor), yakni sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara lain di dunia. Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang merupakan input produksi dalam penciptaan nilai tambah produksi. Letak geografisnya juga di jantung perdagangan Asia Pasifik sehingga Indonesia memiliki peluang memanfaatkan rantai produksi global.
Selain karena Indonesia masih bertumpu pada faktor sumber daya alam, Indonesia tumbuh dengan ditopang oleh besarnya konsumsi domestik yang besar. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dan memiliki kelas menengah yang terus tumbuh sehingga menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi agar setara menjadi negara maju. Kelas menengah ini akan menyumbang produktivitas ekonomi hingga 2040.
Di masa mendatang, pertumbuhan kelas menengah baru kian besar. McKinsey Global Institute memperkirakan pada tahun 2030 pertumbuhan kelas konsumen Indonesia menjadi 135 juta dari 45 juta penduduk yang saat ini berpendapatan 3.600 dollar AS per kapita per tahun. Sementara menurut Bank Dunia, 50 persen penduduk Indonesia masuk kategori kelas menengah dengan pengeluaran maksimal 20–22 dollar AS per hari. Hal itu akan terus meningkat hingga 2040.
Indonesia memiliki populasi muda urban yang pertumbuhan pendapatannya sangat kuat. Pada 2000–2010, produktivitas tenaga kerja yang tumbuh 60 persen diyakini mampu mencapai target pertumbuhan PDB sebesar 7 persen. Kondisi tersebut menguntungkan di tengah turunnya produktivitas negara maju yang sudah masuk “aging society” atau perubahan populasi akibat banyaknya usia lanjut. Di Amerika, usia lanjut mencapai 20 persen, di Eropa sekitar 15 persen. Bahkan di China sedang menuju aging society karena program satu keluarga satu anak.
Untuk memanfaatkan itu, salah satu peran penting adalah memanfaatkan jasa keuangan agar dapat diakses seluruh masyarakat. Terlebih, saat ini, baru 50 persen masyarakat yang memiliki rekening tabungan. Untuk akses kredit juga baru dinikmati 30 persen dari total produk domestik bruto. Negara tetangga seperti di Thailand sudah mencapai 75–80 persen, sementara kita baru 30 persen.
Selain itu, untuk memacu perekonomian ekonomi domestik, Indonesia harus memperkuat pasar domestik sekaligus memacu keunggulan daya saing berbasis sumber daya alam. Ada empat sektor potensial yang akan menopang laju perekonomian Indonesia di masa mendatang, yakni pelayanan konsumen atau jasa, pertanian dan perikanan, sumber daya alam, serta pendidikan. Potensi pasar domestik pada empat sektor itu akan meningkat dari 0,5 triliun dollar AS menjadi 1,8 triliun dollar AS.
Pada 2010 sampai 2030, tingkat konsumsi akan tumbuh 7,7 persen per tahun, meliputi saving and investment (10,5 persen per tahun), food and beverage (5,2 persen per tahun), leisure (7,5 persen per tahun), apparel (5 persen per tahun), education (6 persen per tahun), transportation (4,6 persen per tahun), housing and utilities (4,5 persen per tahun), telecom (4,7 persen per tahun), personal items (5,3 persen per tahun), dan health care (6,2 persen per tahun).
Tantangan Indonesia menjadi negara industri maju sangat bergantung pada kemampuan bangsa kita sendiri dalam mengeliminasi berbagai hambatan sekaligus kemampuan meningkatkan daya saingnya.
Indonesia harus menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru yang disertai dengan kemajuan dari sisi sisi human capital, teknologi, dan peningkatan jumlah pengusaha (wirausaha). Pemerintah juga harus meningkatkan peran sektor fiskal, sektor keuangan, dan iklim bisnis yang mampu mendorong pertumbuhan dunia usaha. Tantangan dunia usaha akan makin berat jika dukungan sektor keuangan dan perbankan masih tidak efisien.
Sementara itu, dunia usaha, hingga kini, masih dicengkeram berbagai masalah strategis yang menghambat daya saingnya. Aturan bisnis masih sering kali berubah, bahkan banyak regulasi di daerah dan nasional yang justru menghambat kemajuan dunia usaha. Ketertiban hukum dan keamanan bisnis juga belum terjamin serta banyaknya pungli.
Kestabilan ekonomi juga rentan dipengaruhi ekonomi global, seperti tampak dari kondisi perekonomian terkena dampak pengaruh global yang menyebabkan terjadinya defisit neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan.
Rendahnya kemampuan membangun infrastruktur ikut melemahkan daya saing bisnis. Dampaknya investasi asing di Indonesia banyak didominasi sektor sumber daya alam, sementara investasi asing di sektor manufaktur hanya membidik pasar domestik, bukan berorientasi ekspor.
Rendahnya dukungan perbankan terhadap kemajuan sektor usaha kecil dan menengah menyebabkan struktur industri lemah dalam mendukung daya saing. Sementara dunia industri dihadapkan pada rendahnya tenaga kerja terlatih, padahal dengan tenaga kerja yang terdidik dan produktivitas tenaga kerja sudah sering dikeluhkan oleh dunia industri. (Sumber: KoranJakarta.Com, 22 Mei 2013)
Tentang penulis:
Aunur Rofiq, Ketua DPP PPP Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan/ Praktisi Bisnis Pertambangan dan Perkebunan

KOMENTAR TERBARU