Posts Tagged 'Ibnu Burdah'

Serangan Darat Lawan ISIS

Oleh Ibnu Burdah

Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) benar-benar telah jadi sumber ancaman terbesar bagi dunia saat ini. Aksi teror di Jakarta, Paris, Tunisia, Amerika Serikat, Arab Saudi, Yaman, Nigeria, dan lainnya menunjukkan luasnya pengaruh kelompok keji ini. Celakanya, perang terhadap “pusat” ISIS di Irak dan Suriah hingga kini tak membuahkan hasil yang signifikan.

Sejauh ini, kekuatan-kekuatan negara besar tak bersedia menerjunkan kekuatan daratnya untuk terlibat langsung dalam perang melawan ISIS. Amerika Serikat pemimpin koalisi sejumlah negara sejak awal menolak opsi itu. Para analis menduga, hal itu diakibatkan pengalaman buruk mereka di Irak. Akan tetapi, sangat mungkin ada alasan lain.

Yordania, Rusia, Turki, dan Prancis yang begitu geram juga tak mengirimkan pasukan darat untuk bertempur langsung melawan ISIS. Padahal, keterlibatan mereka dalam perang dipicu oleh kemarahan yang luar biasa. Pemerintah dan rakyat Yordania geram atas pembunuhan keji seorang pilot pejuang mereka dengan cara dibakar hidup-hidup dalam kerangkeng. Rusia geram karena pesawat sipil mereka dijatuhkan di Sinai, Mesir, yang memakan korban ratusan jiwa.

Prancis juga marah karena aksi brutal ISIS di sejumlah tempat strategis dan simbolik di ibu kotanya. Turki juga geram setelah meledaknya bom di Kota Suruc yang menewaskan korban sipil dalam jumlah besar. Bagaimana dengan Indonesia? Saya kira Indonesia tak akan terlibat sejauh itu setidaknya dalam waktu dekat ini.

Negara-negara yang dihajar serangan bom ISIS ini “hanya” melakukan serangan melalui udara bersama sejumlah kekuatan internasional dan kawasan yang lain. Koalisi 34 negara Islam versi Saudi juga belum menunjukkan arah ke situ. Mereka tidak mengirimkan pasukan darat.

Iran yang merupakan musuh ideologis ISIS dan yang sehaluan juga tak melakukan hal serupa. Mereka hanya mengirimkan para ahli strategi dan bantuan-bantuan secara terbatas kepada Pemerintah Irak dan para milisi Syiah, tidak menerjunkan kekuatan darat secara langsung.

Praktis, kekuatan yang berperang di darat hanyalah kekuatan militer Irak yang belum lama dibangun, “milisi” Peshmarga Kurdi, dan milisi-milisi Syiah dan oposisi yang juga saling berperang, dan kabilah-kabilah pendukung. Tak ada kekuatan darat yang besar untuk menghadapi negara ISIS yang memiliki kemampuan persenjataan kuat, militansi pengikut yang seolah tanpa batas, dan penguasaan teknologi modern yang luar biasa.

Penolakan hampir seluruh negara besar kawasan dan internasional untuk mengirim pasukan darat menyisakan tanda tanya serius. Apa sesungguhnya yang membuat mereka tak mau mengirimkan pasukan daratnya? Padahal, kegeraman mereka dan keinginan bersama untuk melenyapkan ISIS dari muka bumi sudah demikian besarnya.

Abdul Bari’ ‘Athwan, Pemred al-Quds al-Araby dan Ra’y al-Yawm, membuat analisis yang sangat mengejutkan, tetapi masuk akal. Peneliti yang saat ini paling banyak dirujuk terkait Tandzim Alqaidah dan ISIS ini mengaitkan sikap negara-negara besar itu dengan kemampuan persenjataan ISIS.

Dalam bukunya al-Dawlah al-Islamiyah: al-Judzur, al-Tawakhkhush, al-Mustaqbal (2015), ia menyebut adanya kemungkinan kuat negara horor ini memiliki senjata nonkonvensional. Bahkan, dengan menilik kemampuan para pakar teknologi yang dimiliki negara ini, mereka dimungkinkan juga memiliki ahli yang memiliki pengalaman memproduksi senjata-senjata nonkonvensional.

Hal ini memang cukup logis. Sebab, penguasaan berbagai wilayah, seperti Mosul, Karkuk, dan sebagainya disertai dengan penguasaan gudang-gudang senjata Pemerintah Irak. Mereka juga berhasil merebut gudang senjata di Libya. Mereka juga diyakini memiliki senjata-senjata berat canggih, bahkan pesawat tempur yang memadai.

Dari sisi sumber daya manusia, mereka tak diragukan lagi. Di samping para ahli militer bekas pentolan militer masa Saddam Husein, para pengikut dan simpatisan ISIS ternyata juga meliputi orang-orang yang memiliki kemampuan teknologi canggih.

Salah satu contohnya adalah ketua bidang media mereka, Ahmad Abu Samra, warga Suriah kelahiran Paris yang dikenal sebagai jebolan MIT dan pakar di bidang teknologi informasi. ISIS diyakini memiliki pakar dalam berbagai bidang strategis itu dalam jumlah yang memadai. Dan mereka di pos yang tepat dan dengan perencanaan dan tanggung jawab yang jelas sebagaimana layaknya di sebuah negara modern.

Analisis Abdul Bari ‘Athwan itu barangkali ada benarnya. Negara-negara besar dan kawasan menolak terlibat langsung dalam perang darat akibat kalkulasi kepemilikan ISIS atas senjata berbahaya itu. Sebab, kepemilikan terbatas atas senjata nonkonvensional oleh kelompok yang demikian keji tentu sangat mengerikan.

Keselamatan tentara dalam jumlah besar akan menjadi taruhan. Oleh karena itu, sebagian besar negara kawasan dan internasional memilih opsi serangan udara secara terbatas.

Sebagian besar serangan udara itu pun tak menyasar target-target ISIS. Ada target lain dari setiap aktor di kawasan dalam kampanyenya melawan ISIS. Turki dituduh hanya menyasar pasukan Kurdi, padahal pasukan ini berada di garda depan melawan ISIS. Suriah dan Rusia dituduh lebih banyak menyerang kelompok oposisi untuk mempertahankan Assad daripada menyerang ISIS. Insiden penembakan pesawat Rusia oleh Turki jelas akan memperburuk situasi ini.

Demikian pula negara-negara Arab yang terlibat, condong mengadang laju Hizbullah dan milisi Syiah, padahal dua kekuatan terakhir ini adalah pasukan yang sangat militan dalam perang melawan ISIS. Jadi, benar-benar ruwet.

Tanpa ada kekuatan darat yang memadai dan barisan yang cenderung terpecah, harapan untuk segera melenyapkan negara teror ini semakin kecil. Sebab, kekuatan ini sudah cukup lama menguasai wilayah teritorial yang demikian luas, mengeksploitasi sumber daya alamnya terutama minyak secara maksimal, membangun sistem pertahanan sedemikian rupa di tengah-tengah jutaan warganya, dan merekrut semakin banyak kombatan yang tak hanya terkonsentrasi di Suriah dan Irak Utara, tapi juga menyebar ibarat sel di hampir semua negara di dunia.

Semua sumber daya ekonomi dan manusia itu tentu dioptimalkan pertama-tama untuk mempertahankan diri mereka dari serangan musuh yang mengepung dari segala arah baik darat, “laut”, maupun udara. (Sumber : Republika, 19 Januari 2015).

Tentang penulis :
Ibnu Burdah, Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Koordinator S2 dan S3 Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Kekuatan Bahasa Arab

Oleh Ibnu Burdah

JURJI Zaydan dalam bukunya al-Lughah al- Arabiyyah Kain hay mendefinisikan bahasa sebagai ka’in hay (entitas atau organisme yang hidup). Kekhawatiran akan masa depan bahasa Arab yang hari ini diperingati hari internasionalnya (18 Desember) menjadi perhatian serius para pengambil kebijakan dan ahli di negara-negara Arab dan sebagian dunia muslim. Diskusi, seminar, serta publikasi mengenai hal ini juga kerap terdengar dari kawasan itu terutama dalam konteks ’’al-nahdhah’’, kebangkitan Arab.

Keterpinggiran bahasa Arab tidak lepas dari sejarah yang panjang. Kekalahan demi kekalahan imperiumimperium Arab-Islam membawa dampak signifikan terhadap nasib bahasa itu. Bahasa Arab tak lagi menjadi bahasa pemerintahan dan birokrasi imperium-imperium besar. Ini tentu berdampak sangat luas terhadap posisi masyarakat yang saat itu didominasi kehidupan politik dan militer. Yang saya maksudkan adalah militer menjadi faktor sangat penting terhadap sektor kehidupan lain. Pada masa selanjutnya terutama di masa tiga kerajaan besar, bahasa Arab memang tetap dihormati sebab itu adalah bahasa agama.

Namun, kesalahan ucap atau semacamnya berkembang sangat kuat dalam pengunaan bahasa Arab pada masa itu. Ini terutama akibat dominannya bahasa non Arab milik penguasa dalam kehidupan terutama di sektor-sektor strategis. Yang lebih penting lagi adalah pergerseran pusat peradaban yang tak lagi di wilayah-wilayah negeri Arab- Muslim. Peralihan pusat ’’peradaban’’ dari Timur ke negeri-negeri Eropa Barat semakin meminggirkan nasib bahasa Arab. Bahasa Arab secara perlahan tak lagi menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang strategis, apalagi di bidang teknologi. Ini memang kekalahan telak dalam proses peminggiran bahasa Arab. Derita bahasa Arab belum berhenti sampai di situ.

Pada awal abad 20, seluruh wilayah penutur bahasa Arab sudah dikuasai penjajah Eropa terutama Inggris dan Perancis. Sebagai negeri yang terjajah oleh orang asing, nasib bahasa ’’pribumi’’ semakin mengenaskan. Penjajah tentu berupaya mendesakkan bahasa dan kebudayaan mereka secara masif dan ektensif. Itu berarti penggunaan bahasa Arab semakin tergerus.

Demikian pula dengan nasib negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim yang rata-rata memiliki perhatian dan kepedulian terhadap bahasa Arab, setidaknya karena alasan agama. Mereka sudah masuk ke dalam dekapan penjajah lebih awal. Pada abad ke 19, seluruh negeri berpenduduk mayoritas Muslim di luar Timur Tengah sudah berada dalam dekapan penjajah Eropa. Dan yang lebih memprihatinkan adalah proses intensifkasi dan masifikasi interaksi global akibat mediamedia baru saat ini.

Banjir informasi yang menggunakan bahasa asing yang lebih kuat masuk ke wilayah-wilayah publik dan prifat bangsa Arab dan juga umat Islam secara mudah. Istilah-istilah asing bahkah rangka bahasanya (sintaksis-morfologis) demikian dominan dalam kehidupan kebahasaan di negeri-negeri Arab sekarang.

Pertahanan bahasa Arab praktis hanya pada statusnya sebagai bahasa agama Islam. Bahasa Arab standar (klasik) dipakai dalam ritus-ritus keagamaan dan juga kajian-kajian keislaman di lembaga-lembaga pendidikan tradisional. Sementara di luar itu, penutur Arab pun sudah menggunakan bahasa non-standar seperti bahasa Mesir, Saudi, Darijah untuk mereka yang berada di Arab Barat, dan sebagainya.

Pertahanan

Namun, bahasa Arab memiliki kekuatannya sendiri. Di samping kekuatan intrinsik bahasa itu yang cukup simpel, konsisten, dan mampu meyerap perkembangan peradaban. Ada faktor ektrinsik yang mendukungnya ketahanannya. Pertama, fanatisme orang Arab terhasap bahasanya sangat kuat. Bahasa Arab adalah identitas utama kultur Arab. Dan, masyarakat Arab sangat membanggakan itu. Menurut Bernard Luwis, tak ada bangsa di dunia ini yang begitu terpukau dengan bahasanya sendiri melampaui orang Arab. Bahasa Arab bagi mereka adalah identitas dan kebanggaan.

Kedua, sebagaimana disebutkan di atas, bahasa Arab adalah bahasa agama. Ketiga, ada upaya serius dan sistematis dari negaranegara Arab kontemporer untuk menangkis penetrasi budaya asing yang semakin kuat.

Kebijakan di Suriah misalnya menerbitkan undang-undang bahwa pelanggaran terhadap penggunaan bahasa ini untuk tempattempat umum seperti institusi pemerintah atau tempat usaha bisa berakibat sangsi berat seperti penutupan tempat usaha atau pencabutan izinnya. Demikian pula di sejumlah negara Arab lain seperti Irak, Mesir, dan seterusnya. Kendati di dalam praktik, memang hal ini tak mudah apalagi di negeri-negeri yang aparatnya mudah disuap.

Keempat, globalisasi memang menciptakan pergaulan masif antar penutur Arab dengan warga lainnya baik melalui dunia virtual maupun nyata. Hal ini ternyata tak mendorong pada peleburan identas bahasa mereka. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya yaitu menguatnya kesadaran dengan identias mereka.

Siapa sesungguhnya mereka di tengah pergaulan itu, maka jawabannya adalah ’’saya berbahasa Arab’’, suatu kesadaran baru mengenai bahasa mereka. Dan ini bahkan terjadi di kalangan orang Arab yang telah bermigrasi ke berbagai wilayah di dunia terutama Eropa dan Amerika Serikat.

Kelima, dukungan bahkan inisiatif awal sangat kuat datang para ilmuwan dan ahli bahasa mereka. Pemikiran dan gerakan mereka terinstitusionalisasi dalam banyak kebijakan pemerintah untuk membela bahasa Arab, serta termanifestasi dalam lembaga-lembaga semacam Majma al-Lughah. Tugas lembaga itu adalah mengontrol ’’membanjirnya bahasa asing’’ dalam bahasa Arab dengan tujuan mempertahankan bahasa Arab.

Keenam, cepatnya perkembangan populasi Arab. Sejauh ini, populasi Arab termasuk yang paling cepat. Tak hanya di negeri-negeri Arab tetapi juga di Eropa dan Amerika. Bahkan, kelompok nasionalis Eropa dan Amerika sangat cemas dengan ’’ancaman’’ demografis Arab.

Hal itu juga terjadi di Israel di mana jumlah penduduk Arab bertambah secara cepat sementara mereka sangat lambat. Ketujuh bahasa Arab telah memeroleh pengakuan sebagai salah satu bahasa resmi PBB. Ini sesuai dengan ketetapan MU PBB No 3190 yang diterbitkan pada tahun 1973. Bahkan tanggal tersebut (18) Desember kemudian juga ditetapkan sebagai hari internasional bahasa Arab. Ini tentu fakta yang sangat penting bagi pengembangan bahasa Arab ke depan.

Mempertimbangkan itu semua, survival bahasa Arab sebagai bahasa ’’yang hidup’’(dalam terminologi) Jurji Zaydan, sangatlah kuat. Kendati penetrasi bahasa-bahasa kuat dunia seperti Inggris dan Perancis dan mungkin tak lama lagi China dan India demikian gencar. (Sumber: Suara Merdeka, 18 Desember 2015)

Tentang penulis:
DrIbnu Burdah MA, pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tragedi Paris, Islam, Dan Barat

Oleh Ibnu Burdah

Di tengah-tengah upaya Eropa menangani pengungsi dari Timur Tengah, Paris diguncang aksi kekerasan yang mengerikan (13/11). Celakanya, sebagian besar pelaku diyakini berasal dari Timur Tengah.

Salah satu implikasi dari tragedi Paris adalah menguatnya sentimen negatif warga Prancis khususnya dan Eropa pada umumnya terhadap Muslim, Arab, dan Islam. Pandangan kelompok ultranasionalis yang anti-Muslim memperoleh momentum. Menurut salah satu narasumber Al-Jazeera dalam acara Ma Wara al-Khabar, retorika anti-Muslim menguat drastis di media-media sosial di Prancis dua hari terakhir. Bahkan, respons sebagian kalangan mengarah pada tindakan-tindakan keras terhadap lembaga-lembaga keislaman.

Tak sedikit warga Prancis beretorika bahwa seolah-olah warga Muslim di sana bukan lagi sebagai warga Prancis. Padahal, mereka sudah berasimilasi dan menjadi warga negara negeri itu secara turun-temurun. Dan tak sedikit dari mereka memberikan kontribusi penting bagi negeri itu di berbagai bidang. Tema hubungan Barat dan Islam pascatragedi Paris ini menjadi isu yang kembali krusial.

Hubungan Islam dan Barat telah berlangsung dalam waktu yang panjang, namun hingga kini belum mampu menciptakan kebersamaan yang sungguh-sungguh, tulus, dan produktif. Sebaliknya, saling kebencian masih menghinggapi sebagian masyarakat Barat dan dunia Islam. Tragedi 11 September dan rangkaian tragedi Paris ini bagaimanapun merupakan potret kebencian luar biasa sebagian kecil umat Islam terhadap Barat. Umat Islam yang memiliki sikap dan pandangan sebagaimana pelaku barangkali sangat sedikit. Tetapi, tindakan mereka telah cukup menodai seluruh umat Islam.

Sebaliknya juga demikian. Kebencian Barat terhadap Islam tampaknya masih terpelihara. Pelarangan pemakaian jilbab tertentu, film penghinaan terhadap Nabi, pembakaran mushaf Alquran, hingga pembantaian rasial yang berulang kali terjadi menunjukkan sebagian orang Barat juga memendam kebencian amat dalam kepada orang lain, termasuk kepada umat Islam.

Ketidak-fair-an timbal balik
Hubungan Barat-Islam selama ini juga diwarnai oleh ketidak-fair-an secara timbal balik. Barat yang saat ini berada di depan mengklaim bahwa apa yang dicapainya selama ini murni hasil peradaban Barat, tidak terkait dan tidak ada andil dari orang lain. Mulai dari bidang-bidang ilmu pengetahuan, hasil-hasil teknologi, hingga nilai-nilai humanitarian yang tengah menggenangi dunia saat ini, didaku sepenuhnya. Jika kita mencoba sedikit saja mencari tahu mengenai sejarah bidang-bidang pengetahuan atau teknologi versi Barat dan sekarang banyak kita ikuti, selalu bertitik tolak dari Yunani Kuno yang kemudian melompat begitu saja ke masa modern.

Sejarah versi mereka menggambarkan seolah-olah dunia ini sunyi senyap dalam waktu lebih dari satu milinium. Padahal, pada masa itu sejarah umat Islam sedang menjulang dengan mengkreasikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan baru dan berbagai hasil peradaban. Bagaimana kemegahan, iklim akademik, dan tumbuhnya nilai-nilai kosmopolit di Baghdad, Andalusia, Cordova, Kairo, hingga Istanbul sama sekali terhapus dari sejarah versi Barat. Padahal, mereka pada awalnya “menyusu” dari peradaban di kota-kota ini.

Sikap tidak mengakui bahkan membuang peran orang lain adalah tindakan yang tercela. Ibarat seorang ilmuwan, maka ia telah melakukan plagiarisme yang menjiplak tanpa menyebut sumbernya dan dengan angkuh menyebutnya sebagai gagasannya sendiri. Ibarat anak, ia adalah anak durhaka. Celakanya, sikap itu tampaknya merupakan mainstream di dunia Barat, bahkan di kalangan para ilmuwannya. Lahirnya orang-orang semacam Karen Armstrong di Eropa atau John L Esposito di AS yang relatif lebih fair memandang umat Islam dan warisannya merupakan harapan bagi masa depan hubungan Barat-Islam. Tetapi, harus diakui keduanya masih anomali bagi masyarakat Barat sekarang.

Sikap dan pandangan sebagian umat Islam sekarang juga setali tiga uang. Di satu sisi, mereka mencaci maki habis Barat, memusuhi, bahkan berupaya menghancurkannya, bahkan tidak sedikit yang menggunakan cara-cara sadis untuk mencapai tujuan itu. Barat bukan hanya dituding selalu berupaya melakukan penghancuran sistematis dan terencana dalam skala besar terhadap umat Islam, melainkan juga melakukan penetrasi konspiratif ke dalam setiap relung kecil kehidupan setiap umat Islam.

Barat bukan hanya dituding berada di balik tragedi dunia Islam di Bosnia, Afghanistan, Pakistan, Irak, Bahrain, Libya, bahkan kelaparan di Tanduk Afrika, namun juga dianggap telah meracuni secara sengaja setiap generasi Muslim dengan berbagai cara. Bruinessen dalam penelitiannya di Bima pernah menemukan pandangan yang sulit dimengerti dari sebagian umat Islam di sana bahwa salah satu bentuk konspirasi Barat dan Yahudi terhadap Islam adalah penyebaran kaset-kaset Alquran. Menurut mereka, Barat dan Yahudi sengaja menyebarkan kaset-kaset itu untuk menjauhkan umat Islam dari para tuan guru atau ustaznya.

Pada sisi lain, hampir seluruh umat Islam menikmati hasil-hasil peradaban yang dikembangkan Barat saat ini, baik ilmu pengetahuan, hasil-hasil teknologi, seni, maupun sebagian nilai-nilai. Hampir di segala bidang ilmu dan teknologi modern, umat Islam sekarang bukanlah penemu atau “penciptanya”, sebagian memang berupaya mempelajari dan mengembangkannya, namun sebagian besar hanya mengonsumsinya. Bahkan, tidak jarang mereka menggunakannya secara “ilegal” seperti tidak memenuhi kewajiban hak cipta atau hak meng-copy-nya. Sikap semacam itu jelas tidak fair dan tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Kesatuan kemanusiaan
Sebagai seorang Muslim biasa (bukan ilmuwan, tokoh, atau aktivis), penulis berpendapat bahwa perbaikan seharusnya dimulai dari diri sendiri, dari pandangan dan sikap umat Islam sendiri. Pengakuan umat Islam bahwa mereka sekarang jauh tertinggal dari Barat dan tidak lagi memegang supremasi dalam berbagai bidang sebagaimana masa lalu jauh lebih penting daripada mencaci maki dan menebar benci. Kita tidak berdosa mengucapkan selamat kepada Barat atas capaian-capaiannya saat ini, bahkan umat Islam secara fair pantas berterima kasih kepada mereka. Sebab, umat Islam juga banyak memanfaatkan temuan mereka sekaligus berterima kasih atas “kesediaan” mereka melanjutkan sebagian capaian-capaian umat Islam di masa kejayaannya. Pengakuan yang tulus tanpa mengurangi sikap kritis terhadap residu-residu peradaban Barat inilah yang justru akan menciptakan pandangan dan sikap yang fair dan produktif dalam mendorong umat Islam keluar dari berbagai ketertinggalan.

Di sisi lain, Barat idealnya juga mengembangkan sikap yang fair, adil, tidak eksploitatif, dan menindas. Bagaimanapun mereka tidak akan mencapai “kematangan” peradaban (bidang ilmu dan teknologi) seperti sekarang jika tidak didahului oleh peradaban-peradaban yang lain, seperti peradaban Cina, India, Mesir, Babilonia, Baghdad, Cordova, Andalusia, Yunani, Persia, dan lainnya. Peran peradaban Islam dalam hal ini tidak bisa diremehkan. Tak satu pun berhak mengklaim peradaban maju manusia saat ini sebagai miliknya sendiri. Semua hasil peradaban adalah simbol kesatuan umat manusia (al-wahdah al-insaniyyah), bukan umat Islam dan Barat saja, namun juga seluruh manusia. (Sumber : Republika, 16 Nopember 2015).

Tentang penulis:
Ibnu Burdah, Pemerhati masalah Timteng dan Dunia Islam, Dosen Fak Adab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Bayi Intifadah Ketiga

Oleh Ibnu Burdah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Situasi di Palestina sekarang memang sudah matang bagi lahirnya intifadah ketiga rakyat Palestina. Aksi provokatif sejumlah ekstremis Yahudi dan aksi kekerasan saling balas terus terjadi di berbagai wilayah di Palestina, terutama di wilayah- wilayah yang memiliki permukiman Yahudi.

Semula memang hanya di sekitar Yerusalem, tetapi kemudian meluas ke berbagai kota lain di Tepi Barat. Politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu selama ini memang “abai” dengan proses perdamaian. Tak ada prestasi apa pun dari Netanyahu selama pemerintahannya kali ini dalam bidang perdamaian dengan Palestina.

Netanyahu bahkan tak peduli dengan berbagai tekanan internasional sambil terus membangun permukiman-permukiman Yahudi di wilayah Palestina. Pembangunan permukiman baru yang sebagian dihuni para ekstremis inilah yang kemudian menjadi salah satu sebab pecahnya kekerasan horizontal antara warga asli Palestina dan para pemukim.

Para pemukim baru memiliki segala kemewahan dan fasilitas termasuk jalan-jalan eksklusif dan senjata. Jalan-jalan itu kerap membelah dan memisahkan komunitas Palestina sebagaimana tembok pemisah yang dibuat Israel. Mereka juga kerap melakukan tindakan provokatif kepada warga Palestina.

Sebaliknya, warga Palestina juga segera menjadikan para pemukim itu sasaran kemarahan atas berbagai peristiwa. Mereka menjadi sasaran pembalasan atas aksi kekerasan tentara Israel, penculikan, dan seterusnya. Aksi kekerasan timbal balik sangat rawan di wilayah-wilayah yang ada permukiman Yahudinya.

Berbeda Terjadinya intifadah ketiga berarti terjadinya perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel dengan cara kekerasan secara luas. Memang banyak yang berharap hal ini segera terwujud agar Palestina berhasil mencapai tujuannya, yaitu merdeka.

Respons sangat simplistis, misalnya, menggambarkan sebagai berikut. Intifadah pertama telah berhasil menunjukkan bahwa bangsa Palestina ada. Ini kemudian mendorong keberhasilan dalam negosiasi mulai dari perundingan di Madrid pada 1990 hingga Oslo II pada 1995. Hasilnya sudah nyata, yakni delapan kota Palestina sekarang ini.

Intifadah kedua dipandang telah membebaskan Gaza kendati itu sesungguhnya lang kah unilateral Israel. Dan intifadah ketiga diharapkan dapat membebaskan seluruh Palestina. Itu skenario yang dibayangkan sebagian komentator dari gejala lahirnya intifadah ketiga ini.

Tentu tak semudah itu skenarionya. Yang jelas, kekerasan pasti membawa korban. Dan korban terbesar dipastikan dari kalangan rakyat Palestina. Sebab, Israellah yang punya senjata. Termasuk para pemukim Yahudi itu juga dibekali senjata dan kadang dikawal tentara. Semakin luas dan besar aksi perlawanan, maka semakin besar pula jatuhnya korban jiwa dan luka. Inilah yang dikhawatirkan.

Dengan jatuhnya korban dalam skala luas, misalnya, sama sekali tak menjamin tujuan Palestina itu serta-merta dapat tercapai. Apalagi sekarang ini perhatian negara-negara Arab dan dunia Islam terhadap masalah Palestina pada umumnya menurun. Hal ini bisa dengan mudah terlihat dari pemberitaan di TV dan koran-koran nasional Arab.

Isu Palestina jarang sekali menjadi headline, seperti pada saat menjelang intifadah pertama dan kedua. Mereka sekarang sangat sibuk dengan urusan dalam negeri masing- masing, baik itu ketegangan politik, perang, konflik horizontal, atau gerakan protes rakyat. Persoalan Palestina yang dahulu demikian “menyatukan” Arab dan dunia Islam kini tak memperoleh perhatian sebesar dulu lagi.

Karakter “bayi” intifadah sekarang ini juga berbeda dengan masa sebelumnya. Intifadah yang mungkin lahir itu berkarakter Arab Springs. Perlawanan dilakukan secara personal bahkan sangat sporadis. Tak ada pemimpin dalam gerakan ini. Namun, sering kali ini adalah respons personal rakyat Palestina atas berbagai peristiwa.

Penyebaran dan seruan gerakan juga melalui media-media yang sangat personal. Perlawanan ini juga tidak disatukan arus ideologi atau kelompok tertentu.

Jika ini yang terjadi, maka intifadah ini kemungkinan akan sangat sulit dikendalikan. Tentara Israel tentu akan kesulitan untuk menghentikan aksi itu karena “tak” ada pemimpin yang jadi pusat komando gerakan.

Namun, kecenderungannya adalah mirip perang saudara atau konflik horizontal. Dan ini sekali lagi sangat berbahaya bagi warga Palestina yang sebagian besar tak bersenjata. Jatuhnya korban warga sipil Israel kemungkinan juga akan besar.

Inilah dilema perjuangan Palestina sejak awal. Masalah strategi perjuangan yang tepat dan kompak menjadi isu yang sangat menyulitkan. Bahkan isu itu telah membelah kekuatan utama Palestina dan rakyat Palestina.

Oleh karena itu, yang terpenting bagi Palestina sekarang adalah menyatukan strategi perjuangan atau setidaknya ada koordinasi dalam strategi perjuangan. Minimal antara Fatah dan Hamas, syukur jika bisa meli batkan semua faksi.

Ini sangat penting agar perjuangan itu bisa seefektif mungkin mengantarkan kepada tujuan agung, yakni berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Dan jika bisa, strategi itu sejauh mungkin meminimal kan jumlah korban orang-orang tak berdosa, memenuhi hak-hak orang yang menjadi korban dalam konflik panjang ini, terutama masalah para pengungsi, dan juga mencapai solusi tepat masalah tempat suci. (Sumber: Republika, 17 Oktober 2015)

Tentang penulis:
Ibnu Burdah, Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga

Degradasi dalam Beribadah Haji

Oleh Ibnu Burdah

DULU, beribadah haji bagi muslim Nusantara bukan semata-mata urusan ritual. Berhaji menjadi momentum penting bagi proses pendalaman, penguatan, dan penyebaran ilmu-ilmu keislaman.

Tak hanya itu, menunaikan ibadah tersebut juga menjadi telaga tempat menimba semangat perjuangan guna membebaskan diri dari penjajahan.

Tak berlebihan bila dikatakan profil ‘’alumni’’ haji pada masa lalu adalah ulama sekaligus pejuang bagi bangsa dan negaranya. Sebutlah sedikit nama besar di antara mereka, seperti KH Hasyim Asyíari, Syekh Yusuf al-Makassari, dan KH Ahmad Dahlan.

Banyak haji Indonesia menjadi ulama tersohor. Tak hanya di Tanah Air karena mereka juga menjadi ulama rujukan bagi umat Islam sedunia yang datang di Makkah dan Madinah. Mereka mengajar ilmu di Kota Suci itu, dan karyanya menjadi rujukan.

Kita bisa menyebutnya antara lain KH Nawawi al-Bantani dari Tanara Banten, KH Mahfud al-Tarmasi dari Pacitan Jatim, Syekh Ihsan Jampes dari Kediri, KH Rifai dari Kalisalak, KH Saleh Darat dari Semarang, KH. Ahmad bin Abdus Shomad, Sayyid Ahmad al-Nahrowi, dan Syekh Ahmad Khatib.

Pada masa itu, tatkala kata Indonesia disebut maka imajinasi umat Islam dari berbagai negara akan mengarah kepada tokoh-tokoh besar itu. Sungguh kebanggaan besar buat kita, yang berkebalikan dengan persepsi orang Arab terhadap bangsa kita sekarang ini. Harus diakui saat ini imajinasi orang terhadap Indonesia adalah ’’buruh’’.

Juga Belajar
Prestasi ‘’alumni’’ haji tersebut tidak bisa dilepaskan dari kualitas berhaji mereka. Mereka ke Makkah dan Madinah bukan semata-mata menjalani ritus mengingat mereka juga belajar kepada ulama-ulama besar di kota tersebut.

Selain itu bertukar informasi dan mendiskusikan persoalan yang dihadapi negara dan bangsanya dengan calhaj dari negara lain, guna menemukan solusi.
Sungguh ironis, pengalaman penulis menunaikan ibadah haji menunjukkan praktik ibadah haji kita telah kehilangan dua elan vitalnya, yakni belajar ilmu-ilmu keislaman dan memupuk benih perjuangan untuk bangsa dan negara.

Sedikit sekali —untuk tidak mengatakan tak ada— calhaj Indonesia yang berupaya memanfaatkan kesempatan berhaji itu untuk belajar ilmu-ilmu keislaman.

Selain singkatnya waktu dan miskinnya semangat menimba ilmu, hal itu juga disebabkan sikap pemerintah Saudi. Mereka sangat membatasi ulama negara lain untuk mengajar, berceramah, khotbah, atau menjadi imam di masjid-masjid di kota Makkah dan Madinah.

Alih-alih diskusi antarhaji dari negara berbeda untuk berbagi pengalaman dan solusi menghadapi persoalan kebangsaan dan umat Islam, sekarang malah tak tak ada tegur sapa jamaah antarnegara. Pemondokan dan transportasi mereka ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi dipisah-pisah berdasarkan negara.

Pemondokan haji saya tahun 2010 berdekatan dengan jamaah Rusia, tetapi tak satu pun calhaj Indonesia yang mencoba berkenalan dengan mereka. Padahal sekadar bercengkerama dengan calhaj dari negara lain sembari menunggu waktu shalat berjamaah bisa membuka wawasan dan kesadaran.

Pemerintah Saudi juga sangat membatasi pertemuan-pertemuan antarcalhaj berbagai negara, apalagi dengan mereka yang berasal dari Iran, Bahrain, Yaman Utara, Irak, atau Lebanon yang berisiko berbau Syi’ah. Padahal pengalaman penulis bertukar pengalaman dan pandangan dengan tokoh Syi’ah di sana sungguh luar biasa.

Jangankan untuk itu, usaha penulis untuk sekadar meminta izin menggunakan masjid ìkecilî dekat pemondokan barang satu jam guna doa bersama untuk korban Merapi di Yogyakarta pun saat itu juga ditolak berkalikali. Mereka sangat khawatir dengan pertemuan-pertemuan jamaah di luar agenda mereka. Lebih celaka lagi ketika ada orang Indonesia kehilangan keindonesiaannya.

Contohnya waktu saya bertemu beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di Madinah dan mereka menjadi guide untuk acara ziarah bagi kloter kami. Salah seorang mengatakan,’’ Madinah itu Tanah Suci, debunya saja suci bisa untuk obat. Coba, Indonesia ada apanya.’’

Semoga pada musim haji tahun ini calhaj kita dijauhkan dari kenyataan seperti itu. Semoga juga tak ada ”alumni” haji kita pada tahun ini yang begitu mudah memecah-belah masyarakat karena persoalan sepele atau kedangkalan pemahaman keagamaannya. Sebaliknya, mereka terus berupaya mabrur dan membawa sebesar-besarnya manfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya. (Sumber: Suara Merdeka, 23 September 2015)

Tentang penulis:
Dr Ibnu Burdah MA, pemerhati Timur Tengah dan dunia Islam, Koordinator Kajian Timur Tengah Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Peringatan KAA dan Nasib TKI

Oleh Ibnu Burdah

“Selembar kertas atau bahkan secarik kertas berisi keberatan tak diberi tahu diganti dengan dua nyawa warga negara”
KAA (Konferensi Asia-Afrika) yang baru saja diperingati secara besar-besaran adalah ”monumen” historik peran besar Indonesia di kancah internasional. Bersama pemimpin besar Soekarno, Indonesia adalah negara hebat yang begitu disegani baik oleh kawan maupun lawan. Negara-negara dunia ketiga menganggap Indonesia dan Soekarno sebagai rujukan dan ”pemimpin” bagi upaya mereka untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Alih-alih negara di Asia Tenggara semacam Singapura atau Malasyia, negara super power pun begitu respek terhadap kita. Apa yang kita katakan, apa yang kita lakukan, menjadi perhatian banyak pihak di dunia termasuk negara adidaya dunia waktu itu.
Besarnya peran itu masih terlihat jelas dalam jejak-jejak yang ditinggalkan sang pemimpin besar mulai dari Asia Timur hingga Maroko, bahkan menyebrang samudera hingga Amerika Latin. Sukarno adalah kata yang masih melekat dalam ingatan sejarah bangsa-bangsa itu bahkan diabadikan hingga sekarang.

Itu semua adalah kisah dahulu kala. Sekarang, lain sama sekali ceritanya. Dua warga negara kita, para penyumbang devisa, baru-baru ini dihukum mati tanpa ada pemberitahuan resmi. Siti Zaenab, TKI asal Bangkalan, dieksekusi mati pada 14 April. Lalu, dua hari kemudian Karni binti Medi Tarsim, TKI asal Brebes, Jawa Tengah, juga dieksekusi mati. Eksekusi yang terakhir dilakukan pada 16 April di Penjara Kota Yanbu. Jumlah WNI terutama TKI yang menunggu eksekusi mati jumlahnya sudah ratusan orang, terutama di Malasyia dan Arab Saudi.

Ironisnya, dua eksekusi itu dilaksanakan di tengah gebyar persiapan peringatan KAA yang menunjukkan kehebatan bangsa kita dahulu kala. Masalah nyawa warga negara adalah hal sangat asasi. Negara punya kewajiban konstitusional untuk melindungi hidupnya. Namun, Arab Saudi mengeksekusi mati itu tanpa ada pemberitahuan resmi mengenai waktunya.

Penulis meyakini, mereka sudah tahu kita ini negara seperti apa dan sekelas apa sekarang. Kuatnya persepsi di Saudi bahwa Indonesia identik dengan pembantu rumah tangga dan pekerja kasar sulit untuk dibantah. Mereka tentu juga sadar sepenuhnya bahwa kita tak akan melakukan hal-hal serius yang bisa mengganggu kemewahan hidup mereka. Normatif Cobalah kita bayangkan seandainya yang dihukum mati itu adalah orang-orang negara maju di Eropa atau Amerika, apa pun kasusnya. Pasti yang terjadi berbeda sama sekali. Faktanya memang demikian. Untuk meresponsnya, kita juga cukup melayangkan nota protes saja. Normatif-normatif saja. Selembar kertas atau bahkan secarik kertas berisi keberatan tak diberitahu diganti dengan dua nyawa warga negaranya.

Itu pun sebagian kita sudah merasa luar biasa, berani melakukan protes terhadap negara tempat kita mengemis tambahan kuota haji dan kadang modal. Hari-hari ini dua hal yang benar-benar kontras itu, gebyar peringatan KAA dan eksekusi mati TKI kita, terjadi. Kita dengan bangga mengundang ratusan pemimpin negara di dunia untuk memeringati KAA dengan segala kemegahannya. Sebab KAA memang cermin kebesaran bangsa Indonesia dahulu kala. KAA 60 tahun lalu itu memang kebanggaan kita. Itu nyata tapi dahulu kala. Tapi pada saat dan hari yang hampir bersamaan, dua TKI kita dieksekusi mati tanpa ada berita sebelumnya.

Kita seperti menjadi bangsa yang aneh bin nyata. Di satu sisi, kita merayakan kebesaran masa lalu dengan gegap gempita. Di sisi lain, kita entengkan persoalan yang sangat penting, mendesak, nyata, dan ada di depan mata. Yaitu masalah nyawa anak bangsa. Dengan inspirasi KAA, seharusnya kita benarbenar menjadi bangsa besar yang bisa berdiri tegak di hadapan siapa pun. Bukan bangsa yang maniak perayaan kebesaran masa lalu tapi lupa dengan aktualisasinya di masa sekarang. (Sumber: Suara Merdeka, 30 April 2015)

Tentang penulis:
Ibnu Burdah, koordinator Program Internasional S3 Kajian Timur Tengah, Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Pentingkah Restorasi Khilafah?

Oleh Ibnu Burdah

Bulan Maret 2015 ini adalah haul ke-88 peristiwa historik runtuhnya khilafah Islam terakhir, yakni Utsmaniyyah. Banyak kalangan umat Islam termasuk di Tanah Air mengenang kembali peristiwa itu guna mengambil pelajaran penting.

Pembubaran khilafah Utsmaniyah pada Maret 1924 memang membawa dampak serius pada nasib sejarah dunia Islam, khususnya Timur Tengah, hingga sekarang. Dampak buruk itu begitu nyata dan terasa.

Dampak paling nyata segera terpecah-pecahnya wilayah dunia Islam bagian “tengah” ke sejumlah negara-bangsa. Secara bertahap, wilayah Turki Utsmani itu terpecah jadi lebih dari 20 negara. Pemecahan itu tak lepas dari upaya penjajah terutama Inggris dan Prancis untuk mengavling bekas wilayah Turki Utsmani setelah kejatuhannya.

Idealnya, wilayah itu menjadi satu kesatuan politik, ekonomi, dan sosial. Sebab, wilayah itu adalah satu lempengan daratan yang hampir menyatu. Pemisahan perairan hanya beberapa saja. Secara historis, mereka juga memiliki sentimen yang sama terhadap zaman kejayaan Islam masa lalu. Kesamaan lain di antara mereka begitu banyak.

Faktanya, setelah Perang Dunia I mereka terpecah ke dalam unit-unit politik, ekonomi, dan sosial yang sangat kecil dan terpisah ke dalam sejumlah negara. Dampak ekonomi menjadi persoalan paling nyata. Sebab, saling ketergantungan ekonomi antara wilayah Utsmaniyah yang berada di ujung barat dan timur, dan antara ujung utara dan selatan sudah demikian kuat, setidaknya delapan abad mereka menyatu.

Pengkavlingan wilayah jadi banyak negara-bangsa telah menghambat pergerakan barang dan orang serta meningkatkan ongkos ekonomi dalam kegiatan perdagangan. Kepentingan ekonomi rakyat di kawasan itu demikian dirugikan.

Dari sisi politik, pengkavlingan menjadi negara-negara kecil juga memperlemah posisi tawar mereka terhadap siapa pun. Faktanya, mereka bukan hanya tak bisa disatukan, tetapi justru terus terlibat ke dalam konflik di antara mereka sendiri. Demikian pula, mereka secara sosial juga terpecah mengikuti pengkavlingan politik itu.

Singkatnya, runtuhnya Khilafah Utsmaniyah adalah bencana besar bagi masyarakat Timur Tengah. Dampak itu masih terasa dengan perpecahan keras di kalangan para pemimpin kawasan itu yang membawa dampak kemanusiaan serius hingga saat ini.

Penulis berpendapat, gagasan mengenai pentingnya restorasi khilafah masuk akal muncul kembali di tengah kerasnya perpecahan Timur Tengah yang membawa tragedi kemanusiaan masif dan berkepanjangan sekarang. Fakta sejarah menunjukkan, khilafah di Timur Tengah itu membuat mereka relatif menyatu secara politik, sosial, maupun ekonomi.

Khilafah juga membuat kawasan itu menjadi sangat disegani oleh kekuatan dunia yang lain. Karena itu, gagasan restorasi khilafah di Timur Tengah memiliki daya tarik dan relevansinya. Khilafah di Timur Tengah bisa jadi solusi jitu kendati gagasan itu sangat kecil penerimaannya hingga sekarang di kalangan ilmuwan, para pemimpin kawasan, maupun masyarakat awam.

Namun, gagasan itu tetap memiliki daya tarik yang kuat bagi sebagian orang di sana bahkan di belahan dunia Islam lain. Karena itu, ketika ada “kelompok” keji sekalipun –seperti ISIS– mengusung gagasan ini, tak sedikit orang yang mau mengikutinya.

Bagaimana dengan negara-bangsa Indonesia? Relevankah kita membicarakan khilafah di Tanah Air tercinta? Penulis berpandangan, pengalaman berdirinya Indonesia sangatlah berbeda dengan pengalaman berdirinya negara-bangsa di Timur Tengah.

Jika berdirinya negara-bangsa di Timur Tengah itu menandai sebuah tragedi, keperihan, dan kekalahan, sebaliknya dengan sejarah berdirinya negara-bangsa Indonesia. Berdirinya negara-bangsa Idonesia adalah simbol kebebasan dan kedaulatan menentukan nasib sendiri serta enyahnya penjajahan, setidaknya secara fisik dan birokrasi. Berdirinya negara-bangsa Indonesia adalah simbol keagungan dan harapan kejayaan.

Jika berdirinya negara-bangsa di Timur Tengah itu menandai perpecahan yang menyedihkan, berdirinya negara Indonesia justru sebaliknya, menyatukan yang terpisah-pisah dan yang berbeda. Masyarakat Timur Tengah khususnya para pengikut Pan-Arabisme meratapi tragedi berdirinya negara-bangsa itu hingga sekarang. Sementara kita bangsa Indonesia merayakan dengan penuh syukur dan suka cita atas terbebas dan bersatunya bangsa Indonesia.

Kita patut bersyukur mampu menyatukan diri di tengah kenyataan geografis yang terpisah-pisah ini, dan di tengah-tengah kenyataan etnis, agama, adat istiadat, dan bahasa yang demikian beragam. Indonesia adalah anugerah bagi anak bangsanya. Kita harus mensyukurinya.

Sementara, pengalaman saudara-saudara kita di Timur Tengah begitu berbeda. Mereka bisa dikatakan menyatu secara geografis, daratan begitu luas, dan hampir tak terpisahkan oleh perairan. Mereka secara umum berasal dari satu etnis khususnya 22 negara Arab kendati ada campuran secara terbatas di beberapa negara. Sebagian besar mereka juga memiliki kesamaan bahasa dan agama. Di tengah persamaan kuat dalam banyak hal itu, mereka justru terpecah.

Karena itu, penulis ingin mengatakan, wacana khilafah pada tingkat tertentu relevan dibicarakan bahkan diperjuangkan di wilayah Timur Tengah, khususnya wilayah Bulan Sabit Subur dan sekitarnya. Sebab, itu bisa jadi salah satu solusi, kendati sepengetahuan penulis gagasan itu sama sekali tak populer di masyarakat sana hingga sekarang.

Dan ini yang penting, pembicaraan tentang restorasi khilafah di Indonesia tidaklah begitu urgen. Penulis dengan tulus dan kerendahan hati mengajak segenap umat Islam di Tanah Air untuk mensyukuri anugerah Allah berupa negara dan Tanah Air Indonesia yang sendi-sendinya berdiri di atas tetesan darah para syuhada yang bangga menjadi Muslim sekaligus bangsa Indonesia. Wallahu a’lam. (Sumber : Republika, 20 Maret 2015)

Tentang penulis:
Ibnu Burdah, Pemerhati Timur Tengah, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,545,924 hits
Februari 2016
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
29  

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 91 pengikut lainnya