Posts Tagged 'Ibnu Burdah'

Hambatan Pembebasan Kota Mosul

Oleh Ibnu Burdah

SEPERTI sudah diduga, pembebasan kota Mosul dari cengkeraman Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidaklah mudah.

Pada minggu pertama, memang banyak daerah pedesaan dan pinggiran kota itu yang sudah dibebaskan oleh tentara reguler Irak dan pasukan koalisi. Pada awalnya semua seolah berjalan lancar dan mudah.

Namun dalam perkembangan, proses pembebasan kota terakhir Irak ini mengalami hambatan. Meskipun demikian, pada akhir pekan ketiga ini, seluruh pedesaan dan kota-kota kecil sekitar Mosul sudah dibebaskan.

Saat ini, wilayah Irak yang belum dibebaskan dari ISIS praktis tinggal pusat kota Mosul. Namun, hal ini lah yang menjadi titik krusial dalam upaya ini.

Seluruh kekuatan yang terlibat membebaskan Mosul dari ISIS sesungguhnya sudah memperkirakan bahwa ISIS akan menggunakan segala cara untuk bertahan.

Termasuk kemungkinan menggunakan penduduk kota sebagai perisai hidup seperti yang terjadi sekarang. Oleh karena itu, garda terdepan yang masuk kota sudah dipersiapkan sedemikian rupa, yakni Garda Emas, pasukan elite militer Irak yang dilatih secara khusus oleh pasukan elite AS untuk menghadapi kekuatan teror.

Jumlah pasukan itu diperkirakan mencapai 1.500 sampai 2.000 orang. Namun, ISIS ternyata membuat skenario bertahan yang sedikit mengejutkan.

Pertama, mereka berupaya memecah konsentrasi pasukan yang mengepung dengan cara mengaktifkan sel-sel untuk membuat serangan di kota-kota yang tak terlalu jauh dari Mosul.

Mereka tiba-tiba melakukan serangan di Karkuk, kota di antara Baghdad dan Mosul. Mereka juga melakukan serangan di Anbar, wilayah bagian barat Irak.

Kedua, mereka menggunakan ”senjata” non-konvensional misalnya membakar pabrik belerang di Misyrak, bagian selatan kota Mosul.

Parit-parit dan kilang minyak juga dibakar. Hal itu mungkin dimaksudkan sebagai strategi untuk menyulitkan musuh dalam memantau gerak mereka.

Langkah itu mungkin dilakukan dalam rangka meracuni musuh dan penduduk dengan zat-zat kimia berbahaya. Yang paling dikhawatirkan tentu jika kelompok itu memiliki bahan kimia yang bisa dipergunakan sebagai senjata.

Mereka juga telah melakukan penyanderaan terhadap ribuan keluarga Mosul sebagai tameng instalasi-instalasi militer.

Hambatan Psikologis

Hambatan lain yang sangat penting adalah koordinasi para pejuang. Kekuatan yang terlibat dalam pembebasan Mosul, punya hubungan kurang baik sejak lama. Taruhlah hubungan antara pasukan reguler Irak dengan Peshmerga Kurdi.

Mereka sejak lama terlibat perselisihan hingga konflik senjata secara terbatas. Peshmerga yang semakin kuat dan mandiri tak mau berada di bawah komando Baghdad.

Mereka merasa sebagai kekuatan tersendiri di bawah komando Pemerintah Federal Kurdistan Irak yang berpusat di Arbil. Namun, sebelum perang Mosul diumumkan, kedua kekuatan mencapai kesepakatan terutama dalam kerja sama dan koordinasi.

Ini tentu dimaksudkan untuk menghindari miskoordinasi dan perselisihan di medan tempur. Namun itu ternyata tak mudah diterjemahkan di lapangan.

Contoh lain adalah hambatan psikologis antara kekuatan al-Hasyd al-Syaíbiy (paramiliter Syiah) dan al-Hasy al- Wathoni (paramiliter Sunni).

Yang pertama konon didukung oleh Iran dan punya hubungan baik dengan pemerintah pusat Irak. Adapun yang kedua punya hubungan kuat dengan Turki dan tak memiliki hubungan baik dengan pemerintah pusat Irak yang cenderung syiah.

Mereka memiliki hubungan kuat dengan pemerintahan daerah Nineveh yang didominasi kaum Sunni. Keduanya bukan hanya terlibat kontestasi yang keras, tetapi juga persaingan dan konflik luas di akar rumput.

Belum lagi ditambah dengan al- Hasyd al-Asyairi (kumpulan Kabilah Sunni) yang juga bermusuhan dengan milisi syiah itu.

Semula ketegangan itu sudah diantisipasi dengan hanya mengizinkan pasukan elite Irak, lalu tentara reguler Irak, yang masuk ke kota Mosul.

Sementara yang lain tak masuk ke kota. Namun situasi di lapangan ternyata tak sepenuhnya sesuai dengan skenario. Semua kekuatan itu termasuk al-Hasyd al-Syaíbiy yang syiah ternyata sudah mengambil peran dalam penyerangan kecuali tentara Turki.

Bagaimanapun kebutuhan bantuan terhadap tambahan pasukan sangat tinggi. Inilah sekarang yang kemudian menjadi persoalan antarkelompok itu.

Semua kelompok berebut agar punya peran besar dalam pembebasan pusat kota ini. Menguasai Mosul berarti menguasai kota kedua terbesar di Irak.

Bahkan pasukan Turki yang sejak semula bersiap di utara Mosul dan tak akan masuk kota itu terus mendesak agar dilibatkan dalam perang.

Namun permintaan itu berulangkali ditolak oleh Haedar al- Ibadi, PM Irak. Terkesan ada semangat sektarian pemerintah pusat Irak dengan mendorong agar al-Hasyd al-Syaíbiy yang terlibat dan masuk Mosul ketimbang Turki, tetapi rakyat Mosul dan kekuatan Sunni lain menolak keras hal itu.

Kontestasi antarkekuatan itu bisa jadi sangat membahayakan kelangsungan pembebasan pusat kota Mosul yang ditunggu-tunggu.

Kendati ISIS sudah sangat terdesak dan hanya perlu sekali dua kali ”pukulan keras” untuk melumpuhkan, konflik antarkekuatan itu bisa mengganggu tahap-tahap akhir pembebasan. (Sumber: Suara Merdeka, 2016)

Tentang penulis:

Ibnu Burdah, pemerhati Timur Tengah dan dunia Islam, dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Irak setelah ISIS

Oleh Ibnu Burdah

PERANG pembebasan Kota Mosul dari cengkeraman ISIS sudah dimulai. ISIS kini sudah terkepung. Tak ada akses laut untuk melarikan diri dari kota terbesar kedua di Irak itu. Menilik situasi saat ini, kecil kemungkinan ISIS mampu bertahan di Mosul.

Selain ketimpangan kekuatan, moral kelompok itu semakin runtuh. Organisasi mereka semakin kacau. Tumbangnya ISIS di Mosul berarti berakhirnya kekuasaan teritorial ISIS dari seluruh wilayah Irak.

Namun, Irak pasca-ISIS kemungkinan menghadapi persoalan yang juga sangat berat. Dua setengah tahun perang melawan ISIS telah membawa kehancuran luas.

Korban nyawa dan kehancuran infrastruktur demikian besar. Keamanan Irak juga harus menghadapi tantangan berat.

Selain potensi konflik akibat keterbelahan sektarian, salah satu sumber pengganggu keamanan adalah penyebaran eks anggota-anggota ISIS.

Saat ini, para kombatan ISIS di Mosul dan kota lain di Irak dicurigai sudah banyak yang melakukan aksi penyusupan setelah terlihat tanda-tanda mereka akan tumbang. Penyusupan itu terutama melalui pengungsi.

Ini akan menjadi persoalan serius di Irak kendati Mosul sudah dibebaskan. Tantangan lain yang sungguh besar adalah mempertahankan keutuhan Irak. Aspirasi warga Kurdi untuk memisahkan diri sepertinya akan sangat sulit dibendung.

Kurdi mengalami trauma akibat persekusi yang demikian menyakitkan di bawah kekuasaan Saddam Husein. Jatuhnya Saddam menjadi momentum mereka untuk memperoleh otonomi yang luas dan peran signifikan dalam pemerintahan Irak.

Kurdi biasanya memperoleh posisi presiden dalam pemerintahan Irak setelah Saddam Hussein. Presiden bukanlah penguasa eksekutif, sebab negara itu berbentuk parlementer.

Pusat kekuasaan eksekutif ada di tangan perdana menteri yang selalu jatuh ke tangan orang Syiah. Tapi, itu pun sudah merupakan sejarah penting bagi mereka.

Di tengah euforia Kurdi menyuarakan otonomi luas, ISIS tampil ke panggung sejarah Irak pada pertengahan 2014. Pasukan Peshmerga Kurdi, akhirnya, menjadi tulang punggung perang melawan ISIS.

Di samping posisi Kurdistan yang berdekatan dengan pusat ISIS, heroisme warga Kurdi dalam perang membuat etnis ini memperoleh tempat terhormat di mata rakyat Irak.

Tak hanya para pemuda, para pemudi Kurdi berada di front-front depan dalam perang melawan ISIS. Di tengah lemahnya tentara Irak, perlawanan Kurdi memberikan harapan bagi Irak dan dunia dalam menghadapi ISIS.

Mereka kemudian memperoleh pelatihan militer secara modern, bantuan peralatan perang, dan logistik. Setelah dua tahun lebih, kekuatan milisi Peshmerga telah menjelma menjadi kekuatan tempur terlatih, berpengalaman, dan disegani kawan dan lawan. Peshmerga saat ini menjadi kekuatan bersenjata yang tangguh di luar struktur dan komando tentara Irak.

Ketegangan dua kekuatan itu semakin kentara menjelang penyerangan ke Mosul. Bahkan, sempat terjadi beberapa insiden bersenjata.

Peshmerga jelas sudah lepas kontrol dari kendali Baghdad. Dengan kekuatan Peshmerga seperti sekarang dan jasa besar menghancurkan ISIS, rasanya sulit untuk membendung aspirasi etnis Kurdi memisahkan diri dari Irak melalui referendum.

Konflik Sektarian

Bisa diduga, konsesi politik yang dijanjikan kepada Kurdi agar bersedia berperang melawan ISIS adalah referendum kemerdekaan.

Sebab semula mereka menolak berperang melawan ISIS, padahal tentara Irak sudah demikian kedodoran. Setelah negosiasi alot antara pemimpin Kurdistan dan Irak, pemerintahan otonomi Kurdi bersedia turun gelanggang.

Tentu, kesediaan mereka berkorban ada konsesi yang tak sederhana, dan yang paling masuk akal adalah referendum.

Tantangan Irak yang lain, negeri ini terbelah oleh sekte sebagaimana Lebanon. Permusuhan yang dalam terjadi antara masyarakat Syiah dan Sunnah.

Bagaimanapun kehadiran ISIS telah menyatukan bangsa Irak. Mereka merasa menghadapi musuh bersama dan oleh karena itu mereka harus bekerja bersama. Mereka sekitar dua setengah tahun berhasil meredam permusuhan ini.

Setelah Irak tanpa ISIS, nampaknya tak mudah kedua pihak bersatu kembali. Tak hanya di level masyarakat. Pada level pemimpin kelompok dan partai pun sulit untuk menciptakan kompromi.

Penetrasi negara-negara kawasan yang sedang berkonflik juga sangat kuat. Jika kemampuan ekonomi Irak tak segera membaik dan ketergantungan kelompok-kelompok itu pada patron makin besar, maka permusuhan antarnegara besar kawasan sangat berpengaruh terhadap Irak khususnya persoalan sektarian.

Saudi, Iran, Qatar, Turki adalah patron- patron kelompok-kelompok sekte dan etnis yang ada di Irak. Hubungan yang tak baik antarnegara itu biasanya berimbas pada hubungan buruk kelompok- kelompok tersebut.

Oleh karena itu, pembebasan Irak dari ISIS di Mosul harus disertai kompromi dan solusi politik yang jelas. Itu semua sangat menentukan nasib Irak pasca-ISIS. (Sumber: Sura Merdeka, 21 Oktober 2016)

Tentang penulis:

Dr Ibnu Burdah MA, pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kegagalan Gencatan Senjata Suriah

Oleh Ibnu Burdah

KEGAGALAN gencatan senjata di Suriah harus dibayar mahal. Perang di Aleppo dan sekitarnya kembali berkobar. Sungguh miris, hanya dalam beberapa hari, ratusan warga sipil tewas menjadi korban.

Nasib ribuan penduduk Aleppo benar-benar dalam ancaman. Kelompok-kelompok yang berperang di Suriah semakin brutal. Tak hanya bangunan, tapi juga saluran-saluran air bersih dihancurkan.

Dalam perang tradisional Arab, merusak sumber air merupakan pantangan dan tak patut dilakukan dalam situasi apa pun.

Perusakan saluran air dalam perang itu mencerminkan begitu ganasnya perang. Salah satu dampak besar dari kegagalan gencatan senjata adalah mengendurnya perang melawan kelompokkelompok teroris, terutama ISIS dan Jabhah al-Nusra (Fath al-Sham).

Tujuan gencatan senjata sejak awal adalah untuk menyediakan situasi kondusif bagi upaya menghancurkan kelompok-kelompok teroris di Suriah. Faktanya, pelaksanaan gencatan senjata itu gagal di lapangan. Kegagalan ini berarti kegagalan menyatukan barisan untuk mengalahkan teroris.

Dalam situasi demikian, perhatian terhadap upaya memerangi kelompok-kelompok teroris jelas mengendur. Sebab konsentrasi pihak-pihak yang bertikai adalah perang di antara mereka sendiri.

Yaitu oposisi Suriah versus tentara rezim Assad yang masing-masing didukung oleh kekuatan-kekuatan regional dan internasional.

Kelompok-kelompok teroris seperti ISIS, Jabhah al-Nusra (Fath al-Sham), dan lainnya menjadi pihak paling diuntungkan.

Dalam situasi perang yang kembali berkobar, mereka terhindar jadi target bersama. Mereka bukan hanya bisa bertahan, bahkan juga memperkuat barisan dan penetrasi ke dalam faksi-faksi di Suriah.

Kelompok Fath al-Sham bahkan mulai memperoleh simpati dari rakyat berkat perubahan strategi mereka di lapangan.

Seandainya gencatan senjata itu berhasil maka posisi kelompok-kelompok teroris itu pasti akan terjepit. Mereka bukan hanya menjadi target bersama pasukan Rusia, Suriah, Iran, Hizbullah dan paramiliter Syiah yang lain.

Tapi juga jadi sasaran kelompok-kelompok yang semula satu barisan dengan mereka, terutama pasukan negara-negara regional dan internasional di Suriah.

Harapan untuk segera menghancurkan ISIS dan al-Nusra di Irak dan Suriah kembali gagal. Jika gencatan senjata di Suriah ini berhasil maka akan ada langkah yang sejalan dengan perkembangan yang terjadi di Irak.

Kekuatan ISIS di Irak sudah demikian terkepung di kota Mosul. Pembebasan Mosul di Irak dari cengkeraman ISIS tinggal menunggu waktu.

Lambatnya pelaksanaan pembebasan Mosul terutama terkait dengan upaya menghindari kemungkinan dampak kemanusiaan yang besar.

Pemerintah Irak dan kekuatan-kekuatan lain sedang mempertimbangkan waktu yang tepat untuk ambil tindakan itu. Dampak lain dari kegagalan senjata adalah hilangnya momentum bagi lahirnya proses perdamaian.

Ini sungguh hal yang patut disesalkan. Sebab konflik Suriah telah berlangsung selama lima tahun lebih. Korban dari perang itu amat besar, baik itu korban kemanusiaan maupun kehancuran yang lain.

Dampak dari konflik Suriah demikian luar biasa bukan hanya bagi Timur Tengah dan dunia Islam, tapi juga bagi dunia barat secara umum.

Di Timur Tengah dan dunia Islam, konflik panjang di Suriah telah mengeraskan hubungan kaum Sunni dan Syiah. Ini seolah membelah dunia Islam.

Gagasan dan gerakan ekstrem juga terus memperoleh momentum untuk berkembang. Adapun di dunia barat, banjir pengungsi menyebabkan persoalan yang kompleks dan tak terduga di banyak negara Eropa.

Momentum gencatan senjata amatlah penting. Sebab hanya dengan itu, proses perdamaian yang kondusif bisa muncul dan dapat dilaksanakan.

Faktanya, bukan situasi kondusif yang tersedia sekarang, tapi justru perang yang semakin ganas. Kehancuran akibat perang di Suriah semakin tak bisa diterima akal sehat. Untuk memutus semua itu, negosiasi perdamaian di Suriah mutlak diperlukan.

Faktanya, gencatan senjata yang bisa memberi ruang bagi lahirnya inisiatif damai itu telah buyar hanya dalam hitungan hari.

Dan sebagai gantinya, konflik yang lebih destruktif kembali berkobar. Pihak-pihak yang bertikai di Suriah sunggguh telah menyia-nyiakan momentum gencatan senjata yang berpotensi membawa mereka keluar dari lingkaran konflik panjang. Mereka kembali mengambil opsi yang tak masuk akal yakni perang sebagai jalan mencapai tujuan.

Padahal paritas kekuatan saat ini jelas tak memungkinkan bagi pihak mana pun untuk mewujudkan seluruh kepentingan melalui perang.

Proses perdamaian adalah satu-satunya jalan yang bisa diterima akal sehat untuk mencapai tujuan saat ini kendati semuanya harus dinegosiasikan dan masing-masing pihak harus siap mengorbankan sebagian kepentingan.

Jika tidak, apakah masing-masing faksi itu akan terus berperang hingga mereka benarbenar tak mampu untuk berperang lagi? Yang pasti, kegagalan gencatan senjata ini makin membenamkan harapan bagi berlangsungnya negosiasi-negosiasi damai. Harapan Suriah damai semakin jauh dari kenyataan. ( Sumber: Suara Merdeka, 04 Oktober 2016)

Tentang penulis:

Dr Ibnu Burdah MA,pemerhati Timur Tengah, dosen Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Makna Gencatan Senjata AS-Rusia di Syria

Oleh Ibnu Burdah

AS dan Rusia, dua aktor yang sangat penting dalam konflik Syria, mencapai kesepakatan pelaksanaan gencatan senjata di Syria. Gencatan senjata itu diberlakukan bertepatan dengan jatuhnya Hari Raya Idul Adha.

Gencatan senjata yang dimaksudkan adalah penghentian operasi militer kedua negara di Syria serta penghentian perang antara pemerintah Syria di bawah Assad yang didukung oleh Iran, Hizbullah, milisi Syiah dari Iraq, dan negara-negara lain di satu pihak.

Juga kelompok-kelompok oposisi yang didukung negara-negara kawasan seperti Saudi, Turki, Qatar, dan sebagainya serta sejumlah negara Eropa di pihak lain. Rusia bisa dikatakan merupakan ”patron” pihak pertama, sementara AS ”patron” pihak kedua.

Beberapa faksi oposisi segera menyatakan pesimistis terhadap prospek gencatan senjata itu. Pesimisme tersebut bisa dimengerti. Sebab, beberapa kali gencatan senjata juga tak membawa solusi politik permanen. Padahal, solusi politik itulah yang paling ditunggu-tunggu banyak pihak.

Beberapa kali gencatan senjata juga berakhir dengan pelanggaran-pelanggaran yang kemudian melahirkan perang yang lebih destruktif lagi. Pesimisme beberapa kelompok oposisi itu bisa dipahami.

Mereka mengharapkan formulasi gencatan senjata yang secara eksplisit menyebutkan ”nasib” Assad pascaperang. Yang diinginkan kelompok oposisi itu tentu tak adanya peran Assad pada masa transisi maupun sesudahnya dalam pemerintahan Syria pascaperang.

Kendati demikian, kelompok-kelompok oposisi itu mengisyaratkan siap mematuhi gencatan senjata tersebut. Hanya faksi Fath Al Syam –yang merupakan metamorfosis Al Nusra– yang secara eksplisit menyatakan sangat berkeberatan dengan gencatan senjata itu. Menurut Al Nusra, kesepakatan itu tak berpihak kepada rakyat Syria.

Bagaimanapun, kelompok-kelompok oposisi pada umumnya juga berupaya mencari solusi atas konflik yang seolah tanpa ujung tersebut. Faktanya, sejauh ini tak ada solusi nyata yang tersedia di atas meja. Kendati bukan ideal, mereka menerima tawaran gencatan senjata yang ada itu.

Namun, mereka menuntut Rusia untuk memastikan bahwa pihak Assad dan para pendukungnya menaati gencatan senjata tersebut dengan tidak melakukan operasi militer di wilayah-wilayah yang dikuasai oposisi.

Sikap pemerintahan Assad secara umum juga mendukung pelaksanaan gencatan senjata itu. Bahkan, sikap pihak Assad lebih jauh daripada itu. Mereka sepertinya siap mendukung formulasi perdamaian apa pun asalkan memenuhi satu syarat. Yakni, tidak menyentuh garis merah mereka: pelengseran Assad pascaperang.

Celakanya, poin itulah yang paling diinginkan oleh pihak oposisi dan para pendukungnya sehingga berkali-kali upaya perdamaian di Jenewa dan tempat lain tak membuahkan hasil.

Signifikan

Kendati pihak-pihak yang bertikai di Syria tampak tidak begitu antusias, kesepakatan itu, bagaimanapun, memiliki arti penting. Pertama, latar dari kesepakatan tersebut adalah menyukseskan perang terhadap kelompok teror ISIS.

Berbeda dengan di Iraq, konflik tajam antara pemerintah dan oposisi beserta para pendukungnya di Syria telah menjadi penghambat besar bagi upaya menghancurkan kelompok brutal ISIS. Bagaimana tidak, mereka berperang melawan suatu kelompok, sementara antarmereka sendiri terlibat konflik bersenjata.

Dengan gencatan senjata itu, perang terhadap ISIS di Syria diharapkan lebih optimal. Pembebasan Iraq dari ISIS mungkin sudah tinggal menghitung hari. Hampir semua pihak di Iraq optimistis Mosul, ibu kota ISIS, segera dibebaskan.

Sementara itu, kekuatan ISIS di Syria masih memungkinkan kelompok tersebut untuk bertahan jauh lebih lama. Karena itu, gencatan senjata antarkelompok yang bertikai di Syria begitu penting untuk mempercepat penghancuran kelompok brutal itu di Raqqa dan kota-kota lain di Syria.

Kedua, gencatan senjata tersebut bisa berarti lebih dari itu. Itu adalah pintu penting bagi upaya-upaya perdamaian yang lebih menyeluruh. Sangat sulit dibayangkan akan ada negosiasi yang cukup ”tenang” ketika perang masih berkecamuk di lapangan.

Entah formulasi apa yang akan dipakai, gencatan senjata adalah momentum yang sangat penting untuk terjadinya negosiasi antara pihak-pihak yang bertikai. Pihak-pihak yang dimaksud tentu berlapis. Bukan hanya pihak domestik di Syria, tetapi juga pihak internasional dan kekuatan-kekuatan regional di balik tiap-tiap kelompok itu.

Ketiga, bagaimanapun, pihak-pihak yang bertikai di lapangan tersebut tentu sudah sangat letih dengan perang. Lima tahun lebih perang dalam skala luas terjadi. Korban kemanusiaan sudah demikian besar. Kehancuran Syria sudah merata. Infrastruktur negara itu sepertinya sudah hancur lebur.

Separo lebih penduduk adalah pengungsi. Hampir setiap hari ada pemberitaan jatuhnya korban sipil secara mengenaskan dalam jumlah besar. Bahkan, Syria telah mengekspor bencana kemanusiaan ke banyak negara Timur Tengah hingga Eropa.

Pihak-pihak yang bertikai pasti juga sudah menyadari situasi itu. Mereka pun tentu mulai mengerti bahwa tujuan mereka sangat sulit tercapai sepenuhnya melalui perang. Sikap realistis, bagaimanapun, harus diambil.

Mereka harus ”berbagi”dalam pengejaran kepentingan dengan pihak lawan. Negosiasi, baik secara langsung maupun melalui mediasi, baik secara rahasia ataupun dalam sorot kamera, harus segera dilakukan untuk mengakhiri tragedi panjang itu.

Juga, gencatan senjata adalah pintu penting untuk mencapai itu semua. Keberadaan ISIS yang masih kuat di Syria diharapkan juga turut memperkuat keinginan pihak-pihak yang bertikai tersebut untuk menaati gencatan senjata dan mengambil jalan damai.(Sumber: Jawa Pos, 20 September 2016)

Tentang penulis:

Ibnu Burdah Pemerhati Timur Tengah dan dunia Islam, supervisor S-3 di Nijmegen University, Belanda

IS Jelang Keruntuhan

Oleh Ibnu Burdah

IS sepertinya mempersiapkan dua skenario sekaligus agar dapat bertahan. Skenario pertama adalah mempertahankan teritorial. Bagaimanapun, penguasaan teritorial adalah trade mark kelompok ini yang membedakannya dari Al-Qaeda dan kelompok teroris lain.

Sejak awal deklarasi”khilafah”, karakter ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kombatan-kombatan yang bergabung dengannya. Proyek khilafah tanpa penguasaan wilayah adalah utopia. Bagaimanapun, mereka telah berhasil membangun struktur kenegaraan di wilayah yang dikuasainya. Negara itu disebut dengan al-Dawlah al-Islamiyyah yang dipimpin seorang Khalifah yang bergelar Khalifah Ibrahim bin Awwad al-Baghdadi al-Quraisyiy.

Oleh karena itu, kelompok ini mempertahankan mati-matian teritorial yang dikuasainya serta struktur kenegaraannya. Namun, mereka semakin terdesak baik di Irak, Suriah, Libya, maupun di wilayah-wilayah lain yang mereka sebut sebagai”provinsi”IS . Di Irak, mereka telah kehilangan hampir seluruh wilayah penting yang mereka kuasai. Yang tersisa adalah Mosul, ibu kota negara IS di Irak.

Itu pun mereka sudah terkepung. Beberapa front menuju kota itu sudah dikuasai Peshmerga Kurdi, tentara Irak, milisi Syiah (al-hasyd alsyaíbiy dan lain-lain), dan milisi yang biasa disebut al-Hasyd al-Wathani dukungan Turki. Jika tidak ada konflik atau kontestasi tajam antara para pejuang itu, tumbangnya IS di Mosul tinggal menunggu waktu.

Jika Mosul dapat dibebaskan itu berarti IS sebagai sebuah negara sudah tumbang di Irak, negara tempat kelahirannya. Hanya saja, menjelang penyerangan ke Mosul itu, saling berebut peran antara pihak-pihak pejuang itu sudah demikian kentara. Mereka tampak sekali sedang memperebutkan Irak dan memaksimalkan kepentingannya masing-masing pasca-IS tumbang.

Kurdi yang sudah demikian banyak berkorban tidak ingin lagi kehilangan momentum untuk merdeka. Mereka menginginkan batasbatas wilayah negara Kurdistan ke depan lebih luas daripada wilayah Kurdistan sekarang serta peran yang besar dalam pengelolaan Mosul dan kota-kota yang direbut dari IS.

Pengalihan Teritorial

Tentara Irak dan milisi Syiíah ingin menegaskan kekuasaan Bagdad atas seluruh wilayah Irak. Mosul adalah kota yang sangat penting. Sementara milisi Sunni berupaya menegaskan peta demografis Mosul sebagai basis kekuatan Sunni. Menancapkan pengaruh di kota ini sangat penting di tengah tekanan mayoritas Syiah di Irak Selatan dan Tengah.

Hambatan lain terhadap pembebasan Mosul adalah padatnya populasi penduduk di kota itu. Kendati sudah banyak yang mengungsi, jumlah penduduk di Mosul diperkirakan masih 1,2 juta jiwa. Mereka dipastikan akan menjadi perisai hidup bagi kombatan IS jika penyerangan dilakukan. Ancaman bencana kemanusiaan adalah pertimbangan terpenting yang membuat pembebasan Mosul dilakukan ekstrahati-hati. Kendati demikian, IS sepertinya sudah menyadari bahwa ajal mereka di Irak sudah menjelang.

Para pemimpin IS diberitakan juga telah terbang ke Raqqa, ibu kota IS di Suriah. Para pemimpin teras IS sepertinya bersikap rasional. Mereka” melepas”Mosul sebab sepertinya mustahil untuk mempertahankannya saat ini. Hanya saja, mereka menginginkan”harga”yang pantas bagi lepasnya kota terpenting mereka di Irak sekaligus tempat asal sang”Khalifah”ini. Harga itu tentu adalah kematian musuh mereka sebanyak-banyaknya dan kehancuran Irak sebesar-besarnya.

Mereka sangat mungkin mempersiapkan skenario paling” sintingí untuk itu. Kekhawatiran terjadinya bencana kemanusiaan sangatlah besar. Tentu kita berharap, Mosul bisa bebas dengan pengorbanan penduduk sipil sekecil-kecilnya. Itu hanya bisa terjadi jika kelompok IS yang tersisa di Mosul masih bisa menggunakan akal sehat.

Tetapi apakah mereka punya akal? Para pemimpin IS sengaja melepas Mosul dan sepertinya akan berkonsentrasi mempertahankan basis IS di Raqqa Suriah. Suriah bagaimanapun adalah kawasan yang jauh lebih nyaman bagi mereka. Sebab negara itu sudah demikian hancur, dan pihak-pihak yang saling berkonflik begitu banyak. Kekacauan dan kehancuran adalah rumah”mewah”bagi kelompok teror ini.

Dan yang paling menguntungkan, sejauh ini pihak-pihak yang bertikai di Suriah tidak bersatu menghancurkan IS seperti di Irak, tetapi juga saling berperang antarmereka sendiri. Jika Raqqa kemudian tak bisa dipertahankan juga, wilayah-wilayah (provinsi) mereka juga sudah dipersiapkan. Beberapa kota di Libya, Yaman, Sinai, pinggiran Pakistan-Afghanistan, dan lainnya bisa jadi”pusat”negara IS ke depan. Pada intinya, mereka sepertinya berupaya mempertahankan doktrin teritorial dengan pengalihan satu basis teritorial ke basis teritorial lain.

Basis teritorial sangatlah penting bagi mereka sebab itu adalah merk”dagang”mereka di kalangan jihadis. Bersamaan dengan skenario pertama untuk mempertahankan teritorial, IS sekaligus mempersiapkan skenario lain. Yakni, ketika struktur kenegaraan IS tumbang dan kelompok itu tak lagi memiliki basis teritorial.

Itu artinya mereka kembali jadi kelompok teroris sebagaimana al-Qaeda yang bergerak di bawah tanah di banyak negara. Situasi itu sangat mungkin terjadi. Sebab mereka terus terdesak di manamana. Tak ada”provinsi”IS saat ini yang mampu memperluas wilayah. Seiring melemahnya kelompok ini di Irak dan Suriah, kekuatan mereka di sejumlah negara lain juga melemah secara drastis.

Para pemimpin IS sepertinya menyadari benar kemungkinan ini. Oleh karena itu mereka menyebarkan sel-selnya ke berbagai penjuru dunia. Pemberitaan tentang perintah pimpinan IS untuk mengalihkan aksi teror ke Eropa cukup luas. Eropa adalah salah satu wilayah yang menjadi tempat penyebaran sel-sel IS. Masifnya aksi terorisme di beberapa negara Eropa belakangan ini sepertinya terkait dengan keterdesakan IS di Irak dan Suriah. ( Sumber: Suara Merdeka, 16 September 2016)

Tentang penulis:

Dr Ibnu Burdah MA, pemerhati Timur Tengah dan dunia Islam, supervisor S3 Nijmegen University, Belanda

Turki, Kurdi, dan Perang ISIS

Oleh Ibnu Burdah

Oleh Ibnu Burdah “Tapi nasib suku Kurdi sejauh ini seolah berbalikan dengan heroisme mereka di medan perang. Mereka adalah etnis terbesar di dunia yang tak memiliki negara.”

DI tengah ketegangan dalam negeri usai kudeta gagal, Turki masuk semakin dalam ke perang melawan ISIS. Pasukan darat Turki dengan kekuatan sekitar 50 tank merangsek ke Suriah Utara. Turki menyebut aksi itu untuk meningkatkan keterlibatan mereka dalam perang melawan ISIS.

Namun, langkah itu mudah ditebak arahnya. Mereka berupaya ”mengamankan” Suriah utara agar tak menjadi basis kelompok Kurdi Suriah untuk berkembang. Jadi, sasaran mereka sesungguhnya adalah kelompok Kurdi Suriah dan tentu juga Kurdi Turki yang dikhawatirkan Ankara semakin siap untuk memisahkan diri.

Pada fase akhir perang terhadap ISIS, konflik Kurdi dengan pemerintah Turki, Irak, Suriah, dan Iran semakin sulit terhindarkan. Kelompok-kelompok Kurdi di Irak, Suriah, dan Turki semakin memiliki pengalaman dan logistik tempur yang baik seiring peran mereka dalam perang ISIS. Pejuang Kurdi di Irak, Peshmerga, secara khusus menjadi garda terdepan dalam perang lawan ISIS.

Sejarah menunjukkan, etnis Kurdi lekat dengan heroisme di medan perang. Dalam sejarah Islam, etnis Kurdi misalnya digambarkan sebagai etnis yang begitu dominan dalam perjuangan menghadapi tentara Salib. Di bawah pemimpin besar Salahuddin al- Ayyubi yang juga seorang Kurdi, heroisme umat Islam saat itu untuk membela Tanah Suci begitu dikenang hingga sekarang.

Saat ini pun, heroisme itu sepertinya tak luntur. Mereka berani berhadapan dengan ”negara” brutal ISIS. Sejumlah kota di Irak berhasil mereka bebaskan dari kelompok itu. Pertempuran-pertempuran melawan ISIS selama dua tahun ini mengingatkan heroisme klasik mereka di bawah pimpinan Salahuddin al-Ayyubi.

Padahal yang mereka hadapi adalah kelompok sangat brutal tanpa rasa kemanusiaan. Kelompok itu juga memiliki organisasi perang yang modern. Pada umumnya, tentara negara- negara di Timur Tengah keder menghadapi kelompok nekad dan mengesampingkan akal sehat dalam bertempur ini. Mereka menggunakan segala cara termasuk bom bunuh diri sebagai strategi bertempur.

Sayang, heroisme mereka dinodai oleh aksi sekelompok bersenjata Kurdi di Turki. Kelompok ini sering mengambil jalan kekerasan terhadap aparat keamanan dan rakyat sipil. Apa yang terjadi di Cizre, Turki, 26 Agustus lalu serta rentetan aksi kekerasan lain menunjukkan ada sebagian kelompok Kurdi yang menggunakan cara teror untuk mencapai tujuan. Namun, bagaimanapun peran Kurdi Irak dalam mendesak ISIS begitu menonjol. Dalam aksi pembebasan Mosul dari ISIS, Kurdi diperkirakan juga akan memainkan peran besar.

Tanpa Negara

Tapi nasib suku Kurdi sejauh ini seolah berbalikan dengan heroisme mereka di medan perang. Mereka adalah etnis terbesar di dunia yang tak memiliki negara. Mereka juga dikenal sebagai masyarakat paling menderita di Timur Tengah. Secara politik, mereka adalah minoritas di tanah yang mereka sebut sebagai Kurdistan. Kesejahteraan mereka memprihatinkan.

Tanah yang secara turun temurun mereka tinggali sejak 90 tahun lalu, terkapling ke dalam empat negara. Yakni Suriah, Irak, Turki dan Iran. Padahal tanah itu menyatu, dan dihuni oleh etnis Kurdi yang berbahasa satu, berkultur satu, dan berasal dari nenek moyang yang sama.

Sebagai minoritas, penderitaan mereka sulit digambarkan terutama di Irak dan Suriah. Mereka adalah etnis yang selalu direpresi oleh rezim Saddam Hussein, termasuk pembantaian massal dengan gas beracun. Pengalaman pahit ini pula sepertinya yang membuat mereka kuat dalam perang lawan ISIS.

Heroisme etnis ini barangkali sudah jadi kultur yang diwariskan secara turun temurun. Tapi ada satu hal yang mendorong etnis ini memiliki semangat patriotik berlipat dalam menghadapi ISIS yaitu impian mereka untuk memiliki negara Kurdi di atas tanah Kurdistan. Singkatnya, mereka ingin memiliki negara sendiri.

Impian itu adalah wajar sebab mereka adalah etnis besar yang menyatu tapi tak memiliki negara. Mereka diabaikan. Nasib mereka kebetulan juga sangat buruk. Oleh karena itu, warga Kurdi umumnya memiliki mimpi besar untuk mewujudkan negara Kurdistan di atas tanah Kurdistan.

Mereka secara umum berpandangan, itulah solusi yang tepat dan adil. Massoed al-Barzani, presiden wilayah (Iqlim) Kurdi di Irak berkali-kali menyatakan bahwa itu adalah solusi mereka. Mereka merasa sudah demikian mengalah dalam banyak hal. Mereka merasa sudah sangat bersabar. Mereka juga merasa sudah turut berjuang untuk membela dan membesarkan negeri. Tapi nasib mereka diabaikan.

Di tengah membesarnya kapasitas mereka baik secara politik dan militer, etnis Kurdi di Irak dan Suriah mulai mengambil langkah-langkah kongkret untuk mewujudkan negara Kurdistan. Di Irak, mereka menuntut referendum agar warga menentukan nasib sendiri melalui kotak suara. Sementara di Suriah, mereka berupaya mengombinasikan perjuangan politik melalui diplomasi yang gencar dan penguasaan militer atas teritorial yang cukup luas.

Beberapa tahun ke depan, heroisme dan penderitaan panjang etnis Kurdi diprediksi akan terbayar. Negara Kurdistan yang mereka mimpikan telah menampakkan tanda-tanda akan segera lahir. Itu berarti mereka akan memiliki negara di tanah mereka sendiri. Tapi pertanyaannya, apakah itu-jika berhasil- akan menjamin nasib rakyat Kurdistan menjadi lebih baik, lebih sejahtera? Belum tentu.

Banyak analis memperingatkan Kurdistan harus benar-benar mempersiapkan segalanya jika mereka tak mau menyesal kemudian. Wallahu aílam. ( Sumber: Suara Merdeka, 31 Agustus 2016)

Tentang penulis:

 Ibnu Burdah, dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Jati Diri Turki

Oleh Ibnu Burdah

Sekitar setahun yang lalu (30/7/15), Recep Tayyip Erdogan, presiden Turki, melakukan kunjungan ke Indonesia. Pada saat itu kebetulan perhatian pers banyak tertuju pada persiapan dan pelaksanaan Muktamar NU dan Muhammadiyah. Mungkin, karena dua event akbar itulah liputan tentang Erdogan saat itu tak begitu menonjol di media massa Indonesia, baik televisi, cetak, maupun daring.

Biasanya, kehadiran Erdogan di mana pun di negara berpenduduk mayoritas Muslim selalu menyedot perhatian massa secara signifikan. Bahkan, di banyak tempat ia dielu-elukan sebagai pemimpin baru dunia Islam.

Melalui Erdogan, Turki memang terus menebarkan “pengaruh” ke seluruh dunia Islam. Turki bak negara yang menebar pesona ke sana kemari setelah pencapaian stabilitas politik dan kemajuan ekonomi negara itu secara signifikan dalam satu dekade terakhir.

Melalui Erdogan dan pemimpin lainnya, Turki terlibat sangat aktif dalam berbagai pemecahan persoalan yang dihadapi dunia Islam. Mereka berupaya menawarkan solusi dan formula “Turki” bagi pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi dunia Islam, terutama dalam masalah ekonomi dan kesejahteraan, politik dan stabilitas keamanan, dan persoalan lainnya. Popularitas Turki dan Erdogan terkerek secara cepat pascaberkobarnya gerakan rakyat di sejumlah negara Arab.

Turki dan Erdogan begitu percaya diri bahwa Turki layak menjadi kiblat bagi dunia Islam saat ini dalam banyak hal. Di saat negara-negara Timur Tengah dilanda badai protes rakyat, seperti di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dan Suriah, negara itu begitu aktif mengambil sikap dan memberi dukungan kepada rakyat di negara tersebut. Karena itu, pada awal-awal Arab Springs, Erdogan seperti menjadi idola baru rakyat Timur Tengah. Dalam setiap kunjungannya ke negara-negara Timur Tengah waktu itu, sambutan luar biasa datang dari lapisan luas masyarakat.

Kini, Erdogan menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan itu semua. Di tengah tekanan hebat dari sel-sel ISIS dan Kurdistan Merdeka, ia harus menghadapi kudeta militer yang nyaris menumbangkan pemerintahannya. Sejarah kudeta Turki dan situasi yang dihadapi Erdogan saat ini bukan semata cermin demokratisasi negara itu yang kurang “beres”, melainkan juga kebingungan negara dalam mencari jati dirinya.

Lebih jadi

Turki, jika mau jujur, masih dalam proses pencarian diri, dalam kebingungan yang belum berakhir. Apakah mereka mesti berkiblat ke Barat sebagaimana pernyataan konstitusinya sebagai negara sekuler ataukah mereka berkomitmen kepada keislaman sebagaimana pada masa kejayaan Ustmaniyah dahulu? Sebagaimana maklum bahwa Turki dengan ibu kota Istanbul dahulu adalah pusat kekuasaan politik Islam dengan kekuasaan yang membentang sangat-sangat luas. Masa Utsmaniyah adalah puncak capaian historis bangsa Turki.

Namun, pasca-Perang Dunia I yang menandai ambruknya kekuasaan Ustmaniyah, keislaman dan kearaban menjadi tertuduh sebagai biang dari kemunduran Turki. Mustafa Kemal membalikkan arah kiblat Turki ke Barat yang saat itu dipandang jauh lebih maju. Itulah fondasi Turki modern sekarang ini. Faktanya, sekularisme yang hampir satu abad itu tak membawa Turki menjadi bangsa disegani di dunia Islam, apalagi Barat.

Sebaliknya, rasa keislaman yang dibawa Partai AKP pimpinan Erdogan selama satu dekade terakhir telah membawa Turki kepada capaian penting negeri itu. Bangsa Turki saat ini semakin disegani di Eropa dan Amerika, tetapi juga sangat dihormati di dunia Islam. Tapi, mereka sebenarnya masih dalam kebingungan orientasi antara Barat dan keislaman sebagai basis kekuatan dan orientasinya. Faktanya, mereka sudah demikian percaya diri dan ekpansif kendati menghadapi persoalan yang begitu berat.

Sementara, keislaman Indonesia (baca: Islam Nusantara atau Islam Berkemajuan) sudah lebih jadi. Acuannya adalah sejarah dan praksis keislaman yang ada di nusantara. Di tengah arus radikalisasi agama, keislaman Indonesia memiliki signifikansi penting. Dengan tagline sebagai Islam yang rahmatal lil ‘alamain, tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (berimbang), Islam Indonesia sejak lama telah menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk ektremisme. Model Islam yang demikian sesungguhnya memiliki daya tawar tinggi di dunia Islam yang saat ini dikepung dengan agresifnya kelompok-kelompok ekstrem dan radikal. Sebab, keislaman semacam itu adalah kebutuhan yang nyata saat ini, baik itu diakui ataupun tidak oleh umat Islam di Timur Tengah.

Praktis Islam Indonesia memiliki kekayaan yang besar. Hal itu tercermin pada karya-karya budaya, baik pola laku maupun ritus yang hidup, bahkan benda, bukan semata teks yang berisi kumpulan ancaman dogma. Islam Indonesia kaya dengan fitur-fitur dan pernik budaya hidup yang merajut dan merawat solidaritas sosial dan kebangsaan secara excellent. Capaian Indonesia sebagai negara demokratis yang stabil tak bisa dilepaskan dari keislaman orang Indonesia.

Patut disesalkan, mental Muslim Indonesia begitu inferior di hadapan Muslim Timur Tengah. Perasaan sebagai Islam pinggir dan Arab sebagai Islam pusat masih sangat terasa kendati sebagian kita berupaya menyangkalnya. Arab adalah Islam dan pandangan bahwa perbedaan dengan Islam-Arab patut dicurigai sebagai penyimpangan adalah pandangan yang diakui atau tidak masih lazim di kalangan Muslim Indonesia.

Oleh karena itu, semangat NU dan Muhammadiyah yang berupaya terus melihat keluar, berkomitmen mulai mempromosikan keislaman Indonesia ke dunia internasional patut kita apresiasi. Sebagian kita mungkin berpandangan bahwa keinginan itu adalah ambisi yang terlalu tinggi, kegeden rumongso. Namun, langkah itu setidaknya mencerminkan suatu sikap baru yang tak lagi inferior dengan keislaman kita di tengah model-model keislaman Arab.

Jika Turki yang masih bingung dengan dirinya saja sudah sedemikian ekspansif, keislaman Indonesia yang jelas lebih jadi tentu tak boleh kalah dengan mereka. Umat Islam Indonesia mesti lebih percaya diri dengan khazanah dan sejarahnya di hadapan umat Islam yang lain bahwa Islam Indonesia memang layak untuk dipromosikan sebagai salah satu solusi bagi persoalan-persoalan dunia Islam sekarang ini. (Sumber : Koran Republika, 26 Juli 2016).

Tentang penulis :
Ibnu Burdah, Pemerhati Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,571,055 hits
Desember 2016
S S R K J S M
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031