Posts Tagged 'Anggi Afriansyah'

Jihad Kebangsaan Guru

Oleh Anggi Afriansyah

PARA guru merupakan para pejuang sejati. Mereka senantiasa berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memberikan pencerdasan dan pencerahan bagi anak bangsa. Bekerja tanpa sorot kamera, tetapi tetap setia mengawal anak-anak Ibu Pertiwi yang haus ilmu.

Mendidik mereka dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Tak sembarang orang mampu menjadi guru. Hanya para pejuang tangguhlah yang mampu bertahan. Pendidikan merupakan upaya untuk membebaskan dan memerdekakan.

Pada Kongres Pemufakatan Persatuan Pergerakan Kebangsaan Indonesia (PPPKI) I yang diselenggarakan 31 Agustus 1928, Ki Hadjar Dewantara menulis manusia merdeka merupakan manusia yang hidupnya lahir dan batin tidak bergantung kepada orang lain, tetapi bersandar atas kekuatan sendiri (Majelis Luhur Taman Siswa, 1962).

Pendidikan menurut pandangan Engku Mohammad Syafei, pendiri INS Kayutanam, harus bertumpu pada intelektualitas, kepekaan kemanusiaan, dan keterampilan (Sularto, 2016)

Mendidik bukanlah perkara mudah. Apalagi mendidik anak-anak generasi milenial saat ini. Guru harus mengeluarkan beragam amunisi kreativitas untuk melancarkan proses pembelajaran. Guru konvensional yang hanya mengandalkan ceramah pasti ditinggal peserta didik.

Tidur dan memeriksa gadget tentu lebih menarik ketimbang mendengarkan seorang guru berceramah selama berjam-jam. Harus ada kemasan baru dan segar dalam setiap kali pembelajaran.

Guru-guru yang hanya mengulang materi pelajaran yang sama dari tahun ke tahun tanpa mencoba mencari referensi baru seperti penyanyi yang memutar kaset yang itu-itu saja. Membosankan. Guru jenis itu sudah pasti ditinggalkan zaman yang berlari cepat.

Di sisi lain, di tengah minimnya keteladanan, guru harus menjadi garda terdepan mempraktikkan nilai-nilai kebaikan hidup. Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara ‘Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani’ patut ditengok kembali.

Guru adalah teladan, pemberi motivasi, dan pendorong. Pada praktiknya, guru harus mampu meyakinkan para peserta didik bahwa nilai-nilai kebaikan dan cerita mengenai tokoh-tokoh yang memiliki integritas bukan hanya ada di negeri dongeng.

Memberikan para siswa beragam kisah tak akan berhasil mengubah perilaku mereka. Apalagi jika hanya mengandalkan ceramah-ceramah.

Guru tidak boleh terjebak pada proses pendidikan yang hanya bertujuan menghasilkan para kampiun. Atau sekadar meluluskan anak-anak bangsa yang terampil dan mumpuni nilai akademiknya.

Tugas guru mendidik lebih dari itu. Tugas besar guru ialah membangkitkan setiap potensi para peserta didik dan mengoptimalkannya. Para peserta didik merupakan masa depan bangsa yang perlu dibangun jiwa dan raganya.

Mendidik adalah upaya menebar kasih, maka tindakan kekerasan fisik maupun simbolis harus dihindarkan. Menghardik, mencubit, dan memukul merupakan jalan pintas bagi guru yang sudah habis akal.

Penggunaan kekerasan dalam proses pendidikan hanya berdampak buruk pada mentalitas peserta didik. Tentu saja berbahaya jika para peserta didik lebih senang menggunakan kekerasan jika dibandingkan dengan mengedepankan upaya dialog. Ruang-ruang kelas harus menjadi arena bagi pembiasaan berdialog yang konstruktif.

Guru menulis, menginspirasi

Tugas besar guru lainnya ialah menularkan semangat membaca dan menulis kepada para peserta didik. Dengan banyak membaca, seorang guru tidak akan terjebak pada kebekuan dan kebuntuan karena mereka senantiasa memperbarui pengetahuan yang dimilikinya.

Dengan menulis, seorang guru berusaha membagikan pengetahuan yang ia miliki kepada khalayak yang lebih luas melampaui sekat-sekat ruang pembelajaran di kelas.

Melalui tulisan, seorang guru berusaha menyebarkan gagasannya kepada ‘ruang kelas’ yang lebih luas. Ketika tulisan yang dibuat dapat menginspirasi banyak orang, sesungguhnya ia telah menghasilkan amal jariah yang berlipat ganda.

Apa yang dapat ditulis guru? Banyak hal yang dapat guru tuliskan. Guru menuliskan ulasannya terhadap buku yang telah dibaca, metode pembelajaran, kiat mengajar, ataupun gagasannya tentang pendidikan.

Bisa juga menuliskan kegelisahannya terhadap fenomena sosial yang ia hadapi. Dengan tulisannya, guru dapat memberikan pengingatan kepada publik, hal yang luput dari pandangan mata.

Guru dapat memanfaatkan koran, blog, ataupun media sosial yang dimiliki untuk menyebarkan tulisannya. Beragam media dapat menjadi ruang mendiseminasikan gagasan atau praktik yang sudah mereka lakukan di dunia pendidikan. Ruang-ruang online itu harus direbut guru dan diisi dengan beragam kisah mencerahkan dan mencerdaskan.

Pengalaman seorang guru jika tidak dituliskan hanya akan menjadi kisah yang dikenang orang-orang di lingkaran terdekat saja.

Tentu amat disayangkan jika pengalaman yang kaya hanya menguap di ruang kelas. Pengalaman berharga bertemu dengan beragam karakter anak didik harusnya dapat dinikmati kalangan yang lebih luas.

Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Agus Salim, Natsir, Kartini, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara, Pramoedya A Toer, Soe Hok Gie, HAMKA, dan Ahmad Wahib sangat dikenal mewariskan tulisan-tulisan yang menginspirasi.

Meskipun mereka sudah tak hadir secara fisik, karya-karya mereka terus diperbincangkan, diperdebatkan, dan disebarluaskan.

Tepat sekali ketika Pramoedya Ananta Toer menyatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Seseorang akan diingat lebih panjang jika dibandingkan dengan ‘jatah’ umurnya di dunia karena ia menulis. Ketika seorang guru menulis, mereka telah menjaga warisan keilmuannya abadi dan tidak hilang dari catatan sejarah.

Para guru merupakan manusia tahan uji yang senantiasa berposisi sebagai penjaga nalar anak bangsa. Kerja panjang melelahkan yang tak pernah usai. Hanya guru yang memiliki napas panjang yang dapat melakukannya.

Guru yang mencintai bangsa Indonesia dengan sepenuh hati dan menyadari bahwa mendidik merupakan upaya menunaikan jihad kebangsaan. (Sumber: Media Indonesia, 24 Mei 2017)

Tentang penulis:

Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Puslit Kependudukan LIPI

 

Moratorium Ujian Nasional sudah Tepatkah

Oleh  Anggi Afriansyah

UJIAN nasional (UN) telah menjadi momok menakutkan bagi siswa dan orangtua siswa dalam beberapa tahun terakhir meskipun dalam dua tahun ini, ketika Anies Baswedan menjabat Mendikbud, tensi ketegangan siswa, orangtua siswa, maupun pihak sekolah mereda karena UN tak menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa.

Saat ini pemerintah memutuskan menghentikan sementara atau melakukan moratorium ujian nasional. Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy, moratorium UN akan dimulai pada 2017 dan akan diberlakukan untuk semua jenjang pendidikan dan sekolah di seluruh Indonesia. Pemberlakuan moratorium tersebut tinggal menunggu instruksi presiden (Media Indonesia, 26/11).

UN selalu disambut dengan dag-dig-dug oleh pemerintah daerah, pihak sekolah, siswa, dan orangtua siswa. Ketegangan melanda semua pihak. Maka, menjelang pelaksanaan UN, segala amunisi dan strategi disiapkan serta dikuatkan. Dari cara-cara yang normal sampai yang ajaib.

Menjelang UN siswa-siswa akan semakin giat belajar dan berdoa. Tim sukses pun harus dibentuk untuk meluluskan seluruh siswa yang mengikuti UN. Baik tim sukses sesungguhnya maupun dalam arti konotatif. Tujuannya hanya satu, meluluskan semua siswa.

Dinas Pendidikan Daerah akan memberikan pengarah­an kepada sekolah agar berjuang keras untuk meluluskan seluruh siswa. Hal tersebut amatlah penting karena akan berefek pada rapor daerah secara umum.

Sebab, akan sangat terlihat daerah mana yang memiliki angka kelulusan yang rendah. Ini berkaitan dengan prestise daerah.

Bagi pihak sekolah, adanya siswa yang tak lulus karena nilainya buruk merupakan corengan yang paling memalukan. Sekolah akan dianggap tak mampu membimbing siswa dengan baik.

Kredibilitas sekolah akan diragukan. Bagi sekolah swasta ini berkaitan dengan input siswa yang akan mendaftar di tahun sebelumnya. Lulus UN 100% ialah nilai tambah bagi promosi sekolah ke masyarakat.

Bagi siswa, tidak lulus UN ialah kiamat kecil. Tak jarang yang tak lulus UN ialah siswa-siswa yang memiliki kemampuan akademik yang baik karena tidak percaya diri, tidak mau mendapat contekan, sakit, atau hal lainnya menyebabkan anak-anak ini tak lulus.

Mereka akan diolok-olok dalam jangka waktu yang panjang. Yang terburuk ialah kasus bunuh diri yang terjadi akibat tak lulus UN.

Untuk orangtua siswa, jika anak mereka tak lulus, itu akan menjadi hal yang amat memalukan. Mereka akan sangat malu berhadapan dengan saudara dan kolega masing-masing.

Akhirnya, bukan cerita baru jika di semester akhir menjelang UN, siswa-siswa tidak lagi belajar materi pelajaran seperti biasa seperti yang mereka lakukan di semester sebelumnya.

Mereka akan masuk ke kelas khusus, berlatih soal-soal UN yang telah diujikan di tahun-tahun sebelumnya dan juga soal-soal yang diprediksi akan muncul saat UN nanti.

Sekolah berupaya sekuat mungkin untuk memberikan materi tambahan pelajaran yang diujikan di UN. Pelajaran-pelajaran yang menjadi materi UN menjadi primadona dan diprioritaskan.

Efeknya materi pelajaran non-UN dianggap tak penting karena tak akan diuji­kan secara nasional. Pendidikan sebagai proses ditinggalkan karena yang paling penting ialah kemampuan siswa dalam menjawab setiap soal ujian.

Siswa yang memiliki kemampuan finansial yang memadai akan memburu tempat bim­bingan belajar (bimbel). Di tempat bimbel tersebut mereka akan diberi latihan soal secara intensif dan diberikan kiat juga trik menghadapi UN.

Yang memiliki kemampuan finansial terbatas harus gigit jari. Tak semua siswa beruntung dan mampu membayar biaya bimbel yang relatif mahal.

Tiap tahun juga soal-soal yang akan diujikan harus dikawal kepolisian. Soal-soal yang merupakan rahasia negara ini harus aman sampai lokasi persekolahan.

Siswa seperti terdakwa yang menanti vonis, lulus atau tidak lulus menjadi kata-kata keramat. Di ruang kelas mereka ditunggui dua pengawas yang mewaspadai gerak-gerik selama mengerjakan soal. Ibarat narapidana yang patut diwaspadai.

Yang menjadi masalah, sudah dibuat seketat itu, masih saja ada bocoran soal. Bocoran-bocoran tersebut menyebar viral di sms atau pun media lainnya.

Pada masa tertentu, untuk menanggulangi kasus tersebut, Kemendikbud kemudian membuat bebera­pa tipe soal. Berhasilkah? Tetap saja bocoran-bocoran soal menyebar. Cerita tentang kecurangan-kecurangan yang terjadi ketika UN dapat dibaca di berbagai pemberitaan di media massa.

Oleh karena itu, adanya moratorium UN 2017 nanti merupakan hal yang patut untuk diapresiasi. Mengapa? Karena kebijakan pelakasanaan UN lebih banyak memunculkan aspek mudarat daripada maslahatnya.

Tujuan UN memetakan kualitas pendidikan nasional tak terealisasi secara optimal. Membuat standar penilaian yang seragam di tengah ketidakseragaman kemampuan setiap satuan pendidikan tentu merupakan bentuk ketidakadilan struktural yang tak patut untuk dilestarikan.

Kita bisa membayangkan betapa sulitnya sekolah-sekolah di pelosok daerah, yang infrastruktur pendidikan dan guru-gurunya masih jauh dari memadai, harus menggunakan evaluasi yang sama dengan sekolah-sekolah di kota-kota besar yang memiliki sarana dan prasarana yang sangat memadai.

Moratorium UN merupakan keputusan tepat. Sekarang saatnya pemerintah lebih fokus pada perbaikan sarana dan prasarana sekolah serta peningkatan kualitas guru dan distribusinya secara merata ke seluruh Tanah Air. Layanan pendidikan yang berkualitas harus dirasakan secara merata dari Sabang sampai Merauke.

Kita berharap, pendidikan tidak hanya menjadikan siswa cerdas secara akademik saja, tetapi lebih jauh, menjadi manusia-manusia yang merdeka.

Dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara, manusia merdeka ialah mereka yang hidupnya, lahir dan batin, tidak bergantung kepada orang lain, tetapi bersandar atas kekuatan sendiri (Kongres PPPKI ke I, Agustus 1928).

Pendidikan yang memerdekakan ialah kunci kema­juan bangsa. Pendidikan yang memberikan ruang yang leluasa bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.

Proses pendidikan yang menghargai ragam kecerdasan para siswa. Proses yang tak terbelenggu oleh ujian-ujian semata. ( Sumber: Media Indonesia, 29 November 2016)

Tentang penulis:

Anggi Afriansyah (Peneliti Sosiologi Pendidikan di Puslit Kependudukan LIPI)

 

Melawan Radikalisme dari Rumah

Oleh Anggi Afriansyah

IVAN Armadi Hasugian lahir pada 1998. Usianya masih sangat belia, baru 18 tahun. Namun, ia sudah sangat terkenal. Bukan karena prestasinya, melainkan karena ia menjadi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katolik Santo Yosep, Medan. Beruntung, niatannya tersebut tak dapat dieksekusi dengan sempurna.

Apa sesungguhnya yang membuat ia nekat melakukan tindakan tersebut? Apalagi ia masih sangat muda. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Agus Rianto menjelaskan pelaku melakukan tindakan tersebut karena iming-iming sejumlah imbalan. Selain itu, ia terinspirasi dari peristiwa penyerangan di salah satu kafe di Prancis.

Rilis BNPT menyatakan pelaku terinspirasi melakukan tindakan pengeboman dan paham-paham kekerasan dari internet.Terlepas dari apa pun motif yang mendasari tindakan pelaku tersebut, kita harus menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran yang berharga. Membuat kita lebih waspada.

Penyebaran ide-ide radikalisme dan terorisme yang menyebar melalui internet semakin memesona anak-anak muda. Jangan-jangan, banyak anak muda yang memiliki pikiran yang sama dengan pelaku. Gemar mempelajari paham-paham radikal dan gerakan teroris di internet, terpesona, dan kemudian terobsesi untuk melakukan tindakan-tindakan yang mengancam nyawa orang lain. Mengancam mereka yang berbeda agama dan keyakinan.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, saat ini pengguna internet 88,1 juta orang dengan 79 juta sebagai pengguna aktif di media sosial. Positifnya, literasi internet sudah menjangkau lebih banyak kalangan masyarakat.

Namun, di satu sisi, kemudahan mengakses beragam konten membuat orangtua semakin sulit memberikan pengawasan terhadap anak karena anak-anak dapat dengan mudahnya mengakses beragam konten di internet. Internet adalah semesta bebas yang menawarkan beragam pilihan.

Secara mudah kita bisa memilih menjelajahi beragam konten. Tutorial apa pun dapat secara mudah diikuti dengan langkah-langkah praktisnya yang mendetil. Gaya hidup, musik, film, olahraga, sains dan edukasi, serta gim, termasuk otomotif, berita, kuliner, kajian keagamaan, dan konten lainnya terpapar di internet.

Tinggal satu klik, apa pun yang diminta hadir di hadapan kita. Kasus yang terjadi pada Ivan menunjukkan bahwa situs-situs radikal ternyata banyak menarik minat anak muda. Ketertarikan terhadap ajaran dan ujaran yang dipelajari di situs-situs tersebut kemudian coba dipraktikkannya secara langsung.

Pengakuan pelaku yang mempelajari paham-paham radikal dan teknik pengeboman dari internet membuat orangtua harus kembali memberikan perhatian yang lebih terhadap setiap konten internet yang ditelusuri anak-anaknya.

Di sini penting bagi kita untuk menimbang mana saja konten yang memang layak diakses. Utamanya untuk anak-anak yang cenderung mudah terbujuk dan terpengaruhi. Penting memberikan daya pijak yang kukuh bagi anak untuk memilih konten yang memang konstruktif bagi perkembangan mental mereka.

Menguatkan peran orangtua

Orangtua dan guru mesti meningkatkan tingkat kewaspadaan. Anak-anak mesti dipantau dengan saksama. Utamanya dalam mengakses informasi yang ada di internet.

Beragam strategi harus dilakukan orangtua untuk mengedukasi anak dalam memanfaatkan internet. Tentu tak bisa asal melarang. Membendung keingintahuan anak dengan larangan justru membuat mereka mencari beragam celah. Menjadikan anak-anak semakin penasaran. Melarang tanpa memberikan solusi bukan hal yang tepat.

Paling realistis ialah memberikan pemahaman yang utuh tentang konten-konten yang layak ditonton dan dibaca untuk usia mereka yang muda. Ini pun tak mudah. Perlu pemberian pemahaman yang utuh dan terus berulang. Maka, dialog orangtua dengan anak perlu terus dijalin.

Jika hal tersebut dilakukan, niscaya setiap gelagat anak akan jelas terbaca. Mengobrol ringan di sore hari menjelang malam mungkin semakin menjadi sesuatu yang mewah. Utamanya bagi masyarakat perkotaan yang penuh dengan kesibukan, membiasakan dialog panjang dan konstruktif dengan anak memang bukan perkara mudah.

Menjejakkan fundamen pemahaman yang kuat kepada anak dapat dilakukan melalui dialog yang terus-menerus. Hadirnya gawai di genggaman masing-masing juga memengaruhi relasi orangtua dengan anak. Tak jarang kita melihat, keluarga yang berkumpul di meja yang sama asyik dengan gawai masing-masing.

Tak ada interaksi sosial karena yang dibangun ialah relasi virtual dengan pihak lain yang jauh. Istilah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat sangat tepat menggambarkan pola relasi yang terbangun saat ini. Tatap muka penuh kasih tak jadi prioritas utama.

Akses internet juga memberikan kemudahan anak-anak untuk menjawab setiap rasa penasaran yang ada. Jika orangtua tak mampu menjadi partner diskusi yang asyik dan tempat bertanya yang ramah, anak akan semakin berpaling ke internet untuk mencari jawaban-jawaban atas setiap pertanyaan baik yang berkaitan tentang pelajaran sekolah maupun pelajaran hidup.

Di sisi lain, di usia yang sangat muda, anak-anak membutuhkan figur-figur idola yang menjadi contoh. Menjadikan mereka sebagai kiblat yang terus diamati, dirujuk, ditiru, juga diikuti. Jangan sampai figur-figur yang diidolakan ialah mereka yang gemar menghasut dan mengajak pada ajaran dan ujaran kekerasan juga kebencian terhadap pihak yang berbeda.

Pendampingan orangtua di sini menjadi sangat penting, sangat krusial bagi anak di masa tumbuh kembang mereka. Peran orangtua masih sangat signifikan untuk mengonstruksi pemahaman anak mengenai beragam aspek kehidupan termasuk penghormatan terhadap keberagaman.

Menguatkan imajinasi bahwa bangsa kita beragam tak seragam. Bangga terhadap keberagaman dan tak membenci yang berbeda. Upaya sederhana yang jika dilakukan secara serius akan berkontribusi terhadap masa depan bangsa. Menguatkan fondasi Bhinneka Tunggal Ika. Berusaha melawan radikalisme dari rumah. ( Sumber: Media Indonesia, 2 September 2016)

Tentang penulis:

Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Pendidikan yang Memerdekakan

Oleh Anggi Afriansyah

‘IR Soekarno, ijazah ini suatu saat dapat robek dan hancur menjadi abu. Dia tidak abadi. Ingatlah bahwa satu-satunya hal yang abadi adalah karakter dari seseorang.

Kenangan terhadap karakter itu akan tetap hidup sekalipun dia mati’ (Adams, 2014). Kutipan tersebut ialah pesan dari Prof Ir G Klopper ME, Rektor Sekolah Teknik Tinggi, ketika menyerahkan ijazah ingenieur kepada Bung Karno. Jarang yang ingat bahwa Bung Karno ialah insinyur jurusan teknik sipil dengan spesialisasi pekerjaan jalan raya dan pengairan.

Ia lebih banyak dikenang sebaga proklamator kemerdekaan dan presiden pertama. Karakter tangguhnya dalam membela dan memperjuangkan Republik ini yang selalu terekam di memori bangsa ini bukan gelar akademik yang dimilikinya. Pesan sang profesor tersebut masih relevan sampai saat ini.

Zaman di saat ijazah lebih diagungkan sebagai prestise. Proses untuk mendapatkan ijazah sering diabaikan. Orang tergila-gila menjembreng gelar yang dimiliki. Tak mengherankan jika beberapa waktu lalu dunia pendidikan kita dihebohkan dengan jual beli ijazah ataupun pemalsuan ijazah.

Secara tersirat, kata-kata tersebut mengingatkan kita agar jangan terlalu membanggakan gelar yang dimiliki. Ijazah merupakan tanda materiil bagi siapa saja yang telah menamatkan jenjang pendidikan tertentu. Bukit legal bahwa seseorang memang memiliki bidang keilmuan tertentu. Namun, ketika memasuki dunia kerja, kepemilikan kompetensi, sikap kerja, daya kritis, kreativitas, dan kepemimpinanlah yang menjadi penting.

Oleh karena itu, pendidikan tentu saja tak semata berurusan dengan angka-angka atau nilai-nilai akademik secara kuantitatif. Itu tidak hanya berkutat pada penguatan kemampuan kognitif. Proses pendidikan merupakan proses yang menyeluruh yang melibatkan olah pikir, rasa, dan karsa. Sebab yang didik ialah manusia-manusia yang memiliki jiwa, bukan robot yang mesti manut, otomatis menaati segala instruksi.

Beberapa pihak mengeluhkan kurang baiknya mentalitas maupun karakter anak-anak saat ini. Ada yang menyalahkan penetrasi globalisasi, tontonan yang tak mendidik, ataupun tak adanya keteladanan dari orang-orang dewasa. Tiap pendapat memiliki argumentasi masing-masing. Urgensi akan pendidikan karakter kembali mengemuka ketika Presiden Jokowi meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy untuk memperkuat pendidikan karakter siswa di sekolah.

Upaya tersebut tentu didasarkan pada kesadaran bahwa kita tak boleh hanya bergantung kepada warisan sumber daya alam yang semakin terbatas, tetapi mesti fokus pada penguatan karakter anak bangsa, menciptakan sumber daya manusia berkualitas.

Berubah
Zaman terus berubah. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan pemerintah harus memperhatikan bahasa zaman. Tapscott (2010) dalam bukunya, Grow Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World, mengungkap generasi saat ini memiliki pola belajar, bermain, bekerja, berkomunikasi, maupun menciptakan komunitas yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mereka cerdas, cepat dalam bekerja, lebih toleran terhadap keberagaman, peduli terhadap isu-isu kemasyarakatan dan keadilan, juga aktif di berbagai komunitas sosial. Dalam menyikapi generasi tersebut, orang dewasa, baik itu orangtua maupun guru, mesti sadar bahwa pola pengasuhan, pendidikan, dan jalinan relasi terhadap anak tidak bisa dilakukan secara konvensional.

Anak-anak tak bisa secara otomatis diposisikan sebagai objek yang harus selalu patuh karena mereka merupakan subjek otonom yang punya independensi dan pendapat sendiri.

Oleh karena itu, dialog yang terbuka menjadi sangat penting. Kebiasaan berdialog membuat anak lebih terbuka terhadap beragam kemungkinan. Apalagi arus deras informasi membuat anak menerima beragam perspektif yang belum tentu sejalan dengan pendapat orangtua, nilai budaya, nilai keagamaan, ataupun nilai kebangsaan.

Di sinilah kesabaran orangtua untuk mendengarkan suara anak diuji. Orangtua harus bersetia pada proses, hati-hati dalam mengarahkan, juga mengakomodasi keinginan dan ide-ide anak. Mendidik anak tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh proses panjang yang melelahkan. Di sekolah, pola pembelajaran yang hanya tersentral pada guru harus diubah. Guru harus cermat memosisikan perannya sebagai pendamping dan fasilitator.

Mereka harus menjadi teladan, role model yang pantas untuk selalu digugu dan ditiru dalam penguasaan materi maupun laku harian. Freire (2007) sangat mengkritik guru yang memosisikan dirinya sebagai sosok yang tak dapat disentuh dan dikritik sehingga menempatkan dirinya lebih tinggi daripada siswa.

Siswa harus menerima setiap apa pun yang disampaikan guru. Seharusnya guru menampilkan wajah penuh kasih sayang dan tidak berjarak dengan siswa. Freire memandang belajar merupakan pekerjaan yang cukup berat, menuntut sikap kritis-sistemis. Siswa harus dilatih dan berlatih cara berpikir dalam mengamati setiap persoalan dan mengalisisnya secara kritis.

Pada dasarnya, anak mesti diberi keleluasaan untuk mengembangkan potensi dasar yang dimilikinya. Orangtua dan lembaga pendidikan harus secara jeli memetakan potensi anak. Anak harus banyak diberi ruang aktualisasi yang lebih banyak. Keuntungan melimpahnya sumber belajar di internet harus dikelola dengan baik.

Manajemen pengelolaan sumber belajar dan mengelola informasi secara efektif menjadi sangat penting di era digital saat ini. Negeri ini membutuhkan anak-anak muda yang tak hanya mencari pekerjaan, tapi menciptakan pasar kerja baru. Anak-anak bangsa seperti Nadiem Makarim (Go-Jek), Achmad Zaky (Bukalapak), Reza Nurhilman (Ma Icih), Andrew Darwis (Kaskus), dan banyak lainnya dapat menjadi contoh nyata. Inovasi, kreativitas tinggi, dan semangat pantang menyerah, disertai pemanfaatan teknologi dan infomasi untuk menunjang kegiatan usaha yang mereka rintis, membuat perbedaan siginifikan.

Hal tersebut berefek pada keberhasilan mereka. Perusahaan-perusahaan yang mereka kembangkan membuka peluang kerja bagi masyarakat. Usaha kreatif tersebut menyerap tenaga kerja, berkontribusi mengurangi angka pengangguran, serta memperkuat fundamen ekonomi bangsa.

Dan yang paling penting mereka memberi inspirasi bagi anak-anak muda di Indonesia. Survei My World 2015 yang dirilis United Nations Population Fund (UNFPA) mencatat pendidikan, kesehatan, disertai peluang pekerjaan yang baik akan membuat perbedaan besar seseorang untuk meraih kesuksesan. Dengan demikian, negara harus hadir dan mengakomodasi proses pendidikan tersebut, menjamin kesehatan, juga menciptakan peluang kerja yang luas bagi masyarakat.

Menunaikan janji yang tercantum pada tujuan negara di pembukaan UUD 1945. Persemaian tunas-tunas bangsa yang memiliki kreativitas tinggi, karakter yang kuat, dan kritis diharapkan mampu membantu menyelesaikan setiap persoalan dan mendobrak kebuntuan bangsa ini. Kesemuanya dapat tercapai jika proses pendidikan di negeri ini mampu memerdekaan anak. Pendidikan yang memerdekakan akan memunculkan semua potensi yang ada pada diri anak. Merdeka! (Sumber: Media Indonesia, 16 Agustus 2016)

Tentang penulis:

Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,154 hits
Agustus 2017
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031