Arsip untuk Juli, 2017

Kader Muhammadiyah di Pilgub Jatim 2018?

Oleh SLAMET HARIYANTO *

Sejumlah kiai NU (Nahdlatul Ulama) yang juga pengasuh pondok pesantren di Jawa Timur menginginkan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menjadi calon Gubernur Jawa Timur yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa. Gus Ipul dianggap memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai gubernur ada tiga, yaitu memiliki kekuatan politik, kultur (publik figur) dan finansial.

Perkembangkan selanjutnya, PKB bermanuver memasangkan Gus Ipul dengan Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Kusnadi, maka dianggap sudah klop. Sebab, pasangan NU-nasionalis sudah sesuai dengan realitas sosial politik terkuat di Jatim sesuai dengan Pileg 2014.

Bagaimana bila Gus Ipul melanjutkan safari politiknya ke parpol lainnya, dan ternyata mereka mengajukan calon wakil gubernur  yang lain (bukan Kusnadi)? Parpol yang belum menentukan sikap politiknya itu adalah Gerindra,  Demokrat, Golkar, PAN, PKS, PPP, Nasdem, dan Hanura. Delapan parpol yang disebut terakhir ini juga punya hak untuk mengajukan cagub/cawagub.

Sementara itu Gubernur Jatim Pakde Karwo punya agasan politik tentang calon tunggal. Gagasan Pakde Karwo bisa terganjal oleh 8 parpol tersebut. Dan sangat mungkin kader NU selain Gus Ipul menggunakan kendaraan politik dari 8 parpol yang belum disentuh Gus Ipul. Itulah yang disebut Peta Koalisi Baru. Gagasan calon tunggal meskipun peraturan perundang-undang membolehkan, tapi tidak cocok dengan asas pendidikan politik bagi warga Jatim yang terkenal dinamis.

Dimana Posisi Kader Muhammadiyah?

Melihat potensi kekuatan ormas di Jatim, orang pasti melihat kekuatan NU dan Muhammadiyah. Bahkan ada pemikiran yang layak bahwa perlu pasangan cagub-cawagub Jatim 2018 berasal dari kader NU-Muhammadiyah.

Hasil survey sementara ini mengunggulkan kader  NU pada posisi cagub. Mereka adalah Gus Ipul, Khofifah (Menteri Sosial), Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Abdul Halim Iskandar (Ketua DPW PKB Jatim, Ketua DPRD Jatim). Sedangkan satu-satunya kader Muhammadiyah yang disebut namanya baru Masfuk, mantan Bupati Lamongan dua periode yang kini sebagai Ketua DPW PAN Jatim.

Sebenarnya kalau koalisi NU-Muhammadiyah serius, bisa digali beberapa nama kader Muhammadiyah untuk posisi cawagub. Misalnya kader yang punya pengalaman anggota legislatif ada Syafiq A Mughni  yang kini Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kader yang mantan anggota legislatif lainnya ada Zainuddin Maliki yang kini Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim. Syafiq adalah guru besar UIN Sunan Ampel. Zainuddin adalah guru besar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA).

Mau cari kader yang pengalaman di KPU Jatim ada Najib Hamid yang kini Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim. Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah tamhid Masyhudi juga punya pengalaman sebagai mantan caleg Dewan Perwakilan Daerah DPD pada Pemilu 2009. Mau cari akademisi dan pakar kesehatan ada Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Sukadiono yang kini Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim. Mau cari kader Muhammadiyah yang punya pengalamam bupati dua periode ada Bupati Bojonegoro Suyoto. Fungsionaris DPP Partai Golkar Ridwan Hisjam, dan Ketua DPW Perindo Jatim Mirdasy juga kader Muhammadiyah.

Koalisi NU-Muhammadiyah bisa terwujud bila ada kekuatan ekstra parlemen yang kuat, sehingga punya daya tawar  yang tinggi terhadap 10 parpol yang punya kursi di DPRD Jatim sekarang. Peta kekuatan politik yang sekarang sedang mencuat bisa berubah. Yakni Gus Ipul dipasangkan dengan salah satu dari 9 kader Muhammadiyah tersebut.

Realitas politik sudah jelas bahwa PKB punya 20 kursi di DPRD Jatim, sudah cukup sah untuk mengusung pasangan cagub-cawagub sendiri tanpa koalisi dengan parpol lain. Di sisi lain, sangat mungkin kader Muhammadiyah sebagai cawagub dicarikan pasangan cagub dari kader NU selain Gus Ipul.

Pasangan ini akan di back up bumi dan disinari matahari. Warga NU dan Muhammadiyah harus yakin bahwa koalisi ini bakal membawa perubahan Jatim lima tahun ke depan. Elit NU dan Muhammadiyah punya kewajiban mendidik warganya supaya melek politik dan bermain secara cerdas.

Soal peluang kemenangan itu menjadi pekerjaan besar tim sukses gabungan NU-Muhammadiyah dan disenergikan tim sukses dari parpol atau gabungan parpol pengusung/pendukung pasangan calon. Tim sukses dari parpol menggarap sisi politisnya, tim sukses NU-Muhammadiyah menggarap non politisnya. Yang penting kedua tim sukses difokuskan pada target kemenangan. Setelah ikhtiar itu dilakukan, selanjutnya hasil akhir kita pasrahkan kepada takdir Allah SWT.

Selama ini banyak wacana tentang perlunya kerjasama antara NU dan Muhammadiyah. Kerjasama dalam bidang apa? Bidang keagamaan, pendidikan, sosial, olah raga dan seni rasanya agak mustahil. Pilgub Jatim 2018 menjadi momentum yang tepat untuk mewujudan kerjasama itu. Kapan lagi?

* H. Slamet Hariyanto, S.Pd, SH, MH adalah dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Ketua Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya, mantan anggota DPRD Jatim periode 1992-1997.

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,682,251 hits
Juli 2017
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31