Radikalisme dan Urgensi Kitab Kuning

Oleh Abdul Kadir Karding

PERDEBATAN mengenai paham keagamaan akhir-akhir ini kembali mencuat. Di berbagai tempat terjadi perdebatan bagaimana model seseorang dalam memahami agama. Di media sosial dan di berbagai grup aplikasi berjaringan juga terjadi saling lempar wacana mengenai soal ajaran agama.

Berbagai link pemberitaan saling dishare untuk ditanggapi hingga muncul polemik di antara mereka. Tak jarang, polemik itu sampai menimbulkan ketegangan baik antarpersonal maupun kelompok.

Wacana agama dan keyakinan memang selalu menarik untuk diperdebatkan. Kepercayaan dan keyakinan seseorang menempati posisi yang amat penting. Bagi orang tertentu, hal ihwal agama adalah masalah yang amat serius dan sangat sensitif.

Pernyataan, sikap dan tindakan seseorang juga banyak ditentukan oleh seberapa jauh dan bagaimana model pemahamannya tentang agama. Masalahnya, pemahaman seseorang terhadap ajaran agama itu juga beragam.

Bisa jadi, setiap orang akan memiliki pemahaman yang berbeda-beda mengenai ajaran agama. Bahkan, model beragama seseorang juga bisa berbeda-beda meskipun mereka memeluk agama yang sama.

Tidak jarang, perbedaan itu bisa menimbulkan konflik. Lalu apakah agama itu sumber konflik? Menurut saya tidak. Ada dua hipotesis yang bisa kita gunakan untuk menguji.

Pertama, konflik antarmanusia ini sudah ada sejak dulu. Bahkan, sebelum ada agama sudah ada konflik. Itu menunjukan bahwa secara kodrat manusia itu diciptakan berbeda-beda yang memiliki potensi berkonflik.

Jika perbedaan tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan konflik. Konflik itu biasanya dipicu karena politik dan ekonomi. Agama hanya menjadi alat untuk membesar- besarkan konflik.

Kedua, saya melihat bahwa seseorang yang sudah memahami agama secara mendalam maka mereka cenderung tidak suka konflik. Seandainya, agama itu mengajarkan konflik berarti semakin orang mendalami agama akan semakin suka konflik.

Fakta di lapangan menunjukan bahwa para kiai dan ulama yang benar-benar paham agama mereka justru sangat tidak suka konflik. Sebaliknya, mereka justru berperan untuk menyebarkan kedamaian.

Lihat saja figur seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kecerdasan dan pemahaman agama sudah tak diragukan lagi. Gus Dur sudah diakui banyak pihak sebagai tokoh toleran dan sangat pluralis. Dalam sejarah Islam, tokoh-tokoh agama menjadi peredam konflik.

Harus Dijaga

Lalu kenapa masih ada umat beragama yang suka konflik bahkan cenderung terlihat keras dalam perkataan dan bersikap. Ada umat beragama yang setiap kali melihat perbedaan langsung memvonis bersalah atau sesat. Seolah-olah dirinya sendiri yang paling benar.

Bahkan, ada kelompok umat beragama yang mengklaim melakukan jihad dengan cara melakukan bom bunuh diri. Bom ini bisa menimbulkan manusia lain meninggal dunia.

Dalam berbagai literatur yang penulis baca, pemahaman agama yang keras, ketat, serta menafsirkan kitab suci dengan cara rigid dan literalis ini biasanya disebut dengan fundamentalisme. Fundamentalisme merupakan keyakinan untuk kembali pada fondasi dan dasar-dasar agama.

Bagi bangsa Indonesia, karakter fundamentalisme dan radikalisme seperti itu yang akan mengancam. Indonesia merupakan negara yang kaya perbedaan suku, agama, ras, antargolongan hingga budaya. Untuk itulah, kedamaian di NKRI, toleransi, bineka tunggal ika, kenyamanan, dan pembangunan harus tetap terus dijaga.

Untuk itulah radikalisme harus diatasi. Radikalisme itu laksana sel tumor ganas yang menuntut tindakan kuratif yang cepat agar tidak menyebar lebih luas. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, tindakan kuratif ini, bisa berarti adalah penegakan atau tindakan hukum.

Selain itu juga perlu tindakan preventif, sebelum sel tumor ganas muncul, mengganggu kesehatan berbangsa dan bernegara. Hadapi radikalisme dengan pendekatan pendidikan, kebudayaan, ekonomi dan sosial.

Dalam konteks pendidikan dan kebudayaan, memahami agama harus dilakukan secara mendalam. Seseorang tak boleh berhenti dalam memahami agama. Kita tidak boleh merasa sudah paham agama. Perlu terus-menerus untuk mempelajari agama. Salah satu caranya dengan mempelajari kitabkitab klasik pesantren yang biasa disebut kitab kuning.

Dalam sejarahnya, kitab kuning merupakan landasan utama terhadap lahir dan tumbuh kembangnya Islam Nusantara yang ramah dan toleran. Landasan dalam memupuk jiwa nasionalisme para kaum terpelajar Islam.

Di dalamnya diajarkan nilai-nilai keadilan (taíadul), keseimbangan (tawazun), moderat (tawassuth), toleransi (tasamuh) dan perbaikan/ reformatif (ishlahiyah).

Nilai-nilai inilah yang harus kita praktikkan karena akan menjadi penangkal munculnya sikap radikal. (Sumber: Suara Merdeka, 8 mei 2017)

 

Tentang penulis:

Abdul Kadir Karding, Sekretaris Jenderal DPP PKB, anggota Komisi III (Bidang Hukum) DPR

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KLIK TERTINGGI

  • Tidak ada

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,696,053 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d blogger menyukai ini: