Orientasi Ulang Penggerebekan Teroris

Oleh Ali Masyhar Mursyid

PENYERGAPAN terduga teroris di Tuban kemarin menandaskan bahwa penanggulangan teroris di Indonesia (masih) mengedepankan upaya represif. Represivitas ini ditunjukkan dengan ditembakmatinya enam terduga teroris.

Terlepas dari adanya motif ”amaliyah” balas dendam akibat pimpinannya ditangkap oleh aparat beberapa waktu sebelumnya, potensi aksi terorisme di seantero Indonesia memang tetap berstatus siaga I.

Kita tetap harus waspada atas segala kemungkinan aksi terorisme. Namun demikian, pemberangusan terorisme dengan cara tembak mati tentu perlu ditinjau ulang.

Penembakan mati terduga teroris di Tuban, semakin menambah deretan panjang aksi penembakan mati dalam penggerebekan terduga teroris.

Sebelumnya penyergapan terduga teroris di Tangerang Selatan juga menewaskan dua orang terduganya. Akan jauh lebih arif dan bermanfaat jika para teroris ditangkap hiduphidup guna pengembangan informasi jaringannya.

Penulis sangat yakin bahwa Aparat Densus 88 Antiteror pun dibekali kelihaian dalam pelumpuhan teroris tanpa harus mengeluarkan peluru.

Kita semua mafhum bahwa terorisme dilakukan karena motif dan tujuan ”ideologis”. Oleh karena itu bisa dipastikan bahwa pelakunya adalah orang-orang yang memiliki militansi kuat.

Penggerebekan teroris di berbagai daerah lebih banyak diarahkan untuk membasmi, bukan melumpuhkan. Di sinilah perlunya orientasi ulang dalam penggerebekan teroris.

Pelumpuhan dengan tanpa membunuh setidaknya akan lebih bermanfaat jika dibanding dengan menembak mati. Setidaknya ada empat alasan penguat perlunya pelumpuhan dengan tanpa mematikan ini yaitu: Pertama, dari sisi kepentingan pemberantasan tindak pidana, teroris yang ditangkap hiduphidup masih dimungkinkan adanya penguakan jaringannya, setidak-tidaknya dapat memberi informasi tentang potensi aksi rancangan berikutnya.

Kedua, dari sisi psikologis, bisa menjadi peredam terjadinya penularan terorisme. Diakui atau tidak bahwa aksi kekerasan terhadap terorisme bisa menumbuhkan teror baru.

Orang bisa saja menjadi radikal karena melihat teman atau keluarganya ditembak mati tanpa adanya proses hukum. Ketiga, dari sisi penegakan hukum, salah satu tujuan penegakan hukum pidana adalah untuk mengembalikan pelaku kejahatan agar dapat hidup normal kembali ke tengah-tengah masyarakat.

Pelaku tindak pidana yang dibina dengan baik justru bisa digunakan sebagai agen penanganan kejahatan itu sendiri. Keempat, dari sisi politis, banyaknya penembakan mati kepada terduga teroris menandakan bahwa pemerintah lebih mengedepankan represivitas dibanding prenventif.

Upaya represif juga bisa dimaknai sebagai lemahnya fungsi intelijen negara dalam penanggulangan tindak pidana terorisme.

Apabila fungsi intelijen dimaksimalkan, maka tindakan terorisme sudah bisa disumbat saat baru dalam tahap perencanaan, tidak perlu menunggu terjadinya aksi.

Perlunya orientasi ulang terhadap penggerebekan teroris ini lebih diarahkan pada perubahan cara pandang masyarakat (dan juga aparat) terhadap pelaku.

Setidaknya terdapat dua cara pandang dalam melihat pelaku terorisme yaitu pelaku adalah orang yang dipandang sebagai pribadi yang ”rusak”, sedangkan cara pandang berikutnya adalah pelaku teror dianggap sebagai pribadi yang sedang ”sakit”.

Lebih Arif

Bagi penganut cara pandang pertama, meyakini bahwa teroris adalah pribadi yang telah rusak,yang tidak mungkin dapat dibenahi. Oleh karena itu, penanganan terhadap teroris tidak ada jalan lain kecuali dibunuh/ditembak mati. Hal ini tentu berbeda dari cara pandang kedua.

Cara pandang kedua bisa dikatakan lebih arif karena memandang teroris adalah sosok yang sedang ”sakit”. Oleh karenanya, penanganannya pun dengan cara ”pengobatan” yakni disediakan seperangkat tindakan alternatif penyembuhan, bukan mematikan.

Cara pandang kedua jelas mengandalkan instrumen kasih sayang, deradikaslisasi dengan hati, disembuhkan penyakitnya, untuk selanjutnya dituntun agar hidup normal bersama masyarakat.

Selama ini cara pandang pertama lebih kita kedepankan untuk menanggulangi terorisme. Kita lebih mengidolakan penggunaan perangkat kekerasan untuk memberangus terorisme.

Padahal, sebagaimana kita rasakan, hasilnya tidak signifikan dapat mengenyahkan aksi teror dari bumi pertiwi ini. Malah bisa dikatakan mensporadiskan teroris. Ibarat pepatah ”mati satu tumbuh seribu”.

Banyak penelitian yang menyajikan fakta bahwa kekerasan tidak akan rampung jika dilakukan dengan kekerasan, bahkan kekerasan akan menjadijadi menuju kekerasan berikutnya. Sebaliknya, kekerasan akan luluh dan luruh apabila ditangani dengan hati nurani, kasih sayang.

Justru karena terorisme lebih banyak digerakkan oleh pemikiran/ideologi yang radikal, maka penyelesaiannya juga harus dilakukan dengan radikal. Radikal yang dimaksud di sini adalah tindakan mendasar yang menyentuh hati pelakunya. Menyentuh rasa kemanusiaan yang paling dalam.

Sejahat-jahatnya manusia, pasti masih memiliki hati untuk menyadari kekeliruannya. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk mencari alternatif penanganan lain dalam penanganan terorisme di Indonesia, bukan mematikan, tetapi melumpuhkan. (Sumber: Suara Merdeka, 10 April 2017)

Tentang penulis:

Dr Ali Masyhar Mursyid SH MH, Ketua Pusat Studi Radikalisme dan Terorisme (Pusara Teror) Universitas Negeri Semarang

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,652,577 hits
April 2017
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: