Membaca Dinamika Geopolitik Global (Jakarta Geopolitical Forum)

Oleh Wahyu Widji Pamungkas

MENGUTIP per­nya­taan Ir Sukarno, Presiden Pertama RI, dalam pidato peresmian Lemhannas RI 20 Mei 1965, bahwa: “…Kita tidak harus mengetahui hal bedil, hanya mengetahui hal mesiu, hanya mengetahui hal susunan sesuatu angkatan, Tidak.

Ini adalah harus satu pengetahu­an yang multikompleks, seba­gai tadi kukatakan bahwa geopolitik pun sebenarnya ada­lah kumpulan daripada pengetahuan-pengetahuan…. …Sesuatu pertahanan nasio­nal hanyalah benar-benar kuat jikalau berdiri di atas ka­rakteristik daripada bangsa sendiri, tanah air sendiri.

Dan pengetahuan mengenai bangsa sendiri, tanah air sendiri, itulah yang dinamakan geopolitik….” menyiratkan pe­mahaman dan pandangan akan geopolitik suatu bangsa yang terartikulasi dalam setiap kebijakan, menggambarkan kapasitas dan kapabilitasnya dalam menjamin keberadaan bangsa atas ruang hidup wila­yah yang dimilikinya.

Artinya, keberlangsungan hidup dan eksistensi suatu bangsa didasarkan pemahaman dan penguasaan bangsa itu terhadap konteks wilayah geografis dan lingkungan sekitar yang di­diaminya.

Dinamika geopolitik

Kehidupan suatu bangsa ber­­ada di antara kehidupan bangsa-bangsa lain sebagai suatu entitas lingkungan hidup antarbangsa yang lebih besar. Faktanya setiap perubahan yang terjadi menyangkut kehidupan suatu bangsa dapat memengaruhi kehidupan bangsa-bangsa di kawasan yang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan demikian setiap bang­sa, termasuk bangsa Indonesia, harus pula mampu memahami dinamika geopolitik kawasan yang terjadi sebagai suatu modal pandangan geopolitik baik kawasan maupun global.

Dari pandangan geopolitik itulah mestinya setiap kebijakan bangsa teradaptasi sehingga mencapai manfaat optimal bagi kepentingan bangsa itu.

Pusaran geopolitik baik ka­wa­san maupun global yang semakin kompleks telah memunculkan berbagai ketidakpastian yang menyulitkan pe­nentuan kebijakan bagi suatu bangsa.

Oleh karena itu, dalam konteks kepentingan bangsa Indonesia, hal ini harus dihadapi bersama dalam satu kesatuan pandangan dan persepsi yang didasarkan pada pengetahuan geopolitik bangsa dan tanah air sendiri.

Selanjutnya, bila dicermati secara saksama, esensi dasar dinamika geopolitik yang mengemuka saat ini sesungguhnya belum bergeser dari motif penguasaan ruang hidup untuk mendapatkan SDA dalam rangka dominasi ekonomi, seperti yang terjadi di era ber­kembangnya kolonialisme dahulu.

Apabila dibandingkan dengan dinamika geopolitik kontemporer, kini lebih banyak diwarnai persaingan dan kerja sama antarbangsa yang akan memengaruhi kebijakan–kebijakan nasional di negara masing–masing di berbagai bidang (seperti politik, ekonomi, dan militer).

Oleh karena itu, sesungguhnya hal ini mendorong terjadinya persaingan antarbangsa yang lebih tajam, dinamis, dan semakin kompleks.

Salah satu hal penting dan mendasar dalam geopolitik kontemporer ialah kenyataan bahwa geopolitik global dan kawasan selalu memiliki benang merah dengan isu energi. Isu energi sangat terkait dengan keamanan energi.

Makin banyaknya negara yang bergantung pada energi yang diimpor membuat mereka mempunyai kepentingan mengamankan pa­sokan energi mulai hulu hingga hilir di tengah kondisi dunia yang penuh berbagai pergolakan.

Sementara itu, pemanasan global telah memengaruhi per­ubahan iklim yang mengakibatkan dampak negatif ling­­kungan yang terus meluas di berbagai belahan dunia.

Me­­ningkatnya intensitas benca­­na banjir, tanah longsor, dan kekeringan sebagai dampak perubahan iklim juga memengaruhi kehidupan sosial dan ketersediaan pangan dunia.

Kini, isu-isu lingkungan yang muncul telah membentuk cara pandang dan sikap berbeda-beda. Tidak jarang dalam proses mencari solusi permasalahan itu, terjadi pertikaian antara satu negara dan negara lainnya demi kepentingan masing-masing.

Sikap dan cara pandang RI

Dengan menelaah dan menyikapi geopolitik kontemporer dalam menghadapi isu pangan, air, dan energi, RI harus menyadari posisi, konstelasi, dan kondisi geografis Indonesia telah memikat bangsa-bangsa lain di dunia.

Potensi SDA yang berlimpah menjadikan RI ren­tan terhadap perebutan ruang pengaruh oleh negara-negara di dalam kawasan dan ekstra kawasan untuk memenuhi ke­ter­sediaan pangan dan energi bangsanya. Oleh karena itu, Indonesia harus cerdas dan bijak dalam menyikapi dinamika geopolitik yang berkembang dewasa ini.

Indonesia harus memiliki wawasan untuk menjadi landasan konseptual yang dapat mencerminkan baik cara pandang maupun pemikiran tentang diri dan lingkungannya dalam upaya mencapai tujuan dan cita-cita nasional seperti tertuang dalam Pembukaan UUD NRI 1945.

Cara pandang itu dikenal sebagai Wawasan Nusantara yang merefleksikan dimensi pemikiran mendasar bangsa Indonesia yang mencakup di­mensi kewilayahan sebagai suatu realitas dan dimensi ke­hidupan, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagai suatu fenomena hidup.

Kedua dimensi pemikiran itu merupakan keterpaduan pemikiran dalam dinamika kehidupan pada seluruh aspek kehidupan nasional yang berlandaskan Pancasila, dan bercirikan prinsip yang meng­utamakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam konteks ketahanan nasional sebagai suatu kondi­si sekaligus konsepsi pembangunan nasional, pandangan geopolitik bangsa Indonesia harus senantiasa mampu meng­antisipasi dinamika geopolitik baik kawasan maupun global sebagai peluang dan tantangan untuk mewujudkan kepentingan nasional Indonesia.

Jakarta Geopolitical Forum

Cara pandang inilah yang melatarbelakangi pemikiran mengapa Lembaga Ketahan­an Nasional RI menggagas event penyelenggaraan forum diskusi internasional yang di­sebut Jakarta Geopolitical Forum (JGF) pada 18-20 Mei 2017.

Event ini diharapkan mampu menjadi media akademis untuk bertukar pikiran bagi para ahli geopolitik dunia dalam mengartikulasikan pemahaman dinamika geopolitik baik kawasan maupun global yang berkembang dan penga­ruhnya dalam persaingan antarnegara pada satu kawasan maupun antarkawasan.

Forum itu juga bertujuan mendapatkan rumusan teoretis tentang dinamika geopolitik kawasan dan global yang memengaruhi eksistensi dan kepentingan nasional setiap negara, utamanya Indonesia, baik dalam lingkup regional dan global.

Kegiatan itu juga diharapkan dapat memberikan pencerahan dan gambaran yang komprehensif tentang geopolitik sehingga bisa digunakan sebagai rujukan dalam penyusunan rencana strategis yang antisipatif terhadap dinamika geopolitik global.

Kegiatan Jakarta Geopoli­tical Forum 2017 yang perta­ma ini, mengangkat tema besar Geopo­litics in a changing world, dengan isu-isu strategis yang diangkat di antaranya keamanan dan perdamaian du­nia, ekonomi global, dan sosial-kemanusiaan.

Narasum­ber yang dihadirkan represen­tasi ahli geopolitik dari negara-ne­gara di berbagai kawasan du­nia, yaitu AS, Kanada, Austra­lia, Tiongkok, Jepang, India, Belan­da, Inggris, Rusia, Norwegia, Austria, Belgia, Turki, dan Mesir.

Dengan berbagai pandang­an dan pemikiran dari para geopolitikus yang hadir pada Jakarta Geopolitical Forum, tentunya akan muncul sebuah konsep pemahaman geopolitik global yang komprehensif.

Hal itu menjadi penting dan bermanfaat bagi RI merumus­kan kebijakan nasional dalam memperkuat ketahanan nasio­nal dan sekaligus mengamankan kepentingan nasional Indonesia. (Sumber: Media Indonesia, 06 April 2017)

Tentang penulis:

Wahyu Widji Pamungkas Kabag Humas Rohumas Settama Lemhannas RI

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KLIK TERTINGGI

  • Tidak ada

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,696,056 hits
April 2017
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: