Agama Minus Etika Kemanusiaan

Oleh Abdul Waid

”Jika norma hukum bertentangan dengan aspek-aspek kemanusiaan, norma hukum harus mengalah. Sebab, tujuan utama norma hukum adalah kemanusiaan.”

EMMANUEL K Twesigye, orientalis kontemporer asal Amerika, dalam pengantar bukunya yang berjudul Religion & Ethics for a New Age: Evolutionist Approach, bertanya tentang mengapa agama-agama dapat diterima secara global oleh khalayak di muka bumi? Menurutnya, hal itu tiada lain karena setiap sosok pembawa agama-agama mengajarkan etika kemanusiaan.

Dan, dalam setiap norma ajaran yang disampaikan kepada pengikutnya selalu menonjolkan etika kemanusiaan. Dengan kata lain, meskipun agama turun dari langit (agama-agama samawi), tetapi ia pantas diterapkan di bumi dan selaras dengan kehidupan umat manusia dalam segala dimensinya.

Muhammad SAW, misalnya, tegas mengatakan bahwa Dia diutus ke dunia semata-mata untuk menyempurkan etika (baca: akhlak). Yesus, juga menekankan pentingnya etika kemanusiaan pada sesama manusia.

Kedua sosok tersebut menaburkan perilaku manusiawi kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Penghormatan setinggi-tingginya dicurahkan kepada setiap kawan dan lawan, apa pun aliran kepercayaannya.

Andai para pembawa agama itu hanya mengajarkan norma hukum atau pun ibadah transendental tanpa etika kemanusiaan yang membumi, barangkali agama hanya sekadar alienasi dan candu sebagaimana dituduhkan Karl Marx. Dan jika itu terjadi, agama akan ditolak umat manusia sejak awal turunnya ke dunia.

Di sinilah mengapa banyak pemuka agama, khususnya ulama sufi, mengatakan bahwa etika kemanusiaan jauh melampaui norma hukum. Mereka seringkali menabrak norma hukum demi tujuan kemanusiaan.

Karena itu, mereka selalu hidup bertenggang rasa, tolong menolong, dan menghindari sikap ketidak adilan, kesombongan, keangkuhan, serta segala yang bisa menyakiti perasaan orang lain, apa pun golongan dan agamanya. Bahkan, pada hewan sekalipun, etika kemanusiaan semacam itu juga diterapkan.

Salah satu tokoh berpengaruh di dunia Islam yang menampilkan pola keberagamaan yang berpijak pada etika kemanusiaan sangat tinggi ialah Najamuddin at-Tufi (1259-1318).

Sebagaimana ditegaskan dalam banyak karyanya, ulama besar kelahiran Baghdad, Irak, itu mengatakan, jika norma hukum bertentangan dengan aspek-aspek kemanusiaan, norma hukum harus mengalah. Sebab, tujuan utama norma hukum adalah kemanusiaan (kemaslahatan universal).

Sayangnya, beberapa abad setelah meninggalnya para pembawa agama utusan Tuhan, agama acap kali dipisahkan dari etika kemanusiaan.

Konsep agama mulai berubah seratus delapan puluh derajad dari semula mengedepankan etika kemanusiaan dari pada norma hukum, kini justru menjadi sebaliknya.

Orang beragama mudah lari dari kasih sayang kepada sesama, tolong menolong, saling menghargai, hanya karena alasan norma hukum yang terkesan dipaksakan. Contoh sederhananya adalah wacana sikap penolakan shalat jenazah bagi warga yang berbeda pilihan politik.

Apa pun alasannya, bagaiamana pun norma hukum agamanya, menolak untuk menshalati jenazah karena berbeda pandangan politik adalah sikap yang tidak sesuai etika kemanusiaan yang menjadi misi utama agama. Jika dilihat dari aspek etika kemanusiaan, sikap semacam itu jelas tidak bisa dibenarkan.

Agama pada dasarnya mengatur umat manusia menuju kehidupan harmoni, tidak bisa lepas dari etika kemanusiaan. Melihat begitu pentingnya peran etika kemanusiaan bagi setiap pemeluk agama, terutama bagi tatanan kerukunan antargolongan agama, sangatlah penting bagi kita untuk selalu menyandarkan pola keberagamaan kita pada etika kemanusiaan, bukan pada dogma yang otoritatif.

Hal itu sebagai upaya untuk keluar dari berbagai persoalan yang menghimpit kehidupan bangsa ini. Pasalnya, etika kemanusiaan selalu selaras dan searah dengan terwujudnya ketenteraman.

Tetapi norma hukum, apalagi egoisme penganut agama, yang ditegakkan dengan mengesampingkan etika kemanusiaan selalu meruntuhkan bangunan ketenteraman masyarakat. (Sumber: Suara Merdeka, 21 Maret 2017)

 

Tentang penulis:

Abdul Waid, dosen Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,154 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: