Pendidikan Antikorupsi sejak Dini

Oleh Ringga Arif WH
Memutus mata rantai korupsi membutuhkan waktu yang tidak singkat. Hal ini disebabkan korupsi sudah mengakar kuat sekian lama.

Penanganannya pun membutuhkan usaha yang kuat, seluruh elemen harus bersatu padu, jikalau ingin negeri ini tidak berada dalam jurang kehancuran.

Korupsi yang masif tentu saja sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, karena sangat merusak nilai-nilai dan jati diri serta melanggengkan tindakan ketidakjujuran. Pintu utama untuk melakukan perang terhadap korupsi yakni melalui pendidikan.

Kualitas pendidikan bisa dilihat dari output yang ditelurkan, yakni kejujuran. Jika sistem pendidikan tidak mampu melahirkan generasi yang berkepribadian dan menjunjung tinggi kejujuran, perlu dipertanyakan kualitas pendidikan tersebut. Pendidikan tidak sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga transfer keteladanan.

Jangan sampai seorang pendidik ”hanya” pandai mengucap tentang sesuatu yang baik namun dalam kenyataan tindakan dan perilaku tidak mencerminkan hal tersebut.

Pendidikan antikorupsi harus ditanamkan sejak dini. Ketika manusia berada dalam tahap tersebut, asupan internalisasi sangat mudah masuk.

Kita tentu tidak menginginkan anak mencontoh perbuatan yang tidak baik, untuk itulah diperlukan pengawasan dan upaya menyampaikan pengetahuan tentang kebaikan semudah mungkin yang dapat dicerna olehnya.

Tidak selamanya kegiatan belajar harus berada di ruangan kelas. Justru melakukan kegiatan di luar kelas dan berinteraksi dengan lingkungan akan lebih bermakna dalam ingatan anak, tentu dengan bekal teoritis terlebih dahulu. Setelah diberikan pembelajaran tekstual, anak perlu diperlihatkan dengan pembelajaran kontekstual.

Artinya apa yang disampaikan di kelas bukan hanya ada dalam angan dan mengawang, namun hadir nyata dalam kehidupan mereka.

Misalnya anak diajak bertemu dengan tukang becak, dengan pemulung, dengan buruh tani, melihat kehidupan keseharian mereka dalam mencari nafkah yang begitu keras. Dengan melihat dan mengetahui secara langsung, anak akan berpikir bahwa mencari uang itu tidak mudah, dan mereka akan paham arti kejujuran dan kerja keras.

Dari hal itu, anak akan menentang tindakan korupsi, yang mengambil sesuatu bukan hak miliknya dan menyengsarakan orang banyak.

Mengapa? Karena dana yang seharusnya digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan, membangun gedung sekolah, membangun rumah sakit, membangun jalan raya, justru diambil oleh para koruptor untuk kepentingan dirinya maupun kelompok.

Pendidikan yang baik akan memunculkan rasa kegelisahan di hati anak didik. Kegelisahan seperti apa? Gelisah menyaksikan keadaan bangsa yang kian karut-marut oleh problema ketidakadilan, ketimpangan, dan maraknya pelanggaran hukum. Hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Berangkat dari kegelisahan-kegelisahan tersebut, akan muncul spirit untuk melakukan perbaikan di masa mendatang.

Perbaikan dengan tidak melakukan korupsi, perbaikan dengan berlaku jujur, perbaikan dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, serta bekerja keras menumbuhkan jiwa merdeka dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. (Sumber: Koran Sindo, 16 Maret 2017)

 

Tentang pnulis:

Ringga Arif WH Mahasiswa Sosiologi  Universitas Gadjah Mada

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,696,689 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: