Menguatkan Pendidikan Antiradikalisme

Oleh Tri Pujiati

DEWASA ini, dunia pendidikan di Indonesia tengah dirundung persoalan yang sangat dilematis. Pertama, menyoal gagalnya aktualisasi pendidikan karakter di masa lalu yang kian menggores nasionalisme generasi bangsa.

Secara konkret, hal tersebut dapat kita lihat dari banyaknya masalah intoleransi yang berimbas pada tindakan radikalisme dan terorisme. Salah satu aksi terorisme yang teranyar adalah fenomena bom panci yang terjadi di Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Fenomena bom tersebut mengonfirmasi bahwa akar terorisme masih menjalar dan belum dapat dimusnahkan. Ironisnya, mereka yang terseret dalam tindakan radikal tersebut generasi muda usia 18-30 tahun.

Bahkan, berdasarkan data yang diperoleh, sebanyak 600 teroris yang ditangkap, 80 persennya generasi muda. Maraknya tindakan radikalisme tersebut mengonfirmasi bahwa pendidikan antiradikalisme di berbagai lembaga pendidikan masih sekadar narasi semata.

Aktualisasi pendidikan antiradikalisme masih jauh panggang daripada api. Ini artinya, aktualisasi kurikulum berorientasi penguatan antiradikalisme belum mencapai klimaks tertinggi.

Sehingga, dunia pendidikan tidak menghasilkan generasi berintegritas jauh dari tindakan destruktif. Kegagalan aktualisasi pendidikan antiradikalisme menjadi malapetaka besar bagi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Karenanya, pemerintah tidak boleh alpa terhadap aktualisasi pendidikan melawan kekerasan ataupun radikalisme guna menyelamatkan masa depan anak bangsa.

Karena melalui aktualisasi pendidikan inilah yang akan mendorong terwujudnya pendidikan anti radikalisme. Kedua, dunia pendidikan juga mengalami goncangan luar biasa menyikapi arus globalisasi.

Terlebih menyikapi tsunami berita bohong (hoax) yang kian sulit diamputasi. Anak-anak pada usia remaja saat ini mahir mengoperasikan gadget berada di persimpangan jalan sulit mencari kebenaran sebuah informasi.

Berbagai informasi yang dipelintir tersebut jika dibiarkan berdampak pada pola pikir (mindset) anak-anak yang notabene masih labil untuk berfikir secara matang.

Oleh karena itu, bagaimana menyelamatkan anak-anak dari ancaman hoax menjadi tantangan besar dunia pendidikan saat ini. Konsep dan aktualisasi yang tepat untuk membangun anak-anak sebagai generasi yang sehat berinternet inilah yang masih jauh dari jangkauan pendidikan saat ini.

Salah satu akar persoalan besar yang menyandera minimnya pendidikan karakter berbasis literasi dipicu minimnya guru profesional. Realitasnya, masih banyak guru yang gagap teknologi.

Mereka bersikukuh mengimplementasikan metode konvensional dalam melakukan transformasi keilmuan kepada peserta didik. Sehingga, guru seakan menafikan keganasan hoax melalui media sosial bagi mental generasi bangsa.

Melalui pembelajaran konvensional peserta didik hanya diajari materi-materi pelajaran yang bersifat teknis semata tanpa membaca realitas.

Bernapas Radikalisme

Selain itu, temuan materi ajar yang bernapaskan radikalisme juga kerap kita temui di dunia pendidikan. Materi tersebut disuguhkan dengan narasi sangat mengerikan.

Imbasnya, berdasarkan temuan Lembaga Kajian Agama dan Perdamaian (LaKIP) 2011, tentang potensi radikalisme di kalangan peserta didik di sekolah menengah wilayah Jabodetabek, terdapat 25% peserta didik yang meragukan Pancasila sebagai ideologi negara.

Dunia pendidikan seharusnya mampu menangkal ideologi radikal yang terus merongrong mental anak-anak. Caranya dengan menanamkan pendidikan karakter antiradikalisme berbasis literasi di sekolah. Dunia pendidikan yang identik sebagai ladang yang dibisniskan tidak boleh menggema dan dibiarkan.

Karena hal yang lebih penting adalah membangun karakter anak bangsa yang dilanda krisis integritas saat ini. Harapan besar orang tua terhadap kemandirian anak-anak di sekolah justru tidak boleh terbentur oleh komersialisasi pendidikan.

Singkat kata, dunia pendidikan harus mendidik sepenuh hati guna membangun integritas generasi bangsa antiradikalisme. (Sumber: Suara Merdeka, 14 Maret 2017)

Tentang penulis:

Tri Pujiati, alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,699,528 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: