Wanita dan Kesuksesan Keluarga

Oleh Siti Muyassarotul Hafidzoh

Tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia (HPS). Peringatan ini sangat penting bagi kaum perempuan Indonesia. Tanpa perempuan yang kuat, Indonesia juga akan semakin melempem menyongsong masa depan. Perempuan yang teguh, kuat, dan bermartabat juga akan menjadikan wajah Indonesia berwibawa.

Ibarat merawat keluarga, begitulah tugas wanita merawat negara. Keluarga yang dirawat dengan baik akan menghasilkan anggota bermutu, berdaya, dan berhasil guna. Keluarga yang bermutu akan menyangga Indonesia meningkatkan kualitas.

Tanpa pijakan keluarga yang kokoh, sulit bangsa Indonesia meraih kemerdekaan dan mempertahankannya. Tak salah kalau Panglima Besar Jenderal Soedirman beserta bala tentaranya begitu gigih memperjuangkan Indonesia karena mereka lahir dari keluarga teguh demi tegaknya Indonesia.

Pelajaran penting lain yang bisa dipetik dalam momentum ini, perempuan juga sokoguru sukses keluarga. Keluarga sukses selalu memperhatikan satu dengan lainnya.

Dia peduli dan selalu memberi daya motivasi kesuksesan. Keluarga demikian tidak banyak pamrih, tak mau terkenal, atau dikenang sejarah. Keluarga ini tulus menjalani hidup demi sebuah hakikat kemanusiaan. Beginilah kekeluargaan yang terbangun dari para pejuang.

Kini, Indonesia telah modern. Berbagai gerak modernitas menuntut beragam aksesori modern. Manusia banyak terlibat di dalamnya sehingga kerap kali terjebak dalam berbagai atribut modernitas yang penuh citra.

Demi membela citra karier, orang tua kerap kali meninggalkan keluarga. Demi mengejar citra, ayah-ibu lalai memperhatikan pendidikan anak-anak.

Demi mengejar gengsi, suami-istri mengorbankan apa saja untuk menyematkan gengsi di hadapan sejawat. Ilusi modernitas dengan berbagai politik pencitraan telah menjadikan berbagai tipologi keluarga yang tidak lagi “nyaman” dengan keluarga sendiri.

Sudah lazim para artis begitu mudah bercerai. Nasib anak-anak akhirnya terkatung-katung. Semua demi menjaga citra di tengah modernitas zaman.

Pendidikan anak sekarang sudah tidak lagi berada di pangkuan orang tua. Pendidikan anak seutuhnya diserahkan kepada sekolah, sedang urusan rumah diserahkan ke asisten rumah tangga. Ini jelas fakta mengenaskan. Jika benar demikian, rumah tangga dibangun hanya demi citra dan prestise sosial.

Karier menjadi pertaruhan yang selalu diagungkan sehingga tugas-tugas keluarga kerap dilalaikan. Bukti kenakalan remaja yang meninggal. Perilaku seksual anak kecil makin menjadi-jadi.

Praktik kekerasan semakin merejalela. Ini gambaran faktual betapa keluarga semakin menjauh dari persoalan anak-anak.

Kekerasan

Tantangan serius perempuan adalah tragedi kekerasan yang melahirkan trauma. Ini bisa menghalangi perempuan meraih sukses atau berperan penting dalam peradaban. Deklarasi PBB tentang Antikekerasan terhadap Perempuan mendefinisikan kekerasan. Itu tampak dalam Pasal 1.

Isinya, segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat, menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan. Ini termasuk ancaman dari tindakan tersebut. Pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan baik di masyarakat maupun kehidupan pribadi.

Definisi ini menggambarkan jelas, kekerasan bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan psikis. Begitu luas cakupan kekerasan dari tahun 2008 hingga 2010.

Kekerasan meningkat hampir tiga kali lipat. Kekerasan terhadap perempuan tertinggi di Jawa Timur (88.836 korban), DKI Jakarta (12.955 korban), dan DIY (10.560).

Dari data sepanjang 2009 hingga Januari 2010, korban kekerasan mencapai 143.585 orang. Ini lebih tinggi dari tahun 2008 yang mencapai 54.425. Angka 2009 itu, sebanyak 48 persen kekerasan seksual dan 48 persen psikis.

Kekerasan ini menjadi bukti negara gagal menjaga martabat kaum hawa. Kasus tenaga kerja wanita (TKW) yang selalu disiksa menjadi saksi nyata, perempuan berada dalam genggaman ketidakadilan.

Nasib para TKW begitu menyedihkan. Mereka terus menjadi korban yang tak pernah terselesaikan. Negara cuma bisa mendengar beragam tindak kekerasan silih berganti. Ironisnya, negara justru terus mengirimkan TKW.

Absennya dalam menjaga perempuan merupakan indikasi kuat bahwa negara semakin melemah, tak mampu melindungi warga.

Stigz (2006) melihat negara kuat senantiasa menjaga wibawa dengan melindungi tumpah darah kebangsaan. Kekuatan negara dicurahkan untuk menjaga rakyat dari ketidakadilan.

Rakyat selalu diprioritaskan untuk dijamin keamanan dan kesejahterannya. Kepemimpinan negara telah digadaikan. Elite politik rakus dengan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Negara menjadi tumbal yang seenaknya digunakan untuk meneguhkan kepentingannya.

Kini, saatnya perempuan kembali ke keluarga. Membangun kesuksesan haruslah dimulai dengan menciptakan keluarga bahagia terlebih dulu.

Pelajaran RA Kartini, wanita tak boleh lelah berjuang menjaga kemanusiaan dan menegakkan martabat perempuan. Semangat perjuangan Kartini harus menjadi pelajaran berkeluarga.

Belajar bersama antara orang tua dan anak-anak ihwal jejak perjuangan para pejuang akan memberikan daya motivasi besar untuk mengobarkan semangat pembelaan terhadap Indonesia masa depan. Anak-anak akan menjadi pribadi yang peka dan suka berbela-rasa. Mereka akan menjadi tulang punggung bangsa.

Mengobarkan kembali kepada publik ihwal perempuan merawat keluarga merupakan langkah awal meraih sukses. Pemerintah mempunyai birokrasi yang sangat efektif untuk terus mengampanyekan spirit berkeluarga berkualitas.

Dengan dukungan birokrasi dan dana cukup, pemerintah selayaknya menjadikan model berkeluarga para pejuang Indonesia.

Bersama organisasi kemasyarakatan, pemerintah bisa menciptakan kantong-kantong percontohan guna mendorong keluarga berkualitas yang siap berjuang untuk membangun Indonesia.

Perempuan berkarier setinggi mungkin. Tetapi, tugas utama dalam menyukseskan keluarga tak bisa dinomorduakan. (Sumber: Koran Jakarta, 10 Maret 2017)

 

Tentang penulis:

Siti Muyassarotul Hafidzoh Penulis Bekerja di Litbang PW Fatayat NU Yogyakarta

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,699,528 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: