Pembangunan Antimodernisasi

Oleh Suci Ayu Latifah

Pemilihan kepala daerah (pilkada) yang diada kan di 101 daerah dan diikuti 153 pasangan calon telah berlangsung serentak pada 15 Februari 2017 lalu.

Masyarakat Indonesia kembali ditantang dan diuji untuk memilih kepala daerah yang siap melakukan perubahan besar bagi daerah yang diam punya.

Salah satu harapan terbesar masyarakat adalah pembenah an infrastruktur yang ter struktur, rapi, dan terarah agar pem bangunan ekonomi daerah meng alami perkembang an menuju tingkat perbaikan.

Seperti yang diungkapkan Gubernur Bank Indo nesia Agus Martowardojo, pilkada yang diselenggarakan 101 daerah secara otomatis dapat meningkatkan konsumsi yang berimbas terhadap per tumbuhan ekonomi pada 2017.

Beberapa hal yang memengaruhi kondisi perekonomian Indonesia, terutama di DKI Jakarta, di antaranya investasi dan indeks saham menurun, kegiatan ekonomi cenderung tidak berubah, rupiah melemah, inflasi yang terjadi tidak terlalu besar, dan pertum buhan ekonomi negatif ketika terjadi demonstrasi.

Berbicara soal melemahnya rupiah, sehari se telah pilkada berlangsung, nilai rupiah menurun empat poin di posisi penutupan per dagangan. Sebelumnya dari Rp13.321 men jadi Rp13.317 per dolar AS.

Seusai demonstrasi di DKI Jakarta, nilai rupiah turun tiga poin. Hal ini berdampak pada kondisi po – litik yang tidak stabil terhadap pembangunan ekonomi.

Namun di sisi lain, nilai tukar rupiah tidak ada ancam an yang mengerikan. Hal ini ter – bukti dengan kondisi pilkada yang berlangsung di Indonesia terbilang aman dan stabil.

Penangan an seperti politik uang sudah diluncurkan guna mengantisipasi politik uang dan jual-beli suara oleh pesaing dari sejumlah partai politik yang dibentuk partai politik.

Jumlah kampanye kali ini tidak dibatasi oleh peredaran uang tinggi yang meng akibat – kan terjadinya inflasi. Namun, lagi-lagi dengan kecanggihan teknologi dan informatika, dana kampanye lebih banyak dialokasikandenganbiayayang lebih rendah.

Selain itu, pertumbuhan ber basis ekonomi dalam tri – wulan I/2017 lebih baik dari triwulan IV/2016 lalu. Nilai perbaikan per tumbuhan ekonomi pada I/2017 ber samaan memperbaiki pertum buh an ekspor Indonesia dan kon – sumsi. Pertumbuhan ekonomi di proyeksikan berkisar 5-5,4 %.

Realitan ya, pertumbuhan ekonomi pada I/2017 mengarah ke titik tengahyang lebih positif. Pemerintah daerah tahun ini mewajibkanuntukmeng alokasi – kan minimal 25% dana alokasi umum dan dana bagi hasil yang diterima un tuk per baikan pembangunan infra struk tur.

Ke – bijakan baik ter sebut diterap kan karena se lama pantauan tahun 2016 ang gar an daerah dinilai banyak ter sendatnya.

Munculnya pilkada serentak ini diharapkan: mampu memperbaiki layanan publik, kebijakan prorakyat, membenahi infrastruktur, memberan tas korupsi di kalangan birokrasi, tercipta nya lapang an pekerjaan, terlebihnya hing ga mendongkrak per tumbuhan ekonomi secara menyeluruh.

Untuk membangun kerja sama ekonomi yang baik, ne gara harus selalu menyapa rak yat dan memberikan aksesibi litas yang seluas-luasnya bagi pembangun an ekonomi rakyat, dan jangan biarkan eko nomi rakyat dieksploitasi oleh pe milik modal dengan dalih modernisasi eko – nomi sehingga nantinya ter – bangunlah pembangunan ekonomi yang sinergis. (Sumber: Koran Sindo, 10 Maret 2017)

 

Tentang penulis:

Suci Ayu Latifah Mahasiswi Ilmu Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. STKIP PGRI PONOROGO

 

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,547 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: