Jangan Terlalu Berharap dari Arab

Oleh Arfanda Siregar

 

Raja Arab Salman bin Abdulaziz masih berada di Indonesia, malahan diperpanjang saat berlibur di Bali. Dia juga mengunjungi Malaysia, Tiongkok, Jepang, dan beberapa negara Afrika Utara.

Kunjungan tersebut bagai membawa misi khusus karena dilaksakan di tengah keadaan ekonomi Arab Saudi yang morat-marit.

Sebagai salah satu orang terkaya versi Forbes, Salman menampilkan kemewahan luar biasa bak selebritas. Dia menggunakan pesawat pribadi supermewah disertai enam pesawat pengiring yang tak kalah mewah.

Dalam video yang diunggah akun Youtube Arabian Horses, tampak interior pesawat mewah lengkap dengan kamar tidur, kamar mandi layaknya hotel kelas wahid.

Selama di Jakarta, rombongan menginap di Hotel Raffles yang mematok 133 juta rupiah per malam. Untuk transportasi, Arab mendatangkan langsung dua Mercedes-Maybach S600.

Waktu di Bali, dia menyewa tujuh hotel termahal dengan tarif 20 juta rupiah per malam. Dikabarkan, selama berada di Indonesia, Salman menghabiskan biaya hingga 400 miliar rupiah.

Sebagai seorang keturunan keluarga bangsawan membuatnya lekat dengan gaya hidup mewah kaya raya. Gazettereview.com merilis, Salman ditaksir memiliki kekayaan 18 miliar dollar AS atau setara 240 triliun (kurs 1 dollar AS 13.333 rupiah). Kekayaannya bersumber dari warisan dan hasil investasi perusahaan properti dan minyak.

Bukan hanya kekayaan Raja Salman yang membuat decak kagum. Seluruh keluarga kerajaan Arab hidup bergelimang kemewahan dan kekayaan.

Bahkan, jumlah kekayaan Raja Salman masih tidak seberapa dibanding total kekayaan keluarga kerajaan Arab. Menurut perhitungan Forbes, total kekayaan keluarga Kerajaan Arab mencapai 1,4 triliun dollar AS atau sekitar 18.620 triliun rupiah.

Berbanding terbalik dengan glamor kekayaan Salman dan keluarganya, keadaan ekonomi negara Arab sedang dilanda krisis.

Statistik anggaran yang dikeluarkan The Economist beberapa waktu lalu menunjukkan, posisi keuangan Arab sedang mengalami defisit 11,7 persen.

Penerimaan Arab sebesar 587,6 miliar riyal dengan pengeluaran sebesar 887,5 miliar riyal sehingga defisit anggarannya mencapai hampir 300 miliar riyal.

Defisit dibiayai dengan mencetak uang lebih banyak atau bisa juga dengan melepas cadangan devisa. Itu yang dilakukan Arab.

Pencetakan uang yang besar telah memicu inflasi. Sebagaimana dilaporkan Otoritas Statistik, pada Desember 2016, Arab mengalami inflasi sebesar 1,7 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Januari 2017 mengalami deflasi 0,4 persen (year on year/yoy) untuk pertama kalinya, sejak tahun 2005.

Inflasi yang tinggi menunjukkan beberapa permasalahan ekonomi. Begitu juga dengan deflasi yang rendah mengindikasikan adanya faktor negatif dalam perekonomian.

Hal tersebut dapat memperlambat kegiatan ekonomi karena beberapa orang akan menunda belanja hingga harga-harga turun.

Lebih Dahsyat

Krisis ekonomi yang terjadi di Arab Saudi saat ini lebih dahsyat dibanding dengan kondisi ekonomi Indonesia sekarang. Hal ini dapat dilihat dari defisit anggaran Arab yang mencapai mencapai 11 persen. Bandingkan dengan Indonesia 3 persen. Secara umum, semakin kecil defisitnya, tambah sehat keuangan pemerintah.

Untuk mengantisipasi defisit sepanjang tahun lalu lalu, Salman telah membakar hampir 26 miliar dollar AS cadangan devisanya. Bahkan, pemerintahannya disebutkan telah meminjam dana empat miliar dollar AS dari bank lokal pada Juli lalu.

Inilah penerbitan surat utang pertama yang dilakukan Arab sejak 2007. Dana Moneter Internasional memperkirakan defisit anggaran akan terjadi sampai 2020.

Runtuhnya ekonomi Arab dilatarbelakangi kebergantungan devisa negara pada pendapatan minyak bumi. Sejak harga minyak dunia merosot empat tahun lalu, pendapatan negara otomatis anjlok.

Kondisi ini membuat anggaran negara mengalami defisit sebesar 367 miliar riyal atau sekitar 1.372 triliun rupiah pada 2015. Jumlah itu setara 15 persen dari Produk Domestik Bruto) Arab.

Oleh sebab itu, kedatangan Salman ke Indonesia tak lepas dari motif ekonomi. Bagaimanapun keadaan ekonomi yang terus merosot memaksa Salman cerdas mencari peluang baru mendongkrak pendapatan nasional.

Dengan kata lain, jika tak ingin hancur, Arab harus mengembangkan industri nonminyak dan memperluas investasi internasionalnya ke berbagai sektor.

Hal ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi industri untuk mengurangi kerentanan ekonomi Arab yang selama ini terlalu bergantung pada bisnis minyak.

Janji Salman yang akan melakukan penetrasi modal hingga 334 triliun ke Indonesia pada Presiden Joko Widodo membuktikan, Arab lagi gencar-gencarnya mencari pemasukan baru agar lepas dari krisis ekonomi.

Tentu tak mudah mendapat investasi tersebut sebab tak mungkin Salman melepaskan investasi sebesar itu tanpa pertimbangan keuntungan finansial.

Pengalaman pun berbicara bahwa realisasi investasi Arab tidak mudah. Bangsa Arab tak gampang menggelontorkan investasi. Apalagi, di negara yang iklim investasinya masih dengan ekonomi biaya tinggi.

Banyak nota kesepahaman proyek investasi, seperti pembangunan kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat dan kilang Dumai di Riau gagal. Perusahaan minyak Arab Aramco, tak kunjung mengucurkan dana. Proyek tersebut akhirnya dikelola sepenuhnya oleh Pertamina, tanpa investor asing.

Dengan kenyataan ekonomi Arab Saudi yang lagi morat-marit, tentu pemerintah tak boleh terlalu banyak berharap dari Arab.

Sulit mendapat bantuan dari negara yang notabene nasibnya lebih buruk dari Indonesia. Dengan kata lain, berbagai janji investasi Salman bukan sesuatu yang mudah direlisasikan jika tak menjanjikan keuntungan besar.

Maka, di penghujung kunjungannya, seharusnya pemerintah menegosiasikan beberapa persoalan kritis yang menjadi kerikil hubungan Indonesia-Arab, di antaranya persoalan tenaga kerja Indonesia yang sampai sekarang tak kunjung selesai. (Sumber: Koran Jakarta, 09 Maret 2017)

Tentang penulis:

Arfanda Siregar Penulis Doktor Lulusan UNP-Czech University in Prague

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,699,528 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: