Tersesat di Era Informasi

Oleh Muna Madrah

SAAT ini kita menyaksikan masyarakat terombang-ambing dalam lautan informasi yang menyesatkan. Setiap hari kita saksikan perang opini yang terjadi seringkali mengaburkan batasbatas nalar.

Apakah yang kita terima sebuah berita atau opini yang berbasis berita? Semua tidak jelas. Publik mengonsumsi berita apa adanya, lalu begitu saja menyebar viral.

Gempuran berita bertubi-tubi membuat kita tak punya cukup waktu mencerna, mengklarifikasi dan tergulung arus informasi.

Bahkan berita yang tak dapat dipertanggung jawabkan banyak beredar dan tersebar di kalangan akademisi. Kemampuan menyerap dan menggunakan teknologi informasi (TI) ternyata tidak serta merta diiringi kemampuan menyerap dan mengolah informasi.

Tanpa disadari, di era informasi ini ada perubahan kultur dari yang semula terbiasa hanya mengonsumsi berita (pasif), menjadi terseret turut mereproduksi dan mendistribusi informasi dan berita.

Kita menggebu menyebarkan informasi, seolah wajib menyebarkan berita di komunitas kita, entah dalam grup kecil di percakapan, hingga media sosial. Khalayak jadi lebih aktif bahkan cenderung hiperaktif. Terperangkap pada nalar cyber, serba cepat, instan, dan viral.

Malas melakukan penelusuran ulang, memastikan sebuah informasi benar atau tidak, terlalu khawatir ketinggalan dan kehilangan momentum, karena di era informasi sebuah isu bisa tiba-tiba datang dan menghilang. Unggahan yang meminta partispasi khalayak dunia maya untuk me like and share pesan tertentu.

Citizen ke Netizen

Pada era informasi ini, definisi warga, masyarakat, community telah mengalami transisi. Permasalahan masyarakat bukan hanya persoalan interaksi di masyarakat riil tapi juga masyarakat yang terhubung kabelkabel, panel-panel dan berjumpa pada layar PC atau perangkat komunikasi bergerak lainya. Inilah netizen, pengguna internet yang berpartisipasi aktif melalui media internet.

Netizen memungkinkan arus komunikasi berjalan kemana saja, hal ini menyebabkan relasi individu lebih berperan. Perkembangan teknologi internet berpengaruh terhadap pola relasi antarindividu maupun antarkelompok.

Relasi yang terjadi pada media baru merupakan refleksi dari relasi yang terjadi di dunia nyata dengan medium lebih bebas. Kebebasan ini kadang tak terstruktur dan melepaskan berbagai identitas sosial yang selama ini disandang di dunia nyata.

Ini ciri khas masyarakat informasi, dia tak hanya bersentuhan dengan TI, melainkan memakai teknologi komunikasi untuk berbagai kepentingan. TI dan komunikasi dianggap faktor mempengaruhi proses globalisasi atau komponen pembentuk formasi masyarakat kontemporer.

Kebanyakan orang menganggapnya ”perjalanan evolusi” dari kemajuan dan menerima apa adanya (taken for granted).

Masyarakat tampak enggan menyadari keberadaan teknologi mempengaruhi semua aspek kehidupan, mulai yang sangat publik atau sampai hal-hal sangat pribadi. TI dipandang sebagai solusi komunikasi yang terkendala jarak.

Teknologi ini memungkinkan produksi dan distribusi informasi juga artefak digital dalam bentuk teks, grafis, suara dan video. Artefak-artefak ini berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang bentuknya bisa tetap atau bisa juga tidak.

Pada prosesnya pemaknaan dan pembacaan ulang dari setiap informasi bisa jadi berbeda. Ada alasan sangat kuat untuk percaya bahwa teknologi digital akan mempunyai dampak panjang dalam perjalanan peradaban manusia. Dengan sigap kita menyambutnya.

Kurikulum baru telah disusun untuk menghindari ketertinggalan teknologi. Mulai dari sekolah, instansi, dan profesi, litersi TI menjadi menu wajib. Tetapi kompetensi melek teknologi belum sepenuhnya dibarengi melek informasi.

Melek TI adalah terminologi yang merujuk kemampuan mendefinisikan informasi yang dibutuhkan, mengetahui dimana informasi tersebut dan menempatkanya dengan efisien dan mengaksesnya kembali, mengkritisi dan mengkasesnya dengan legal dan etis.

Tapi pada prakteknya aspek mengkritisi dengan legal dan etis telah kalah dengan derasnya nafsu mereproduksi dan mendistribusi informasi. Melek teknologi saja tidak cukup, diperlukan kemampuan melek informasi.

Melek informasi merujuk pada kemampuan menalar tiap informasi secara kritis, menelusur keabsahanya dan memastikan apa yang di-like dan share bernilai dan bermakna dikonsumsi sebagai sebuah informasi. Bagi umat Islam melek informasi hukumnya wajib.

Dalam Al Quran, Surat Al Hujarat ayat 6, diperintahkan kepada orang-orang beriman untuk meneliti kebenaran berita yang diterima. Sebab runtuhnya persatuan karena sangat mudah menerima dan membagi berita tanpa perlu melakukan proses pengecekkan.

Melek informasi sudah semestinya melekat pada seseorang untuk menyikapi informasi agar tidak terjadi kebingungan dan sesat pikir.

Melek informasi tidak hanya sekadar cakap memanfaatkan teknologi dalam menelusur keshahihan informasi, tapi penelusuranya dilandasi kesadaran mencari informasi akurat dan valid. (Sumber: Suara Merdeka, 07 Maret 2017)

Tentang penulis:

Muna Madrah, Dosen Fakultas Agama Islam Unissula, Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi UGM

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,154 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: