Mengembangkan Kesadaran Kritis dan Kreatif

Oleh Ahmad Baedowi

“The greatest discovery of any generation is that human beings can alter their lives by altering the attitudes of their minds.” Albert Schweitzer, MD

MENGEMBANGKAN cara berpikir kritis dan kreatif merupakan pencarian seumur hidup agar memiliki sensitivitas rasa kemanusiaan.

Tugas ini menjadi beban setiap orang, terutama para guru dan orangtua agar anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kesadaran kritis dan kreatif yang berguna bagi orang lain.

Dalam proses pendidikan, kesadaran kritis dan kreatif harus menjadi tujuan utama proses belajar-mengajar agar tujuan pembelajaran menjadi lebih fokus dan terarah serta tidak membosankan.

Salah satu cara yang sangat mungkin dilakukan orangtua dan guru ialah dengan melihat, apakah proses belajar di sekolah anak-anak mereka terdapat upaya untuk menyeimbangkan pikir dan rasa dalam proses belajar mengajar.

Jika terjadi, ini pasti akan menumbuhkan sifat menghargai antara satu dan yang lain. Kondisi ini sejalan dengan fakta betapa majemuknya masyarakat Indonesia.

Hilangnya kesadaran kolektif kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk, lebih banyak disebabkan oleh ketidakefektifan kebijakan kurikulum yang kurang menimbang dalam menyeimbangkan rumpun dan mata ajar yang ada.

Keseimbangan kurikulum

Profesor Antonio Damasio (2006) menyebutkan, hari ini sistem pendidikan hampir di seluruh belahan dunia tumbuh pembedaan yang sangat signifikan antara proses pembelajaran yang berorientasi kognitif dan emosional.

Menyelami empati dan rasa tak memperoleh porsi yang jelas dalam struktur pendidikan kita sehingga anak-anak kita cenderung dididik untuk menjadi semacam robot yang minim rasa.

Dalam pandangan Damasio, seharusnya pendidikan seni budaya dan humaniora diseimbangkan jumlah durasi dan substansinya, dan dalam rangka menumbuhkan elan vital kemanusiaan manusia, yaitu emosi dan spiritualitas yang menyatu dalam pikir dan perilaku.

Minimnya durasi dan substansi proses pembelajaran yang mengasah rasa inilah yang salah satunya menyebabkan menurunnya moralitas masyarakat modern.

Jika kebijakan soal distingsi kurikulum ini terus diabaikan, jangan harap tujuan pendidikan nasional seperti tertera dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 akan mampu diwujudkan.

Kebijakan pendidikan yang saat ini lebih berorientasi pada hasil pasti akan berdampak buruk bagi masa depan Indonesia.

Tujuan, hakikat, dan pemaknaan pendidikan yang serbahasil ini memperlihatkan lemahnya sistem pendidikan yang dibangun sehingga elan dasar pendidikan kita seakan tak pernah bertemu dengan jiwa atau ruh yang selalu menjadi batang tubuh pendidikan nasional.

Kombinasi pikir dan rasa yang efektif akan melahirkan arti dan nilai (meaning and value) yang berkelanjutan dalam perilaku siswa. Kebiasaan berpikir imajinatif, kreatif, dan inovatif merupakan kebiasaan hebat yang dalam buku Habits of Mind Accross the Curriculum: Practical and Creative Strategies for Teachers (Arthur L Costa and Benna Kallick, Ed, 2009), dikatakan bahwa setiap guru yang hendak lebih kreatif dalam mengajar disarankan untuk melatih kebiasaan berpikir imajinatif, kreatif, dan inovatif.

Jika kebiasaan ini dilatih secara baik, orisinalitas sebuah pendekatan baru dalam mengajar akan senantiasa hadir dan dirasakan oleh siswa, juga secara kreatif.

Selain itu, pikiran kita juga perlu untuk diajarkan mengambil setiap risiko secara bertanggung jawab (taking responsible risks).

Dalam realisasinya, kebiasaan ini kemudian akan meningkatkan kompetensi guru secara konstan dan berkesinambungan sehingga pada saat tertentu siswa juga dapat melihat sekaligus tahu bagaimana menjadi murid yang bertanggung jawab.

Thinking interdependently merupakan kebiasaan berpikir selanjutnya yang layak untuk dilatih.

Guru dengan kebiasaan cara pandang semacam ini akan selalu mampu untuk belajar dan bekerja sama dalam kelompok secara timbal balik.

Selain itu, penting juga bagi guru untuk menunjukkan kebiasaan yang tenang, berpikir jernih sekaligus deliberatif.

Inilah jenis kebiasaan berpikir yang mengedepankan kata hati atau terbiasa selalu berpikir dulu secara jernih sebelum melakukan sesuatu.

Kebiasaan ini disebut dengan managing impulsivity.

Selain itu, kemampuan berpikir fleksibel, yakni bagi seorang guru yang memiliki begitu banyak siswa dengan lain kecenderungan, juga merupakan kebutuhan harus dilatih secara terus-menerus.

Kemampuan berpikir fleksibel yang terlatih akan menempatkan guru pada kemampuan tertinggi dalam memberikan evaluasi pembelajaran secara maksimal karena terbiasa dalam menggunakan berbagai macam perspektif dan opsi sebelum memutuskan sesuatu.

Kemampuan lainnya yang perlu dilatih ialah usaha untuk selalu akurat dalam mengambil keputusan (striving for accuracy). Menangani begitu banyak masalah siswa menuntut guru untuk selalu memiliki akurasi dalam menangani setiap problem pembelajaran yang dihadapi siswa.

Agar situasi belajar selalu dapat dikontrol berdasarkan tujuannya, penting bagi guru untuk sesekali menggunakan wisdom atau apa yang baik di masa lalu ke dalam konteks kekinian (applying past knowledge to new stuations).

Memberikan contoh tentang pengalaman dan pengetahuan apa saja yang pernah dilakukan di masa lalu, terkadang membantu guru dalam menyadarkan situasi tertentu yang dihadapi siswanya.

Kemampuan selanjutnya untuk dilatih ialah kemampuan dalam mengumpulkan dan mengolah data melalui berbagai media, seperti rasa, sentuhan, penciuman, pendengaran, dan penglihatan (gathering data through all sense).

Hal ini penting karena siswa juga memiliki kepribadian yang beragam sesuai dengan daya pikir dan rasa yang dimilikinya.

Kemampuan terakhir yang juga harus dilatih ialah kebiasaan untuk memuji dan menyatakan kekaguman (responding with wonderment and awe) terhadap potensi dan prestasi siswa, menumbuhkan selera humor (finding humor) yang cerdas dengan siswa, serta tetap memiliki semangat untuk terus belajar (remaining open to continous learning).

Jika kebiasaan-kebiasaan ini dilatih secara teratur, besar kemungkinan guru akan lebih kreatif dan inovatif dalam menjalankan proses belajar.

Kebiasaan pikiran yang perlu dilatih di atas tidak harus dilatih secara berurutan dan atau serentak. Sebagai sebuah kurikulum yang hidup, ada baiknya jika guru mendiskusikannya secara terbuka kepada semua siswanya untuk mulai melatih hal-hal yang dirasa perlu dan cocok untuk dikembangkan untuk mata ajar yang ingin dipelajari bersama.

Mengembangkan nalar kritis dan kreatif membutuhkan keberanian dari para guru dan kepala sekolah untuk melawan budaya pendidikan yang tidak menghargai perbedaan dalam menafsirkan, misalnya, makna kurikulum bagi proses belajar mengajar yang kreatif.

Secara aplikatif, baik guru maupun kepala sekolah dapat membuat mind-map pembelajaran yang dapat menumbuhkan kreativitas siswa yang berpusat pada 5 hal, yaitu focus, act, connect, deviate, dan evaluate.

Jika sekolah memiliki fokus mengembangkan kreativitas siswa, syarat selanjutnya ialah keberanian untuk melakukannya (act).

Dalam terminologi creative method, komunitas sekolah harus berani melakukan sebuah terobosan yang sama sekali baru (it’s about the action of creating something that never existed), dan dalam konteks dan relevansi yang terkait erat dengan persoalan budaya dan kemanusiaan (it’s about the connection of this act to our culture and humanity). (Sumber: Media Indonesia, 06 Maret 2017)

Tentang penulis:

Ahmad Baedowi Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,699,528 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: