Aspek Keberhasilan Pembangunan Ekonomi Pemimpin

Oleh Muhammad Husein Heikal

Pilkada telah usai. Para pemimpin telah terpilih. Saatnya pembuktian janjijanji yang telah diumbar kepada rakyat. Saatnya melanjutkan pembangunan yang telah dilakukan pemimpin sebelumnya.

Saatnya menciptakan kondisi ekonomi, sosial, politik, dan budaya tanpa hiruk-pikuk yang menjenuh kan. Saatnya meng abdi dan bekerja untuk rakyat.

Pada konsep nya, keberhasilan dalam pembangunan ekonomi tidak harus sejalan dengan per tumbuhan ekonomi, yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil dan hanya berorientasi dalam bentuk angka belaka. Lebih dari itu, pembangunan ekonomi ialah persoalan realita yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat.

Pembangunan ekonomi haruslah memerhatikan upaya peningkatan kualitas kehidupan dan kebebasan yang dinikmati. Itulah yang disebut kesejahteraan.

Kese jah teraan dengan konsep adil tanpa perbedaan, sesuai Sila Kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Ada tiga aspek pem bangunan dari segi ekonomi yang dapat membuat publik puas atas kinerja para pemimpin, dan pemimpin tersebut dianggap telah berhasil memimpin dengan baik. Aspek pertama, yaitu ke berhasilan pemimpin tersebut menurunkan angka kemiskinan.

Kemiskinan bukanlah suatu kejahatan, namun kemiskinan adalah akar dari kejahatan. Bagaimana tidak, kemiskinan menjadi momok menakutkan bagi setiap orang. Tidak ada seorang pun di belahan dunia ini mau hidup miskin. Semua orang ingin hidup sejahtera dan makmur.

Karena itu, pemimpin haruslah bersungguh-sungguh menciptakan kehidupanrakyat yangsejahtera. Aspek keberhasilan kedua, mengurangi kesenjangan. Bila kemiskinan berhasil dikurangi, dengan otomatis kesenjangan akan ikut menurun.

Diukur bila tingkat pendapatan meningkat, sejalan dengan mening katnya konsumsi. Bukan konsumsi terus meningkat, sementara pendapatan tetap stagnan atau bahkan berkurang. Dapat dikata kan pemerataan ialah kunci sukses pemerintahan.

Namun, indeks rasio gini yang mengukur ketimpangan kian waktu tidak mengalami perubahan yang signifikan. Solusi nya di sini pemerintah haruslah menekan angka kemiskinan sehingga akan berdampak secara otomatis pada penurunan angka kesenjangan.

Aspek ketiga, keberhasilan pemimpin dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Pada dasar nya, bila dinalarkan secara sederhana, kita sadari bahwa bila seseorang telah bekerja, bagaimanapun ia mempunyai pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehariharinya.

Masalahnya di sini, tenaga kerja tidak dapat diserap oleh lapangan pekerjaan yang tersedia. Pemerintah harus bisa membuat lapangan pekerjaan sebagai solusi itu.

Dari tiga aspek yang saling berkaitan di atas tampak jelas bahwa sebenarnya keinginan rakyat itu sangatlah sederhana walau beberapa pandangan menilai keinginan rakyat itu cukup kompleks.

Saya kira, yang menyebabkan kekompleksan itu ialahpemimpinataupe me rintah itu sendiri, yang terlalu tergoda melakukan penyele wengan kekuasaan.

Ditambah pula absennya sistem hukum yang mapan makin memu dah kan para pemimpin untuk terperangkap dalam praktik yang sama sekali tidak menguntungkan rakyat. ( Sumber: Koran Sindo, 07 Maret 2017)

Tentang penulis:
Muhammad Husein Heikal Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, FEB

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,547 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: