Menggaet Fulus Saudi

Oleh Berly Martawardaya

Kedatangan Raja ArabSaudi Khadimul Haramain asy- Syarifain Salman bin Abdul Aziz al-Saud menarik perhatian media massa dan masyarakat. Dari segi jumlah rombongan saja sudah fenomenal yaitu mencapai 1.500 orang sehingga harus membawa tujuh pesawat.

Pada tur keliling Asia yang pertama kali dilakukan setelah naik tahta pada 2015, Raja Salman selain ke Malaysia dan Indonesia juga akan mengun jungi Brunei, Jepang, China, dan Maladewa.

Arab Saudi adalah negara tempat berada Mekkah dan Madinah, dua kota suci umat Islam, yang diwajibkan bagi setiap muslim untuk mengun jungi sebagai bagian pelak sana an haji.

Arab Saudi amat erat dalam benak masyarakat Indo nesia. Sebagai negara dengan penduduk beragama Islam ter besar, tahun lalu saja ada 168.800 muslim Indonesia yang melaksanakan haji. Sejak dahulu umat Islam Indonesia berusaha melak sanakan haji walau perjalanan yang masih menggunakan kapal laut memakan waktu lebih lama.

Sisi positifnya banyak jamaah yang sekaligus menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah serta tidak langsung pulang setelah melaksanakan haji.

Di antara ulama Indonesia yang pernah menjadi imam Masjidilharam adalah Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al- Bantani, dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangka bawi. Keter – ikatan kultural Indo nesia ke Saudi sangat kuat dan telah men – jadi bahan banyak riset.

Budaya High, Ekonomi Low

Sampai saat ini hubungan kultural Indonesia dan Saudi masih kuat. Bukan rahasia bahwa Arab Saudi banyak memberikan bantuan di bidang keagamaan dengan membangun fasilitas rumah ibadah serta mendukung pendidikan dan yayasan keagamaan.

Namun, kerja sama ekonomi Indonesia dan Arab Saudi masih lemah. Pada 2015 ekspor Indonesia ke Arab Saudi sebesar USD2,16 miliaralias1,4% dari totalekspor.

Arab Saudi ada pada peringkat ke-16 negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia. Adapun pada tahun yang sama Indonesia mengimpor dari Arab Saudi sebesar USD6,52 miliar (4,6% dari total impor).

Artinya, Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar USD4,4 miliar dengan Arab Saudi. Kalau dibedah lebih da lam, neraca non migas Indo nesia masih surplus USD1,19 miliar, sedangkan migas defisit USD5,55 miliar.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan pada 2016 jumlah investasi dari Arab Saudi menem pati posisi ke-57 dari semua negara investor di Indo nesia.

Adapun jumlah inves tasinya hanya USD900.000 atau Rp12 miliar saja yang tersebar di 44 proyek. Peringkat dan nilai investasi Arab Saudi bahkan di bawah Afrika Selatan dan Mali. Nilai investasi ini kalah jauh dariposisi tiga besar yang di tempati oleh Singapura, Jepang, dan China.

Investor terbesar nomor satu di Indonesia berasal dari Singapura dengan nilai USD 9,1 miliar atau sekitar Rp121 triliun yang terbagi dalam 5.874 proyek.

Tapi, perlu agak kritis dengan data investasi Singapura yang kadang asal utamanya dari negara lain. Investor terbesar kedua dari Jepang dengan nilai USD5,4 miliar atau sekitar Rp71,8 triliun di 3.302proyek.

Pemegangnomor ketiga adalah investor China dengan nilai investasi USD2,66 miliar atau sekitar Rp35,3 triliun di 1.734 proyek.

Kedatangan Raja Salman terjadi pada masa penurunan harga migas. APBN Arab Saudi 2017 menunjukkan bahwa dengan 69% pendapatan dari migas masih mengalami defisit sebesar 7,7% yang hampir tiga kali lipat Indonesia.

Arab Saudi juga baru meluncurkan Vision 2030 yang menargetkan diversifikasi ekonomi ke sektor nonmigas, khususnya pariwisata dan UKM. Pada launching reformasi ekonomi, Putra Mahkota Saudi menyatakan bahwa migas adalah kecanduan yang berbahaya bagi perekonomian masa depan negaranya.

Bagiandari programrefor masi ekonomi adalah mengu rangi subsidi (air, energi, dan BBM) dan mening kat kan pa jak untuk memperbaiki kondisi fiskal.

Sekitar 5% dari saham Aramco akan dijual untuk memperkuat sovereign wealth fund(SWF) yang menjadi tangan pelaksana di pasar investasi global.

Potensi Fulus

Kondisi Arab Saudi sekarang memiliki beberapa kemiripan dengan Indonesia pasca-oil boom 80-an yang harus kreatif menggenjot sektor nonmigas dengan berbagai kebijakan supaya ekonomi tidak melam bat signifikan.

Namun, bedanya, Arab Saudi masih memiliki cadangan defisit yang tinggi sebagai pemegang cadangan minyak terbesar kedua di dunia atau 72,8 kali lipat cadangan minyak Indonesia.

Arab Saudi masih punya napas bila mengelola dana yang di miliki dengan baik. Dubai adalah best practicenegara yang bisa menghindari kutukan sum ber daya alam (resource curse) dan secara terencana beralih dari penghasil migas menjadi pusat finansial, jasa, dan be lanja di Timur Tengah.

Penanda tanganan kilang minyak Cilacap sebesar USD6 miliar (Rp80 triliun) perlu di lihat dari kacamata ekonomi dan geo politik. Secara ekonomi Indonesia ada lah negara net importer minyak dalam dekade ke depan.

Kalaupun ditemukan ladang minyak baru, mem butuh kan waktu untuk masuk ke tahap produksi, padahal jumlah kendaraan bermotor di Indonesia terus meningkat.

Kilang minyak tersebut akan membutuhkan crude oil untuk diproses dan memang dalam beberapa tahun terakhir impor migas Indonesia dari Arab Saudi terus meningkat.

Dari segi geopolitik, Arab Saudiperlumemperkuat hubungan dengan Indonesia seiring peningkatan hubungan dengan Iran yang merupakan rivalnya di Timur Tengah.

Pertamina dan National Iranian Oil Company (NIOC) pada Desember lalu menanda tangani nota kesepahaman untuk melakukan preliminary study terhadap kedua lapangan minyak raksasa di Iran, yaitu Ab- Teymour dan Mansouri yang memiliki cadangan lebih dari 5 miliar barel.

Apabila Indonesia bisa memainkan kartu diplomasi luar negeri bebas aktif, berpotensi meraih manfaat dan membuka pintu ekspor ke dua negara tersebut.

Dalam pertemuan di Istana Bogor, Presiden Joko Widodo dan Raja Salman menandatangani 11 nota kese pahaman atau MoU antara lain mencakup ekonomi, ke buda ya – an, usaha kecil dan menengah, serta industri aeronautika.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meng ungkap kan bahwa Arab Saudi ber janji bakal membiayai pembangunan infrastruktur Indonesia lewat pinjaman bernilai USD1 miliar yang akan disalurkan melalui The Saudi Fund Contributionto theFinancing of Development Project.

Sebesar USD750 juta akan di alokasikan pemerintah untuk membiayai proyek yang telah disepakati. Sisanya sebesar USD250 juta akan dialokasikan untuk men danai atau mendukung kegiatan ekspor dari Arab Saudi ke Indonesia sektor nonmigas.

Presiden Jokowi juga menawarkan kerja sama pembangunan kilang minyak di Dumai, Balongan, dan Bontang. Liburan enam hari rombongan kerajaan di Bali juga diharapkan akan diikuti oleh warga Arab Saudi lain sehingga meningkatkan kunjungan dan pendapatan turisme Indonesia pada masa depan.

Hubungan panjang budaya antara Indonesia dan Arab Saudi sudah saatnya diperluas menjadi hubungan ekonomi yang saling menguntungkan dua negara. Moga kunjungan ini menjadi momentum penguatan yang berdampak jangka panjang. Insya Allah. (Sumber: Koran Sindo, 03 Maret 2017)

Tentang penulis:

Berly Martawardaya Ekonom INDEF, Ketua PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), dan Pengajar Ekonomi Politik di FEB UI

 

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,699,528 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: