Elan Kebenaran Jurnalistik

Oleh Amir Machmud NS


KARYA
jurnalistik bukanlah produk yang bisa memonopoli kebenaran seperti sebuah proses yuridis yang menghasilkan keputusan berkekuatan hukum tetap atau inkracht. Intinya, “kebenaran jurnalistik” berbeda dari “kebenaran yuridis”.

Gaung pembentukan opini publik yang dihasilkan bisa setara, bahkan mungkin “kebenaran jurnalistik” terasa lebih kuat. Dalam prinsip-prinsip mencari kebenaran itu, proses “persaksian” yang ditempuh wartawan boleh jadi hampir sama dengan mekanisme proses penegakan hukum.

Bedanya produk jurnalistik hanya mengantar, selanjutnya penilaian terhadap kekuatan kebenaran itu akan ada pada persepsi kyalayak.

Proses persaksian itu berupa prosedur yang ditempuh secara disiplin untuk menjalankan verifikasi. Modelnya bisa tabayyun, cek dan ricek, serta konfirmasi-konfirmasi.

Dari mekanisme ini diharapkan lahir produk jurnalistik dengan matra kredibilitas: akuntabel, terverifikasi, dan dapat dipercaya.

Wartawan era baru, menurut Kovach dan Rosenstiel (2004), tak lagi memutuskan apa yang seharusnya diketahui publik. Dia membantu audiens mengerti secara runtut apa yang seharusnya mereka ketahui.

Hal ini secara tak langsung berarti menambahkan interpretasi atau analisis pada sebuah laporan berita. Tugas pertama wartawan era baru adalah memverifikasi apakah informasinya bisa dipercaya, lantas meruntutkannya sehingga warga bisa memahaminya secara efisien. Pesan awal ini mencoba untuk membantu merangkai jalan agar jurnalis berada dalam trek prosedur pemberitaan.

Di tengah fenomena keprihatinan tentang kepungan berita bohong (hoax) dan berita palsu (fake news), tendensi pemberitaan wartawan dan media arus utama (mainstream) mesti kembali ke “khitah” untuk menjaga kepribadian sebagai penyebar dan pencari kebenaran. Artinya, nilai-nilai berjurnalistik dan bermedia sungguh-sungguh dihayati sebagai mahkota profesi.

Dalam jurnalistik, wartawan merangkai fakta-fakta, mencocokkannya, dan mencoba menyusun puzzle persoalan melalui konfirmasi ke berbagai arah, cek dan ricek, serta keyakinan hati nurani sebagai bekal kekuatan etik.

Proses yang ditempuh itu akan mengantarkan khalayak untuk membaca, menemukan, lalu memahami adanya masalah yang sedang diangkat sebagai berita.

Swa-Verifikasi

Seberapa besar berlangsung intervensi terhadap proses-proses produksi berita tersebut? Dalam standar baku keredaksian, berita antara lain “berjalan” melalui birokrasi redaktur atau penyunting.

Tahapan ini, secara teknis, merupakan lini berikut verifikasi setelah wartawan melakukan verifikasi awal terhadap apa yang dia tulis, dia rekam, dan dia olah.

Kebenaran akan “ditentukan” oleh keterampilan wartawan untuk mengolah dan sejauh mana kearifan sentuhan sang penyunting atau editor.

Bila pad a tahap ini terjadi salah penilaian, atau bahkan kesengajaan untuk mengaburkan makna, apalagi memelencengkan dengan setting dan framing yang seselera penanggung jawab tahapan, yang hadir adalah potensi menjadi berita bohong atau palsu.

Penghayatan etik menjadi syarat mutlak yang mengalir dalam darah wartawan, dengan selalu membuat pertimbangan mendengarkan suara hati nurani setiap kali dia menulis berita.

Pertanyaan- pertanyaan dikotomik tentang baik – buruk, benar – salah, peduli – tidak peduli, bertanggung jawab – tidak bertanggung jawab harus selalu dialirkan sebagai pilihan sikap pada awal disiplin verifikasi. Betapa penting swa-verifikasi oleh wartawan untuk setiap berita yang dia tulis.

Syarat spirit menjaga kejernihan nurani dan menemukan kebenaran menjadi sikap mutlak, karena disiplin verifikasi memang menuntut semangat orientasi. Untuk apa, demi apa, dan kepada siapa berita itu didedikasikan.

Apakah wartawan dan media arus utama harus bertanggung jawab terhadap pengawalan agar tidak muncul hoax? Secara moral boleh dikatakan ya, kendati tidak ada pihak mana pun yang akan mampu mencegah arus informasi dengan berbagai-bagai kualitasnya.

Dalam lingkup harga diri jurnalistik, tanggung jawab wartawan dan media, terutama adalah untuk menjaga kepercayaan agar publik menyisakan ruang kepercayaan yang cukup kepada beredarnya informasi atau berita.

Literasi media untuk berlapis kalangan, dalam kaitan dengan fenomena hoax, harus diselenggarakan untuk secara kritis menggiring dan mendorong publik mengedepankan skeptisitas ketika menerima informasi.

Yang harus ditanamkan adalah transformasi sikap untuk tidak gampang mencerap setiap informasi sebagai kebenaran, kecuali meyakini bahwa yang menyampaikan informasi itu adalah media yang layak dipercaya.

Bagi wartawan dan media, menjaga kepercayaan publik akhirnya menjadi elan yang tidak boleh ditawar. Sikap swa-verifikasi oleh wartawan sebelum mengolah informasi yang dia terima dan dia gali, dengan keyakinan nurani dan penuh tanggung jawab setidak-tidaknya akan menghantar kepada “kebenaran jurnalistik”, dan itulah produk kewartawanan dalam sajian media yang akuntabel, terverifikasi, serta bisa dipercaya.(Sumber: Suara Merdeka, 03 Maret 2017)

Tentang penulis:

Amir Machmud NS, Direktur Pemberitaan Suara Merdeka Network dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,696,689 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: