Tingkatkan Daya Saing SDM

Oleh Ika Murnia Wati

 

Awal 2017 membawa suasana yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Tepat 15 Februari 2017 telah dilaksanakan pilkada serentak di beberapa daerah di Indonesia.

Pilkada tahun ini diikuti oleh 101 daerah dari tingkat provinsi, kabupaten, dan kota membawa nuansa pemilu penuh persaingan untuk mendapatkan suara masyarakat.

Persaingan ketat antarcalon kandidat membuat orang- orang begitu memperhatikan pilkada tahun ini, seperti Pilkada DKI Jakarta 2017 yang menjadi sorotan semua pihak baik warga Jakarta maupun wilayah lain.

Hal itu karena semua calon kandidat mempunyai kompetensi dan keahlian yang sangat unggul di bidangnya masing-masing.

Hasil penghitungan suara dari KPU di beberapa daerah menjadi salah satu bukti respons masyarakat untuk memilih pemimpin di daerahnya.

Kepercayaan yang diberikan agar pemerintahan dapat mencapai tujuan, terutama meningkatkan kesejahteraan menjadi alternatif pilihan masyarakat untuk memilih pemimpin lama atau mencari yang baru, sehingga pemimpin terpilih dapat mendorong kinerja lebih baik lagi dalam menjalankan tugasnya. Apalagi untuk menyelesaikan isu-isu ekonomi yang belum terselesaikan.

Isu-isu seperti kemiskinan, inflasi, dan pengangguran sebaiknya dicari penyelesaiannya. Apalagi awal 2016, Indonesia telah mengikuti MEA (masyarakat ekonomi ASEAN) di mana arus barang dan jasa dapat bebas masuk pasar.

Jika masyarakat tidak siap untuk bersaing maka akan berpengaruh buruk terhadap Indonesia, seperti masuknya tenaga asing berkompetensi sedang/ tinggi ke Indonesia dapat mengakibatkan tenaga kerja Indonesia banyak yang menganggur.

Berdasarkan data dari BPS menunjukkan pada Agustus 2015 dan Februari 2016, jumlah pengangguran terbuka berdasarkan tingkat pendidikan tinggi, banyak berkurang dari lulusan SMA dan SMK.

Lulusan SMA yang awalnya 2.280.029 orang menjadi 1.546.699 orang dan SMK yang mulanya 1.569.690 orang menjadi 1.348.327 orang.

Namun, hasil ini berbanding terbalik dengan lulusan universitas yang semakin meningkat penganggurannya. Pada awalnya 653.586 orang menjadi 695.304 orang.

Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tinggi belum menjamin cepatnya mendapat pekerjaan. Akan tetapi, pendidikan tinggi dapat menyiapkan masyarakat menjadi tenaga kerja terdidik dengan kemampuan dan keahlian yang siap untuk bersaing dengan tenaga kerja negara lain.

Selain itu, berdasarkan data World Economic Forum 2014, menunjukkan peringkat laporan daya saing global Indonesia berada pada urutan ke-34, sedangkan Malaysia berada di peringkat 20. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas daya saing kita masih rendah bila dibandingkan dengan Malaysia.

Untuk meningkatkan daya saing, suatu negara dipengaruhi banyak faktor dari makro maupun mikro. Pada faktor mikro, salah satu hal yang dapat diusahakan ialah meningkatkan kualitas daya saing SDM.

Selain dari pendidikan, kualitas SDM juga dapat ditingkatkan melalui kreasi dan inovasi dalam melaksanakan pekerjaan, terutama masyarakat-masyarakat yang berwirausaha skala kecil maupun menengah.

Banyaknya masyarakat yang berwirausaha dapat meningkatkan tersedianya lapangan pekerjaan, kemudian dapat menyerap tenaga kerja dan membantu pemerintah mengurangi pengangguran.

Untuk itu, masyarakat perlu meningkatkan kualitas daya saing SDM baik dari kompetensi dan keterampilan, dengan begitu dapat bersinergi dengan pemerintah untuk meningkatkan daya saing global negara Indonesia. (Sumber: Koran Sindo, 28 Februari 2017)

Tentang penulis:

Ika Murnia Wati Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,553 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: