Penguatan Hubungan Indonesia-Timur Tengah

Oleh Ibnu Burdah

RAJA Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud direncanakan berkunjung ke Indonesia pada 1-9 Maret. Menurut Sekretaris Kabinet Pramono Anung, kedatangan Raja Salman disertai rombongan besar, termasuk sejumlah pangeran dan keluarga kerajaan, puluhan menteri, dan pejabat tinggi, serta pengusaha.

Kunjungan itu sungguh bermakna mengingat sudah hampir setengah abad tak ada satu pun raja Saudi datang ke Indonesia. Dalam konteks ini, pembicaraan tentang penguatan hubungan Indonesia dengan Timur Tengah secara umum penting diperbincangkan lagi.

Selama ini, hubungan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah secara umum termasuk Arab Saudi berjalan baik-baik saja. Hubungan itu terutama diikat keislaman.

Mayoritas penduduk Indonesia ialah muslim dan mayoritas penduduk negara-negara Arab, kecuali Libanon dan Israel, juga muslim.

Hubungan itu telah berjalan sangat lama bahkan jauh sebelum ‘konsep’ Indonesia itu ada. Hingga kini, hubungan itu terpelihara dengan baik. Hubungan itu historis dan mendalam, bahkan sering dibumbui emosi yang kuat dan berlebihan.

Namun, dalam dan kuatnya hubungan itu belum melahirkan kerja sama produktif yang bermanfaat luas bagi kedua pihak. Indonesia hingga sekarang menekankan hubungan ‘produktifnya’ dengan lingkar ASEAN dan Pasifik.

Tiongkok menjadi ‘kiblat’ baru kerja sama Indonesia. Sementara itu, negara-negara Timteng juga mengarahkan kerja sama strategis mereka dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Dengan kata lain, hubung­an Indonesia-Timteng sangatlah miskin produktivitas kendati telah berlangsung lama, penuh semangat, dan penuh bumbu basa-basi ‘persaudaraan’.

Praksis keislaman

Hubungan lama yang dilandasi semangat keagamaan kerap kali menciptakan ketimpang­an hubung­an di antara kedua pihak. Timteng bagaimanapun ialah asal usul Islam.

Karena itu, tak aneh juga jika orang sana, khususnya Arab, merasa lebih muslim dan memiliki Islam jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, termasuk Indonesia, kendati praksis keislaman mereka juga biasa-biasa saja.

Pikiran sebagian besar orang Indonesia barangkali juga memperkuat itu, mengidentikkan Arab dengan Islam kendati keduanya tidaklah sama.

Karena itu, dalam konteks keislaman selama ini, Arab memersepsikan dirinya bahkan juga dipersepsikan sebagian bangsa kita sebagai center.

Sementara itu, kita, bangsa Indonesia, dipersepsikan orang Arab, bahkan memersepsikan diri, sebagai pinggiran. Sikap yang muncul dari pandangan ini mudah ditebak, yang satu superior dan yang lain inferior.

Celakanya, ketimpangan hubung­an itu kemudian masih diperparah lagi dengan eksplorasi minyak yang membawa kemakmuran seperti tanpa batas bagi sejumlah negara Arab.

Tiba-tiba negara-negara itu berlimpah kemakmuran, bahkan seperti kebingungan mencari tempat menabung dan menginvestasikan uang.

Mereka memiliki modal begitu melimpah sementara kita sangat memerlukan modal. Hubungan ‘klasik’ yang sudah timpang itu dalam beberapa dekade terakhir ini semakin bertambah timpang.

Itu pun masih diperparah image yang terbentuk dari pergaulan mereka dengan para tenaga kerja kita di sana. Kebetulan atau tidak, sebagian besar tenaga kerja kita di sana memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang pas-pasan.

Banyak di antara para pekerja kita ialah pekerja rumah tangga atau buruh di sektor lain. Fakta itu semakin memperparah persepsi mereka tentang bangsa Indonesia.

Penulis merasakan benar hal itu saat tinggal beberapa lama di beberapa negara Arab. Persepsi center-pinggiran kemudian berkembang menjadi persepsi lebih menjijikkan, yaitu relasi ‘bos-jongos’.

Langkah taktis

Oleh karena itu, diperlukan upaya serius, sungguh-sungguh, sistematis, dan melibatkan banyak pihak untuk menyetarakan dan memperkuat produktivitas hubungan kedua pihak.

Pertama, pencarian landasan. Kenyataan hubungan Indonesia-Timteng dilandasi semangat keislaman ialah fakta. Itu tak bisa ditolak.

Namun, sebagai bangsa dengan penduduk mayoritas muslim, Indonesia perlu menunjukkan citra keislaman yang berkelas dengan menunjukkan prestasi kita yang tak (baca: belum) dimiliki mereka. Di antaranya ialah keberhasilan dalam penyandingan Islam dan demokrasi di dalam praktik bernegara.

Politik luar negeri Indonesia idealnya mencitrakan postur diri sebagai negara muslim moderat dengan demokrasi yang kuat. Kita ialah negara muslim demokrasi terbesar.

Kenyataannya memang demikian, landing demokrasi kita jauh lebih indah jika dibandingkan dengan landing negara Arab mana pun. Kita juga landing jauh lebih awal, setidaknya 13 tahun lebih awal.

Selama ini, citra itu kurang tampak dari Indonesia dalam pergaulannya di forum internasional, khususnya dengan negara-negara Arab.

Landasan keislaman demikian yang perlu ditegaskan di samping landasan pelaksanaan prinsip dan pemenuhan kepentingan sebagaimana lazimnya hubung­an antarnegara.

Kedua, masyarakat Timteng itu secara umum ditandai dengan ciri paternalistisnya yang kuat. Oleh karena itu, pembangunan hubungan itu akan sangat efektif jika dilakukan dari atas.

Membangun kesan baik di mata para pucuk pemimpin negara di sana ialah langkah sangat penting dan tak bisa ditunda-tunda. Itu hanya bisa dilakukan jika pemimpin tertinggi negeri ini mau melakukan kunjungan ke negara mereka atau sebaliknya seperti sekarang ini.

Bagi mereka, kunjungan Presiden Jokowi ke sejumlah negara Timur Tengah pada September 2015 ialah kehormatan dan penghargaan.

Jadi, presiden harus blusukan tak hanya ke Doha, Riyadh, dan Abu Dabi, tetapi juga ke Kairo, Rabat, Ankara, Teheran, dan lain-lain untuk membangun hubungan yang personal dengan para pemimpin di sana.

Keberhasilan itu akan sangat berarti bagi perluasan, intensifikasi, dan peningkatan produktivitas kerja sama dengan mereka.

Ketiga, pada level diplomasi publik. Hubungan itu perlu diperluas dan diintensifkan dengan melibatkan seluas dan sebanyak mungkin aktor dari masyarakat dalam banyak bidang.

Jalur diplomasi publik itu sangatlah luas. Kunjungan Raja Salman dengan rombongan besar ini diharapkan bisa menjadi titik tolak baru dalam membangun hubungan Indonesia-Timur Tengah yang lebih kuat, produktif dan se­tara. Wallahu a’lam. (Sumber: Media Indonesia, 28 Februari 2017)

Tentang penulis:

Ibnu Burdah Koordinator S-2 dan S-3 Kajian Timur Tengah Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

 

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,154 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: