Pemilih Yang Mengkristal

Oleh Anna Luthfie

Persaingan di putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah DKI banyak diprediksi dan malah diyakini sebagian banyak orang bakal berlangsung ketat dan sengit.

Dibandingkan putaran yang pertama, dua pasangan calon yang melaju di babak kedua, yakni pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan pasangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno akan membawa tensi persaingan menjadi lebih hangat dan mendebarkan.

Persaingan yang bakal mendebarkan itu tidak lepas dari terjadinya kristalisasi basis dukungan pemilih pada masing-masing pasangan calon dalam sebuah blok, sebuah blok yang sangat dikotomik.

Blok satu adalah pendukung petahana dengan konsep mempertahankan apa yang sudah dicapai oleh petahana dan bakal kampanye bahwa yang dilakukan petahana belum selesai dan layak diteruskan.

Sebaliknya, blok satunya lebih memosisikan diri sebagai pendukung perubahan. Mereka berjuang agar Jakarta memiliki pemimpin baru yang bisa memberikan harapan baru menuju Jakarta yang lebih baik.

Pasangan ini akan lebih banyak menyuguhkan dan menawarkan agenda dan program-program perubahan yang menjadi antitesis dari blok petahana.

Ya, antitesis terhadap pasangan petahana adalah posisi yang berhasil diambil pasangan Anies-Sandi. Dari sejumlah hasil survei, pasangan ini sebelumnya selalu berada di urutan buncit soal elektabilitas di bawah pasangan Ahok-Djarot dan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.

Sentimen dan isu agama yang mengemuka seiring dengan dugaan kasus penistaan agama yang menjerat Basuki menjadi ruang yang dimasuki pasangan Anies-Sandi.

Jika dianalogikan dalam satu rentang baris, pasangan Anies-Sandi tidak tegas berada di mana, kiri, tengah, atau kanan, meskipun sebelumnya citra moderat atau berada di tengah lebih ”dipilih” oleh pasangan Anies-Sandi.

Namun, diakui atau tidak, hasil survei yang banyak menempatkan pasangan Anies- Sandi di urutan terbawah inilah yang mau tidak mau membuat pasangan ini harus memutar haluan kanan dari analogi garis tadi.

Pasangan yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera ini kemudian mendekatkan sekaligus melekatkan dirinya ke kelompokkelompok muslim sebagian bentuk antitesa kepada pasangan Ahok-Djarot yang banyak didukung oleh kekuatan nasionalis.

Diferensiasi atau pembeda yang ditempuh ini terbukti sukses mengantarkan pasangan ini meraih posisi kedua di putaran pertama.

Sementara pasangan Agus- Sylvi yang sebelumnya sempat unggul di survei harus rela tergusur dan gagal ke tahapan berikutnya.

Mengapa Agus Gagal?

Sebagai sesama pasangan penantang petahana, banyak faktor yang menyebabkan kenapa pasangan Anies-Sandi yang lolos, sedangkan Agus-Sylvi gagal.

Faktor-faktor tersebut adalah performa debat cenderung lebih gemilang penampilan Anies-Sandi dibandingkan Agus-Sylvi.

Respons di media sosial pascadebat yang cenderung negatif pada pasangan Agus-Sylvi menjadi salah satu bukti pasangan yang disokong Partai Demokrat, PAN, PPP, dan PKB ini relatif kurang berhasil menarik simpati pemilih melalui debat.

Selain respons yang negatif di kalangan netizen, pascadebat, pasangan Agus-Sylvi juga kurang dinilai baik secara umum dalam penampilannya di debat terakhir menjelang pemungutan suara.

Sejumlah hasil survei menyatakan hal tersebut. Litbang Kompas, misalnya, merekam dalam hal penguasaan masalah, dari rentang angka 1-10, pasangan Agus-Sylvi hanya dinilai 6,25.

Sementara pasangan Anies-Sandi dinilai 7,02 dan pasangan Ahok-Djarot 7,47. Debat bukanlah faktor utama  yang menyebabkan Anies-Sandi lebih unggul dari Agus.

Namun, penulis melihat diferensiasi yang tegas dengan petahana disinyalir menjadi pemicu banyak pemilih kemudian beralih ke pasangan Anies- Sandi. Selain faktor ceruk pemilih muslim, diferensiasi lainnya adalah soal sikap terhadap isu reklamasi.

Pasangan Anies- Sandi mem-branding dirinya sebagai pasangan penentang reklamasi, bahkan jika pasangan ini terpilih, reklamasi akan dihentikan. Sebaliknya, isu ini kurang dimainkan secara kuat oleh Agus-Sylvi. Dukungan penuh partai pengusung juga menjadi faktor yang menyumbang secara elektoralbagi pasanganAnies-Sandi.

Turunnya Prabowo di akhirakhir kampanye sebelum debat terakhir sedikit banyak mendulang simpati dari dukungan pendukung dan simpatisan calon presiden dari Partai Gerindra di tahun 2014 tersebut.

Hal ini berbeda dengan dukungan partai politik pendukung Agus- Sylvi yang bisa dikatakan jarang sosok ketua umum dari keempat partai ini hadir dan tampil dalam kampanye-kampanye Agus- Sylvi.

Modal Putaran Kedua

Lalu, apakah peluang Anies- Sandi yang mendapat limpahan suara di putaran pertama akan menjadi modal mengalahkan sang petahana Ahok- Djarot? Bisa iya, bisa tidak.

Peluang Anies- Sandi akan semakin besar jika pasangan ini tidak sekadar memosisikan diri sebagai pembeda, namun juga bisa meyakinkan meruntuhkan keyakinan pemilih pada petahana. Isu agama tentu akan banyak bermain dalam konteks ini.

Kasus hukum yang menjerat Basuki akan menjadi beban sekaligus resistensi pemilih pada Basuki. Selain itu, Anies- Sandi harus banyak bergerilya ke basisbasis pemilih muslim dan menawarkan program yang realistis, solutif, dan konkret guna menjawab problematika masyarakat Jakarta Namun, peluang Anies bisa jadi mengecil jika Ahok-Djarot mampu mengubah pandangan pemilih, terutama yang belum memilih pasangan ini.

Perolehan suara Ahok-Djarot di putaran pertama, meskipun gagal meraih lebih dari 50% agar menang satu putaran, toh mampu meruntuhkan sinyalemen yang selama ini berkembang bahwa suara Ahok akan turun drastis akibat kasus hukum terkait penistaan agama. Bagaimanapun, kekuatan petahana adalah kinerja dan hasil kerja.

Tingkat kepuasan publik yang mencapai 75% terhadap kinerja petahana, sedikit banyak menjadi modal bagi petahana untuk berlaga di putaran kedua.

Apalagi, saat ini Ahok kembali aktif menjadi gubernur. Tentu segala kegiatannya sebagai gubernur sedikit banyak menguntungkannya sebagai ajang ”kampanye terselubung”. Faktor inilah yang harus diwaspadai Anies-Sandi.

Pasangan Anies-Sandi harus mampu meruntuhkan keyakinan pemilih pada kinerja Ahok. Terlepas dari upaya saling menawarkan dan beradu terkait program, putaran kedua akan lebih banyak memainkan sentimen emosi dari pemilih.

Hal ini tidak lain karena faktor rasionalitas pemilih, terkait program dan wajah Jakarta lima tahun ke depan sudah dapat dibayangkan oleh pemilih jika yang menang itu pasangan Ahok-Djarot atau Anies-Sandi.

Pemilih sudah menentukan referensinya dan mengkristal sikapnya, apalagi pemilih Agus-Sylvi di putaran pertama tentu akan lebih cenderung beralih ke pasangan Anies- Sandi karena dengan demografi pemilih yang sama.

Namun, persaingan diyakini akan semakin sengit dan ketat. Segala cara bisa bakal ditawarkan dan disuguhkan dan akan terjadi sepanjang dua bulan ke depan menjelang pemungutan suara putaran kedua.

Kemampuan dan keterampilan meyakinkan pemilih dari sisi kedekatan ideologi, pertautan hati-emosi, serta program akan sangat menentukan siapa akan menjadi jawara di putaran kedua nanti.

Masyarakat Jakarta menjelang putaran kedua banyak mengharapkan hadirnya pemimpin baru, dengan harapan baru Jakarta lebih humanis dan sejahtera.

Sanggupkah pasangan Anies-Sandi menerjemahkan harapan besar masyarakat Jakarta tersebut? Kita tunggu. (Sumber: Koran Sindo, 27 Februari 2017)

Tentang penulis:

Anna Luthfie Ketua DPP Partai Perindo

 

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,154 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: