Menegaskan Pendidikan Cinta Lingkungan

Oleh M Rikza Chamami

”Ruh pendidikan cinta lingkungan perlu masuk dalam kurikulum pendidikan ”

CUACA ekstrem akhir-akhir ini membawa dampak buruk bagi lingkungan. Jalan yang semula teraspal rapi mulai mengelupas hingga muncul lubang jeglongan. Tanah dengan posisi ketinggian mengalami longsor. Daerah minim resapan dan tepi sungai menghadapi banjir.

Dampak dari itu semua membuat aktivitas masyarakat terhambat dan muncul wabah penyakit. Bencana ini memang bersifat alamiah.

Akan tetapi, jika dirunut dari sebuah peristiwa itu, ada juga andil manusia. Jalan yang berlubang diakibatkan gorong-gorong tersumbat hingga air meluber.

Daerah ketinggian sudah mulai banyak dihuni dengan menghabisi pohon-pohon rindang. Salah satu akibat banjir disebabkan pembuangan sampah ke sungai.

Beberapa bantaran sungai yang harusnya tidak digunakan hunian, dipaksa didirikan rumah penduduk. Pada titik inilah, penting sekali menegaskan pendidikan cinta lingkungan.

Sebab problem kehidupan selalu bertumpu pada kenyamanan lingkungan hidup. Dan ini menjadi salah satu pelajaran penting yang ada dalam Alquran. Manusia memiliki andil dalam menjaga dan menciptakan lingkungan menjadi baik atau rusak.

Sehingga inti dari pendidikan cinta lingkungan adalah turut serta menciptakan lingkungan menjadi baik. Munculnya kesadaran berlingkungan hidup menjadi kunci sukses agar tidak terjadi kerusakan.

Saat musim hujan, masyarakat tidak takut dengan air, angin dan badai. Dan musim kemarau, masyarakat tidak khawatir dengan kekeringan dan kelaparan.

Kondisi cuaca yang cepat berganti menjadikan rasa waswas. Akibatnya, musibah berbasis lingkungan sulit diprediksi secara tepat.

Dalam rangka menciptakan masyarakat yang sadar lingkungan, maka dibutuhkan tiga hal pokok. Pertama, memulai menjaga lingkungan dari pribadi.

Upaya prefentif ini menjadi sangat penting. Sebab individu sangat membantu keberlangsungan lingkungan yang baik.

Misalnya mulai disiplin membuang sampah, membersihkan gorong-gorong, membuat resapan air dan menjadikan lingkungan nyaman.

Kedua, mengajak keluarga untuk sadar lingkungan. Langkah kedua ini sangat mulia, sebab keluarga adalah masyarakat terkecil dalam skema hidup sosial.

Dengan terbentuknya keluarga yang sadar lingkungan, maka target utama lingkungan sehat bisa terwujud. Ikhtiar dalam lingkar keluarga ini menjadi sangat penting. Sebab dari keluarga akan lahir kebersamaan.

Lingkungan Sehat

Ketiga, bersama-sama masyarakat untuk mewujudkan lingkungan sehat dan bebas bencana. Kesan penting membangun individu dan keluarga tidak akan sempurna jika belum ditopang kebersamaan seluruh masyarakat.

Oleh sebab itu, usaha untuk menyatukan semuanya perlu dimatangkan lewat forum rapat rutin RT, PKK dan Dasawisma.

Setelah itu bisa terwujud, maka ditingkatkan di level RW, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hingga pusat. Kebersamaan menghadapi perubahan iklim yang berpotensi melahirkan bencana itu sangat tergantung pada lingkungan. Maka lingkungan yang sehat dan bebas bencana menjadi dambaan setiap masyarakat.

Itulah yang menjadi komitmen kuat seluruh warga bangsa dalam menegaskan arti penting menjaga lingkungan. Potensi yang paling bisa dilakukan adalah dengan membuat forum bersama tanggap bencana dengan program-program “melek lingkungan”.

Kebutuhan hidup sehat, nyaman dan jauh dari bencana perlu didukung semua pihak. Problem bangunan ramah lingkungan, pembuangan sampah ramah lingkungan dan masyarakat sadar lingkungan itu yang penting.

Usaha membentuk individu, keluarga dan masyarakat yang sadar lingkungan juga membutuhkan sentuhan lembaga pendidikan formal.

Sinergi ide dan gagasan pendidikan cinta lingkungan ini akan mudah terserap jika ada andil sekolah dan perguruan tinggi.

Maka, ruh pendidikan cinta lingkungan perlu masuk dalam isi kurikulum pendidikan. Tidak sulit rasanya memasukkan ide-ide sederhana cinta lingkungan.

Seluruh materi pelajaran seperti Agama, IPA, IPS, PKn dan Bahasa akan mampu mewadahi pesan-pesan cinta lingkungan.

Sebab hari ini, kebutuhan hidup tidak akan bisa lepas dari lingkungan. Maka tepat sekali jika lembaga pendidikan menekankan kembali pentingnya pendidikan cinta lingkungan ini.

Skema pelaksanaan pendidikan cinta lingkungan ini dapat dilakukan dengan mudah jika ada sinergi antara pemerintah dan stakeholder pendidikan. Sebab pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan hidup yang layak dan nyaman.

Adapun stakeholder pendidikan yang memiliki kuasa akademik ikut serta menyosialisasikan ide-ide dimaksud. Dengan cara itu, maka gagasan membumikan pendidikan cinta lingkungan akan mudah dipahami dan dilaksanakan secara baik.(Sumber: Suara Merdeka. 28 Februari 2017)

Tentang penulis:

M Rikza Chamami, dosen UIN Walisongo dan Peneliti Aliansi Kebangsaan

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,547 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: