Edukasi Keuangan Makin Penting

Oleh Widyo Hari Cahyono

Kasus investasi bodong kembali menjadi berita hangat. Berita terbaru, Pandawa Group dilaporkan karena wanprestasi, tidak memberi imbal hasil yang dijanjikan. Sebenarnya, kasus investasi bodong Multi Level Marketing (MLM) bukan kasus baru.

Produk investasi bodong sebenarnya mengambil pola hampir sama menggunakan skema Ponzi yang dicetuskan Charles Ponzi, seorang imigran asal Italia yang tinggal di Amerika.

Skema Ponzi menggunakan modus investasi palsu yang membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri.

Ini juga bisa uang yang dibayarkan investor berikutnya. Jadi, bukan dari keuntungan yang diperoleh individu atau organisasi yang menjalankan operasi.

Tawaran keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan investasi lain dalam jangka pendek dengan tingkat pengembalian terlalu tinggi.

Ini membutuhkan aliran terus meningkat dari investor baru untuk menjaga skema tetap berjalan. Uang ada yang diolah supaya berkembang. Ada yang tidak dikembangkan. Maka, sebenarnya manajemen hanya mengumpulkan uang dari korban-korban lain.

Skema Ponzi ini hanya akan menguntungkan investor pertama menyetor modal karena akan terus menerima imbal hasil.

Namun, bagi anggota yang menyetorkan di urutan terakhir, biasanya hanya akan menerima beberapa kali atau bahkan sama sekali tidak menikmati imbal hasil.

Demikian juga dengan investasi bodong yang menjanjikan bagi hasil kepada nasabah dengan iming-iming interest rate (suku bunga) tinggi.

Banyak masyarakat tergiur dan menanamkan modalnya untuk memperoleh return (imbal hasil) tinggi. Namun, janji memang tinggal janji, nasabah banyak yang gigit jari karena dana yang mereka investasikan dibawa lari tanpa kabar yang pasti.

Kasus investasi bodong ini bagaikan bom waktu dengan memberikan dampak yang cukup besar. Karena tidak hanya ratusan orang yang menjadi korban tetapi ribuan dengan nilai kerugian mencapai miliaran rupiah atau triliunan rupiah. Para korbannya pun tidak hanya dari kalangan menengah bawah tetapi ada juga yang berasal dari kalangan atas dan terdidik.

Selama tahun 2016, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencatat 406 perusahaan yang diduga ilegal karena menghimpun dana dari masyarakat, tanpa izin OJK. Jumlah ini meningkat dari tahun 2014 sebanyak 262 perusahaan.

Mengapa masih banyak masyarakat yang tergiur dan menjadi korban investasi bodong? Imbal hasil yang dijanjikan sangat tinggi.

Siapa tidak tertarik dengan mendapatkan imbal hasil yang melebihi 10 persen per bulan? Apalagi bagi masyarakat yang hidupnya serba pas-pasan iming-iming imbal hasil dengan bunga tinggi bagaikan durian runtuh.

Harus dimengerti pula bila ada lembaga keuangan yang berani mematok suku bunga sampai 10 persen setiap bulan berapa cost of fund (biaya bunga) yang akan dikeluarkan? Karena suku bunga tinggi tentunya akan berbanding lurus dengan biaya bunga (cost of fund) yang juga semakin tinggi. Untuk saat ini perbankan mematok suku bunga berkisar 6-8 persen.

Belum Paham

Masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang investasi. Tidak bisa dipungkiri masih banyak masyarakat belum tahu jenis investasi yang benar-benar memberi manfaat dan perlindungan nasabah. Hal ini karena masih sedikitnya atau kurangnya sosialisasi dan edukasi masyarakat.

Masih ada anggapan dengan suku bunga di atas perbankan akan mendapat imbal hasil tinggi. Sah-sah saja masyarakat mempunyai pemikiran seperti ini. Tetapi janganlah meninggalkan pola pikir bahwa imbal hasil tinggi akan diikuti risiko tinggi pula.

Perekutan dengan sistem dari mulut ke mulut memang efektif. Biasanya mereka direkrut oleh orang-orang yang sudah merasakan sendiri hasil investasi atau kerabat.

Bahkan tokoh-tokoh terkenal pun dijadikan “tameng”untuk menarik calon nasabah. Imbal hasil pada awalnya tepat waktu, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan para nasabah.

Tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena dana yang seharusnya dipergunakan untuk membayar imbal hasil raib dibawa lari.

Nasi sudah menjadi bubur dan saat ini sudah banyak korban dari investasi bodong. Maka sudah saatnya pemerintah melalui pihak-pihak terkait melakukan langkah pencegahan agar korban investasi bodong tidak kembali berjatuhan.

Adakan program edukasi dan sosialisasi.Program ini sebaiknya semakin diintensifkan sehingga masyarakat pun tidak setengah-setengah mendapatkan informasi.

Apalagi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah edukasi dan sosialisasi tentang seluk beluk tentang investasi yang sehat sangat dibutuhkan.

Sehingga mereka pun tidak akan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) indeks literasi atau pemahaman keuangan di Indonesia baru mencapai 29,66 persen. Ini menunjukkan bahwa dari 100 orang di Indonesia hanya 30 orang yang sudah memahami produk dan jasa dari lembaga keuangan.

Tegakkan hukum secara tegas. Tindakan tegas dari penegak hukum bagi pelaku investasi bodong diharapkan dapat menimbulkan efek jera sehingga masyarakat yang telah menjadi korban dapat kembali memperoleh hak-haknya yang sudah hilang dibawa lari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Sedangkan bagi masyarakat alangkah baiknya bila melakukan langkah-langkah pencegahan dini agar tidak terjebak dalam praktik investasi bodong.

Perlu melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti OJK. Masyarakat jangan takut atau malas untuk menanyakan kepada OJK mengenai rekam jejak perusahaan-perusahaan yang menawarkan investasi.

Dengan mengetahui rekam jejaknya masyarakat pun bisa memilih dan memilah dalam menentukan perusahaan investasi yang benar-benar memiliki kredibilitas yang baik.

Dengarkan pola berpikir yang rasional. Rasionalitas dalam berpikir sangat perlu ketika seseorang akan mengambil keputusan.

Dengan masih mempunyai pemikiran yang rasional tentunya investor masih mempunyai akal sehat ketika akan melakukan pilihan investasinya.

Jangan sekadar menuruti keinginan mendapat untung yang besar. Perhatikan resiko. Bukan rahasia lagi, para nasabah yang menjadi korban investasi bodong hanya tergiur imbal hasil yang besar. Mereka tidak memperhatikan risiko yang muncul di kemudian hari. (Sumber: Koran Jakarta, 27 Februari 2017)

Tentang penulis:

Widyo Hari Cahyono Penulis Pegawai Bank BNI

 

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,652,571 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: