Diplomasi Tinggi Arab Saudi

Oleh Andi Purwono

RAJA Salman bin Abdul Aziz dari Arab Saudi pada tanggal 1-9 Maret berkunjung ke Indonesia. Kunjungan ini menjadi momentum bersejarah karena kunjungan terakhir Raja Arab Saudi ke Indonesia terjadi 47 tahun yang lalu.

Dengan kondisi kedua negara dan lingkungan ekonomi-politik global yang telah banyak berubah, apa makna kunjungan tersebut bagi hubungan kedua negara dan dunia Islam pada umumnya? Meminjam pemikiran Paul Sharp (1997: 612-618), diplomasi memiliki fungsi representasi simbolis, kepentingan- kekuasaan dan ide.

Secara simbolis, kehadiran orang nomor wahid di Arab Saudi tersebut tidak hanya menunjukkan arti Indonesia bagi negara itu, begitu pula sebaliknya.

Pertemuan Raja Salman- Presiden Joko Widodo juga mengindikasikan keseriusan pemerintah kedua negara dalam memajukan kerja sama bilateral di berbagai bidang.

Artinya, ini lambang hubungan yang erat-hangat sekaligus menjadi momentum yang sangat penting bagi Indonesia dan Arab Saudi.

Keseriusan memajukan kerja sama bisa dilihat dari rencana pertemuan dengan berbagai pihak lain. Jumlah delegasi yang mencapai 1.500 orang, termasuk 10 menteri dan sejumlah pangeran juga menunjukkan hal itu.

Kedua, kunjungan juga menunjukkan pertautan erat kepentingan dua pihak. Hubungan ekonomi kedua negara mencapai sekitar US$2 miliar atau Rp 26 triliun per tahun, meski mengalami penurunan sekitar 36% karena anjloknya harga minyak dunia tahun 2016.

Total perdagangan kedua negara tahun 2016, menurut Kemendag, mencapai 4.058.107.600 dolar Amerika dengan ekspor Indonesia sebesar 1.333.075.000 dan impor sebesar 2.725.032.600 dengan defisit neraca perdagangan sebesar 1.391.957.600 dolar Amerika. Indonesia banyak mengimpor minyak dan mengekspor mobil, furnitur, dan minyak sawit.

Karena itu, pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan hubungan perekonomian terutama menyeimbangkan neraca perdagangannya, termasuk upaya agar pelaku usaha Arab Saudi melakukan kerja sama investasi terutama infrastruktur jalan dan air bersih.

Di bidang politik kedua negara tengah menyusun suatu roadmap bersama dalam rangka melanjutkan hubungan dan kerja sama bilateral ke tingkat yang lebih tinggi dalam bentuk kemitraan komprehensif.

Bidang perlindungan TKI dan diplomasi kuota haji juga merupakan kepentingan Indonesia. Presiden Jokowi telah melakukan hal itu dalam kunjungan kenegaraan ke Arab Saudi pada tahun 2015.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang sudah tiga kali berkunjung ke negara kaya minyak itu juga membawa kepentingan-kepentingan itu termasuk ketika menerima dua kali kunjungan Menlu Arab Saudi pada 2015 dan 2016.

Beberapa pejabat Indonesia juga telah berkunjung ke Saudi seperti Menteri Pertahanan, Ketua Bappenas, Ketua BPK, dan Kepala BNPT. Ketiga, dari aspek representasi ide, banyak hal akan dibicarakan.

Selain bidang kesehatan, pelayanan perjalanan udara, dan perjanjian pemberantasan kejahatan, nota kesepahaman (MoU) yang akan ditandatangani yaitu budaya, urusan Islam serta dakwah dan layanan agama. Di samping itu, rencana pertemuan Raja dengan berbagai pihak selain Presiden Jokowi juga menunjukkan hal itu.

Dua Kiblat

Dalam konteks itu, variabel ideasional Islam juga tidak bisa dielakkan. Dalam perspektif konstruktivis hubungan internasional, faktor berupa norma dan identitas memberi nuansa ukhuwah islamiyah sehingga mempererat hubungan. Karenanya, ini juga bisa dilihat sebagai perjumpaan dua “kiblat Islam”.

Raja Salman adalah khadim al haramain( pelayan dua kota suci Islam Makkah dan Madinah) yang dengan keistimewaan ini menjadi kiblat dunia Islam.

Di sisi lain, Indonesia juga menjadi kiblat sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang moderat, di mana Islam dan demokrasi berjalan dalam harmoni.

Demokrasi dan Islam moderat ini menjadi aset penting, sehingga berbagai upaya diplomasi terus diupayakan pemerintah dan banyak organisasi Islam agar Indonesia bisa menjadi kiblat peradaban Islam.

Dalam konteks itu, salah satu tantangan yang ada saat ini adalah bagaimana kontribusi ilmiah amaliah ulama Indonesia di dunia Islam.

Banyak ulama nusantara terdahulu telah berhasil menjadi rujukan dalam hal ini, Harapan tentang posisi penting dan unik Indonesia sebagai model alternatif negara berpenduduk muslim ini bahkan juga banyak muncul dari negara Barat terutama mencermati Timur Tengah yang masih dihinggapi berbagai problem ekonomi dan politik pelik.

Karena itu, bagaimana pengalaman Indonesia tentang dialog dan perdamaian bisa ditularkan ke dunia Arab, atau bagaimana kelebihan dunia Arab bisa mendukung kemajuan Indonesia menjadi gagasan-gagasan yang sangat dinantikan dalam mengurangi berbagai problem dunia Islam.

Terkait dengan isu terorisme serta beberapa ketegangan dalam isu Iran, Irak, Suriah, dan Yaman, posisi Indonesia sejak lama jelas dan konsisten. Indonesia berada pada posisi bebas dan aktif dengan selalu berupaya menjadi bridge builder (penghubung) tidak hanya antarkekuatan di dunia Islam bahkan antara Islam dan Barat.

Kebijakan ini pula yang mendapat dukungan organisasi-organisasi Islam utama di tanah air yang mengedepankan moderasi dan dialog dalam rangka mengemban misi Islam rahmatan lil ‘alamin.

Kita berharap kunjungan ini membawa rahmat tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi dunia Islam dan seluruh alam.(Sumber: Suara Merdeka, 28 Februari 2017)

Tentang penulis:

Andi Purwono, dosen Hubungan Internasional/Dekan FISIP Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,699,528 hits
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: