Makna Kunjungan Raja Salman

Oleh Ibnu Burdah

RAJA Salman bin Abdul Aziz direncanakan akan berkunjung ke Indonesia selama sembilan hari (1-9/3). Bersamanya sejumlah keluarga kerajaan, puluhan menteri, dan sejumlah pengusaha serta pejabat tinggi negara itu. Raja Salman (82) beberapa kali menjalani operasi medis berat.

Meski demikian, ia berupaya keras untuk berkunjung ke Indonesia. Padahal dalam sejarahnya beberapa pendahulunya seperti Raja Fahd bin Abdul Aziz dan Raja Abdullah bin Abdul Aziz, keduanya memerintah dalam waktu lama, tidak melakukan kunjungan serupa.

Apa sebenarnya makna dan tujuan kunjungan sang Raja dengan rombongan besar ini? Apakah benar semata guna memenuhi undangan Presiden Jokowi guna meningkatkan hubungan bilateral khususnya di bidang energi sebagaimana yang tersiar di media?

Atau adakah hal lain yang sangat penting? Ada beberapa hal yang melingkungi kerajaan yang dikenal sebagai pemilik Tanah Suci itu akhir-akhir ini.

Pertama, kapasitas negara ini sebagai pemimpin dunia Islam sudah sedemikian berkurang. Alih alih meminpin dunia Islam, negara ini justru terlibat dalam berbagai konflik di Timur Tengah terutama di Yaman, Irak, dan Suriah.

Kekuatan-kekuatan yang mereka dukung dengan ”logistik” sangat besar kalah. Di Suriah oposisi dukungan mereka tak memperoleh posisi penting di meja negosiasi.

Di lapangan, rezim Assad, penguasa yang mereka lawan dengan bermacam cara, justru leading. Sementara oposisi dukungan mereka terdesak bukan hanya oleh Assad, melainkan juga oleh oposisi-oposisi lain. Di Irak, mereka sudah tidak lagi diperhitungkan.

Iran, Turki, dan Rusia menjadi negara paling berpengaruh di negeri Syiíah yang sedang mengkhiri kekuasaan ISIS di Mosul itu.

Di Yaman, Arab Saudi adalah aktor utama dari ofensif militer besar-besaran melalui udara yang diperkuat dengan serangan darat.

Perang Yaman merupakan salah satu blunder terbesar Arab Saudi. Dengan menghamburkan timah- timah mentah ke Yaman, negara itu tak pantas menyandang status pemimpin dunia Islam.

Saudi bukan menjadi solusi, melainkan justru salah satu sumber persoalan. Blunder itu bukan hanya terkait ”kegagalan” misi itu.

Tetapi juga terkait dengan sikap yang salah dalam melakukan agresi ke negara lain. Apalagi, Yaman adalah sesama negara muslim yang konon di sana banyak tinggal keturunan Nabi.

Dan, yang harus dikecam dengan lantang, kobaran perang itu telah menciptakan kehancuran masif dan krisis kemanusiaan luar biasa di Yaman.

Sumber Ancaman

Perang Yaman juga telah membuat negara yang berlimpah harta itu defisit anggaran belanja selama dua tahun, suatu hal yang langka dalam sejarah Saudi selama empat dekade belakangan.

Kondisi ini diperparah dengan menurunnya harga minyak dunia secara signifikan. Kedua, kesadaran rezim Saudi akan besarnya ancaman terhadap negara itu semakin besar. Sumber ancaman terdiri atas dua sisi sekaligus, eksternal dan internal.

Ancaman ekternal terutama dari negara-negara dan kekuatan-kekuatan Syiah yang memang antipati dengan rezim Saudi dan Wahabisme.

Negara itu memang seperti sudah terkepung oleh kekuatan Syiah. Di Timur, mereka berhadapan dengan Iran, negara Syiah terbesar.

Antara keduanya hanya terpisahkan Teluk Persia (Orang Arab menyebutnya Teluk Arab) yang tak seberapa luas. Plus, di Bahrain potensi protes rakyat yang mayoritas Syiah di negeri kecil itu sangat kuat.

Saudi terlibat secara aktif dalam upaya memadamkan protes besar-besaran di negeri Syiah yang dipimpin penguasa Sunni itu.

Di Utara, mereka harus menghadapi kenyataan pahit. Negeri yang dulu dipimpin oleh Sunni, lalu kekuatan Amerika yang menjadi sekutunya, itu sekarang dikuasai oleh kekuatan-kekuatan Syiah.

Demikian pula di sisi Selatan. Yaman Utara (Sha’dah dan sekitarnya) bahkan ibu kota Sana’a sudah dikuasai oleh kelompok Houtsi Syi’ah.

Persepsi ancaman dari internal juga kuat yaitu potensi protes rakyat. Menurunnya harga minyak dan tingginya biaya perang telah menghapus banyak sekali program-program sosial dan subsidi di kerajaan itu. Tenaga penganggur terdidik juga semakin banyak.

Kendati ada program pengurangan penggunaan tenaga asing secara drastis, itu sama sekali belum menyelelesaikan persoalan pengangguran dalam negeri.

Kondisi ini memperparah suasana kebatinan rakyat Saudi yang sudah jengah dengan diskriminasi antara rakyat biasa dan keluarga penguasa beserta para tetua kabilah aliansinya.

Diskriminasi tidak hanya terkait ekonomi, tetapi juga dalam pelaksanaan hukum Islam yang begitu keras bagi rakyat kebanyakan dan tumpul untuk mereka yang berada dalam tembok-tembok istana.

Di sisi lain, Arab Saudi baru saja mencatatkan prestasi yaitu penyelesaian pembangunan areal ibadah di Masjidil Haram. Implikasinya bagi Indonesia, kuota haji dikembalikan normal yaitu 211.000, plus masih ditambah 10.000 lagi.

Tambahan kuota itu sungguh sangat berarti bagi pemimpin dan rakyat di negeri ini. Sebab masalah antrean haji memang menjadi persoalan yang tak sederhana.

Saudi baru memberi ”bingkisan” manis buat kita. Tetapi ingat seperti catatan di atas, kunjungan raja Salman bin Abdul Aziz dilakukan di tengah meredupnya pamor eksternal dan internal kerajaan itu.

Oleh karena itu, Raja Salman ke Indonesia– di antaranya–untuk mengerek lagi pamor kerajaan itu di Dunia Islam. (Sumber: Suara Merdeka, 24 Februari 2017)

Tentang penulis:

Dr Ibnu Burdah, pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,696,689 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: