Pendidikan Dan Sistem Pembayaran

Oleh Achmad Deni Daruri
Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan sistem pembayaran. Pendidikan termasuk pendidikan bagi investor akan membuat model investasi tertentu yang juga model pembayaran yang tertentu pula.

Pendidikan ekonomi yang baik juga cenderung akan pro kepada konservatisme dalam sistem pembayaran dan sistem investasi.

Semakin tinggi pendidikan teknokratnya akan semakin canggih instrumen investasi yang berkembang yang tentunya membutuhkan dukungan infrastruktur dan sistem pembayaran yang memadai. Ini juga dapat dilihat dalam perekonomian China.

Mencari di berbagai kelas aset, obligasi merupakan aset China yang secara jelas paling underinvested bagi orang asing. Sejalan dengan hal tersebut kemungkinan yang paling menjanjikan untuk menarik modal global ke depan.

Di Amerika Serikat, misalnya, investor non-Amerika Serikat memegang sebanyak 50% nilai produk domestik bruto (PDB) dari obligasi Amerika Serikat (termasuk United States Treasuries dan obligasi korporasi).

Demikian pula investasi asing yang besar di obligasi China bisa memfasilitasi secara dramatis transformasi yang menguntungkan dari sistem kredit China.

Stok yang ada dari pinjaman pembiayaan total nonbank dan nonobligasi (yang sebagian besar adalah kredit perbankan bayangan) mencapai sekitar 45% dari PDB.

Terdapat manfaat peraturan dan akuntabilitas yang jelas dalam menggerakkan saham utang ini ke saluran kredit yang lebih transparan seperti pasar obligasi.

Logikanya sebagian bergema oleh reformasi utang pemerintah daerah yang sedang berlangsung dan program obligasi daerah terkait. Namun, hambatan terutama adalah ukuran pasar obligasi domestik yang saat ini hanya sekitar 50% dari PDB.

Migrasi atas bongkahan yang signifikan dari saham kredit perbankan bayangan karenanya dapat menyebabkan serangan serius dari di pasar obligasi.

Ini menunjukkan manfaat yang memungkinkan lebih banyak investasi asing di pasar obligasi China, yang secara signifikan dapat meningkatkan kapasitas pasar dan memfasilitasi swap dari kredit perbankan bayangan ke pendanaan obligasi yang transparan.

Dalam beberapa tahun terakhir, upaya untuk meliberalisasi investasi asing di obligasi sebagian besar telah difokuskan pada pengembangan obligasi renminbi (RMB) pasar luar negeri.

Dibandingkan memperluas akses asing ke pasar obligasi dalam negeri di bawah sistem kuota, liberalisasi ini bisa mengizinkan kolam investasi yang jauh lebih luas dari akses investor global ke obligasi China/RMB dan yang mana pada dasarnya tidak ada pembatasan, serta menawarkan isolasi tingkat tinggi dari sistem keuangan daratan terhadap volatilitas eksternal.

Di sisi lain, pasar luar negeri dirugikan dengan menjadi kurang dalam dan likuid dari pasar obligasi dalam negeri, juga oleh ketidakpastian atas klaim investor obligasi pada aset-aset dalam negeri China.

Bahkan yang lebih penting, biaya pendanaan untuk pasar obligasi dalam negeri sebagian besar berlabuh pada sikap moneter dari People’s Bank of China (Bank Rakyat China), sedangkan untuk pasar luar negeri dapat secara signifikan dipisahkan (mengingat pemisahan antara pasar domestik dan pasar luar negeri) sehingga lebih volatil dan sangat terpengaruh oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan valuta asing.

Ke depan pendekatan dua jalur (mempromosikan pasar luar negeri sambil meningkatkan akses asing ke pasar domestik) mungkin yang terbaik untuk menangkap manfaat dan membatasi biaya liberalisasi pasar obligasi China. Bicara pasar domestik, maka perkembangannya dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat pendidikan.

Bagaimana dengan tingkat pendidikan di China? Peringkat Pisa merupakan yang paling berpengaruh di dunia karena didasarkan pada 500.000 lebih siswa sekolah menengah untuk mengukur standar pendidikan di Eropa, Amerika Selatan dan Utara, Australia, Timur Tengah, dan Asia.

Peringkat atas didominasi oleh sistem pendidikan Asia, walau China tidak berpartisipasi sebagai negara, hanya Shanghai dan Hong Kong.

Nilai mata pelajaran matematika yang dicapai Shanghai lebih tinggi dengan selisih tiga tahun sekolah dibanding ratarata di OECD, yang terdiri atas 34 negara.

Dengan semboyan ”Kota Kelas Satu, Pendidikan Kelas Satu”, Shanghai merancang ruang kelas yang lengkap secara sistematis, perbaikan sekolah-sekolah,dan penyesuaian kurikulum dalam dekade terakhir.

Shanghai tidak menerapkan sistem ”sekolahsekolah unggulan” yang mengonsentrasikan sumber daya hanya pada pelajar terpintar dan sekolah-sekolah elite.

Sebaliknya, para staf pengajar di Shanghai dilatih untuk lebih interaktif dalam metode mengajar dan membuat pelajar terbiasa dengan penggunaan komputer di dalam kelas. Sekolah-sekolah di Shanghai sekarang menjadi panutan bagi sekolah lain di Negeri Tirai Bambu.

Sebanyak 80% lulusan sekolah Shanghai berhasil masuk ke universitas, dibandingkan rata-rata total 24 persen lulusan sekolah di China.

Hong Kong yang dinamis mendorong perbaikan pendidikan sebagai bagian dari pesatnya aktivitas industri. Hong Kong berhasil sebagai pusat jasa dan manajemen bagi China yang tergantung pada peningkatan skill dan pengetahuan.

Sementara Singapura, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang masuk golongan atas secara menyeluruh. Negara yang paling rendah dalam peringkat ini adalah Peru dan Indonesia.

Tingkat pendidikan ini memberikan pengaruh besar terhadap pengembangan sistem pembayaran baik dari kecanggihannya serta juga cakupannya.

Dengan demikian, dapat diprediksi bahwa sistem pembayaran di China akan melampaui kehebatan sistem pembayaran di negara-negara maju lainnya karena anakanak China lebih jago dalam bermatematika.

Jaman algoritma saat ini sangat menentukan kecanggihan sistem pembayaran sangat tergantung kepada kemampuan matematika.

Misalnya, algoritma yang menggunakan kunci yang berbeda pada saat melakukan enkripsi dan melakukan deskripsi dalam sistem pembayaran saat ini.

Kriteria keamanan yang dipergunakan dalam kriptografi adalah kerahasiaan, otensitas, integritas. Tidak dapat disangkal, jenis kriptografi yang paling umum digunakan adalah algoritma simetris.

Untuk paham dan menghasilkan teknologi ini diperlukan tingkat pendidikan komputer berbasis matematika yang memadai.

Dengan demikian, negara yang pelajarnya unggul dalam matematika akan menjadi negara yang menguasai sistem pembayaran dunia! ( Sumber: Koran Sindo, 21 Februari 2017)

Tentang penulis:

Achmad Deni Daruri Presiden Director Center for Banking Crisis

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,696,689 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: