Menantikan Jawara 101 Pilkada

Oleh Mukhammad Lutfi
Hajatan besar 101 daerah di Indonesia telah dilangsungkan secara serentak pada 15 Februari 2017.

Namun, tim sukses pasangan calon di 101 daerah tersebut kini dihinggapi rasa khawatir dan waswas karena pada fase ini tim sukses ataupun tim pemenangan disajikan dengan berbagai macam hasil hitung cepat (quick count) yang dilakukan oleh beberapa lembaga yang hasilnya pun berbeda-beda, syukur-syukur jika pasangan yang diusung memenangi perolehan suara sementara.

Beralih dari kekhawatiran tim sukses pasangan calon, kekhawatiran dan waswas tersebut juga dialami oleh warga yang masuk dalam daftar pemilih tetap di 101 daerah yang menghelat pilkada serentak tersebut.

Hal itu menjadi wajar karena di tangan merekalah kelak akan terlahir jawara pilkada yang akan memimpin mereka selama lima tahun ke depan.

Warga mengkhawatirkan jawara yang kelak memimpin mereka tidak membela dan memihak pada kepentingan rakyat yang dipimpin.

Mereka juga mengkhawatirkan jawara pilkada tersebut memiliki kualitas kebijakan yang buruk dibandingkan jawara pilkada yang memimpin mereka lima tahun sebelumnya.

Terlepas dari rasa khawatir dan waswas tersebut, melalui pilkada serentak yang mereka ikuti, tentulah rakyat menyimpan berjuta harapan bagi calon pemimpin mereka.

Kita sebagai masyarakat biasa berharap memiliki sosok pemimpin yang jujur, merakyat, terbuka, santun, dan sifat-sifat lain yang diidamkan oleh masyarakat.

Melalui rentetan prosesi kampanye, debat calon kepala daerah, hasil survei elektabilitas oleh berbagai lembaga survei yang sebelumnya telah dilakukan, hingga proses pemungutan suara yang dilaksanakan kemarin, masyarakat telah mengambil banyak pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan berdemokrasinya.

Sejatinya, yang diinginkan masyarakat tidaklah muluk-muluk atau berlebihan. Mereka hanya menginginkan perubahan yang lebih baik dari yang sebelumnya, dan terealisasinya harapan-harapan yang diberikan oleh calon kepala daerah yang mereka sampaikan selama masa kampanye.

Serta yang paling penting dan juga mendasar adalah masyarakat tidak dijadikan alat untuk memperoleh jabatan, yang hanya diperhatikan saat pemilu dan kemudian dilupakan saat melenggang jabatan, ibarat peribahasa “habis manis sepah di buang.

” Masyarakat menaruh harapan yang besar kepada calon kepala daerah yang kelak akan menjadi jawara pilkada yang dilaksanakan di 101 daerah yang terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota tersebut.

Mengingat anggaran dana yang digelontorkan untuk pesta demokrasi ini cukuplah besar yaitu sekitar Rp4,15 triliun maka sudah sepatutnya masyarakat menaruh harapan yang besar pula kepada mereka. Beberapa hari ke depan rasa khawatir dan waswas yang dialami oleh masyarakat di 101 daerah tersebut itu akan segera terjawab.

Tentu masyarakat berharap lahirnya pemimpin dari 101 pilkada akan terciptanya suatu perubahan ke arah yang lebih baik serta terciptanya kesejahteraan dan keadilan sosial yang merata. Wallahu Alam. (Sumber: Koran Sindo, 22 Februari 2017)

 

Tentang penulis:

Mukhammad Lutfi Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,653,547 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: