Renovasi Sebelum Inovasi

Oleh Adi Ekopriyono

Menarik sekali pencerahan Prof Mudjahirin Thohir pada acara selamatan HUTKe-67 Suara Merdeka, 11 Februari 2017. Guru besar antropologi Undip ini antara lain memaparkan, inovasi harus dilakukan oleh perusahaan dalam menghadapi persaingan. Konstruksi budaya Jawa, menurut dia, kurang mendukung munculnya inovasi.

Misalnya bersyukur, yang dimaknai sebagai menerima apa adanya, sehingga tidak mendorong inovasi untuk berubah dan maju.

Contoh lain, orang tua mendidik anak untuk tidak berani mencoba dan mengambil risiko. Orang Jawa enggan berkompetisi, tapi memilih zona nyaman dan tidak berani mengambil inisiatif.

”Dalam konteks entrepreneurship atau dunia usaha, hal ini menjadi kendala. Sebab, persaingan kini membutuhkan pemikiran yang out of the box,” jelasnya.

”Tausiah” itu mengingatkan saya pada buku Renovate before You Innovate: Why Doing the New Thing Might Not Be the Right Thing (2004) karya Sergio Zyman, Chairman Zyman Group, mantan petinggi marketing The Coca-Cola Company.

Inovasi merupakan terobosan untuk meraih sukses. Banyak contoh perusahaan yang tidak berkembang akibat gagal berinovasi, misalnya Nokia yang kalah bersaing dan beberapa agen perjalanan yang ”termakan” oleh agen-agen berbasis aplikasi.

Inovasi saja belum cukup, karena harus didukung pengelolaan yang benar, sehingga mampu menghadapi counterattack dari pesaing terkuat, agar tidak gugur di tengah jalan.

Situs The Richest menyebutkan 10 brand yang gagal dalam berinovasi, yaitu Heinz EZ Squirt Ketchup, Google Plus, Coors Rocky Mountain Sparkling Water, Cosmopolitan Yoghurt, Segway, Harley Davidson Perfume, Pepsi AM dan Crystal Pepsi, pakaian dalam Bic, Microsoft Zune, dan New Coke. Menurut Sergio Zyman, inovasi sangat esensial bagi pertumbuhan usaha, namun risikonya jauh lebih besar daripada hasil yang diperoleh. Ada cara lain memajukan perusahaan, yaitu strategi renovasi.

Perusahaan tidak perlu melakukan perubahan besar, tapi cukup melakukan sesuatu yang lebih baik dengan asset dan kompetensi yang telah dimiliki.

Renovasi dimulai dengan sesuatu yang dimiliki perusahaan, misalnya brand, sumber daya manusia, konsumen, kompetensi. Filosofi renovasi adalah ”Cari tahu apa yang bisa kita jual dan apakah kita dapat membuatnya.”

Berbeda dari filosofi inovasi, yaitu ”Mulailah dari apa yang dapat kita buat, kemudian apakah kita dapat menjualnya.” Strategi renovasi jauh lebih aman bagi perusahaan, karena relasi yang telah terbentuk dengan pelanggan memberi kemungkinan peluang sukses lebih besar. Adapun tantangan inovasi jauh lebih besar karena harus melakukan persuasi pada konsumen baru.

Dalam konteks itu, saya ingat suatu hasil riset, bahwa dalam setahun suatu perusahaan rata-rata kehilangan 10 persen pelanggan disebabkan berinovasi mengejar konsumen baru.

Pelanggan (existing customer) kurang diperhatikan, sedangkan konsumen yang dianggap potensial (potential consumer) dikejarkejar meski belum pasti diraih.

Cara Berpikir

Sergio Zyman memberikan tips melakukan renovasi. Menurut dia, Anda harus mengulas (review) dan merevisi (revision) enam komponen bisnis, yaitu:

Pertama, cara anda berpikir: berpikirlah sebagai penantang bukan sebagai juara, sehingga dapat berpikir lebih keras untuk menjadi juara dengan mengumpulkan dan memilih pemikiran-pemikiran renovasi.

Kedua, tujuan akhir anda: tetapkan kembali tujuan dan harapan anda bagi perusahaan dalam sekian puluh tahun ke depan.

Ketiga, kerangka persaingan atau daya saing anda: faktor yang menjadikan anda bersaing dengan komptetitor, mungkin ada yang tidak diperlukan atau sebaliknya ada yang diperlukan tapi tidak dilakukan.

Keempat, segmentasi: rencana atau program awal ketika produk diluncurkan bisa saja mengalami perubahan karena pelanggan dan pengguna produk berbeda dari yang semula anda pikirkan.

Kelima, penempatan brand di benak konsumen: brand positioning perlu ditinjau kembali, terlebih dengan adanya counter- attack dari pesaing, bisa saja brand positioning anda menjadi tidak tajam, melenceng dari tujuan.

Keenam, pengalaman konsumen terhadap produk atau layanan anda: pengalaman konsumen menjadi input atau feedback yang sangat penting untuk menentukan, baik positioning maupun segmentation ke depan.

Inovasi sangat penting bagi kemajuan perusahaan, terlebih di era kemajuan information technology (IT), yang mulai bergeser ke data teknologi (DT). Teknologi data adalah ketika anda menggunakan data untuk memahami orang lain; mesin yang dibuat untuk memahami manusia.

Ia menstimulasi produktivitas manusia dan melayani banyak orang, DT membuat robot berperilaku seperti manusia; sesuatu yang You have, I don’t have.

Adapun IT adalah mesin yang menjalankan otomatisasi untuk melayani manusia, bersifat self-control dan selfmanagement, membuat manusia berperilaku seperti robot.

IT adalah sesuatu yang I have, you don’t have. Inovasi sangat penting, namun renovasi sebelum inovasi jauh lebih penting. (Sumber: Suara Merdeka, 17 Februari 2017)

 

Tentang penulis:

Adi Ekopriyono, Direktur Eksekutif Budi Santoso Foundation, mengajar di FEB Untag Semarang.

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,696,693 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: