Budaya Sarapan Sehat

Oleh Subyantoro

Pekan Sarapan Nasional (Pesan) yang diperingati tiap 14-20 Februari, yang saat ini memasuki tahun ke-5 diharapkan menjadi momentum tahunan untuk mengingatkan dan mendorong masyarakat agar melakukan sarapan sehat sebagai upaya mewujudkan gizi seimbang.

Pentingnya manfaat sarapan inilah yang mendasari ahli gizi, ahli pangan, dan ahli kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia merekomendasikan perlunya pekan sarapan nasional. Rekomenendasi ini disampaikan pada Simposium Nasional Sarapan Sehat 16 Juni 2012 di Jakarta.

Dua alasan utama perlunya pekan sarapan nasional: pertama, sarapan merupakan perilaku penting dalam mewujudkan gizi seimbang, namun belum banyak yang melakukannya, dan kedua, UU Kesehatan No.36/ 2009 serta UU No.18/ 2012 tentang pangan mengamanatkan terwujudnya gizi seimbang dan salah satu pesan gizi seimbang adalah membiasakan sarapan.

Pembiasaan sarapan perlu dukungan berbagai pihak. Pola makan anak dibentuk dari lingkungan keluarga. Penanaman pemahaman pentingnya sarapan bagi anak dan pemberian teladan adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang tua dalam membiasakan sarapan bagi anak mereka. Kualitas kesehatan dan perilaku makan anak sekolah di Indonesia masih rendah.

Data Riskesdas (2013) menunjukkan prevalensi pendek pada anak Indonesia usia 5-12 tahun adalah 30.7% dengan 15 provinsi memiliki prevalensi sangat pendek di atas pravalensi nasional.

Selain pendek, 11.2% anak usia 5- 12 tahun berstatus gizi kurus dengan 16 provinsi memiliki prevalensi sangat kurus di atas prevalensi nasional.

Kejadian gemuk juga tinggi pada anak 5-12 tahun, yaitu 18.8% dengan 15 provinsi memiliki prevalensi sangat gemuk di atas prevalensi nasional. Pola yang sama juga ditemukan pada remaja usia 13-15 tahun.

Perilaku makan anak Indonesia juga memerlukan perhatian. Hampir 60% anak dan remaja tak biasa sarapan dan 4,6% anak sekolah sarapan dengan kualitas rendah.

Masih banyak masyarakat salah memaknai sarapan. Sarapan hanya diartikan makan dan minum di pagi hari. Minum teh manis atau makan roti kecil sudah dianggap sarapan.

Sarapan yang baik terdiri atas pangan karbohidrat, lauk pauk, sayuran atau buahbuahan, dan minuman. Melewatkan sarapan, tak bisa diganti dengan makan siang atau makan malam.

Pola sarapan anak Indonesia menurut Riskesdas (2010), anak usia 6-12 tahun paling banyak (34,41%) memiliki pola sarapan sumber karbohidrat ditambah lauk dan minum, kurang sayur dan buah.

Peringkat berikutnya pola sarapan terdiri atas karbohidrat dan minum saja sebanyak 23,73%, bahkan ada anak yang hanya sarapan minum sebanyak 3,47%.

Perkembangan Otak

Kebiasaan tidak sarapan berdampak secara sosial dan ekonomi. Selain menghambat pencapaian prestasi optimal anak, juga menghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemborosan investasi pendidikan juga bisa terjadi akibat rendahnya kebiasaan sarapan pada anak sekolah.

Banyak penelitian memperlihatkan manfaat sarapan terhadap perkembangan otak. Anak yang tidak sarapan akan sulit memenuhi kebutuhan vitamn A, B6, dan D, kalsium, magnesium, riboflavin, folat, zinc, fosfor, dan zat besi yang semua zat gizi tersebut memiliki peran penting pada perkembangan otak.

Review dari 102 penelitian (1982- 2007) oleh Brown, dkk membuktikan sarapan memiliki manfaat sangat penting, yaitu:

(1) meningkatkan kemampuan daya ingat (kognitif) anak,

(2) daya juang belajar dan kosentrasi/perhatian akan lebih baik,

(3) kemampuan membaca, berhitung (matematika) dan skor kemampuan sejenis (bahasa dan logika) lebih baik,

(4) anak jarang sakit dan jarang pusing, sakit telinga, dan sakit perut, dan

(5) anak memiliki stamina dan disiplin yang lebih baik. Anak yang tidak sarapan cenderung mengonsumsi kudapan manis dan berlemak sehingga berisiko mengalami overweight dan obesitas.

Penelitian pada anak sekolah di India (2010) ditemukan prevalensi anak overweight dan obesitas lebih rendah pada kelompok yang sarapan setiap hari.

Pekan Sarapan Nasional telah mendapatkan dukungan Mendagri yang membuat surat edaran tertanggal 4 Februari 2013 yang ditujukan kepada gubernur se-Indonesia agar mengampanyekan sarapan sehat dengan melibatkan lintas sektoral.

Para gubernur juga diimbau melaksanakan kegiatan penyediaan makanan tambahan anak sekolah (PMT-AS) sesuai Permendagri No. 18/ 2011 dengan dana APBD dan sumber lain dengan mengutamakan anak sekolah di daerah miskin, lokasi tertinggal, dan terpencil.

Semoga dengan Pekan Sarapan Nasional ini dapat terwujud masyarakat yang sehat, cerdas, dan produktif. (Sumber: Suara Merdeka, 17 Februari 2017)

Tentang penulis:

Subyantoro,Rektor Universitas Ngudi Waluyo (UNW) dan Dosen Unnes

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KLIK TERTINGGI

  • Tidak ada

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,696,056 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: