Moralitas dan Keteladanan

Oleh Ahmad Baedowi

FENOMENA maraknya perilaku sosial menyimpang yang diikuti oleh rendahnya kualitas moral individu sangat terlihat akhir-akhir ini.

Munculnya isu rasisme, sektarianisme, dan diskriminasi yang mengelompok serta tak habis-hentinya budaya koruptif penyelenggara negara, merupakan pertanda rendahnya moralitas bangsa ini.

Meskipun kita melihat ada begitu banyak peribadatan yang dilakukan kaum beragama, simpul-simpul kemunafikan jelas tak bisa dibohongi dengan banyaknya pemberitaan yang menunjukkan rusaknya moral masyarakat kita.

Padahal, masyarakat Indonesia terkenal sangat agamais, bahkan ideologi negara menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai basis perilaku moral. Namun, kenyataan hari ini membuat kita bersedih.

Sebagai pendidik, saya seringkali ditanya para mahasiswa dan orangtua, mengapa bangsa ini sulit sekali untuk berubah kepada kemajuan secara ekonomi serta memiliki keadaban perilaku yang baik dan konsisten.

Jawaban saya selalu bermula dari analisis terhadap kondisi pendidikan di Tanah Air: Indonesia hari ini ialah cerminan dari produk pendidikan 40 tahun terakhir.

Dalam 40 tahun terakhir pemerintah kita tak meyakini secara tulus bahwa pendidikan merupakan aspek paling penting yang harus dilakukan terlebih dahulu dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

Namun, karena persoalan ekonomi juga tak kalah penting, bahkan perkembangannya jauh lebih pesat dari sektor mana pun, akhirnya persoalan pendidikan tidak menjadi prioritas utama yang diperhatikan pertumbuhannya.

Akibatnya ialah benar masyarakat tetap bisa makan dan tidak kelaparan. Namun, relung jiwa mereka kosong karena tak diisi oleh proses pertumbuhan sistem pendidikan yang berorientasi pada moralitas.

Bahkan seringkali pendidikan dijadikan komoditas politik dan ditarik-tarik ke ranah hukum. Padahal, sejatinya pendidikan ialah urusan moral semata.

Lemahnya ketauhidan

Dalam perspektif teologis, makna tauhid identik dengan kemanusian. Artinya, tauhid tak hanya sekadar meyakini akan keesaan Tuhan semata, tetapi lebih dari itu ialah pemahaman tentang pentingnya penegakan rasa keadilan dan kesejahteraan yang ditujukan untuk membangun kesatuan dan kebersamaan umat manusia.

Jika Tuhan telah membuat perbedaan dalam penciptaan-Nya, tauhid merupakan cara agar kita berpikir dengan cara apa kita dapat menyatukan kemanusiaan.

Perbedaan pengetahuan, terutama yang diakibatkan oleh berbedanya sistem dan kualitas pendidikan di dalam sebuah negara, jelas sekali membawa implikasi serius terhadap status sosial dan ekonomi seseorang.

Berbanding aspek lainnya, pendidikan memiliki pengaruh dan peluang yang tak terbatas untuk meningkatkan kesejahteraan sebuah bangsa.

Pendidikan menjadi jalan setiap pemimpin bangsa harus menyadari kekeliruannya selama ini karena salah dalam memgambil kebijakan di bidang pendidikan.

Pendidikan ialah masalah proses, menyangkut kesabaran dan daya tahan sebuah bangsa. Tanpa keyakinan fundamental semacam ini jelas sebuah kekeliruan sedang berlangsung tanpa kesadaran eskatologis sama sekali. Itu artinya pandangan ketauhidan kita terhadap kemanusiaan patut dipertanyakan.

Pendek kata, apa pun yang menyangkut pendidikan seharusnya tetap diperjuangkan untuk mengubah kemanusiaan yang lebih adil dan sejahtera. Banyak studi menyebutkan bahwa pengaruh pendidikan juga berimplikasi secara luas terhadap pembangunan sebuah bangsa.

Bank Dunia dalam laporannya tak segan menyebutkan bahwa investasi di bidang pendidikan ialah imperatif. Dikatakan, “Investment in education benefits the individual, society, and the world as a whole, and broad-based education of good quality is among the most powerful instruments known to reduce poverty and inequality.” (World Bank: 2009).

Karena itu, jika sebuah negara lalai dalam memenuhi kecukupan pembiayaan pendidikan berdasarkan jumlah penduduknya, artinya negara tersebut sedang mengoyak-ngoyak rasa keadilan masyarakat agar dapat hidup lebih baik dan sejahtera.

Implikasi sosial dan ekonomi dari pendidikan juga terbukti sebagai pendekatan paling ampuh dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara (Z Oxaal, Education and Poverty, 1997).

Memahami keteladanan

Apa yang terjadi dengan Indonesia setelah 70 tahun merdeka dan mayoritas penduduknya menyatakan beragama dalam bingkai Ketuhanan Yang Maha Esa (Pancasila)? Jelas sekali tak ada pemaknaan secara eskatologis terhadap kebijakan pendidikan kita selama ini.

Pembangunan pendidikan seperti jalan di tempat, bahkan seperti kehilangan akar dan ruhnya. Pendidikan kehilangan keteladanan karena sumber keteladanan yang ada pada guru menjadi bias dengan kewajiban yang sangat konstruktif dan formalistik.

Keteladanan juga seakan menghilang dari para ulama, tokoh masyarakat, pemimpin, dan penyelenggara negara. Sebagai sektor yang melibatkan begitu banyak kepentingan politik dan budaya di dalamnya, keteladanan seakan oase yang hilang dalam dunia pendidikan kita.

Banyak orang saat ini tak meyakini bahwa keteladanan muncul dari rasa tanggung jawab yang dilahirkan dari kerja keras setiap hari secara ikhlas. Hanya kerja keras dengan keikhlasan sajalah yang akan melahirkan sikap rendah hati dan menumbuhkan sikap selalu ingin berbagi kepada orang lain.

Dari sudut ini, keteladanan dan tanggung jawab akan memperoleh padanannya, yaitu tumbuhnya spiritualitas yang memancarkan kemurnian jiwa seseorang dalam menjalani hidup.

Kazuo Inamori dalam A Compass to Fulfillment: Passion and Spirituality in Life and Business (2010), menunjukkan banyak contoh bahwa keberhasilan seseorang dalam meraih kesuksesan sesungguhnya lebih banyak ditentukan oleh kerja keras yang ikhlas.

Mungkin ada banyak orang yang membayangkan bahwa membersihkan jiwa harus melulu melibatkan laku ritual keagamaan tertentu sehingga kita merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Namun, bukti empirik di lapangan menunjukkan ternyata mencintai pekerjaan secara bertanggung jawab dan mencontohkan keteladanan justru akan lebih cepat mengantarkan seseorang memiliki kedalaman spiritual.

Mengajar, sebagaimana bekerja, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas pasti akan membawa seorang guru pada evolusi secara alami dalam jiwa yang akan memperkuat karakter para guru sehingga pada akhirnya kita akan memperoleh kemuliaan hidup dunia dan akhirat.

Pendidikan kita harus terus menggali dan mengkaji secara serius keterkaitan antara keteladanan dan tanggung jawab. Artinya harus ada proses keterlibatan emosional, sosial, dan kognitif dalam belajar.

Kata kuncinya ialah pada bagaimana sekolah dan guru-guru memiliki sensitivitas yang secara kreatif mendorong terciptanya struktur emosi dan prososial yang tinggi terhadap lingkungan masyarakat.

Sanna Jarvela dalam Social and Emotional Aspects of Learning (2011) mengurai setidaknya empat hal yang perlu diperhatikan dalam melihat hubungan antara pendidikan dan perilaku masyarakat.

Pertama, kajian tentang aspek motivasi belajar seperti keingintahuan, atribut emosi, motivasi intrinsik dan eksrinsik harus terus digali berdasarkan konteks sosial saat ini.

Kedua, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenali aspek emosinya secara cerdas juga penting dilakukan, terutama untuk melihat hubungan antara emosi dengan kondisi keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Ketiga, kajian terhadap interaksi sosial dengan bentuk-bentuk pembelajaran di kelas juga perlu dieksplorasi melalui serangkaian riset komprehensif.

Adapun yang terakhir, keempat, penting untuk memperkenalkan secara perlahan konsep self-regulation sebagai bagian dari pembentukan budaya sekolah yang sehat.

Semoga masih ada harapan untuk menumbuhkan tanggung jawab dan keteladan dalam dunia pendidikan kita. (Sumber: Media Indonesia, 13 Februari 2017)

Tentang penulis:

Ahmad Baedowi Direktur Pendidikan Yayasan Sukma,Jakarta

 

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,696,693 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: