Mencari Pemimpin Berintegritas

Oleh Nesia Qurrota A’yun

Pilkada serentak di 101 daerah yang akan digelar pada 15 Februari 2017 tentu menyimpan banyak makna di dalamnya.

Indonesia dengan latar belakang permasalahan yang tidak sama antardaerahnya membuat pilkada menjadi momen untuk penyelesaian masalah di tiap-tiap daerah.

Pilkada tentu diharapkan akan melahirkan sosok pemimpin yang benar-benar mengabdi pada masyarakatnya sehingga masalah seperti masih tingginya angka kemiskinan dan belum tercapainya kesejahteraan dapat teratasi.

Berdasarkan debat para calon pemimpin daerah yang ditayangkan di TV nasional maupun di media lain, kata integritas menjadi kata yang sering disebut dalam pemaparan visi dan misi.

Integritas pada dasarnya memang merupakan istilah yang erat kaitannya dengan kepemimpinan. Indikator keberhasilan seseorang dalam memimpin ditentukan oleh seberapa tinggi integritasnya.

Integritas tidak bisa diartikan sebatas kejujuran. Integritas menurut Henry Cloud adalah upaya untuk menjadi seorang yang utuh dan terpadu di setiap bagian diri yang berlainan, yang bekerja dengan baik dan menjalankan fungsinya dengan apa yang telah dirancang sebelumnya. Intinya, integritas terkait dengan konsistensi seseorang dengan apa yang telah ia rancang.

Semakin seorang pemimpin memenuhi janji-janjinya, semakin tinggi integritas yang dimilikinya. Realitas di lapangan menunjukkan integritas para pemimpin bangsa Indonesia, termasuk pemimpin daerah, masih harus ditingkatkan. Banyak kasus terjadi bahwa apa yang disampaikan saat kampanye tidaklah 100% sama dengan di lapangan.

Inilah yang kemudian sebagian masyarakat merasa tidak percaya lagi dengan para pemimpin bangsa sehingga menjadi golongan putih (golput) adalah sebuah pilihan.

Golput dalam sejarahnya telah mewarnai hajatan demokrasi di Indonesia sejak pemilu pertama digelar, yaitu sejak 1955. Namun, angka golput terbesar terjadi pada Pemilu 2009 yang mencapai 29,3%.

Banyak jumlah golput tentu berkorelasi dengan tingkat partisipasi publik. Semakin tinggi angka golput, semakin rendah tingkat partisipasi publik masyarakat.

Ketika partisipasi publik rendah, keberhasilan dari suatu pesta demokrasi juga masih jauh dari apa yang telah dicitacitakan.

Dengan permasalahan di atas, menjaga bahkan meningkatkan integritas adalah salah satu senjata ampuh untuk meningkatkan partisipasi publik.

Apabila publik banyak yang berpartisipasi dan integritas pemimpinnya tinggi, kesejahteraan masyarakat yang diimpikan bukanlah hal mustahil untuk dicapai.

Integritas seseorang pada dasarnya dibangun dari nilainilai yang dianut seseorang (values), konsistensi, dan komitmen. Dasar-dasar tersebut tentu bukanlah hal yang dilahirkan begitu saja, melainkan hal yang terus dibentuk dan dikembangkan.

Karena itu, sudah saatnya baik pemimpin maupun calon pemimpin bangsa Indonesia meningkatkan integritasnya demi tercipta kepercayaan di hati masyarakat.

Dengan demikian, pesta demokrasi yang telah direncanakan digelar serentak akan berjalan sesuai harapan dan hasil baiknya akan dirasakan oleh segenap masyarakat Indonesia. ( Sumber: Koran Sindo, 13 Februari 2017)

 

Tentang penulis:

Nesia Qurrota A’yun Mahasiswi Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,652,577 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: