Go Public,untuk Siapa?

Oleh Nicky Hogan

PERTENGAHAN Januari kemarin saya berkesempatan bertemu pemilik perusahaan yang sedang berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), menjual sebagian sahamnya kepada publik.

Di ruang rapat kantornya yang nyaman, pengusaha muda daerah itu banyak menuturkan kegiatan usahanya dan beberapa rencana ke depan.

Sampai di satu momen ketika beliau menyampaikan sebenarnya beberapa institusi asing sudah melakukan pendekatan untuk menawarkan perusahaannya go public di luar negeri, saya tidak tertarik karena mengusik nasionalisme saya. Hati saya bergetar dan bersorak.

Menjadi perusahaan publik atau istilahnya emiten yang tercatat di BEI, seperti kita tahu, memberikan banyak manfaat untuk perusahaan.

Akses pendanaan murah dari masyarakat pasar modal, mendongkrak kinerja dan citra perusahaan, meningkatkan tata kelola perusahaan ke level yang lebih tinggi, hingga melancarkan proses regenerasi kepemimpinan perusahaan, khususnya untuk perusahaan keluarga.

Itu hanya sebagian saja keuntungan perusahaan yang menyandang embel-embel terbuka (tbk).

Bursa efek, di mana pun di seluruh dunia, seyogianya berkah.

Berkah untuk siapa?

Kalau di atas tadi disebutkan beberapa manfaat untuk perusahaan-perusahaan go public, yang hingga saat ini tercatat di BEI sebanyak 535 perusahaan, banyak di antaranya telah menikmati berkah keuntungan go public.

Setelah menjadi perusahaan publik, kemudian membesar, dan terus meraksasa.

Kenaikan kinerja berlipat-lipat selama bertahun-tahun dan market kapitalisasi (baca: ‘harga’ perusahaan) yang membumbung tinggi, dengan pengelolaan perusahaan pada level good corporate governance yang baik.

Berkah tentunya juga diperoleh masyarakat yang menjadi investor, yang membeli saham dan menjadi pemegang saham dari perusahaan-perusahaan publik tersebut.

Keuntungan dan kinerja baik perusahaan tentunya akan memberikan bagian keuntungan (dividen) kepada setiap pemegang sahamnya, demikian pula potensi kenaikan harga saham dari waktu ke waktu.

(Indeks harga saham gabungan atau IHSG yang menggambarkan pergerakan rata-rata seluruh saham di BEI menunjukkan, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Indonesia ialah negara dengan kenaikan indeks harga saham tertinggi di dunia, 193%).

Selain merupakan berkah, bursa efek ialah ‘agen’ pemerataan kesejahteraan.

Beberapa saat lalu, BEI mengangkat isu perusahaan-perusahaan multinasional yang mengeksploitasi hasil alam Indonesia, tetapi tidak mencatatkan saham di dalam negeri, bahkan lebih memilih tercatat di luar negeri.

Yang menikmati dividen dan keuntungan langsung pada akhirnya toh bukan masyarakat Indonesia, melainkan para investor asing di luar sana.

Istilah ‘tidak elok’ memang pas untuk kondisi ini.

Di sisi lain ternyata masih banyak pula perusahaan-perusahaan yang ‘mengeksploitasi’ masyarakat.

Menjadikan rakyat Indonesia sebagai basis konsumen terbesarnya, menjual produk dan jasanya, menikmati keuntungan besar selama bertahun-tahun, tapi juga tidak menjual sahamnya kepada masyarakat, tidak mengembalikan sebagian keuntungannya kepada masyarakat, tidak memberikan kesempatan kepada masyarakat turut menikmati.

Mereka tetap bertahan sebagai perusahaan privat, bukan publik, dan menutup sama sekali kemungkinan masyarakat Indonesia menjadi bagian dari kepemilikan sahamnya.

Kenapa tidak berbagi?

Saya teringat kembali awal tahun ini di acara pembukaan perdagangan di lantai bursa, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyatakan dalam sambutannya manfaat masuk bursa bukan hanya untuk perusahaan, melainkan juga untuk masyarakat umum.

Menjadi perusahaan publik ialah menjadi aset negara.

Perusahaan publik yang mendapatkan keuntungan, tidak lagi eksklusif, tetapi juga menguntungkan masyarakat Indonesia.

Di tengah gencarnya peningkatan literasi dan inklusi keuangan nasional, yang ujungnya akan bermuara ke kesejahteraan masyarakat, serta gerakan penambahan jumlah investor pasar modal Indonesia, salah satu pesan terbaik yang sering kali disampaikan kepada masyarakat calon investor dan investor baru ialah pakai produknya, beli sahamnya.

Lalu kalau ada investor yang bertanya, tapi perusahaannya belum go public? Rasanya saya kok belum cukup tega untuk mengatakan ‘ganti’. Beli produk yang perusahaannya sudah go public.

Sementara itu, saya hanya mampu membayangkan di satu titik, di suatu masa nanti, alangkah makmur dan sejahteranya bangsa ini.

Perusahaan menjual produk kepada masyarakat (baca: pemegang sahamnya) dan masyarakat membeli produk dari perusahaan milik mereka sendiri.

Banyak pemilik perusahaan yang saat ini sudah di titik itu tentunya.

Tinggal kebaikan hati untuk berbagi dan membantu mengantar masyarakat ke masa makmur dan sejahtera itu.

Seperti pengusaha muda kita tadi, semoga nasionalisme Anda terusik. ( Sumber: Media Indonesia, 14 Februari 2017)

 

Tentang penulis:

Nicky Hogan Direktur Pengembangan BEI

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,652,571 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: