Tantangan Indonesia 2017 dan Pemimpin Berintegritas

Oleh Deden Ramdan

Pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang satunya kata dengan perbuatan, konsisten antara sikap dan tindakan, antara nilai hidup yang dianut dan hidup yang dijalankan.

Pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang matang, tanpa kompromi, serta menolak pengakuan untuk dirinya sendiri.

Di dalam menjalankan hidup serta pelayanannya, pemimpin yang matang dan berintegritas fokus mencapai tujuan yang mulia. Seorang pemimpin yang berintegritas adalah yang memiliki integritas dalam etika dan moral.

Seorang pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia adalah sosok yang mempunyai visi dan misi dalam rangka menentukan langkahlangkah menyelesaikan problematika bangsa yang semakin kompleks pada 2017.

Seperti terjadinya disparitas antara penduduk kaya dan miskin (Gini Ratio Indonesia 0,42 dari skala 5) dan dipertajam isu penguasaan modal asing yang cenderung intervensi.

Selain itu, kenaikan sejumlah ke-butuhan publik seperti kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik. Demokrasi substansial yang mengedepankan sosiodemokrasi berhadapan dengan demokrasi prosedural sehingga terjebak dalam demokrasi yang sangat kapitalistik individualistis akibatnya indeks ekonomi tidak beranjak signifikan.

Indeks persepsi korupsi masih tinggi, yaitu 118 dari 174. Di samping persoalan penegakan hukum dan terfragmentasinya kelompok masyarakat karena isu tidak produktif, seperti isu SARA yang pada gilirannya mengarah pada surutnya wibawa kepemimpinan nasional. Keberanian sangat dibutuhkan untuk mendongkrak kondisi negara yang tidak efektif saat ini.

Seorang pemimpin dituntut melakukan terobosan dan dapat mengubah tatanan pemerintahan yang beradab, berkemampuan, dan berkeadilan.

Kita butuh para pemimpin yang dapat meningkatkan kapasitas bangsa menggapai daya saing tinggi, tetapi sekaligus mengembangkan daya sanding kohesif. Pemimpin yang paham mengendalikan kompetisi sehingga menjadi sehat sekaligus kerja sama untuk saling berbagi ruang dan peluang.

Hasil riset dari James Kouzes dan Barry Posner menyatakan bahwa karakteristik paling utama bagi seorang pemimpin adalah integritas.

Integritas berasal dari kata latin integrated artinya komplet, utuh, dan sempurna yang berarti tidak ada cacat. ”Integritas adalah fondasi untuk membangun rasa percaya (trust).

Menurut Sandjaya, integritasdimengertisebagai wholeness, completeness, entirety, unified. Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan dalam seluruh aspek hidup, khususnya antara perkataan dan perbuatan.

Dengan demikian, integritas dapat diartikan sebagai keutuhan yang melibatkan seluruh aspek kehidupan yang dinyatakan dalam kesatuan antara perkataan dan perbuatan, di mana apa katakan oleh pemimpin itulah yang dilakukannya.

Dengan begitu, dia dapat dipercaya, disegani, dan dihormati orangorang yang dipimpinnya. Integritas bagi seorang pemimpin merupakan alat yang sangat kuat untuk memimpin dan dapat meningkatkan kredibilitasnya di mata orangorang yang dia pimpin.

JohnMaxwe ll 2016 mengatakan, ciri-ciri pemimpin yang berintegritas ditandai dengan memiliki konsistensi yang dapat dilihat dari tanggung jawab dalam mengatur semua hal dan yang dipercayakan kepadanya.

Selain itu, juga yang memiliki ketulusan selalu memiliki kerelaan hati. Kerelaan hati yang diperlihatkan oleh pemimpin dapat dilihat ketika dia memberikan yang terbaik kepada organisasinya ataupun orang-orang yang dipimpin.

Hal lain pemimpin yang kapabel yaitu pemimpin yang lebih paham permasalahan secara mendetail, andal, dan menguasai kemampuannya sehingga dapat segera mencari solusi.

Pemimpin yang berintegritas adalah seorang pemimpin yang mampu menjunjung tinggi nilai, prinsip, dan kebenaran yang diyakininya.

Seorang pemimpin yang berintegritas akan mampu memberikan keteladanan dalam memengaruhi orang lain untuk melakukan perubahan yang terkait proses berpikir.

Karena itu, seseorang yang memiliki kepemimpinan yang mampu menerapkan integritas tinggi akan menunjukkan sikap yang kuat terhadap keteguhan dalam bertindak sesuai prinsip kebenaran dan tidak gentar dengan guncangan yang akan menggoyahkan kepemimpinannya.

Hak prerogatif presiden dalam menentukan sebuah kebijakan jangan sampai tergeser dengan kepentingan-kepentingan partai koalisi atau kepentingan asing sehingga untuk menentukan sebuah kebijakan publik selalu terganjal pertentangan.

Ekspektasi rakyat Indonesia kepada seseorang yang berintegritas dan berdedikasi harihari ini semakin tinggi. Seorang pemimpin mampu membuat keputusan yang tepat dalam bersikap dan berperilaku sehingga dapat membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Seseorang yang dapat menuntun mana kebenaran yang harus ditegakkan dan ketidakjujuran yang harus diberikan suatu ketegasan sehingga hukum harus tetap dijalankan tanpa pandang bulu.

Ini tidak berlebihan karena jika Indonesia tidak mampu berubah, maka Indonesia akan terus berada dalam masa transisi demokrasi karena tidak adanya pemerintahan yang kuat dengan pemimpin yang tangguh dan berintegritas untuk mengakhiri situasi menuju konsolidasi demokrasi.

Jadi, dapat dikatakan bahwa pemimpin mandiri berintegritas memiliki tanggung jawab besar untuk menyelaraskan serta meneguhkan hati, pikiran, sikap, cara dan tindakan yang benar dan baik dalam lingkup kehidupannya sehingga dia terbukti secara konsisten dapat menjadi berkat kepada sesamanya.

Landasannya ialah karena dia yang berintegritas itu berbudi luhur dan akan selalu berpikir, bersikap, berkata, dan bertindak luhur.

Mengapa integritas begitu penting? Sebab, integritas memberikan kuasa kepada kata-kata kita, memberikan kekuatan bagi rencana-rencana kita, dan memberikan daya (force) bagi tindakkan kita.

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla punya kesempatan menunaikan tugas sejarah membangun integritas bersama agar tak kembali terperangkap ”involusi”, berkubang pada kesalahan yang sama seperti presiden terdahulu yang membuang energi dan kesempatan. Kita merindukan pemimpin, bukan pembesar.

Negarawan autentik dengan visi ke depan. Bukan kontestan yang menjual keajaiban konfigurasi tantangan dan beban negara menghendaki ekspresi keteguhan sikap, keputusan, dan tindakan yang menyatukan visi besar bersama.

Kita berharap seorang pemimpin yang tidak mudah berjanji, tetapi belum cukup memberi di lapangan pengabdian kemasyarakatan dan kebangsaan.

Perlu banyak tokoh teladan yang dapat membangkitkan tekad untuk memecahkan begitu banyak kebuntuan, bersendikan misi kuat, terukur, dan terencana.

Figur-figur dengan dukungan mencukupi dari berbagai kalangan, mampu merangkum cita-cita bangsa, dan mengorbankan semangat dan hasrat besar agar Indonesia meraih martabat semestinya.

Ada fungsi yang perlu dipenuhi seorang pemimpin agar rakyat mengalami transformasi kehidupan yang istimewa. Transformasi kehidupan dari kepemimpinan yang keluarannya bersifat perifer sensasional tak menyentuh pemenuhan kebutuhan utama mayoritas rakyat di bidang fisikal,

emosional spiritual, dan cenderung berorientasi pada kampanye verbal semata menuju keluaran kepemimpinan yang bersifat elementerfaktual memenuhi kebutuhan utama dan mendasar seluruh rakyat fisikal, emosional, spiritual, serta berorientasi pada kebenaran obyektif kehidupan (Herry Tjahjono, 2014).

Pada 2017 bangsa Indonesia mendambakan pemimpin nasional berintegritas yang bukan hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan rakyat elementer, faktual, mediasi solutif, serta mencapai sinergi bersama, tetapi sudah sampai pada tanggung jawab pemimpin dalam membawa kehidupan rakyat ke tataran lebih tinggi: menjadi lebih manusiawi.

Untuk memenuhi fungsi ini, tentunya pemimpin nasional wajib punya kebesaran dan kematangan jiwa tinggi sehingga secara kaffah mengabdikan dirinya bagi negeri ini dan semua rakyat yang dipimpinnya. Semoga. ( Sumber: Koran Sindo, 10 Februari 2017)

Tentang penulis:

DR Deden Ramdan MSI Wakil Rektor III Universitas Pasundan Bandung

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,699,528 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: