Menuju Timur Tengah Baru

Oleh Ibnu Burdah

SETELAH beberapa pekan memerintah, garisgaris besar kebijakan Presiden AS Donald Trump di Timur Tengah mulai tampak jelas, bahkan sebagian mulai dieksekusi.

Seperti diduga, Trump adalah seorang pedagang tulen. Ia tak akan risih dengan konflik asalkan memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi AS. Ia adalah seorang realis sejati. Itulah sepertinya yang akan menjadi garis besar petualangan AS di Timur Tengah.

Dan, tentu variabel AS ini akan berpengaruh signifikan terhadap dinamika Timur Tengah, setidaknya dalam beberapa tahun mendatang.

Ada dua hal yang akan dikejar Trump di Timur Tengah, yaitu uang dan keamanan. Terkait dengan uang, Trump tak hanya terpaku pada upaya mengamankan pemenuhan kebutuhan minyak dari negara-negara Teluk sebagaimana lazimnya rezim AS sebelumnya.

Trump sepertinya akan membuat ”terobosan besar” yang benar-benar baru. Intinya, ia akan memeras negaranegara Teluk kaya raya itu dengan imbalan keamanan.

Ia sangat sadar bahwa yang ada dalam pikiran rezim negara-negara Teluk itu adalah besarnya ancaman Iran, di samping potensi gerakan rakyat.

Iran adalah sumber ancaman yang menggelayuti pikiran rezim negara-begara Teluk, khususnya Arab Saudi dan Bahrain.

Iran sudah mulai ditekan oleh Pemerintahan Trump sehingga negara itu bersikap lebih garang yang menyebabkan ”ketakutan” rezimrezim Arab Teluk semakin besar. Apalagi, AS memperoleh alasan baru bagi tindakan itu dengan adanya uji coba rudal balistik Iran, baru-baru ini.

AS terus menggalang dan memperkuat opini bersama rezim Teluk bahwa Iran adalah sumber ancaman bagi kawasan Timur Tengah.

Mereka semakin lantang menyuarakan bahwa Iran adalah sumber destabilisasi kawasan. Kendati mungkin tak sampai membatalkan perjanjian Nuklirnya, hubungan AS dan Iran sepertinya akan memanas.

Dan ini yang terpenting, Trump sepenuhnya sadar bahwa negara-negara Teluk memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap jaminan keamanan AS khususnya saat Iran mulai garang lagi.

Karena itu, Trump tak memasukkan Saudi ke dalam paket kebijakan imigrasinya yang ”rasis” itu padahal keterlibatan warga Saudi terhadap aksi terorisme yang mengancam AS sangatlah besar.

Melalui telepon kepada Raja Salman, Trump dikabarkan telah memberikan tawaran kongkret kepada Arab Saudi dan tentunya negara-negara Teluk lain untuk membangun pertahanan antirudal.

Ia bahkan secara blak-blakan telah menyatakan kerugian AS yang begitu besar dalam petualangannya di Timur Tengah. Dan kali ini, AS tak mau lagi mengulangi bisnis rugi.

Miliaran dolar telah dikeluarkan AS untuk membebaskan Kuwait dari cengkeraman Saddam Husein tanpa imbalan apa-apa.

Setelah berhasil, Kuwait kembali diserahkan kepada keluarga kerajaan al-Shabbah yang konon mengungsi di London dengan kehidupan super mewah di saat perang pembebasan negeri mereka. Sekarang Kuwait adalah negeri super kaya yang konon para miskin papa saja bisa hidup layaknya raja.

Trump secara blak-blakan menyatakan, Kuwait harus memberikan 50 persen kekayaannya untuk AS, setidaknya selama 50 tahun atau bahkan selamanya.

Hal yang sama juga akan dilakukan Trump terhadap Irak yang menurutnya telah ”dibebaskan” dari Saddam Hussein. Sekitar 3 triliun dolar AS telah dihabiskan untuk biaya perang besar itu dan sesudahnya.

Tapi, kini Irak justru ditinggalkan AS dan menurutnya dikuasai oleh Iran. Irak kemungkinan akan menjadi titik paling krusial dalam konflik Iran dan AS pada masa-masa Pemerintahan Trump ke depan. Minyak Irak akan menjadi rebutan kedua negara itu.

Demikian pula, Saudi, Uni Emirat, Bahrain dan negara Arab Teluk lain harus membayar mahal terhadap ”jaminan” keamanan bagi mereka.

Trump juga menyebut- nyebut bahwa gara-gara petualangan AS di Timur Tengah itulah utang AS kini membengkak hingga 20 triliun dolar.

Dan negara-negara Teluk di samping Jepang dan Korea akan menjadi sapi perah penting dalam hal ini. Negara-negara ini menurut Trump harus membantu memikul beban ekonomi AS yang besar itu sebagai ganti ”jasa” keamanan AS selama ini. Sejauh ini belum ada tanggapan jelas dari negara-negara Teluk. (Sumber: Suara Merdeka, 10 Februari 2017)

Tentang penulis:

Dr Ibnu Burdah MA, pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,652,577 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: