Menjaring Pemimpin Berkualitas

Oleh Suwanto
Pesta demokrasi akbar bertajuk pemilihan kepala daerah (pilkada) dipastikan digelar pekan depan. Kita berharap dapat menjaring sosok pemimpin daerah terbaik lewat pilkada.

Pasalnya, diakui atau tidak, negeri ini masih dilanda krisis kepemimpinan. Figur pemimpin yang bersih dan jujur seolah menjadi barang langka yang sulit ditemukan sehingga tak sedikit pula yang merasa pesimis, akankah pilkada ini benar-benar mampu menjaring pemimpin daerah yang menjadi dambaan rakyat.

Meskipun demikian, di tengah-tengah rasa pesimis ini masih terselip rasa optimistis, harapan hadirnya pemimpin daerah yang mampu membawa roda pembangunan daerahnya ke arah lebih baik.

Dalam mewujudkannya, tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkanperjuangan dan sinergitas seluruh elemen masyarakat seusai pilkada ini.

Baik pihak yang menang maupun yang kalah harus bersatu padu dan bahu-membahu membangun daerahnya demi kesejahteraan bersama.

Rekonsiliasi juga perlu semai seusai pilkada ini. Jangan sampai malah berseteruataumenyulutapidendam ibarat ”bara dalam sekam” yang sulit padam.

Mengingat bagaimanapun, keberhasilan kepala daerah yang terpilih dalam mewujudkan visimisinya dan membangun daerahnya membutuhkan partisipasi segenap masyarakat. Tentu proses ini akan berjalan lebih efektif manakala di kalangan warga masyarakat tidak dihadapkan konflik ataupun perpecahan, termasuk pihak yang kalah tetap punya tanggung jawab moral untuk mendukung penuh kepala daerah yang terpilih.

Begitu pun pihak yang menang, juga harus merangkul pihak yang kalah untuk bergandengan tangan bergerak bersama dalam mewujudkan cita-cita pembangunan.

Sudah saatnya seluruh masyarakat sadar, bahwa pilkada merupakan mekanisme demokrasi dalam rangka untuk memilih sosok pemimpin daerah yang harapan kita.

Siapa pun yang terpilih harus kita dukung, bukan malah dibendung ruang geraknya. Tugas kita yang selanjutnya adalah mengawal, mengontrol, dan mengawasi gerak langkah pemimpin daerah yang baru.

Dalam rangka menyongsong MEA, tentu kehadiran pemimpin daerah yang jujur, bersih, dan berkarakter sangatlah diharapkan.

Paling tidak ada empat variabel sebagai kriteria pemimpin yang berkarakter sebagaimana telah dituturkan oleh Gari Yulk (1994), yaitu personality integrity atau integritas kepribadian; proactive yaitu dapat menjadi teladan yang baik; resourceful yang merupakan kemampuan mengerahkan seluruh sumber daya; dan managerial tool atau unsurunsur manajemen.

Sebagai kepala daerah yang terpilih secara demokratis, ada baiknya juga meneladani nasihat bijak yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, yaitu pertama, ”ing ngarso sung tulodo” yang artinya ketika menjadi di depan pemimpin mampu menjadi teladan yang baik bagi rakyatnya.

Kedua, ”ing madyomangunkarso” yangberarti bila pemimpin berada di tengahtengah rakyatnya mampu memberikan motivasi dan inspirasi untuk bergerak maju.

Dan ketiga, ”tut wuri Handayani”, yaitu pemimpinharusmenghargaidan mengapresiasi, serta tidak memandangremehrakyatnya. Harapannya, jika itu semua disadari penuh untuk kemudian diamalkan oleh para kepala daerah yang baru terpilih.

Dan, tentunya dengan didukung oleh segenap warga masyarakat, niscaya akselerasi pembangunan daerahnya akan dapat terwujud dan cita-cita pembangunan selama lima tahun ke depan akan tercapai. Semoga! ( Sumber: Koran Sindo, 10 Februari 2017)

Tentang penulis:

Suwanto Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

      

 

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KLIK TERTINGGI

  • Tidak ada

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,849,390 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  
Iklan

%d blogger menyukai ini: