Pengembangan Teknoagroindustri Pangan

Oleh Posman Sibuea

Memasuki 2017 yang baru satu bulan berjalan, kita patut melakukan permenungan tentang lambatnya pengembangan teknoagroindustri pangan di Tanah Air.

Indonesia yang dikenal memiliki potensi sumber daya pertanian yang melimpah ternyata sebagian besar kebutuhan pangan harus diimpor.

Sebagai negara agraris, seharusnya Indonesia mampu membangun dan mengembangkan teknoagroindustri pangan yang berdaya saing tinggi dan didasarkan pada strategi industrialisasi yangtepatuntukmengawalketahanan pangan yang mandiri dan berdaulat.

Tetapi karena kebijakan pemerintah kurang mendukungpengembanganteknoagroindustri pangan yang berkelanjutan, akhirnya Indonesia kerap mengalami defisit pangan yang menyebabkan keran impor selalu dibuka setiap tahun, bahkan jumlahnya diperkirakan meningkat belakangan ini.

Padahal, bila mau becermin pada pengalaman negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, dan Jepang, kemajuan perekonomiannya dimulai melalui keunggulan di sektor pertanian.

Mutu SDM Rendah

Ide pengembangan teknoagroindustri pangan bukan lagi hal baru. Widyakarya Pangan dan Gizi VI pada 1998 dan Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) pada 2000 sudah pernah mengusulkan agar agroindustri pangan ditetapkan sebagai industri strategis unggulan.

Teknoagroindustri pangan yang fokus pada sejumlah kegiatan seperti pascapanen, pengolahan, pengawetan, dan pengembangan produk baru memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pembangunan daerah.

Pertanyaan, bagaimana kondisi agroindustri pangan nasional saat ini dan apa saja yang sudah dilakukan untuk mendongkrak daya saingnya? Kemandirian dan daya saing teknoagroindustri pangan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki.

Salah satu masalah yang dihadapi ialah kurangnya SDM yang terampil menjalankan dan mengoperasikan proses pengolahan secara baik dan efisien.

Umumnya tenaga kerja yang tersedia saat ini adalah tenaga kerja produksi nonahli, sedangkan tenaga ahli masih terbatas jumlahnya.

Untuk mengatasi ini, pemilik industri pangan yang tergolong besar masih menggunakan tenaga asing, khususnya untuk quality control, reseach and development, production engineering dan nutritionist.

Ini artinya, tenaga ahli dalam negeri belum banyak diberi kesempatan untuk bekerja di industri pangan meski jumlahnya semakin banyak belakangan ini.

Dalam rangka proses alih teknologi, sebaiknya keterlibatan tenaga ahli domestik harus didorong sehingga ketergantungan pada tenaga asing akan makin berkurang.

Tenaga manajer skala menengah berupa lulusan perguruan tinggi belumbanyakdiserapoleh agroindustri pangan. Dalam beberapa hal, mereka malah overqualified sehingga mengerjakan beberapa tugas teknisi atau operator.

Kondisi tentang kualitas SDM teknoagroindustri pangan di Indonesia masih didominasi lulusan SLTA ke bawah dan hanya belum sampai 10% yang menyandang gelar sarjana teknologi hasil pertanian.

Ditinjau dari segi lokasi pabrik, jumlah sumber daya manusia yang berkualifikasi sarjana di industri pangan cenderung menurun jika lokasi industri tersebut semakin jauh dari Jakarta, dan lebih-lebih lagi jika lokasi industri tersebut di luar Jawa.

Tercatat masih hampir separuh agroindustri pangan di luar Jawa belum memiliki sarjana keteknikan pertanian dan sarjana teknologi hasil pertanian khususnya teknologi pangan dan gizi.

Umumnya agroindustri pangan yang memiliki SDM berkualifikasi sarjana teknologi pangan adalah industri besar. Untuk agroindustri pangan sedang dan kecil, jumlah sarjana teknologi pangan relatif lebih sedikit.

Dengan kondisi itu, dapat dimengerti bahwa laju pertumbuhan, peningkatan mutu, pengembangan produk baru, peningkatan daya saing, dan penguasaan teknoagroindustri menjadi lambat yang pada akhirnya membuat agroindustri pangan nasional makin tertinggal dan produk-produk yang dihasilkan secara mutu dan persaingan harga kalah bersaing dengan produk olahan pangan impor.

Peluang Baru

Dalam perkembangan teknoagroindustri pangan di Indonesia, perusahaan-perusahaan besardari negara majuberlabel multinational corporation (MNC), seperti Nestle dan Unilever, secara agresif merebut pangsa pasar yang secara tradisional dimiliki oleh industri pangan lokal.

Demikian juga perkembangan restoran franchise makanan asing sangat pesat belakangan ini bak cendawan di musim hujan.

Bila dicermati secara baik, yang menjadi akar kekuatan bisnis teknoagroindustri pangan ini adalah konsistensi mutu produknya.

Belajar dari fenomena globalisasi dalam pembentukan pola makan masyarakat, di satu sisi globalisasi telah melahirkan masalah, yaitu produk pangan lokal kalah bersaing secara mutu.

Tetapi jika dijembatani dengan prinsip kerja keras untuk meningkatkan kinerja agroindustri pangan nasional, mutu produknya dapat dikatrol.

Ini artinya globalisasi tidak hanya menyebabkan mudahnya menemukan produk pangan impor di Tanah Air, tetapi juga memberi peluang baru bagi berbagai produk pangan lokal untuk merambah pasar mancanegara jika mutunya sudah terstandarisasi secara baik.

Penguasaan teknoagroindustri pangan menjadi kata kunci pengembangan produk baru untuk menyediakan pilihan bagi masyarakat.

Produk pangan yang lebih awet, praktis penggunaannya, bergizi dan aman dikonsumsi menjadi tren saat ini. Teknologi ekstraksi, misalnya memungkinkan hadirnya kopi tanpa kafein dan produk-produk pangan cholesterol free yang bermanfaat untuk kesehatan.

Dalam menghadapi persaingan globalisasi, teknoagroindustri pangan nasional harus mampu memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produknya aman bagi kesehatan dan harga terjangkau.

Sebagai gambaran, seiring dengan tuntutan masyarakat yang kian melek kesehatan, produk pangan fungsional kian diminati.

Produk pangan baru ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga memiliki high added value. Contoh kelompok makanan ”tanpa” adalah produk-produk makanan tanpa lemak, tanpa kolesterol, tanpa gula, tanpa bahan pengawet, tanpa pestisida, tanpa kafein dan lain-lain.

Sedangkan contoh produk pangan ”dengan ” adalah produk fortifikasi, misalnya garam beryodium, roti mengandung zat besi, beras kaya serat dan vitamin A, dan lain-lain. Kelompok ”mudah” meliputi produk pangan yang mudah disimpan, mudah diolah, mudah dibawa, dan sebagainya.

Terakhir adalah produk ”generasi baru” yang dikenal sebagai pangan fungsional atau designer food yang dikembangkan dari pangan tradisional yang disajikan secara modern.

Untuk itu, peran perguruan tinggi sangat penting guna mendongkrak mutu SDM dalam menguasai teknoagroindustri pangan.

Pengembangan teknoagroindustri pangan harus mampu menangkap dan memenuhi tuntutan konsumen yang sedang berkembang, yakni memaknai pentingnya hubungan antara pangan, gizi dan kesehatan serta pelestarian lingkungan hidup. (Sumber: Koran Sindo, 03 Februari 2017)

Tentang penulis:         

Posman Sibuea Guru Besar Tetap di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Unika Santo Thomas Sumatera Utara

 

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,699,528 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: