Hubungan AS-Umat Islam

Oleh Edi Maszudi

KEBIJKAN (policy) Presiden AS Donald Trump berupa antiimigran dari tujuh negara muslim bisa menjadi blunder selama 30 hari dan penundaan penerimaan pengungsi selama 120 hari (empat bulan), membuat dunia menahan geram.

Pelarangan penduduk dari Suriah, Somalia, Irak, Iran, Libya, Sudan dan Yaman masuk ke AS juga ditentang oleh penduduk AS dan dunia internasional.

Bahkan lembaga kehakiman di AS menyatakan kebijakan Trump ini bisa dibatalkan dan illegal (tidak sah secara hukum). Sementara AS masih memperbolehkan penduduk Indonesia, Malaysia, Arab Saudi bisa masuk ke AS.

Alasan Trump negaranegara tersebut tengah menghadapi teror yang luar biasa dari teroris. Apabila orangorang tersebut masuk ke AS, akan menimbulkan masalah besar.

Trump mengatakan, ”saya menutup pemeriksaan baru untuk menjaga teroris radikal keluar dari AS.” Kebijakan antiimigram muslim Trump penuh kontraversi. Umat muslim berjumlah 1,6 milyar mempunyai ikatan keimanan.

Mampukah solidaritas umat Islam di seluruh dunia mencegah arogansi Presiden AS Trump? Bagaimana sebaiknya sikap masyarakat Indonesia dalam menyikapi kebijakan rasis dari Presiden Trump? Kebijakan antiimigran muslim dari tujuh negara di Timteng dan Afrika adalah wujud kampanye Trump yang menyatakan secara verbal bahwa orang Islam tidak boleh berkunjung ke AS.

Menurut Trump muslim adalah sumber terorisme internasional. Dukungan Trump terhadap Israel, bahwa Yerusalem sebagai ibu kota negara baru, akan membawa dunia dalam konflik baru dan membuat prosek perdamaian suram. Yerusalem adalah kota suci bagi tiga agama: Yahudi, Kristen dan Islam, menurut keputusan PBB.

Solidaritas Muslim

Apakah AS akan mengakhiri perang di Suriah dengan kekuatan militer dengan menumpas habis ISIS dan menggulingkan rezim Assad? Apakah AS melakukan petualangan politik di Afganistan dengan alasan memburu Taliban? Apakah AS juga akan melakukan kebijakan radikal terhadap Turki, Indonesia dan Arab Saudi? Turki di bawah Erdogan sekarang ini adalah simbol kebangkitan Umat Islam di seluruh dunia. Ekonomi Turki setara dengan Eropa.

Sementara Arab Saudi yang Sunni, kaya minyak dan sekutu utama serta mitra utama perdagangan AS. Arab Saudi membutuhkan AS karena payung militernya.

Sedangkan AS membutuhkan Arab Saudi minyaknya dan untuk mengimbangi Iran. Walaupun jumlah muslim 1,6 milyar di dunia, tapi bargining position terhadap negara-negara besar seperti AS, Rusia, RRC, Jepang, dan Jerman rendah.

Umat Islam yang terkotak-kotak dalam negara bangsa yang berbeda mempunyai kekuatan yang potensial ini sulit bersatu menghadapi isu politik global.

Padahal negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam menguasai minyak, dan SDAyang lainnya. Bila umat Islam bisa bersatu, maka nasib umat Islam tidak bisa diremehkan seperti sekarang ini.

Kebijakan berbau rasis anti imigran dari tujuh negara Islam yang diterapkan oleh Presiden Trump, akan bisa memicu aksi solidaritas muslim di seluruh penjuru dunia.

Kekuatan hubungan internasional sekarang ini tidak saja ditentukan oleh aktor negara bangsa (nation state), tetapi kekuatan masyarakat (civil society) sangat menentukan.

Dunia Islam harus mampu membangun gerakan masyarakat sipil untuk menyuarakan aspirasi terhadap isu-isu internasional yang menyudutkan Islam dan umat Islam.

Seyogianya umat Islam di Indonesia mampu menjadi pioner untuk menggalang kebijakan Trump yang berbau rasis dan tidak berdiri di atas nilai-nilai demokrasi dan pluralisme yang selama ini menjadi kebangsaan bangsa Amerika. (Sumber: Suara Merdeka, 2 Februari 2017)

Tentang penulis:

Edi Maszudi SIP MM, alumnus Fisipol HI UMY dan dosen STIE YKP

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,652,577 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: