Memuliakan Media Sosial

Oleh Hilmy Fauzy


Masyarakat digital akhir-akhir ini secara perlahan mampu menyaring dan mengklarifikasi informasi yang tidak bertanggung jawab seperti hoax.

Kemampuan tersebut juga berdasar pada besarnya kepedulian masyarakat terhadap perkembangan arus informasi yang beredar cepat tetapi belum tentu faktual dan akurat.

Dunia maya dan media sosial menciptakan wadah bersosialisasi aktual yang berujung pada terbentuknya mass self communication, di mana pesan tersebar luas melalui orang ke orang dan direproduksi secara berkala. Interaksi di media sosial tidak pernah mengenal batas ditambah dengan dukungan keberagaman peserta.

Oleh karena itu, segregasi berdasar sikap dan opini bermedia muncul sebagai konsekuensi yang melemahkan persatuan dan kesatuan publik.

Secara langsung menurunkan sikap penghargaan terhadap sisi kemanusiaan masyarakat. Media abal-abal, akun akonim, buzzer, dan hoax merupakan tantangan setiap masyarakat maju yang terhubung dengan dunia maya dan media sosial.

Tidak sekadar membelokkan persepsi dan opini publik namun sebagai instrumen gerakan politik bawah tanah guna memperoleh tujuan politis dan akses ekonomi tertentu.

Hal tersebut mereduksi sisi positif dunia maya dan media sosial sebagai pelengkap hubungan sosial serta penyerapan informasi sebelum mengambil keputusan.

Konsistensi ribuan situs hoax dan media sosial dalam memproduksi informasi berbentuk propaganda yang secara terus menerus memiliki dampak serius bagi masyarakat.

Ditambah dengan ketiadaan institusi resmi yang menaungi proses produksi hoax tersebut semakinmempersulitDewanPers untuk menindak sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik. Maka, melalui kebijakan pemerintah yang mengatur informasi dan transaksi elektronik, diharapkan dapat mengelola stabilitas arus informasi di dunia maya. Upaya tersebut merupakan perpanjangan tangan norma dunia nyata ke dunia maya. Apa yang dilarang di dunia nyata, dilarang pula di dunia maya.

Pasca revisi UU ITE yakni UU Nomor 19/2016 terdapat kewajiban bagi pemerintah untuk melakukan tindakan pencegahan dalam penyebarluasan dan penggunaan informasi digital yang memiliki muatan terlarang.

Hal tersebut mengindikasikan komitmen pemerintah yang tidak hanya bertugas sebagai pemadam kebakaran, di sisi lain juga sebagai aktor preventif menanggulangi perkembangan hoax.

Di samping itu, masyarakat sebagai konsumen sekaligus produsen informasi juga harus menyesuaikan diri dalam mencerna informasi yang diterima.

Mengandalkan pemerintah tidak akan menjamin kondusivitas bersosialisasi di dunia maya. Diperlukan kedewasaan bermedia social dimana nantinya dapat ditularkan kepada lingkungan sosial nyata dan maya. Internet sehat tidak cukup jika tanpa diikuti dengan internet cerdas.

Sementara internet cerdas juga membutuhkan pengguna yang mau mempertanyakan dari mana, dari siapa, kapan dan bagaimana informasi itu diproduksi.

Ketika hal tersebut berjalan perlahan dengan baik, artinya tinggal masyarakat perlu dipicu serta dipacu agar bijak atas segala konsekuensi yang dilakukan di dunia maya. Pada akhirnya, gagasan kebaikan di dunia maya dan media sosial dapat disemai dan kemuliaan pun dituai. ( Sumber: Koran Sindo, 1 Februari 2017)

Tentang penulis:

Hilmy Fauzy Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, Malang

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,652,571 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: