Kontestasi Kepemimpinan Umat

Oleh Ahmad Fuad Fanani

Pasca-Aksi Bela Islam (ABI) pada 2 Desember 2016 terjadi kontestasi tentang siapa yang memegang tampuk kepemimpinan umat Islam.

ABI III yang berhasil menghadirkan jutaan orang, mengantarkan klaim baru bahwa tampuk pemimpin umat sekarang berada di tangan Habib Rizieq Shihab.

Setelah aksi itu, banyak kalangan yang mengecam keberadaan Muhammadiyah dan NU yang dianggap tidak tegas membela kepentingan umat Islam.

Menurut sebagian kalangan, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak peka terhadap aspirasi umat.

ABI juga mendatangkan pujian dan sanjungan pada tokohtokoh yang dianggap menggerakkan aksi tersebut. Sanjungan dan pujian pada Habib Rizieq Shihab dan Bachtiar Nasir datang dari banyak kalangan, termasuk kalangan berpendidikan dan kelas menengah. Menurut mereka, dua orang itu mencerminkan teladan pejuang Islam sejati yang layak ditiru.

Bahkan, jika selama ini inisial penyebutan orang lebih ke nama misalnya Ahmad Syafii Maarif (ASM), Said Aqil Siradj (SAS), atau Muhammad Din Syamsuddin (MDS), untuk dua orang itu digunakan inisial lengkap dengan gelarnya, yaitu Habib Rizieq Shihab (HRS) dan Ustaz Bachtiar Nasir (UBN). Hingga hari ini juga banyak tablig akbar di berbagai tempat yang mengangkat tema tentang ABI.

Meskipun banyak yang menyatakan Aksi Bela Islam I, II, dan III merupakan bukti keberhasilan tokoh-tokoh Islam di luar mainstream dan mereka sekarang ini dianggap lebih merepresentasikan kepemimpinan Islam sejati, saya meragukan argumen itu.

Menurut saya, keberhasilan Aksi Bela Islam tidaklah serta-merta menjadikan kepemimpinan umat Islam bergeser pada Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir, Arifin Ilham, Abdullah Gymnastiar, Zaitun Rasmin, dan sebagainya.

Mereka memang berusaha mengklaim dan merebut tampuk kepemimpinan itu, namun tampaknya upaya itu tidak mudah. Yang juga patut dicatat, keberhasilan Aksi Bela Islam bukan hanya karena faktor tokoh itu, namun banyak faktor yang melatarbelakanginya.

Faktor yang Kompleks

Keberhasilan Aksi Bela Islam III yang didahului oleh Aksi Bela I pada Oktober 2016 dan Aksi Bela Islam II pada November 2016 pada dasarnya terletak pada isu yang dimunculkan dan beberapa faktor lain.

Jadi, aksi itu tidak hanya ditentukan oleh isu dan faktor yang tunggal. Dari segi pengangkatan isu, isu tentang Ahok yang melakukan penistaan agama menjadi api pemantik yang sangat efektif untuk menggerakkan aksi.

Isu tentang penghinaan Alquran dan penghinaan agama Islam memang menjadi isu yang sangat sensitif tidak hanya di negara mayoritas Islam, bahkan di negara-negara Barat pun isu itu sangat sensitif.

Ketika ada seseorang dianggap menghina Islam atau melakukan pelecehan terhadap Islam, biasanya muncul solidaritas yang tinggi untuk bergerak dan melakukan aksi demonstrasi.

Kejadian baru-baru ini di Amerika Serikat menunjukkan ketika Donald Trump mencurigai keberadaan umat Islam, terjadi aksi masif yang didukung oleh berbagai kalangan dan antaragama. Nah, isu Ahok tampaknya menjadi momentum untuk melakukan aksi itu.

Ketika terjadi isu penistaan agama oleh Ahok, meskipun hal itu masih debatable dan kontroversial, banyak orang yang langsung tersulut emosinya dan mengecam habis.

Pada saat yang sama, ketika ada tokoh senior seperti Buya Syafii Maarif dan Gus Mus yang menyatakan pendapat yang berbeda dari mainstream tentang Ahok, mereka langsung mengecam tokoh itu dan bahkan membully- nya di banyak media sosial.

Dalam kondisi itu, tampaknya sikap yang berbeda dengan mayoritas dianggap kontroversial. Mereka yang berbeda pendapat dianggap tidak peka dengan kepentingan umat Islam dan justru membela penghina Islam.

Dengan arus informasi yang bergerak cepat melalui media sosial dan berbagai pengajian itu, isu penistaan agama oleh Ahok menjadi isu strategis yang mendorong banyak orang untuk mengikuti Aksi Bela Islam.

Selain isu yang diangkat, saya juga melihat bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi faktor penting keberhasilan ABI I, II, dan III.

Seandainya mereka tidak membentuk Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPFMUI) dan melakukan aksi mandiri dengan koalisi antara misalnya Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), dan Wahdah Islamiyah, mungkin keberhasilannya tidak sebesar atas nama GNPFMUI.

Faktor MUI di sini sangat strategis karena organisasi ini dianggap representasi umat Islam Indonesia. Dengan dukungan MUI, gerakan ini dianggap sebagai penyuara dan pendukung suara ulamaulama di Indonesia.

Keberadaan MUI sebagai nama di belakang ABI I, II, dan III ini menjadi penting karena banyak pengurus MUI yang juga merupakan pimpinan dan anggota Muhammadiyah dan NU. Hal ini tidak hanya di MUI pusat, namun juga MUI di propinsi dan berbagai daerah.

Dengan mengatasnamakan GNPFMUI, ABI diklaim sudah mewakili Muhammadiyah, NU, dan organisasi Islam lain. Memang tidak semua fatwa yang dikeluarkan MUI efektif misalnya fatwa tentang bunga bank yang tidak banyak diikuti orang. Namun, fatwa tentang Ahok ini tampaknya sangat efektif sebagaimana fatwa MUI tentang sekulerisme, pluralisme, liberalisme, dan tentang Ahmadiyah. Jadi, faktor MUI ini penting untuk dipertimbangkan.

Faktor yang juga menentukan pada keberhasilan ABI kemarin adalah keberadaan politisi yang menumpang aksi untuk kepentingan kemenangan politiknya.

ABI I, II, dan III yang berbarengan dengan jelang Pilkada DKI pada Februari 2017 tampak secara cerdik dimanfaatkan oleh politisi dan kontestan.

Kasus penistaan agama dijadikan bahan kampanye yang strategis oleh lawan- lawan Ahok. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun memanfaatkan isu itu untuk kembali tampil ke publik dan tampaknya ia meraup banyak keuntungan politik dari kasus ini. Terbukti, pasangan AHY dan Silvy mendapat banyak dukungan dari ormas Islam dan dianggap sebagai representasi umat Islam.

Posisi di Kalangan Umat

Kenapa faktor-faktor di atas itu lebih berpengaruh dibandingkan faktor tokoh-tokoh Islam seperti Rizieq Shihab dan Bachtiar Nasir? Hal ini karena sebetulnya organisasi-organisasi dan tokoh-tokoh ABI belum banyak mendapatkan tempat di mata umat.

Sebagaimana ditulis oleh Greg Fealy (2016), banyak dari kalangan yang mengikuti ABI III bukan karena faktor organisasi dan tokoh itu. Mereka banyak yang datang karena ingin membela Islam dan kecewa terhadap penghinaan terhadap Alquran.

Menurut Greg Fealy (2016), beberapa peserta yang diwawancarai juga banyak yang kecewa terhadap FPI yang suka menggunakan pernyataan yang kasar dan main hakim sendiri.

Banyak peserta yang mengikuti ABI I, II, dan III tidak bisa digeneralisasi bahwa mereka mendukung FPI dan organisasi- organisasi pembentuk GNPFMUI.

Tentang keberadaan Rizieq Shihab dan FPI yang mengklaim sebagai pemegang kunci keberhasilan ABI dan pemegang tampuk kepemimpinan umat ini juga semakin meragukan jika kita perhatikan pada peristiwa baru-baru ini.

Ketika ada imbauan untuk Aksi Bela Ulama pada 23 Januari 2017 kemarin dan hanya diikuti peserta yang jauh jumlahnya dibandingkan aksi-aksi sebelumnya, menunjukkan bahwa faktor isu dan MUI masih memegang posisi penting. Karena isunya tidak menarik perhatian banyak orang dan tidak memperjuangkan kepentingan MUI, banyak orang yang enggan ikut aksi tersebut.

Sepinya peserta Aksi Bela Ulama juga menunjukkan bahwa FPI dan Rizieq Shihab belum berhasil menjadi representasi kepentingan umat Islam.

Peristiwa lain yang juga patut dicatat adalah pengangkatan Habib Rizieq Shihab sebagai Imam Besar Umat Islam yang tidak banyak menarik perhatian. Pengangkatan itu dianggap sesuatu yang biasa dan bukan luar biasa.

Hal itu membuktikan bahwa FPI dan Rizieq Shihab belum berhasil mendapat posisi di kalangan umat. Dengan demikian, saya masih percaya bahwa kepemimpinan umat Islam Indonesia sebetulnya masih berada di tangan para pemimpin-pemimpin organisasi Islam yang sudah lama berkiprah pada bangsa ini seperti Muhammadiyah dan NU.

Kepemimpinan umat Islam juga terletak pada tokoh-tokoh Islam di tingkat lokal yang berkhidmat untuk pelayanan umat dan pencerdasan umat secara ikhlas.

Memang tampaknya pemimpin ormas Islam mainstream dan pemimpin lokal itu tidak seagresif para pemimpin organisasi Islam yang baru.

Namun, kepentingan Islam tidaklah hanya terletak pada kepentingan yang jangka pendek. Kepentingan umat Islam harus strategis dan jangka panjang. Umat Islam Indonesia hendaknya juga bisa arif dan bijaksana menyikapi fenomena ini.

Kaidah usul fikih yang menyatakan bahwa “Ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluh (jika tidak bisa mengambil semuanya hendaknya tidak meninggalkan semuanya”) sangat sesuai dengan kondisi sekarang ini.

Jangan sampai kesilauan akan agenda jangka pendek yang dikampanyekan oleh organisasi baru menjadikan kita melupakan atau meninggalkan organisasi dan para pemimpin yang sebetulnya sudah banyak berkiprah nyata untuk umat Islam. ( Sumber: Koran Sindo, 1 Februari 2017)

Tentang penulis:

Ahmad Fuad Fanani Mahasiswa S-3 di the University of Toronto, Canada, Pengajar di FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta dan UIN Jakarta

Iklan


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,652,571 hits
Februari 2017
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

%d blogger menyukai ini: