Arsip untuk Mei, 2012

Melindungi Corby dan Melindungi Wong Cilik

Oleh Mohamad Sobary

Saudara HenryYosodiningrat, ketua Gerakan Antinarkotika, berniat menggugat keputusan grasi Presiden terhadap kasus Corby. Sikapnya konsisten buat menegakkan hukum, dengan cara yang penuh wibawa, dan mandiri seperti ini wajib kita dukung.

Sekali narkoba dipandang bahaya besar bagi bangsa, dia memang benar bahaya. Jika terhadap bahaya ini sikap Indonesia jelas dan tegas––menghukum berat tanpa pandang bulu siapa saja pelakunya,wujud sikap itu yang diharapkan tampil dalam pelaksanaan hukum kita.Saudara Henry memperlihatkan sikap seorang warga negara yang sangat peduli, gigih,dan konsisten berpegang pada prinsip hukum demi menjaga kewibawaan bangsa dan negara.

Amir Syamsudin membela atasannya dengan menatakan grasi ini hak prerogatif Presiden. Kasus penjahat yang membahayakan bangsa juga mendapat perhatian istimewa macam ini? Ini bahkan dianggap bagian dari diplomasi? Menteri luar negeri dan semua kekuatan politik dan kebudayaan kita mandul, dan tak mampu melakukan diplomasi tanpa mengesankan “jual-beli hukum” secara murah macam ini?

Diplomasi tak berjalan tanpa mengesankan bahwa pemerintah kita minder, dan takut terhadap bangsa kulit putih? Kita merasa tak punya harga diri buat menegakkan hukum jika hal itu berhubungan dengan orang bule? Bagaimana kalau pelaku itu orang China, bangsa kita sendiri? Sikap dan label buruk kita terhadap pengusaha keturunan China di negeri kita sudah kelewat jauh dari proporsi kemanusiaan.

Tapi,mengapa Ical, ketua Golkar,menilai tindakan ini demi kemanusiaan? Mantap sekali. Kemanusiaan macam apa? Kemanusiaan yang penuh rasa minder, takut, dan tak punya nyali menghadapi bangsa kulit putih,seolah bangsa itu super, dan serbalebih dari kita? Lalu hukuman 20 tahun, dengan denda 100 juta itu, sudah adil menurut hukum dan sikap politik kita? Sekali lagi, bagaimana kalau orang China pelakunya?

Hanya dihukum 20 tahun dan denda 100 juta juga? Ini juga sudah merupakan hukuman yang adil? Di negeri kita hukum yang mengatur, bukan membikin tenteram, tapi membikin resah.Apa yang berhubungan dengan hukum, selalu ada hubungan dengan sikap tidak adil. Bagi para tokoh gerakan hukum dan pemikir sosial,hal ini jelas merupakan isu yang menantang perlawanan kita.

Lalu Mahfud. Dia membandingkan, narkoba lebih berbahaya dari korupsi dan terorisme? Menggelikan sekali.Tiga hal yang mematikan bangsa dibikin gradasi kuantitatif yang tak masuk akal.Korupsi sebagai “an extra ordinary crime against humanity” dan terorisme yang “legalized killing”terhadap siapa saja, yang berarti juga ”the enemy of humanity” seperti narkotika sebagai “silent killer”,yang tak pandang bulu, dan itu berarti “ k i l l i n g humanity”.

Ke n a p a dibikin kategori sosial seperti roti dibanding singkong? Ibas dengan bangga menyebut keputusan ini berdampak positif terhadap penyelesaian kasus-kasus warga negara kita di luar negeri? Betapa simplistis politisi kita berpikir mengenai hukum dan kewibawaan bangsa.Amir menambahkan pembelaan pada yang salah terhadap bosnya dengan mengatakan grasi ini tak dimaksudkan untuk menoleransi tindakan terhadap kasus narkoba.

Ini sikap “loyalis” pada penguasa yang sudah berubah menjadi sikap “royalis”, dan karena itu perlu menyamakan apa yang “dimaksud”di hati dengan apa yang tampak di dalam masyarakat. Dimaksudkan untuk menolerir atau tidak, kalau kenyataan memperlihatkan sikap macam itu,yang dibaca orang jelas hanya yang tampak.

Hati yang penuh kemuliaan, sikap yang serbadamai, dan komitmen luhur mencintai kemanusiaan, dalam kasus ini tak berarti apa-apa. Saat keputusan itu diambil, saya yakin tak seorang pun yang hadir di forum rapat, yang ingat akan kemanusiaan, kedamaian, dan keluhuran macam itu. Membela atasan itu baik.Tapi,mungkin akan baik kalau dilakukan dengan argumen yang agak masuk akal sedikit.Kalau tidak,yaitu tadi: para “loyalis” telah berubah menjadi “royalis”.

Maksudnya loyal pada nilai sudah berganti arah menjadi loyal pada Istana, sebagaimana hal itu terjadi dalam masa revolusi Prancis. Di sana “royalis” itu sindiran lembut, tapi menusuk jantung. Loyalitas macam itu menjerumuskan atasan. Selebihnya perlu ada catatan kecil buat para aktivis antitembakau, antirokok. Tembakau atau rokoknya meracuni orang,dan bisa membikin lingkungan tak sehat.

Argumen ini bisa diterima meskipun sering berlebihan.Apa kata Saudara- Saudara terhadap kasus Corby dan semangat untuk segera melaksanakan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terhadap Pengendalian Dampak Tembakau? Corby lebih mulia tingkah lakunya dibanding petani tembakau di seluruh Tanah Air? RPP hanya mengatur pabrik rokok, tapi sekaligus hendak membunuh petani tembakau.

Para aktivis tak mengakui ini. Tapi, apakah Saudara-Saudara tak menyadari bahwa aturan pemerintah telah membunuh ratusan industri rumah tangga yang menghasilkan keretek? Mereka “wafat dengan resah” karena ulah pemerintah. Cukai dinaikkan sampai ke titik di mana industri rumah tangga tak bakal mampu bertahan.

Gerakan ini masih tetap dengan bangga bermaksud mengatur kehidupan bangsa, tanpa menyadari ada ironi getir di dalamnya.Industri rakyat sendiri, industri kecil, industri rumah tangga, dibunuh dengan kejam, atas nama perjuangan. Orang-orang yang bicara tentang ratusan ribu orang mati tiap hari karena keretek, mengapa diam seribu bahasa terhadap bahaya narkoba, yang jauh lebih mengerikan dari bahaya apa pun?

Para pemuda dan pemudi, generasi muda kita,ditambah jutaan orang dewasa yang kecanduan narkotika, yang terbunuh cepat maupun pelan, mengapa dibiarkan tanpa pembelaan? Moral cerita di balik protes Saudara-Saudara terhadap tembakau dan keretek,dengan begini, apa masih punya daya? Andaikan dengan tulus—dan sikap tulus itu berlangsung agak lama—sebagian dari Saudara-Saudara juga menyuarakan protes terhadap kasus Corby, saya yakin bahwa saya akan menggelar karpet merah bagi nurani Saudara- Saudara.

Kemudian Bapak Presiden yang Mulia serta bijaksana seperti Raja Sulaiman,mohon jangan tanda tangani RPP itu. Kemuliaanlah yang membuat Corby Bapak lindungi. Maka itu, mohon kiranya kemuliaan Bapak untuk melindungi industri rumah tangga tadi. Dengan begitu,berkat kemuliaan yang agung itu, Bapak telah melindungi wong cilik, yang juga bangsa kita sendiri. it (Sumber: Seputar Indonesia, 28 Mei 2012).

Tentang penulis:
Mohamad Sobary, Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan. Email: dandanggula@hotmail.comThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view.

Iklan

Menghidupkan (Lagi) Pancasila

Oleh Fahmi Munthaha

Sebagai warisan para founding fathers, Pancasila sudah menjadi konsensus, pandangan hidup, dan landasan ideal bangsa ini.Begitu tingginya kandungan ideologis dan ajaran Pancasila, sampai-sampai Mubyarto, Sri-Edi Swasono, dan Sritua Arief menyebutnya sebagai “the end of history” atau puncak perkembangan pemikiran ideologis bangsa Indonesia.

Sayang, pengakuan bangsa ini akan keluhuran dan ketinggian filosofis Pancasila tidak berbanding lurus dengan semangat mengamalkannya. Rakyat memang tidak bisa disalahkan. Degradasi itu muncul karena para pemimpin memberi teladan sebaliknya. Coleman dan Fukuyama dalam tesisnya memandang Pancasila bisa menjadi semacam nilaitrust,yakni modal sosial yang menjadi faktor kemajuan sebuah bangsa.

Beberapa bangsa maju seperti Jerman,Jepang,dan Amerika Serikat juga memiliki nilai trust seperti Pancasila.Bedanya,mereka mampu menafsirkan secara cerdas nilaitrustitu dan konsisten mengamalkan dalam kehidupan— semacam way of life. Belajar dari negara maju, bangsa ini perlu menafsirkan ulang Pancasila secara cerdas dan kontemporer.

Selain agar relevan dengan perkembangan zaman, tafsir ulang itu akan menjadikan Pancasila hidup kembali dalam tatanan kebangsaan.Sila Pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa”misalnya perlu didialogkan kembali dengan tuntutan zaman.Harapannya,sila tersebut tidak menjadi penindas terhadap konsep dan pemikiran baru keagamaan. Ruh Sila Kedua: “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” sejatinya menuntut pemerintah menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia (HAM).

Jika pemerintah benar-benar melaksanakan sila tersebut secara konsisten, bisa dipastikan tidak akan terjadi tragedi penindasan rakyat,penangkapan sejumlah aktivis politik,dan berbagai tindakan represif pemerintah lainnya. Semangat Sila Ketiga: “Persatuan Indonesia” mestinya menjadi bingkai utama demokrasi politik kita. Sila ini mengajarkan cinta bangsa dan tanah air yang diimbangi dengan cinta sesama manusia.

Dengan kata lain, cinta bangsa dan tanah air dalam kerangka keluarga besar umat manusia (human kind is one). Sila Keempat: “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan” mengajarkan pentingnya semangat musyawarah mufakat dalam berbagai konteks kehidupan.

Semenara Sila Kelima: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” sejatinya mengajarkan bahwa dalam usaha meningkatkan keadilan sosial,Pancasila mendorong individu berperan secara proaktif dalam proses produksi. Sudah selayaknya kita melestarikan Pancasila sebagai warisan para founding fathers. Dengan melestarikan Pancasila, kita berharap bangsa ini kembali diasupi nilai-nilai luhurnya. (Sumber: Seputar Indonesia, 30 Mei 2012).

Tentang penulis:
Fahmi Munthaha, Mahasiswa FKIP Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa Yogyakarta.

Menelusuri Sifat Negatif Kita

Oleh Mudji Sutrisno SJ

Mudji SutrisnoKalau kita perhatikan, sifat-sifat negatif kita sudah mengisi berbagai ruang aktivitas kita sehari-hari. Ada beberapa contoh fenomena sifat negatif yang biasa kita temui, misalnya: Pertama, usil dan resek.

Kita suka memperhatikan orang lain dan mau masuk ke urusannya dengan komentar gratis. Misalnya di bandara seorang resepsionis ruang makan GFF berkomentar,“Lho kanbaru take offsiang,mengapa sudah datang pagi-pagi?” Dalam batin saya, “Suka-suka saya kan,kokusil?” Kedua,bila di depan kita (para lelaki yangsedangduduk-duduk) lewatlah perempuan cantik,mulailah “siulan”,komentar-komentar keluar apalagi celetukanceletukan mengilas fisik wajah dan lain-lain.

Padahal di negara lain saya tidak menjumpai itu karena edukasi untuk hormat ke orang lain seperti di Filipina atau Eropa Utara. Ketiga, komentar-komentar gratis menyangkut dandanan, rambut,cara berjalan yang menjadikan orang lain sebagai “objek”percakapan. Sementara di peradaban lain orang mengisi waktu tunggunya dengan membaca buku atau laptop dan kini Ipad membuat si pelaku sibuk dengan kerjanya sendiri dan bukan mengobjekkan yang lain.

Keempat,“Wah, apa kabar? Kok gemuk ya kini, apa jarang olahraga?” Coba Anda amati kata per kata rangkaian kalimatnya. Awalnya sapaan, namun ujung-ujungnya mengomentari keadaan tubuh yang sebenarnya bukan menjadi urusannya. Kelima,“Aduh anakmu cakep sekali,”lalu dicubitlah pipi anak dengan gemas sampai merah.

Waktu saya bertemu satu keluarga separuh Indonesia dan separuh Amerika, si anak yang Indonesia benar-benar marah ketika sapaan akrab itu melukai pipinya dengan cubitan dan inilah yang sudah digolongkan tindak harassment ringan. Si anak berkisah traumatik bila bertemu tipe-tipe orang seperti ini. Ia trauma lantaran ungkapan kagum disertai cubitan yang melukai wajahnya.

Mengamati fenomena-fenomena di atas, kami pernah menaruhnya dalam bingkai diskusi behaviorist(sudut pandang perilaku) dan mengontraskan tiadanya garis batas kesadaran antara mana wilayah pribadi dan wilayah publik. Barangkali karena hormat pada ruang privat dan privilese seseorang dalam masyarakat kolektif memang tidak ada, orang tidak merasa aneh “keluarmasuk” ke wilayah-wilayah pribadi sesamanya karena semuanya merupakan wilayah umum.

Berikutnya, di balik ungkapan- ungkapan di atas sebenarnya secara positif terungkaplah perhatian atau sikap mau peduli pada kehadiran orang lain. Hanya, ungkapannya ikut campur masuk ruang pribadi orang lain. Ketika budaya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan atau kolektivitas bertemu budaya yang menjunjung individualitas,di situ orang individual akan “tajam” mengkritik sok ingin tahu dan ingin campur tangannya ke wilayah personal orang.

Ketika dosen memberi tahu nilai mahasiswa dengan mengundangnya ke depan melihat daftar nama dan nilainya, sang dosen yang menjunjung ruang pribadi akan menegur si mahasiswa bila sambil melihat nilainya sendiri juga ingin melihat-lihat dan ingin tahu nilai-nilai temannya. Sebab, inilah “pelanggaran”batas antara yang disebut pribadi dan publik. Memasuki secara sadar ke ruang pribadi sesamanya dianggap dan dinilai tidak sopan dan tidak pantas.

Komunitas Kebersamaan

Manakah ciri-ciri komunitas kebersamaan? Pertama, nilai bersama seperti harmoni,rukun dipandang mengatasi dan lebih tinggi, dan harus dihayati daripada pribadi.Kedua, seseorang dalam komunitas kebersamaan merupakan subordinat atau bagian kolektivitas itu.Ketiga, individu “kalah” terhadap kebersamaan, perilaku keluar dari kotak bersama dipandang aneh dan dijadikan objek pergunjingan.

Sanksi juga dikenakan ke mereka yang keluar garis yang perlu “dinormalkan”. Atas dasar ciri-ciri dua komunitas itu,dua dekade yang lalu F Tonnies secara sosiologis-antropologis membagi ada dua macam komunitas yaitu masyarakat atau society yang lebih rasional dengan nama “gesselschaft” sedangkan yang kedua adalah kekerabatan kolektif yaitu “gemeinschaft”.

Almarhum Dr Matulada menggarisbawahi dalam penelitiannya mengenai suku-suku Nusantara bahwa kekerabatan atau perkaumanlah yang menjadi perekat hidup bersama sebagai sesama anggota perkauman. Ada perkauman saudara-i sepayung ketika payung marga dan kaum menjadi perekat dan pusat nilai kebersamaan. Ada pula perkauman bahari dan lautan yang menguji pemimpinnya di saat-saat krisis menakhodai perahu menghadapi gelombang badai.

Perkauman bahari melakukan uji nyata pemilihan ketuanya berdasar kualitas watak karakter dan kemahirannya menjadi nakhoda kapal. Kekerabatan yang legitimasi ketua atau tingkatan yang dituakan disumberkan pada “wahyu keturunan dari yang di langit”akan menghasilkan klan atau kekerabatan hierarkis seperti kekerabatan Jawa misalnya. Konsekuensinya kekeluargaan Jawa yang awalnya dari tradisi keraton dengan kekuasaan tertinggi di tangan raja sebagai “dewa raja” tidak akan menghasilkan relasi setara antara raja dan bawahan.

Maka ekspresinya juga berkata kunci relasi “Gusti” dengan “kawula” (menghamba atau hidup menjadi abdi raja). Sadarkah kita pada pencipta slogan pegawai negeri sebagai abdi negara memuat pengabdian pada negara yang menggaji dan bukan pada warga negara atau rakyat yang semestinya mereka abdi. Karena pajak dan rakyatlah yang “memilih negara” sehingga slogan itu harus diganti menjadi abdi rakyat atau pelayan masyarakat!

Kesadaran Diri

Pokok-pokok renungan di depan sebenarnya menjawab pertanyaan kritis kita bahwa kita memerlukan pendidikan kesadaran mengenai siapa diri kita dalam transisi kekerabatan menuju ke harkat sebagai warga negara. Tanpa itu, kesadaran akan hak sama kedudukannya di depan hukum akan berjalan lambat dalam dinamika hormat menghormati atas dasar kesetaraan sama-sama berharkat sebagai manusia dalam saling berelasi antarsesama.

Permenungan di depan yang membukakan mata sadar kita bahwa bawah sadar kultural kita ini memang memuat ketiadaan hormat antara ruang pribadi dan ruang publik. Karena kita umumnya masih mengedepankan kolektivitas bahkan beberapa gerombolan yang bila terlukai sebagai anggota korps lalu hasrat liar membalas dendam akan meruyak tega berpegang hukum naluri rimba: ”mata harus diganti mata dan gigi diganti gigi apalagi bila yang hilang adalah nyawa”.

Lebih halus, namun membuat jengkel mengenai tidak ada batas hormat ruang pribadi dan ruang publik selalu terbukti pada iklan-iklan SMS menawari berbagai hal yang masuk ke ponsel Anda tidak mengenal waktu.Ada pertanyaan mereka ini mendapatkan nomor-nomor ponsel kita dari mana? Providerkah? Dan lucu serta lebih menjengkelkan lagi setelah masuk ke SMS kita di saat waktu-waktu pribadi kita diganggu benarbenar, di situ ditulis kalimat “maaf mengganggu”.

Sejak kapan kata suci maaf yang awalnya benar-benar bermakna rekonsiliatif serius kini jadi hampa makna dan dipakai sembarangan? Jawabnya sejak uang dan materi, sejak pembangunan ekonomisasi menjadi tuan dan raja yang disembah mengalahkan yang spirit seperti nilai peduli kegotong-royongan, rela membantu tulus.

Di tengah-tengah transisi dari identitas kolektif menuju pribadi yang ingin tetap hormat ke harkat sesama dan toh matang pribadi kunci proses pergulatan antara kesadaran akan ruang pribadi dan kolektivitas memang berada di ranah yang selama ini mengalami krisis yaitu ranah pendidikan.

Pendidikan pemerdekaan setelah merdeka sebagai bangsa lalu tanpa edukasi diri dan kontrol diri maka sia-sialah perjalanan kebangkitan bangsa ini.Pada hal justru ranah kunci edukasi watak dan nurani inilah sejak awal oleh para pendiri bangsa sudah disadar-sadarkan untuk dihayati sabar dan bukan jalan pintas sebagai proses pencerdasan kehidupan bangsa.

Hanya manusia Indonesia yang sampai tahap cerdas budi dan jernih nuranilah bisa diharapkan bersama sesama anak bangsa mencipta hidup bersama yang lebih baik. Bukankah sistem adalah mengatur dengan budi cerdas dan nurani sebuah kehidupan untuk lebih sejahtera pribadi dan bersama? (A system is a rational ordering of living together by the enlightened and good gentleman and women of Indonesia).

Proses Menghargai

Ketika saya menulis tulisan berjudul menghargai proses, ada dua tanggapan kritis sebagai arusnya.Yang satu bertanya, bagaimana mungkin menghayati hidup sebagai sebuah proses transformasi dengan simbol tahap ulat sutera menjadi kepompong dengan air liurnya yang merajut kepompong (nanti jadi bahan benang tenun sutera) sampai fase puncak menjadi kupu-kupu berwarna? Sementara hidup sehari- hari anak-anak dan kita didominasi oleh nilai-nilai jalan pintas, “instan”, serbacepat, dan yang cepat kilat itulah nilainya?

Arus kedua menanyakan “resep” menghayati hidup sebagai proses itu bagaimana? Karena itulah, maksud utama tulisan ini awalnya adalah tanggapan atas pertanyaan kritis dan kecenderungan mencari “obat mujarab”atau resep tersebut. Pertama-tama yang harus masuk ke dalam kesadaran kita adalah pengiyaan atau sikap sadari dahulu bahwa fakta yang ada adalah saat ini yang dihargai bukan nilai tekun sabar dalam proses, tetapi jalan nilai pintas.

Kursus kilat dan lompatan sukses “terwujud” dalam tempo sesingkat-singkatnya. Setelah mau dengan rendah hati mengakui fakta ini dan menyadarinya lalu terbukalah mata kita pada fakta kedua yaitu sulitnya antarkita untuk saling menghargai sesama dengan kelebihan dan kekurangannya. Gejala pertama, kita menghargai sesama secara negatif. Artinya mengecilkan sesama dengan membesarkan diri kita (looking down other by glorifying myself).

Para pendiri bangsa menunjuk sindrom ini sebagai perasaan rendah diri inlander akibat penjajahan dalam sejarah mentalitas dan kolonialisme. Peneliti kultural Edward Said dan Hommi Bhabha menyebut fenomena “poskolonialisme” yang diidap sebagai sikap hidup yang merasa yang putih dengan simbol kemajuan bule selalu dipersepsi lebih hebat. Contoh nyata, padahal kita punya dongeng-dongeng lokal dan pepatah peribahasa mengenai yang baik, benar, dan suci dalam hidup ini,namun selalu menganggap kisah-kisah putri salju dan Hans Andersen lebih hebat.

Padahal cukup bila kita matang berpendapat bahwa kisah-kisah Andersen memang bagus, namun tidak usah ditambahi bahwa lebih hebat dan lebih tinggi (superior) nilainya. Di sinilah “inferior” berhadapan dengan “superior”. Kedua, proses menghargai hendaknya ditanamdandibatinkan dengan menghormati talenta tiap orang,sisi positifnya, serta sisi negatifnya apa adanya, setara dengan adanya keutamaan dan kekurangan diri kita masing-masing.

Lanjutannya, rajutlah dengan darah teladan dan keringat contoh-contoh menghargai proses hidup yang sabar: dikandung dalam rahim sembilan bulan menjadi bayi, anak, remaja, matang dewasa, sampai kakek-nenek yang siap kembali untuk dipanggil sang pencipta. Proses ini seperti berdarahdarahnya dan berkeringatnya membatik tulis (bukan batik cap atau printing).

Proses ini juga butuh dihargai seperti merajut kain ulos,ikat,kain tenun, dan songket yang butuh ketelitian merajut benang-benang warna-warni menjadi kain indah Lembang. Kemajemukan Indonesia dengan pluralitas khas suku,religi,dan identitasidentitas lokal lain. Yang ketiga,menghargai proses butuh pembatinan melalui senandung lagu,renung nyanyian Belaian Sayang ciptaan almarhum Bing Slamet yang menggores hati,

menunjuk kasih sayang cinta ayah, ibulah yang menamakan ingatan anak akan terima kasihnya kepada ayah-bunda dan bunda-rahimnya yaitu Bumi Pertiwi,Tumpah Darah Tanah Pusaka. Lihatlah lirik-lirik puisi lagu Belaian Sayang itu “Waktu hujan turun, rintik perlahan,bintang pun menyepi awan menebal,kutimang si buyung belaian sayang.Anakku seorang, tidurlah tidur….. // Ibu mendoa …. ayah menjaga. Agar kau kelak jujur melangkah. Jangan engkau lupa tanah pusaka tanah air kita Indonesia.”

Kontrol Budi dan Nurani

Akhirnya menghargai proses adalah keberanian mengolah dengan kontrol budi dan nurani sikap senang-tidak senang dengan kebijaksanaan hidup yaitu, bila kau tidak suka karya sesama dalam wujudbuku atau film karyanya,ya tidak usah melihatnya atau tidak perlu membacanya. Namun, sekali-kali jangan ”menghina” karya itu dengan melemparkannya ke keranjang sampah.

Apa yang terjadi dalam batin Anda ketika tidak pernah belajar menghargai sesama? Arogansi dan kesombongan pintar Andakah? Mengapa tidak membalasnya dengan membuat karya buku untuk apresiasinya? Apalagi bila karya dilawan dengan pembalasan buku! Untunglah era ini sudah menyurut soal bakar membakar buku.Namun, muncul gejala intoleransi lebih gawat lantaran meminjam tangan Allah dan menyitir sabda-sabda suci yang pada ujung-ujungnya mengapa tega menghancurkan hidup sesama bahkan menghilangkan nyawanya?

Intoleransi akan menggugat pesan cinta religi dan mempertanyakan bagaimana wajah kasih apalagi Allah Yang Maharahim diwujudi nyata dalam tindak dan laku manusiawi? Kalau bukan mencoba belajar terus menghormati sesama sebagai wakil Allah di dunia dan sebagai citra gambar- Nya sendiri.

Semogapembelajaranmenghargai proses sama dengan tantangan ikhtiar sabarnya dengan ketika kita di ruang gawat darurat dengan penuh ditancapi selang-selang infus bila berhadapan bahwa yang diinfus adalah anak tercinta kita yang masih bayi. Lalu kita mohon ke Allah agar kita saja yang menggantikannya untuk kesakitan dan deritanya. Bisakah? Doa dan hening prihatin adalah oase pembelajaran toleransi kita pada yang “hidup” ciptaan Allah. (Sumber: Seputar Indonesia, 29-30 Mei 2012).

Tentang penulis:
Mudji Sutrisno SJ, Budayawan, Guru Besar STF Driyarkara dan Universitas Indonesia.

Mengumandangkan Genderang Persatuan

Oleh Hilmia Wardani

Sejak digagas oleh Soekarno pada 1 Juni 1945,Pancasila hadir sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.Dalam pandangan tersebut termaktub cita-cita dan harapan akan kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai, aman, utuh, dan sentosa-sejahtera.

Di tengah beragam latar bangsa Indonesia yang multikultural,multidimensi, dan multigolongan, kehidupan tersebut hanya akan tercapai bila segenap bangsa Indonesia mengamalkan Pancasila, khususnya sila ketiga: “Persatuan Indonesia”. Sayang, pengamalan tersebut mulai hilang ditelan arogansi masyarakat yang tak lagi menjunjung tinggi persatuan bangsa di atas pribadi dan golongan mereka.

Beberapa waktu lalu masyarakat sempat dikejutkan dengan berbagai aksi arogan yang dilakukan ormas anarkistis.Sebut saja Front Pembela Islam atau FPI.Menurut Kepala Divisi Humas Mabel Polri Irjen (Pol) Saud Usman Nasution, aksi premanisme FPI mencapai 51 kasus pada 2010 dan 20 kasus pada 2011. Tak berhenti sampai di situ, parasit-parasit itu makin subur memasuki berbagai lini-lini kehidupan.

Muncul kasus-kasus sejenis yang tidak hanya meresahkan kehidupan masyarakat, namun mengancam eksistensi negara. Mulai kasus terorisme, Organisasi Papua Merdeka (OPM),dan Republik Maluku Selatan (RMS).Akibatnya persatuan bangsa mulai goyah karena tidak lagi berdiri di atas panji yang sama yaitu Indonesia.Benih perpecahan bermunculan karena egoisme suatu golongan.

Bila kembali pada pengamalan Pancasila sila ketiga, bangsa Indonesia harus mengutamakan persatuan bangsa di atas pribadi dan golongan. Segala bentuk arogansi dan egoisme harus dihilangkan karena dapat mengganggu stabilitas dan atmosfer persatuan. Genderang persatuan harus kembali dikumandangkan demi menjaga keutuhan dan eksistensi bangsa Indonesia.

Caranya mengupayakan tindakan preventif dan tindakan solutif dengan melibatkan pemerintah sebagai pemegang kendali utama dan partisipasi aktif masyarakat.Tindakan preventif untuk mencegah perpecahan antargolongan melalui penanaman nilai-nilai persatuan kepada masyarakat, khususnya pelajar sebagai generasi masa depan. Adapun tindakan solutif bertujuan mengatasi berbagai problematika yang mengancam persatuan bangsa.

Pertama, pengawasan terhadap kemunculan berbagai organisasi kemasyarakatan. Kedua,pembuatan payung hukum yang kuat sebagai landasan utama pemerintah untuk mengizinkan, mengawasi, serta memberi sanksi terhadap pelaku pelanggar dan pencipta antipersatuan bangsa.Ketiga, pemberlakuan sanksi yang tegas terhadap pribadi/organisasi/golongan yang terbukti merusak persatuan bangsa. . (Sumber: Seputar Indonesia, 29 Mei 2012).

Tentang penulis:
Hilmia Wardani, Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.

Menyongsong Zaman Baru Mesir

Oleh Chusnan Maghribi

“Jika Mohammed Mursi unggul atas Ahmed Shafiq, makin mantaplah bangsa Mesir menjalani zaman baru”

Pilpres Mesir menyedot perhatian publik dunia bukan saja karena pemilu itu bersejarah dan siapa pun pemenangnya dipastikan menghadapi tantangan berat, baik dalam konteks internal (dalam negeri) maupun eksternal (luar negeri), melainkan juga karena pilpres putaran pertama memunculkan kejutan. Mantan Sekjen Liga Arab dan mantan Menlu Amr Mussa, kandidat independen, yang semula diperkirakan banyak pihak lolos, ternyata tidak masuk dua besar perolehan suara pemilih.

Posisi dua besar ditempati kandidat dari Partai Keadilan dan Kemerdekaan (FJP) —sayap politik Ikhwanul Muslimin (IM)— Dr Mohammed Mursi yang meraup 25,3 persen suara, dan kandidat independen Marsekal (Purn) Dr Ahmed Shafiq yang meraih 24,9 persen suara, disusul calon independen lain Dr Abdel Moneim Abol Fotouh, dan Hamdeen Sabahy (SM, 27/05/12). Jika hingga penghitungan akhir posisi itu tidak berubah, dipastikan Mursi dan Shafiq lolos ke final pilpres 16-17 Juni mendatang.

Di tengah euforia mayoritas masyarakat Mesir menikmati era transisi, dari otoriter-diktator ke demokrasi, besar kemungkinan nanti Mursi mengungguli Shafiq. Terlebih, dalam pemilu parlemen (majelis rendah) akhir tahun lalu, FJP sudah membuktikan sebagai partai paling populer karena paling banyak dipilih rakyat. Waktu itu, partai itu meraih 41 persen dari 498 kursi parlemen.

Probabilitas itu menjadi lebih besar bila masyarakat muslim Salafi (pendukung Partai Al-Nour yang menduduki 21 persen kursi parlemen) mengalihkan dukungannya kepada Mursi. Pada putaran pertama, Salafi mendukung pencalonan Abdel Moneim Abol Fotouh yang menggaet 20 persen suara.

Rezim Lama

Namun Mohammed Mursi Issa Al-Ayyat, kelahiran Al-Sharqiyah, tidak boleh lengah apalagi meremehkan Shafiq. Keberhasilan Shafiq mendulang perolehan suara pemilih hingga 23 persen harus dibaca sebagai isyarat masih kuatnya pendukung rezim sekuler. Hal ini mengingat sebagian masyarakat Mesir masih merindukan rezim Hosni Mubarak, yang selama 30 tahun berkuasa dianggap bisa memakmurkan kehidupan rakyat, menyusul perekonomian Mesir tak kunjung membaik setelah 16 bulan menjalani reformasi saat ini (BBC.com).

Mesir di bawah pemerintahan transisi sekarang mengalami krisis ekonomi serius. Di samping harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat melambung dan tingkat pengangguran tinggi, negara itu mengalami krisis finansial. Perbankan di negeri berluas wilayah 997.739 km2 dan kini berpopulasi sekitar 81 juta jiwa itu terguncang hebat, cadangan devisanya anjlok dari 36 miliar dolar pada Desember 2010 menjadi 16 miliar dolar AS (Januari 2012), dan pemerintah sementara di bawah Dewan Agung Militer pimpinan Jendral Hussein Tantawi mengalami kekurangan fiskal.

Meski Shafiq maju sebagai capres independen, de facto pria kelahiran Kairo, November 1941 itu representasi kandidat dari kubu sekuler. Dia bekas mantan pendukung Hosni Mubarak. Setelah menjabat Komandan Angkatan Udara 1996-2992 dan Menteri Penerbangan Sipil (2002-2010), ia menjabat perdana menteri sampai ambruknya pemerintahan Partai Nasional Demokrat (NDP) di bawah Mubarak Februari tahun lalu.

Shafiq maju sebagai capres mendapat dukungan penuh dari militer yang setia pada sekularisme dan tampaknya tidak menginginkan IM bersama FJP-nya mengontrol semua lembaga pemerintahan paling berkuasa di Mesir. Karenanya, pilpres sekarang sejatinya selain menggambarkan pertarungan antara kubu reformis dan pendukung rezim lama, serta antara ideologi Islam dan sekuler, juga memperlihatkan perang antara sipil dan militer.

Pertarungan itu diperkirakan berlangsung ketat dalam final pilpres pertengahan Juni mendatang. Jika Mohammed Mursi unggul atas Ahmed Shafiq, makin mantaplah bangsa Mesir menjalani zaman baru. (Sumber: Suara Merdeka, 29 Mei 2012).

Tentang penulis:
Chusnan Maghribi, alumnus Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Diseminasi Nasionalisme Mbah Liem

Oleh Sholahuddin

Penulis senyum-senyum sendiri melihat foto almarhum KH Moeslim Rifa’i Imampuro beredar di situs NU online, laman resmi PBNU. Ada foto Mbah Liem memboncengkan Iwan Fals, bersama Gus Dur, dan disalami Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj. Kiai karismatik yang eksentrik dan punya jiwa nasionalisme tinggi itu berpulang pada Kamis, 24 Mei 2012 sekitar pukul 05.00 dalam usia 91 tahun.

Salah satu unikumnya, ia mewajibkan santrinya di Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti melantunkan ’’Indonesia Raya’’ sebelum melaksanakan kegiatan.

Sikap nasionalisme tinggi itu juga tercermin dalam penamaan ponpesnya, yang terletak di Desa Troso Kecamatan Karanganom Klaten.

Nama Pancasila Sakti inilah yang menjadi pembeda dari ponpes, yang biasanya oleh pengasuhnya diberi nama islami, nama Arab, sebut saja misalnya Pondok Pesantren Modern Daarus Salam di Ponorogo, Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in di Lirboyo Kediri, atau Pondok Al-Anwar di Sarang Rembang.

Sebagai salah satu tokoh yang concern terhadap keutuhan NKRI, Mbah Liem pantas dijuluki kiai nasionalis sejati di Indonesia. Api nasionalisme yang dikobarkanya harus senantiasa kita teladani dan lestarikan dalam kehidupan sehari-hari.

Survei yang diadakan Yayasan Genta Pemuda Indonesia sebagaimana dirilis Koran Tempo, 22 Desember 2011 menunjukkan bahwa pemuda Indonesia masih memiliki semangat nasionalisme tinggi. Indikator survei itu meliputi ketidaksetujuan terhadap konsep negara federal, keinginan memproteksi negara, dan sikap memprioritaskan kepentingan bangsa.

Hasil survei menyebutkan 30,2% responden menyatakan sangat tidak setuju jika Indonesia dipecah menjadi negara federal, 38% menyatakan tidak setuju, dan 8,6% menyatakan setuju. Sementara itu, 62,5% responden memandang perlunya pembatasan investasi asing, 17,3% menilai investasi asing merupakan pemikiran neoliberalisme, dan 16,4% terbuka kepada investasi asing dengan syarat pembagian keuntungan yang adil. Hanya 3,8% responden yang menganggap investasi asing dapat memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Survei ini melibatkan 421 responden dari 33 provinsi, semuanya pengurus organisasi pemuda yang terdaftar di Kemenpora. Mereka menjabat ketua umum, sekretaris, bendahara, atau ketua bidang. Pengumpulan data dilakukan dalam dua periode, yaitu 25 Oktober-8 November 2011 dan 2-10 Desember 2011.

Nilai Kebangsaan

Jika di kalangan pemuda semangat nasionalisme masih tetap tinggi, bagaimana semangat nasionalisme di lingkungan pelajar kita dewasa ini? Pengumuman UN 2012 memperlihatkan jebloknya nilai Bahasa Indonesia. Dari 7.579 siswa yang tidak lulus ujian nasional, sebagian besar gagal pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia, sama seperti tahun lalu.

Bahkan angka ketidaklulusan akibat gagal dalam ujian Bahasa Indonesia lebih tinggi ketimbang ketidaklulusan pada mata pelajaran Bahasa Inggris. (Koran Jakarta, 26/05/12).

Ada pergeseran nilai kecintaan terhadap Bahasa Indonesia di kalangan pelajar. Kecintaan mereka terhadap bahasa nasional telah tergantikan oleh kecintaan terhadap Bahasa Inggris dan juga budaya pop. Inilah pergeseran yang harus menjadi keprihatinan kita bersama.

Nilai-nilai nasionalisme yang ditinggalkan Mbah Liem harus senantiasa kita kembangkan di lingkungan lembaga pendidikan, sebagaimana ia mendiseminasikan nilai-nilai itu di ponpes yang diasuhnya. Hal itu mendasarkan nilai cinta terhadap Tanah Air sebagai bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). (Sumber: Suara Merdeka, 28 Mei 2012).

Tentang penulis:
Sholahuddin, Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (Staimafa) Pati, alumnus Centre for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM.

Konsistensi Kebijakan Pembangunan

Oleh Anton A Setyawan

Tanggal 21 Mei lalu, menjadi hari bersejarah bagi rakyat Indonesia karena pada tanggal itu berakhir sebuah rezim pemerintahan yang berkuasa paling lama dalam sejarah negara ini. Rezim Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto pada tanggal itu tahun 1998 harus mengakhiri 32 tahun kekuasaannya karena tekanan politik.

Pada tahun-tahun awal peringatan kejatuhan Orba, masyarakat mencaci-maki peninggalan rezim itu. Semua yang dianggap warisan Orba dianggap buruk. Kini, KKN yang menjadi penyakit utama juga ditangani meskipun dengan berbagai kelemahan.

Artinya, setelah masa rezim Orde Baru ada perbaikan dari sisi politik dan demokrasi. Namun masyarakat memersepsikan kesejahteraan ekonomi mengalami penurunan.

Kondisi perekonomian Indonesia dengan pertumbuhan rata-rata 5,5-6% per tahun belum mampu menyamai rata-rata pertumbuhan ekonomi pada masa Orde Baru sebesar 7% per tahun.

Iklim bisnis kondusif dan kondisi penuh kepastian yang diperlukan dalam bisnis adalah sebuah kondisi umum di masa Orba.

Konsistensi dan Berani

Kondisi seperti itulah yang sekarang ”dirindukan” sebagian masyarakat. Bahkan ada parpol baru menggunakan simbol Orba menampilkan foto Pak Harto sedang tersenyum, dengan teks,” Piye kabare? Isih penak jamanku biyen to?” (Bagaimana kabarnya? Masih enak zaman saya dulu kan?-Red)

Salah satu warisan Orde Baru yang sebenarnya layak dipertahankan adalah kemampuan pemerintah menyusun perencanaan pembangunan dan konsisten melaksanakannya. Kebijakan pembangunan ekonomi diarsiteki oleh Prof Widjojo Nitisastro dibantu ekonom antara lain Dr Ali Wardhana, Prof Sadli, dan Prof Emil Salim. Pada masa Orba perencanaan pembangunan dilakukan melalui beberapa tahapan.

Kebijakan pembangunan ekonomi yang sangat baik pada ranah konsep tidak ada artinya tanpa konsistensi dalam pelaksanaannya.

Selain itu, keberanian menempuh kebijakan yang tidak populer pada kondisi kritis juga menjadi kunci sukses sebuah pembangunan ekonomi. Dua hal ini yang tidak kita temui pada pemerintahan setelah Soeharto.

Proses demokratisasi menyebabkan pemegang kekuasaan tidak hanya pada pemerintah tetapi juga semua elite politik, dengan embel-embel kepentingan jangka pendek mereka.

Akibatnya, kebijakan pembangunan ekonomi juga dilakukan dengan mendasarkan kepentingan politik jangka pendek dalam rangka mencari atau mempertahankan kekuasaan.

Formulasi sebuah kebijakan ekonomi seharusnya ditentukan berdasarkan kerangka pembangunan jangka panjang. Perbedaan partai politik dengan agenda kepentingan jangka pendek mereka menyebabkan penguasa tidak pernah konsisten melaksanakan kebijakan pembangunan jangka panjang.

Seandainya pemerintah saat ini menyusun sebuah rencana pembangunan jangka panjang, apakah kita mendapat jaminan bahwa pemerintah penggantinya yang mungkin saja berasal dari partai berbeda, bersedia melanjutkan kebijakan tersebut? Kerumitan ini masih ditambah perencanaan pembangunan di level pemerintah daerah yang belum tentu konsisten dengan perencanaan jangka panjang pembangunan nasional karena terdistori oleh kepentingan elite politik daerah.

Peringatan 14 tahun kejatuhan Orde Baru seharusnya memberikan kesadaran baru bagi kita bahwa ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari rezim itu, khususnya konsistensi pelaksanaan kebijakan pembangunan. Pertanyaannya apakah kita cukup bijak untuk belajar dari Orde Baru? (Sumber: Suara Merdeka, 30 Mei 2012).

Tentang penulis:
Anton A Setyawan, Kepala Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Manajemen dan Bisnis (PPMB) Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1.999.700 hits
Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Iklan