Posts Tagged 'Pasar Tradisional'

Analisis Hukum Bisnis: Pasar Modern Menggusur Pasar Tradisional (Bagian VI)

Oleh Rahayu Hartini

Pengantar redaksi:
Artikel ini dimuat secara bersambung. Bagian I, edisi Senin 15 Nopember 2010. Bagian II, edisi Senin 22 Nopember 2010. Bagian III, edisi Senin 29 Nopember 2010. Bagian IV, edisi Senin 6 Desember 2010. Bagian V, edisi Senin 13 Desember 2010. Bagian VI, edisi Senin 20 Desember 2010.


Menurut saya, hal ini bagaikan pedang bermata dua. Apabila mengenai perizinan ini tidak diatur dan di tata dengan baik serta pejabat yang duduk disini tidak konsisten menjalankan aturan yang telah dibuat maka bisa menjadi bomerang. Mengapa? Karena ketika daerah diberi kesempatan untuk mengatur pasti juga akan mempertimbangkan pemasukan daerah untuk menambah PAD dalam rangka mempersiapkan anggaran yang pada akhirnya bisa berujung pada mendahulukan kepentingan para investor besar bahkan investor asing sebagai pengusaha ritel besar/ pasar modern seperti hypermart, mall, minimarket dll., dibandingkan dengan pasar tradisional/ pengusaha kecil.

Di satu sisi pasar tardisional harus tetap hidup bahkan harus mampu bersaing dengan Pasar Modern, tetapi di sisi lain pemerintah daerah/ kota juga berkehendak memperoleh PAD yang sebesar-besarnya tentunya juga untuk kesejahteraan rakyat di masing-masing daerahnya.

Maka sekali lagi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar Pasar Tradisional agar tetap berkembang dengan meningkatkan kualitas kebersihan dan pelayanannya agar sebanding dengan pasar Modern di satu sisi dan di sisi lain pemerintah Daerah/ Kota/ Propinsi bisa mengatur/ membatasi pendirian Pasar Modern dengan memperhatikan jarak antara Pasar Tradisional yang telah ada dengan Pasar Modern yang akan berdiri/ di buka.

Di dalam Permendag Nomor 53 Tahun 2008 ini memang telah mengatur mengenai Pemberdayaan Pasar Tardisional (Pasal 17). Akan tetapi juga tidak ada penjelasan pemberdayaan yang  seperti apa dan bagaimana?. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah daerah/ kota setempat harus mampu menterjemahkan tentang “pemberdayaan” yang dimaksud dengan memperhatikan kemampuan dan kekhasan daerah masing masing tentunya.

Dalam Pasal 17 menyebutkan:

“(1) Pengelolaan Pasar Tradisional dapat dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), koperasi, swasta, pemerintah, maupun pemerintah daerah.

(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah baik sendiri maupun secara bersama-sama melakukan pemberdayaan terhadap pengelolaan Pasar Tradisional berdasarkan sistem manajemen professional”.

Mengenai jenis dan kewenangan penerbitan Izin sebagaimana diatur dalam Bab V, Pasal 10 – Pasal 14.

Pelaku usaha yang akan melakukan kegiatan usaha di bidang Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, wajib memiliki:

a.  IUP2T untuk Pasar Tradisional;

b.  IUPP untuk Pertokoan, Mall, Plasa dan Pusat Perdagangan;

c. IUTM untuk Minimarket, Supermarket, Department Store, Hypermarket dan Perkulakan.

Izin Usaha tersebut diterbitkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, yang kemudian melimpahkan kewenangan penerbitannya kepada:

a.  IUP2T kepada Kepala Dinas/Unit yang bertanggung jawab di bidang perdagangan atau di bidang pembinaan Pasar Tradisional atau Pelayanan Terpadu Satu Pintu setempat;

b. IUPP atau IUTM kepada Kepala Dinas/Unit yang bertanggung jawab di bidang perdagangan atau pejabat yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu setempat.

Permohonan izin usaha diajukan kepada Pejabat Penerbit izin usaha. Persyaratan untuk memperoleh IUP2T bagi Pasar Tradisional yang berdiri sendiri atau IUTM bagi Toko Modern yang berdiri sendiri atau IUPP bagi Pusat Perbelanjaan yang persyaratannya sebagaimana diatur dalam Pasal 4.

1. Penutup

Berbeda dengan Pasar Modern, Pasar Tradisional sejatinya memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Lokasi yang strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, harga yang rendah, sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional.

Namun juga memiliki berbagai kelemahan yang telah menjadi karakter dasar yang sangat sulit diubah. Faktor desain dan tampilan pasar, atmosfir, tata ruang, tata letak, keragaman dan kualitas barang, promosi penjualan, jam operasional pasar yang terbatas, serta optimalisasi pemanfaatan ruang jual merupakan kelemahan terbesar Pasar Tradisional dalam menghadapi persaingan dengan Pasar Modern.

Kondisi ini diperburuk dengan citra Pasar Tradisional yang dihancurkan oleh segelintir oknum pelaku dan pedagang di pasar. Maraknya informasi produk barang yang menggunakan zat kimia berbahaya serta relatif mudah diperoleh di Pasar Tradisional, praktek penjualan daging oplosan, serta kecurangan-kecurangan lain dalam aktifitas penjualan dan perdagangan telah meruntuhkan kepercayaan konsumen terhadap pasar tradisional.

Keberadaan pasar modern di Indonesia akan berkembang dari tahun ke tahun. Perkembangan yang pesat ini bisa jadi akan terus menekan keberadaan pasar tradisional pada titik terendah dalam 20 tahun mendatang.  Selain mengalami pertumbuhan dari sisi jumlah dan angka penjualan, peritel modern mengalami pertumbuhan pangsa pasar sebesar 2.4% pertahun terhadap pasar tradisional. Berdasarkan survey AC Nielsen (2006) menunjukkan bahwa pangsa pasar dari pasar modern meningkat sebesar 11.8% selama lima tahun terakhir.

Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya langkah nyata dari pedagang pasar agar dapat mempertahankan pelanggan dan keberadaan usahanya. Para pedagang di pasar tradisional harus mengembangkan strategi dan membangun rencana yang mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan konsumen sebagaimana yang dilakukan pasar modern. Jika tidak, maka mayoritas pasar tradisional di Indonesia beserta penghuninya hanya akan menjadi sejarah yang tersimpan dalam album kenangan industri ritel di Indonesia dalam waktu yang relatif singkat.

Jika Pemerintah tak hati-hati, dengan membina keduanya supaya sinergis, Perpres Pasar Modern (Nomor 112 tahun 2007) jo Permendag Nomor 53 Tahun 2008 justru akan membuat semua pedagang tradisional mati secara sistematis. Hanya tinggal menunggu waktu pasar tradisional akan mati oleh pasar modern.

Daftar Bacaan

  • Rahayu Hartini,  2007, Aspek Hukum Bisnis, cetakan ke tujuh, UMM Press, Malang.
  • Rahayu Hartini, 2010, Hukum Komersial, cetakan ke tiga, UMM Press, Malang.
  • Peraturan Presiden RI, Nomor 122 Tahun 2007 tentang Penataan dan  Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.
  • Peraturan Menteri Perdagangan No 53/M-DAG/PER/12/ 2008  tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional Pusat perbelanjaan dan Toko Modern.
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817);
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3214);
  • Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4866.

Tentang Penulis:
Dr Hj Rahayu Hartini SH MSi MHum, dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum, Pascasarjana UMM. Kontak person: 081 233 746640. Email: yayukachmad@yahoo.co.id



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,432,578 hits
Juli 2014
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.