Posts Tagged 'Korupsi Intelektual'

Korupsi Intelektual

Oleh Hermawan

Jika kita membandingkan tingkat korupsi di Indonesia dan negara tetangga sangat jelas perbedaannya. Dari hasil survei PERC terlihat keberhasilan Thailand dan Filipina menekan tindakan korupsi.

Tahun 2008, nilai korupsi Filipina 9,0 dan turun pada 2009 menjadi 7,0 (skala penilaian 0-10 dan angka 10 menunjukkan negara dalam keadaan korupsi total). Pada periode yang sama Thailand turun dari 8,0 menjadi 7,63. Sebaliknya derajat korupsi Indonesia justru menunjukkan peningkatan. Tahun 2008 tingkat korupsi Indonesia 7,98, lalu tahun 2009 naik menjadi 8,32, dan tahun 2010 kembali naik menjadi 9,07. Tinggal sedikit lagi (1,93) negara ini benar-benar masuk dalam perangkap korupsi total.

Dala situasi mendekati korupsi total, tiba-tiba Ketua DPR Marzuki Alie melontarkan kalimat yang langsung menimbulkan kegaduhan publik. Ia menyebut komunitas tertentu, seperti beberapa perguruan tinggi dan ormas Islam telah melahirkan koruptor. Marzuki menunjuk lulusan perguruan tinggi negeri terkenal, di antaranya Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan alumnus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang banyak melakukan korupsi.

Mentalitas Individu

Pernyataan itu spontan disanggah komunitas yang disebut-sebut Marzuki tersebut. Mereka yang bersih pasti membantah. Namun, bila ada dari komunitas itu yang terjerat korupsi mungkin diam-diam dapat memaklumi.

Banyak kalangan yang mengemukakan pernyataan Marzuki tidak sepenuhnya salah, sekalipun kurang etis bila menunjuk lulusan perguruan tinggi dan organisasi tertentu yang melakukan korupsi.

Sebenarnya tanpa Marzuki Alie mengatakan seperti itu, banyak orang secara bisik-bisik atau obrolan warung kopi mengatakan hanya orang-orang pintar dan berkuasalah yang sering melakukan korupsi. Dan memang ada data yang membuktikan bahwa lulusan dari komunitas itu memang terlibat kasus korupsi.

Persoalannya Marzuki meng-gebyah uyah komunitas tersebutlah yang melahirkan koruptor. Sebutan yang demikian menunjukan bahwa ada yang salah dari lingkungan itu. Mungkin bila ia menyebut individu, masalahnya tidak akan berkepanjangan.

Apa yang dikatakan oleh Marzuki Alie, di satu sisi memang ada fakta yang menunjukan demikian. Namun di sisi lain terjadi pelecehan terhadap komunitas yang disebut tadi sebab tidak semua seperti itu.

Karena ada juga alumni perguruan tinggi selain yang disebut Marzuki melakukan korupsi dan ada juga yang tidak. Sebab korupsi terjadi bukan karena latar belakang pendidikan atau organisasiya, melainkan karena mentalitas individunya. Tidak ada satu perguruan tinggi atau organisasi mana pun yang mengajarkan untuk melakukan korupsi.

Tentu lulusan UI, UGM, dan HMI menolak pernyataan Marzuki. Faktanya ribuan alumni UI, UGM, dan HMI lainnya telah berkiprah membangun negeri ini. Dan komunitas yang disebut Marzuki Alie itu merupakan komunitas yang excellent.

Jaringan Komunitas

Dari komunitas itulah lahir orang-orang pintar. Dari komunitas-komunitas itu lahirlah banyak alumni. Jumlah alumni dari komunitas itu mencapai puluhan ribu, bahkan ratusan ribu. Kepintaran mereka didukung dengan jaringan yang telah terbentuk. Tak heran bila lulusan komunitas itu menempati pos-pos penting di banyak lembaga negara maupun di pemerintahan daerah. Di sinilah letak masalahnya. Ketika beberapa di antaranya menempati posisi itu, mereka secara sadar atau tidak terjebak pada tindak korupsi.

Tetapi harus diakui korupsi di Indonesia menjadi marak tidak hanya di komunitas itu. Dalam pernyataannya itu Marzuki Alie juga mengatakan,”… dan tempat lainnya.” Hal ini menunjukan korupsi ada di mana-mana. Tumbuh suburnya korupsi di setiap tempat bisa terjadi. Meminjam istilah Hajriyanto Y. Thohari, masyarakat kita permisif dengan korupsi.

Orang yang terlibat dalam tindak korupsi seolah-olah tidak menjadi masalah, meski mereka sudah didakwa atau dipenjara. Namun masyarakat, organisasi, dan partai politik asalnya tetap menerima mereka. Karena sikap permisif masyarakat terhadap korupsi, membuat korupsi dari waktu ke waktu susah diberantas, bahkan jauh melebih tempat atau komunitas yang disebut Marzuki Alie.

Pernah ada catatan yang menyebut sekitar 158 bupati/wali kota dan 17 gubernur sebagai tersangka dalam kasus korupsi. Bahkan Makamah Agung (MA) pernah mengungkapkan seluruh kepala daerah di Indonesia teridentifikasi melakukan tindak pidana korupsi. Di Jawa Tengah saja dari 35 bupati, 20 di antaranya sudah terindentifikasi melakukan tindak korupsi.

Hanya Retorika

Fakta tersebut jelas menunjukkan keseriusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam memberantas korupsi tidak terbukti. Pidato yang disampaikan dalam berbagai forum resmi hanyalah retorika. Sekadar mengingatkan kembali Presiden SBY dalam sebuah pidato pernah mengatakan, “Kita berkewajiban untuk terus meningkatkan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi tanpa diskriminasi, dengan tetap mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Setelah berjuang sekian lama tanpa henti, sekaranglah momentum terbaik untuk kita terus membersihkan Indonesia dari korupsi”.

Namun pidato yang diungkapkan itu jauh panggang dari api. Bahkan di internal Partai Demokrat, partai yang dibidani dan dibesarkan SBY sendiri pun, kini penuh dengan borok-borok korupsi. (Sumber: Lampung Post, 24 Juni 2012)

Tentang penulis:
Hermawan, Ketua Umum Gerakan Pemuda Nusantara Provinsi Lampung.



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,480,065 hits
Oktober 2014
S S R K J S M
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.