Tulisan yang dikaitkan 'Ibnu Burdah'

Suriah Pasca-Jenewa II

Oleh Ibnu Burdah

Konferensi damai Jenewa II (22-31/1/14) tidak membawa hasil sebagaimana diharapkan. Memang ada agenda untuk kembali melanjutkan negosiasi pada 10 Februari mendatang, tetapi proses negosiasi selama sepekan lalu tersebut telah memperlihatkan lebarnya jurang perbedaan persoalan inti bagi kedua belah pihak. Sungguh tinggi pesimisme untuk melanjutkan kembali konferensi tersebut.

Fakta memperlihatkan bahwa konferensi awal pun gagal menghasilkan kesepakatan terbatas, berupa pembebasan sebagian tahanan, gencatan senjata lokal sementara guna memberi jalan bagi distribusi bantuan kemanusiaan, dan mengevakuasi sebagian korban. Tiga masalah itu dianggap memiliki perbedaan ‘’ringan’’ sehingga didahulukan dalam agenda perundingan. Tapi itu pun gagal menemukan titik temu.

Kedua pihak sama-sama kaku pada posisi masing-masing. Kubu oposisi bersikeras Assad harus turun, serta tak terlibat dalam pemerintahan transisi dan proses demokrasi di Suriah ke depan. Tuntutan itu hampir tak banyak berubah sejak menjelang konferensi damai Jenewa I hingga akhir perundingan Jenewa II. Tuntutan ini jelas tak masuk akal menilik paritas kekuatan kedua pihak di lapangan.

Kubu Assad yang masih cukup kuat, mudah ditebak, menolak mentah-mentah, sebagaimana berulang kali disampaikan, dan hampir tanpa perubahan. Menerima tuntutan itu bagi mereka bukan hanya berarti kehilangan kekuasaan melainkan juga ancaman. Mereka bukan hanya akan diseret ke pengadilan dengan tuntutan kejahatan kemanusiaan melainkan juga menjadi antagonis baru Suriah. Sebuah hal yang sangat tidak mereka inginkan.

Penyebab Kegagalan

Namun, penyebab kegagalan sejauh ini bukan karena semata alotnya sikap oposisi melainkan juga kekakuan sikap kubu Assad. Mereka menginginkan Assad sepenuhnya masih memimpin transisi dan berhak ikut dalam proses demokrasi. Ini tentu sama dengan bohong bagi kubu oposisi. Apa pun konsesi lain yang diberikan kepada mereka, tak banyak membawa arti jika hal itu tak dinegosiasikan. Pasalnya, tujuan politik dari gerakan rakyat dan militer oposisi Suriah adalah menjatuhkan rezim Assad.

Kondisi di lapangan sebenarnya sudah sangat memaksa untuk berdamai. Mereka pasti sadar tak bakal memperoleh kemenangan telak, sekali pun dengan pengorbanan lebih besar lagi. Tetapi ada faktor lain yang memperkuat kengototan dua kubu itu, yakni peranan aktor-aktor luar yang mendukung mereka.

Beberapa negara Teluk seperti menyediakan cek kosong kepada oposisi, baik sayap politik maupun militer, asalkan mereka mati-matian menjatuhkan rezim Assad. Ini membuat logistik mereka begitu kuat sehingga bisa bertahan sangat lama. Beberapa negara Eropa dan AS, kendati tidak sengotot negara-negara Teluk, juga terus mendorong agar perjuangan mereka bisa menjatuhkan Assad. Minimal hingga saat ini, oposisi berpikir bahwa mereka tetap mampu melanjutkan perang sebab logistik cukup tersedia.

Sementara pendukung Assad, seperti Iran dan Hizbullah, menunjukkan sikap konsisten seolah-olah siap mati bersama andai rezim Assad dihancurkan. Ini membuat rezim ini merasa lebih tenang menghadapi pasukan militer oposisi dan juga di meja perundingan. Dukungan politik dan militer Rusia yang makin naik daun di bawah Putin juga membuat rezim ini tak mau memberikan konsesi besar dalam perundingan.

Korban Kemanusiaan

Kegagalan perundingan damai berarti keberlanjutan perang. Faktanya, perang berkobar makin kejam begitu perundingan ini tak menghasilkan kesepakatan. Pasukan rezim langsung menabuh genderang perang besar di wilayah-wilayah yang dikuasai oposisi, terutama di kota Aleppo. Kita melihat korban kemanusiaan semakin tak terhindarkan.

Entah sampai kapan perang keji ini akan berakhir menilik paritas kedua pihak yang relatif seimbang. Kapan perang berakhir adalah misteri seperti misteri kematian seseorang. Akan tetapi, skenario yang mengkhawatirkan adalah perang akan berlangsung lama dan berisiko makin destruktif.

Sebenarnya banyaknya korban nyawa yang jatuh, korban terluka, destruksi masif, dan penderitaan panjang jutaan warga Suriah seharusnya sudah cukup membuat pemimpin pihak-pihak yang berseteru untuk ìmemaksakanî ada hasil minimal dalam perundingan tersebut. Hasil minimal itu adalah penghentian perang (gencatan senjata) meski sementara.

Para aktor kawasan yang begitu ambisius, baik yang mendukung rezim maupun oposisi, seharusnya punya hati melihat yang terjadi di Suriah. Senjata dan uang yang mereka berikan telah menjadi bola-bola api yang membunuh banyak orang, termasuk anak-anak dan orang tua, dan menghancurkan kehidupan.

Perlu terus menggelorakan harapan supaya sesi II perundingan bisa digelar. Idealnya, negosiasi itu jangan dilakukan dalam sorot kamera saja. Beban para perunding terhadap ìbosnyaî ataupun para pendukung, terlalu besar. Para perunding sedikit-sedikit jumpa pers ìpribadiî yang bukan cari solusi melainkan ìcari mukaî dari para pendukung. Perundingan harus dilakukan melalui multijalur, multipendekatan, dan dengan tekanan besar kepada masing-masing pihak untuk segera mengambil kesepakatan positif. (Sumber: Suara Merdeka, 5 Februari 2014)

Tentang penulis:
Dr Ibnu Burdah MA, pemerhati masalah Timur Tengah dan dunia Islam, dosen Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,358,984 hits
April 2014
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.