Menyejahterakan Lansia

Oleh Djamaluddin Darwis

Mendengar kata lansia, sebagian orang memersepsikan pada sekelompok orang yang lemah, sakit-sakitan, hidup banyak bergantung pada orang lain, dan bagi pensiunan tampak berkumpul bersama di bank atau kantor pos pada saat mengambil uang pensiun. Dengan kemeningkatan kualitas hidup, khususnya berkait kesehatan, kesan negatif tadi tidak sepenuhnya benar.

Jumlah kamum lansia makin bertambah dari tahun ke tahun. Tahun 1970 berjumlah sekitar 5,3 juta jiwa dan tahun 2010 meningkat menjadi 18 juta jiwa, peningkatan yang fantastis, 340% selama 4 dekade. Banyak warga lansia tetap sehat, bugar mandiri, bahkan masih tetap beraktivitas dalam berbagai kegiatan, hidupnya bermanfaat untuk orang lain dan masyarakat.

Pemerintah memberi perhatian khusus kepada kaum lansia dengan menetapkan Hari Lanjut Usia (Halun) tiap 29 Mei. Presiden Soeharto menetapkan hari tersebut pada 29 Mei 1996 di Semarang sebagai penghormatan terhadap Dr KRT Radjiman Wedyodiningrat yang dalam usia 66 tahun memimpin sidang I Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei 1945.

Penetapan Hari Lanjut Usia atau Hari Lansia Nasional itu selaras dengan penetapan Hari Lanjut Usia Internasional tiap 1 Oktober yang diputuskan dalam Sidang Umum PBB lewat Resolusi Nomor 45/ 106 tanggal 14 Desember 1990. Hari Lanjut Usia Internasional ini dilatarbelakangi pembicaraan Vienna International Plan of Action on Aging di Wina tahun 1982. Keputusan Wina menyepakati agar negara yang belum mempunyai Hari Lansia segera menetapkannya supaya bisa lebih menyejahterakan kaum lansia secara lahir batin, mereka tetap sehat, mandiri, dan hidup tetap berguna pada usia senja.

Yang termasuk kelompok lansia, menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia adalah mereka yang telah berusia minimal 60 tahun. Dalam memberikan perhatian kepada kelompok lansia, pemerintah membentuk Komnas Lansia berdasarkan Keppres Nomor 52 Tahun 2004, dan di tingkat provinsi/ kabupaten juga dibentuk komda lansia.

Kaum lansia kini menunggu kelahiran perda lansia yang memayungi semua kegiatan berkait upaya menyejahterakan mereka. Berbagai kegiatan terkait penyiapan regulasi itu sudah cukup intensif dilaksanakan, baik dalam internal Komda Lansia Jateng maupun melalui temu wicara antarkomda se-Jawa.

Perlu mengantisipasi peningkatan jumlah lansia berkait kemeningkatan usia harapan hidup rata-rata karena realitas itu memberikan implikasi bagi kehidupan keluarga, masyarakat dan peran pemerintah. Yang jelas lansia diharapkan masih dapat beraktivitas, hidup sehat, bugar, mandiri, tidak mudah terserang penyakit.

Lebih dari itu diharapkan lansia merupakan senior citizen yang makin arif dan kaya pengalaman dan dapat memberi manfaat bagi orang lain. Bagi lansia yang tidak memungkinkan hidup bersama anak cucu dan tidak memiliki aktivitas, diperlukan lebih banyak panti lansia supaya mereka bisa saling berbagi cerita untuk menghilangkan kejenuhan.

Beberapa hal mendasar lansia yang perlu mendapat perhatian antara lain kebutuhan spiritual, psikososial, dan kebutuhan fisik biologis. Pertama; kebutuhan spiritual. Ada keyakinan bahwa manusia sebenarnya makhluk spiritual yang sedang mengadakan perjalanan duniawi. Selama perjalanan ia diberi pinjaman baju ragawi yang suatu saat baju itu akan ditinggakan dan dikembalikan ke asalnya, dari tanah pada saat kematian.

Merasa Kesepian

Orang Jawa mengatakan urip ning donya mung mampir ngombe, hidup di dunia hanya singgah sebentar, ibarat minum seteguk air, seterusnya melanjutkan perjalanan. Dalam usia lansia, waktu kembali ke alam asal, alam spiritual makin dekat. Dengan kata lain lansia harus lebih mengingat sangkan paraning dumadi, berusaha menambah bekal amal saleh dan beribadah guna lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi muslim, ia harus lebih banyak bersyukur kepada Allah, rajin shalat, berzikir, dan banyak berdoa. Ada baiknya suka mendatangi pengajian untuk memperkuat keimanan, sekaligus memenuhi kebutuhan sosial bertemu dengan orang lain.

Kedua; kebutuhan psikososial. Pemenuhan akan kebutuhan ini bisa dalam bentuk ingin diperhatikan, serta didengar nasihat dan ceritanya. Sebagian lansia senang bercerita tentang masa lampau, dan ingin ada yang mau mendengarkan. Orang tua merasa kesepian jika tidak ada teman yang menemani berbicara. Bagi yang lebih muda yang pada suatu saat menjadi lansia, diharapkan bisa memahami kebutuhan orang tua yang sudah lansia, agar pada usia senjanya tidak hidup dalam kesendirian.

Ketiga; kebutuhan fisik biologis. Sangat penting menciptakan budaya perilaku menghormati yang tua sekaligus menyayangi yang muda. Realitasnya tak banyak orang yang dengan suka rela menawarkan bantuan kepada orang tua. Contoh, naik bus pun berebut, dan tidak mau membantu orang tua yang kesulitan naik. Masuk ke dalam lift, naik eskalator, atau di lain tempat pun berebut, mengabaikan orang tua yang sama-sama membutuhkan.

Dalam konteks ini, ada baiknya mencermati kata bijak, ’’hormatilah dan perlakukan orang tua dengan baik, niscaya pada masa tuamu kamu juga akan diperlakukan dengan baik oleh yang muda’’. Selamat Hari Lanjut Usia Jateng, semoga gubernur dan wakil gubernur yang baru terpilih bersama DPRD bisa segera mewujudkan perda lansia dalam rangka lebih memberdayakan dan menyejahterakan lansia di provinsi ini. (Sumber: Suara Merdeka, 31 Mei 2013)

Tentang penulis:
Prof Dr Djamaluddin Darwis MA, Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), anggota Komda Lansia Jawa Tengah

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,359,034 hits
Juni 2013
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: