“Religiusitas Dakwah Uje”

Oleh Eko Supriatno

Eko Supriatno“Seilmiah Quraisy Shihab, sekarismatis Dai Sejuta Umat Zainuddin MZ (alm), selembut Aa Gym, yang ber­pakem fikih interaktif ala Mamah Dedeh, berbasis zikir Arifin Ilham, hingga: Yusuf Mansyur, Nur Maulana, atau Ustadz Sol­med untuk menyebut sebagian di antara mereka. Yang harus diakui, “Uje” punya kekuatan karakter komunikasi tersendiri”. (Suara Merdeka)

“Religiusitas Uje”

“Religiusitas Ustadz Jeffry Al Buchori” terlihat manakala ribuan orang mengiringi pemakamannya. Iring-iringan dimulai dari Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, tempat jenazah disalatkan. Uje, sapaan Jeffry, dibawa ke tempat peristirahatan terakhir di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Tengsin, Jakarta. Salawat nabi dan semua puji-pujian dilafalkan oleh para pengantar sampai pemakaman. Ustadz Jeffry Al Buchori atau Uje meninggal dunia pada usianya yang ke-40, akibat kecelakaan motor sport di kawasan Pondok Indah, pada beberapa waktu yang lalu. Uje yang dikenal sebagai ustadz yang selalu membawakan dakwahnya dengan bahasa yang santai ini memiliki kisah hidup yang penuh lika-liku.

Mulai dari keluarga, jemaah, sampai warga setempat ikut mengantarkan kepergian ayah empat anak itu. Suasana duka sangat terlihat. Hampir semua yang mengangkat jenazah terlihat meneteskan air mata. Uje ternyata sangat dicintai masyarakatnya. Berduyun-duyun masyarakat mendo’akan, menshalatkan, dan mengirimkan do’a untuk Uje. Siang dan malam di rumah nya dikunjungi para penziarah. Bunga ucapan berduka cita menghiasi rumah halamannya. Dari mulai pejabat tinggi hingga para rakyat biasa. Dari para Kyai, Ustadz hingga para santri. Dari para santri-santri Uje, dari para murid-murid Uje dan seluruh masyarakat. Do’a mereka yang tulus dan ikhlas untuk Uje, bukan hanya untuk Uje yang tenang di alam barzakh-nya, tetapi juga menjadi penguat hati kelurganya yang sedang dirundung kesedihan yang mendalam.

“Religiusitas Uje” terlihat, bahwa Uje bukan hanya milik keluarganya. Uje adalah milik masyarakat. Banyak para santrinya, para muridnya, para sahabatnya dan masyarakat yang merasa pernah berhubungan dengan Uje, menceritakan tentang pengalaman kebaikan Uje. Uje adalah sosok yang manusia yang baik dari berbagai segi.

“Religiusitas Uje” sebagai seorang ”ustadz”, beliau adalah sosok yang sangat dihormati dan disegani. Kedalaman ilmunya dan keluasan wawasannya diakui oleh para Ustad dan para akademisi lainnya. Padahal menurut “keterangan”, Uje itu tak pernah menyelesaikan sekolah formal tingkat Universitas. Jika berbicara dalam pengajian, keluar dari mulutnya kata-kata dan fatwa yang selalu bersandar dari al-Quran, hadits, ijma’, qiyas dan karya-karya para ulama, dari mulai ulama mujtahid fatwa, hingga ulama mutakhirin. Bahkan dalam setiap ceramahnya Uje menyampaikan pidatonya dengan mengutip beberapa pendapat ulama di luar kepala atau dihapal.

Sekalipun Uje memiliki kedalaman ilmu keagamaan terutama kitab kuning, Uje selalu terbuka menerima ilmu-ilmu baru. Uje juga seorang manusia pembelajar sepanjang hayatnya. Dalam ceramahnya, Uje memiliki retorika yang selalu berapi-api tapi sarat makna, Uje dikenal sebagai singa podium. Bahasa ilmiah modern juga seringkali terlontar dalam ceramahnya. Hingga dalam keadaan sakit-pun Uje masih berusaha untuk selalu memberikan petuah di depan para sahabatnya dengan penuh semangat.

“Religiusitas Uje” dari segi sosial, terlihat “Uje” selalu mengutamakan kepentingan masyarakat umum. Beliau selalu memberikan petuah kepada para sahabatnya, agar hidup egaliter. Hidup tak boleh membeda-bedakan kelas sosial. Kepada orang tua dan di atas, baik umur maupun jabatanya, Uje menyarankan agar kita harus menghormati. Kepada sesama harus saling menghargai dan kepada yang dibawah harus menyayangi. Tak heran jika pergaulan Uje bukan hanya dikalangan artis, tapi juga dikenal sangat baik dengan para pejabat ataupun orang penting di negeri ini.

“Religiusitas Uje” terlihat manakala Ia tidak hanya berceramah “biasa”, Uje juga “mampu” menyampaikan dakwahnya melalui lagu-lagu Islami yang dibawakannya dengan beberapa penyanyi dan grup band. Dalam beberapa lagunya, Uje bicara secara eksplisit tentang Tuhan. Uniknya, kedekatan Uje dengan Tuhan ini, di beberapa lagu justru diungkapkan dalam pendekatan “lain”. Tampak sekali religius Uje (masih dalam pendekatan Uje yang memahami islam dengan baik). Pemujaan Uje kepada Tuhan, tampak jelas dalam setiap lagu-lagunya. Lagu-lagu Uje, juga menggambarkan cukup dalamnya, intensitas kerohanian Uje dalam sudut pandang ”muslim”. Pelukisan dalam setiap lagunya, (mestinya) hanya bisa disampaikan oleh seorang penganut Islam yang teguh, atau setidaknya orang yang memahami Islam dengan baik. Selain itu, Penulis sebenarnya banyak menemukan religiusitas Uje dalam lagu-lagunya yang lain. Dalam pendekatan yang lebih universal dan dalam bahasa yang lebih simbolik.

“Religiusitas Dakwah Uje”

Religiusitas selalu berkorelasi dengan dakwah, dan dakwah “makna” dasarnya adalah menyampaikan pesan-pesan islam kepada masyarakat luas. Dalam hal ini dakwah bisa dilaksanakan dengan menggunakan berbagai media yang ada, termaksud dakwah menggunakan media-media mutakhir untuk bisa dimanfaatkan sebagai media dakwah. Komunikasi yang paling efektif ialah komunikasi tatap muka (face to face communication). Dalam komunikasi tatap muka terjadi saling silang antara komunikator dan komunikan. Aspek dialogis sangat efektif untuk menyampaikan pesan komunikasi.

“Religiusitas Dakwah Uje” dapat dimaknai, dimana nilai-nilai agama disampaikan dan ditransformasikan ke wajah yang cair, elok, dan membumi. Dengan caranya, pesan-pesan tentang kerahmatan dikemas lewat teknik berkomunikasi yang tak berjarak. Ia ”berada” di tengah jamaah, berinteraksi, bercanda, dan berserius bersama. Tidaklah berlebihan jika dunia dakwah kehilangan sosok bertalenta, yang menyuarakan nilai-nilai moral tanpa harus terjebak dalam kenormatifan yang menyuntukkan.

Penulis pikir, Uje memiliki kekuatan karakter komunikasi tersendiri dalam “Religiusitas Dakwahnya”: Pertama, “Uje” Mendakwahkan nilai-nilai agama dengan cara ”gaul”. Segmen ”gaul” dan ”muda” itulah yang kemudian membedakan Uje dari yang lainnya.

Ia muncul, menggebrak, dan disadari atau tidak disadari membangun sebuah genre. Itulah trend yang disumbangkan oleh Ustadz Jeffry Al-Bukhori. Dialah yang mula-mula secara tajam mengemas dakwah baik di televisi maupun outdoor dengan pendekatan interaktif, dan menjangkau kalangan muda se­cara luas. Berita tentang wafatnya yang membahana melalui media konvensional dan media-media sosial menunjukkan betapa Jeffry memang mendapat tempat khusus di hati masyarakat, bukan sekadar jamaahnya. Kedua, “Uje” dalam berdakwahnya “mampu” mendekonstruksi cara-cara penyampaian ayat-ayat Alquran dan sunah Nabi dengan gaya yang cair. Dilengkapi dengan kemampuan qiraah dan nasyid yang kuat, keluwesan untuk rumasuk ke berbagai komunitas dan segmen masyarakat, dan bekal referensinya tentang kehidupan anak muda, Jeffry mudah diterima. Ia menjadi ”jembatan” pesan-pesan agama dan pengaktualannya lewat kemampuan berkomunikasi yang hangat. Ketiga, “Uje” dalam berdakwahnya sangat “Cerdas”, khususnya dalam hal memakai mediatika: bagaimana kompetisi industri media menggali, mengangkat, memunculkan, dan me­ngembangkan keunikan-keunikan untuk memperkuat nilai lebih dari rubrik dan tayangannya. Suka atau tidak suka, dakwah masuk ke ranah industri, yang kemudian dikemas beradaptasi dengan ”panggilan” pasar. Jeffry, dalam atmosfer ini, mampu mengemas keberbedaan untuk memperkuat keunggulan kompetitifnya lewat eksplorasi pengakraban. Dan Keempat, “Uje” juga sudah menyadarkan kita semua tentang arti pentingnya “Peran Ustadz”. “Peran Ustadz”, secara idealnya adalah “wujud” landasan dalam kerangka “penjaga umat” dan agent of change dari setting sosial, budaya, dan politik yang tidak sesuai dengan kultur dan moralitas keagamaan. “Peran Ustadz” bukan berorientasi pada kepentingan sesaat an sich tapi kepentingan moral. “Peran Ustadz“ juga bisa dimaknai, “ikhtiar” dalam menanamkan nilai-nilai etika, akhlak, bahkan moral untuk pencerdasan dan penguatan umat dan masyarakat. Ustadz dengan semestinya memainkan diri sebagai figur moral, anutan publik, menjadi suri tauladan serta sebagai kekuatan cultural yang selalu mengingatkan para pemimpin, sekaligus menegaskan perannya untuk secara etis-profetik mengawal kepentingan umat dalam kehidupan seharihari. Dengan fungsi-fungsiseperti itu, maka peran Ustad sebagai rausyan fikr akan betul-betul membumi di masyarakat.

Sekali lagi, kita kehilangan “Ustadz Langka” yang mampu menampilkan “Religiusitas” dan “Keindahan Islam” lewat kemasan ceramahnya. Pembumian nilai-nilai yang yang multitalenta. Ya begitulah, Uje sering pula bergumul akrab dengan Tuhan, namun dalam pemahamannya sebagai seorang “muslim”. Yang lebih menarik, keimanan ini sering dikaitkan dengan nalurinya sebagai seorang “da’i”.

Pada akhirnya, manusia pasti akan kembali ke haribaan- Nya. “Selamat jalan Uje”, semoga masih banyak pendakwah muda yang akan belajar dan meneruskan “Religiusitas Dakwah Perjuanganmu”.

“…Waktu kita lahir, semua bayi pasti menangis dan semua orang di sekeliling kita bergembira atas kelahiran kita. Namun pada saat kita meninggal, seharusnya kita tersenyum menyambut kebahagiaan bertemu dengan Allah dan masyarakat di sekeliling kita menangis karena merasa kehilangan atas jasa dan kebaikan yang kita perbuat di dunia…”

Tentang penulis:
Eko Supriatno SIP MPd, direktur Banten Religion and Culture Center (BRCC), dosen FISIP Universitas Mathla’ul Anwar Banten, ketua ICMI Orsat Labuan. Kontak person: 081385628075. Email: eko_mpd@yahoo.co.id

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,448,070 hits
Mei 2013
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 76 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: