Menimbang Caleg Kades

Oleh Sulyana Dadan

Puluhan kepala desa (kades) dan mantan birokrat di eks Karesidenan Banyumas (Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara) beramai-ramai mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) di kabupaten masing-masing terkait dengan Pemilu 2014 (SM, 1/3/13).

Sebenarnya, fenomena kades nyaleg merupakan hal biasa pada era sekarang. Namun karena banyaknya kades aktif yang mendaftar, publik bertanya-tanya. Apakah alasan mereka itu murni ingin mengabdi kepada masyarakat atau ada kepentingan lain berkait kekuasaan dan motif ekonomi sehingga jabatan kades hanya menjadi batu loncatan.

Alasan mereka menjadi caleg untuk lebih mengabdi kepada rakyat patut diapresiasi meski masih perlu pembuktian. Alasan itu pun akan membuktikan apakah mereka lolos atau tidak, karena harus berhadapan dengan massa partai yang lebih cair dan kadang pragmatis. Kedekatan mereka secara psikologis dengan masyarakat akan berhadapan dengan ideologi partai yang belum tentu membumi.

Menjadi caleg merupakan hak politik tiap warga negara. Peraturan negeri ini memang mengizinkan kades aktif untuk nyaleg asalkan sebelumnya mengundurkan diri. Kondisi itu tidak bisa hanya dipandang sebagai fenomena politik tetapi sosial budaya yang bisa jadi memengaruhi struktur kehi-dupan masyarakat desa.

Secara sosiologis, kades mendaftar untuk menjadi caleg membuka peluang sirkulasi elite atau kepemimpinan masyarakat desa. Karak-teristik kepemimpinan desa saat ini masih bersifat polymorphic (Sunyoto Usman, 2004). Artinya pemimpin desa memiliki beberapa status dan peranan tumpang-tindih.

Ia bukan hanya pemimpin politik di desa melainkan juga penguasa ekonomi, punya pengaruh dalam menjaga adat-istiadat dan keagamaan, sekaligus disegani secara sosial, dan punya jaringan pendukung yang biasanya bersumber dari dari keluarga atau kekerabatan.

Ada dua pendekatan yang lazim digunakan dalam menganalisis masalah sirkulasi elite ini. Pertama; seseorang menjadi elite karena sudah ’’tercipta’’, lewat beberapa kelebihan untuk berada di puncak strata. Kedua; kemunculan elite karena makin kompleks organisasi sosial. Siapa yang paling mampu beradaptasi dengan kondisi itu maka ia akan menjadi elite.

Namun publik perlu mencermati sisi negatif kades nyaleg. Pertama; terganggunya keguyuban masyarakat desa karena mereka dijadikan basis massa oleh caleg kades yang secara psikologis memiliki kedekatan, tidak terkecuali kades dari desa tetangga.

Hal ini karena popularitas kades kadang sampai ke desa tetangga, terutama bagi sosok yang memiliki hubungan kekerabatan atau ikatan emosional dengan warga desa tetangga itu.

Kedua; kesederhanaan yang menjadi karakter khas masyarakat desa bisa berubah menjadi pragmatis akibat gagap budaya terhadap politik praktis. Meski secara normatif dilarang, kasus-kasus tidak terpuji dalam dunia politik seperti money politics kerap terjadi dan bisa saja menggoda masyarakat desa menjadi lebih materialistis.

Batu Loncatan

Ketiga; posisi kades yang selama ini menjadi perekat masyarakat desa tidak lagi diminati karena para calon menganggap posisi itu hanya batu loncatan bagi orang-orang tertentu, untuk meraih strata yang lebih tinggi, khususnya di desa yang penghasilan sang kades masih sangat minim.

Bila kades itu kelak terpilih sebagai legislator berarti ada regenerasi atau paling tidak sirkulasi kepemimpinan desa. Perubahan itu akan memberikan warna baru dan penyegar-an terhadap kehidupan masyarakat desa.

Hal ini karena mereka yang nyaleg, rata-rata sudah dua periode menjabat sehingga tonggak kepemimpinan seyogianya diberikan kepada orang lain yang lebih segar. (Sumber: Suara Merdeka, 26 Maret 2013)

Tentang penulis:
Sulyana Dadan SSos MA, dosen Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto
 

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,480,121 hits
Maret 2013
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: