Mencari Teladan Kepemimpinan

Oleh Ahmad Fuad Fanani

Ahmad Fuad FananiDalam rentang perjalanan 15 tahun reformasi—meskipun banyak kemajuan yang telah dicapai Indonesia—masih banyak pekerjaan rumah yang mendesak untuk segera dituntaskan. Banyak juga yang menyatakan bahwa dalam beberapa hal keadaan Indonesia seperti kapal yang hampir mau karam.

Berkenaan dengan hal itu, kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang merupakan tonggak sejarah baru dalam perkembangan peradaban manusia ini, layak untuk direnungkan hikmah dan pelajarannya.

Model perjuangan dan kepemimpinan Nabi Muhammad yang sangat membela rakyat kecil dan mendahulukan kepentingan publik, patut kita praktikkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih beradab dan demokratis.

Perjuangan Muhammad

Muhammad lahir di Kota Makkah yang terletak di jazirah Arab pada 570 M. Kelahiran Muhammad pada waktu itu berbarengan dengan kondisi masyarakat Arab yang sedang kacau balau, baik dari segi ilmu pengetahuan, budaya, maupun politik.

Masyarakat Arab adalah bangsa Jahiliyah (tidak beradab) yang sangat menyukai pesta-pesta rakyat, pembacaan puisi secara kolosal, serta menguburkan anak perempuannya hidup-hidup. Meskipun suka tradisi baca puisi dan sastra, mereka sama sekali tidak mengenal tradisi belajar dan tulis-menulis.

Masyarakat Arab waktu itu juga sangat mengagungkan primodialisme yang sempit. Hal inilah yang sering menimbulkan perpecahan antarsuku dan penindasan antarsesama. Paham kesukuan yang sempit ini juga berimbas pada paham keagamaan yang dipeluknya.

Hal itu tampak pada setiap suku yang mempunyai Tuhan sendiri-sendiri yang diwujudkan dalam bentuk berhala atau patung. Keadaan di atas ternyata juga menimpa kehidupan sosial dan ekonomi mereka.

Sistem ekonomi yang mereka kembangkan adalah sistem ekonomi kapitalis dan absolutistik yang berpusat pada suku-suku tertentu. Suku yang terkuat dan terbanyaklah yang memegang kendali perekonomian, sedangkan rakyat kecil hanya dijadikan sebagai budak-budak yang tidak dihargai kemanusiaannya.

Ketika menyaksikan fenomena masyarakatnya yang sedemikian parah dan mundur, Muhammad ketika berusia 25 tahun bergerak hatinya untuk melakukan uzlah ke Gua Hira’. Saat resmi diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, Muhammad lantas berusaha secara berangsur-angsur menata kembali masyarakatnya.

Beliau bergerak untuk membebaskan masyarakatnya dari penderitaan, penindasan, ketidakadilan, dan takhayul. Perjuangan Muhammad pada kenyataannya menemui rintangan yang tidak kecil. Hal itu terbukti dari reaksi pemuka kabilah-kabilah Arab yang berusaha menghalangi dengan usaha terlembut sampai terkasar. Bahkan pamannya sendiri, Abu Jahal dan Abu Lahab, merintangi dakwahnya dengan sekuat tenaga.

Kepemimpinan Muhammad

Kebesaran Muhammad sebagai seorang tokoh dunia yang berhasil mengubah keadaan masyarakat, banyak tertoreh pada tinta tulisan para pejungga dan filsuf dunia. Tidak kurang dari Muhamad Iqbal, Thomas Carlyle, Arnold Toynbee, Will Durant, dan Michael Hart menuliskan dengan pujian yang sangat agung.

Bahkan Michael Hart meletakkan Muhammad sebagai tokoh nomor satu di antara 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Will Durant menganggap Muhammad sebagai pribadi yang lengkap karena beliau adalah seorang sosiolog, psikolog, politikus, agamawan, juga seorang pemimpin besar. Asghar Ali Enginer juga menegaskan bahwa Muhammad adalah sosok pemimpin yang sangat rendah hati, tapi berhati luhur dan berotak luar biasa cerdas.

Muhammad memang bukan sekadar seorang pembaru agama dan sosial yang menyeru dari puncak menara gading, namun beliau adalah seorang aktivis sejati yang bergaul dan bergumul dengan penderitaan keseharian masyarakatnya. Meminjam istilah Antonio Gramsci dan Ali Syari’ati—beliau adalah sosok intelektual organik dan rausyan fikr yang ideal.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau berhasil menyatukan idealisme inteletual dan aktivisme sosial sebagai pemandu perjuangan dan visi gerak langkahnya dalam menapaki kehidupan. Beliau, sebagaimana diungkap oleh Karen Armstrong (2001), tidak sekadar berdakwah dan mengajarkan sebuah visi kehidupan baru, namun juga melakukan perjuangan politik langsung untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis.

Kepemimpinan Muhamad tampak pada perilaku sosial yang dipraktikkannya sehari-hari. Beliau memproklamasikan dirinya sebagai pemimpin kaum mustadh’afin (kaum tertindas) yang terdiri dari kaum miskin, anak yatim, para budak, serta semua rakyat kecil. Dalam menjalankan idenya, beliau membangkitkan harga diri mereka dengan memuliakan dan bergaul dengannya.

Selain itu, beliau juga hidup seperti mereka, yaitu dengan cara sederhana, bersahaja, serta tampil apa adanya. Oleh karena itu, dimensi agama yang berujung pada tauhid berhasil beliau aplikasikan pada tataran moral-sosial kehidupan sehari-hari bersama para pengikutnya. (Islam Alternatif, 1995) Dalam hal ini, Alquran juga sangat memuliakan kaum tertindas dan memberikan jaminan kepada mereka, sebagaimana tampak pada QS. 28: 5, QS. 1: 83, 177, dan QS. 104: 1-7.

Aspek liberatif (pembebasan) kepemimpinan Nabi Muhammad juga terlihat pada wahyu yang pertama turun dan diserukan, yaitu surat Al-Alaq atau Iqra’ yang berisi perintah membaca dan mencari ilmu pengetahuan. Kenapa wahyu ini yang pertama kali turun?

Karena beliau menyadari bahwa untuk membebaskan kaumnya, mutlak diperlukan sebuah ilmu pengetahuan yang membuka cakrawala pembebasan dan perilaku liberatif. Hal inilah, sebagaimana ditegaskan oleh Asghar Ali Enginer (1999), yang mempunyai dampak liberatif besar bagi bangsa Arab. Itu karena mereka menjadi tahu hakekat kemanusiaannya yang tidak bisa ditindas oleh sesamanya.

Berbeda

Bila kita bandingkan dengan model kepemimpinan Nabi Muhammad di atas, pemimpin Indonesia sekarang sangat jauh perbedaannya. Pemimpin kita justru banyak disibukkan oleh urusan partai, memperkaya diri, serta sibuk bertikai dengan kawan sendiri.

Dalam hal ini, rakyat kecil justru hanya dijadikan objek kampanye pemenangan partai, namun setelah itu tidak diurusi kembali. Padahal, para pemimpin Indonesia tempo dulu tidaklah separah sekarang ini. Hal itu tampak sebagaimana dituturkan dengan bagus oleh Deliar Noer (2001), bahwa pemimpin kita rela mengorbankan harta, waktu, tenaga, bahkan nyawa sekalipun untuk kemajuan bangsa dan masyarakat.

Oleh karena itu, gaya hidup dan model kepempinan Nabi Muhammad seperti di atas layak dipertimbangkan oleh para politikus dan masyarakat Indonesia. Itu karena bila masih bergaya seperti yang lalu, pembangunan sistem dan perangkat hukum untuk mewujudkan Indonesia yang demokratis hanya sekadar menjadi retorika dan proyek pencitraan pribadi yang melenakan.

Rakyat sudah cukup lama bersabar untuk menanti terwujudnya Indonesia baru yang demokratis, sejahtera, dan damai. Bila para pemimpinnya tidak bisa lagi diharapkan, lantas bagaimana jadinya masa depan Indonesia ini? Wallahu A’lam. (Sumber : Sinar Harapan, 12 Februari 2013)

Tentang penulis:
Ahmad Fuad Fanani, Direktur Riset MAARIF Institute for Culture and Humanity; pengajar di Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,480,250 hits
Februari 2013
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: