Konspirasi, Sapi “Berjanggut”, dan Zionis

Oleh Peter Lewuk

Selama 15 tahun reformasi, partai-partai di Indonesia sudah berubah menjadi pilar korupsi.
“Buruk muka cermin dibelah”. Itulah kata-kata yang kiranya pas untuk para elite politik Partai Keadilan Sejahtera atau PKS.

Bukannya melakukan introspeksi, bertobat, meminta maaf kepada konstituen PKS, dan mengambil hikmah dari kasus yang mendera mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), malah sebaliknya mengambinghitamkan pihak lain.

Itulah reaksi awal yang diperlihatkan oleh elite PKS atas kasus yang melilit mereka. Ibarat muka PKS yang rusak, malah cermin yang dibanting-banting. Presiden PKS yang baru, Bung Anis Matta, dengan lantang dan berapi-api berpidato menuding adanya konspirasi besar di balik penangkapan LHI oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus suap daging sapi impor untuk menjatuhkan harkat dan martabat, serta citra dan wibawa PKS.

Anis membakar semangat para kader PKS untuk ofensif terhadap pihak-pihak yang berkonspirasi menjatuhkan PKS. Bahkan kaum zionis dan Amerika juga diseret-seret oleh elite PKS sebagai pihak-pihak yang, mereka duga, terlibat dalam konspirasi besar menjatuhkan PKS. Ini lantaran beberapa hari sebelum terjadi penangkapan LHI, ada pertemuan antara Duta Besar Amerika untuk Indonesia Scot Marciel dengan pemimpin KPK untuk membahas strategi pemberantasan korupsi.

Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid pun menduga mungkin ada konspirasi kelompok zionis yang ingin menjatuhkan PKS. Reaksi PKS seperti itu bisa saja ditafsirkan sebagai konspirasi antara KPK dengan zionis dan Amerika untuk menjatuhkan PKS.

Coba bayangkan betapa PKS menganggap dirinya begitu bersih dan hebat sehingga sampai-sampai dia berpikir dibutuhkan konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan zionis dan Amerika untuk bisa menjatuhkan PKS dalam rangka pertarungan politik pada pemilu 2014.

“Disapikambinghitamkan”

Selama ini, publik disuguhi kesan bahwa PKS selalu tampil sebagai partai dakwah yang paling agamais, paling kenal Tuhan, paling bermoral, dan bersih dari dosa-dosa korupsi. Publik dibikin berdecak kagum manakala menyaksikan PKS mengerahkan puluhan ribu massanya membuat jalan-jalan protokol di Jakarta menjadi putih laksana ditaburi kapas, ketika massa PKS mendemo kaum zionis dan Yahudi saat terjadi konflik antara Palestina dan Israel.

Memang ada sebagian kalangan muslim menganggap zionis, Israel, dan Yahudi sebagai makhluk kafir dan golongan thagut yang diharamkan hidup di muka bumi ini. Mereka seakan-akan tahu persis bahwa Tuhan hanya mengizinkan mereka untuk hidup di dunia, sedangkan yang lain tidak.

Maka, saya tidak merasa heran dan terkejut ketika mendengar para elite PKS menyeret-nyeret zionis ke dalam pusaran kasus mereka.

Sebagai makhluk yang dianggap haram hidup di muka bumi ini, golongan zionis memang sangat empuk, seempuk daging sapi, untuk “disapikambinghitamkan” sebagai penyebab segala ketidakberesan di Indonesia dan bahkan di dunia, sebagaimana dapat kita baca dalam buku-buku yang ditulis dengan nada sangat antizionis, anti-Israel, dan anti-Yahudi.

Seolah-olah segala ketidakberesan di muka bumi ini disebabkan semata-mata oleh zionis, sementara Islam, Kristen, dan kaum beragama lainnya putih seperti malaikat, tidak pernah mengenal apalagi berbuat dosa dan kesalahan sepanjang sejarah dunia ini.

Menurut saya, terlalu naif, konyol, dan merupakan suatu logika yang jongkok kalau menyimpulkan ada konspirasi kelompok zionis untuk menjatuhkan PKS hanya berdasarkan fakta pertemuan antara KPK dan Dubes Amerika untuk Indonesia Scot Marciel. Padahal dari berita media massa tentang pertemuan itu, tidak tersurat ataupun tersirat kesimpulan untuk menjatuhkan PKS dengan menciduk LHI dalam kasus suap daging sapi impor.

Apalagi kasus, yang oleh majalah Tempo, disebut “daging sapi berjanggut” ini bukan kasus yang ujuk-ujuk, melainkan kasus lama yang sudah dibongkar oleh Tempo (misalnya Juni 2011).

Dalam proses pantauan, penyelidikan, dan penyidikan oleh KPK akhirnya ditemukan dua alat bukti yang cukup untuk menahan mantan Presiden PKS dalam kasus “daging sapi berjanggut” itu. Jadi, tidak ada urusannya dengan kaum zionis. Masa oknum PKS yang korup, kok zionis atau Amerika yang “dikambingsapihitamkan”? Ini tidak fair, naif, dan logika yang jongkok.

Malah PKS harus malu karena dengan klaim sebagai partai dakwah yang bersih dan putih, dia ternyata gagal membersihkan dirinya sendiri dari dosa-dosa korupsi. Membaca laporan investigasi Tempo, kita jadi paham betapa jelas intervensi tokoh-tokoh pentolan PKS dalam penentuan kuota impor daging sapi. Bahkan bukan hanya PKS yang gagal dalam hal dakwah. Lebih jauh, maraknya korupsi di Indonesia merupakan butki kegagalan dakwah oleh para elite dari semua agama di Indonesia terhadap umatnya, termasuk umat yang politikus dan birokrat.

Indonesia adalah bangsa yang dengan angkuh membanggakan diri sebagai bangsa paling beragama di dunia ini, tetapi hak-hak Tuhan pun dikorupsi oleh politikus maupun pejabat birokrat (dalam kasus haji dan Alquran di Kementerian Agama). Juga, dalam Sepuluh Perintah Tuhan (ajaran Kristen), jelas Tuhan melarang mencuri, tetapi ada politikus dan birokrat Kristen dengan tanpa malu-malu dan takut kepada Tuhan kemudian mencuri uang yang menjadi hak rakyat.

Hasil curian para politikus yang agamais itu kemudian didermakan dan atau diamalkan kembali kepada rakyat pada waktu reses ataupun kampanye pemilu, supaya politikus bandit dan politikus busuk itu dipilih lagi dalam pemilu berikutnya.

Pilar Korupsi

Berbagai kasus koruspi yang melibatkan para politikus di PKS, Partai Demokrat, Partai Golkar, PDI Perjuangan, PPP, PAN, dan PKB, baik yang sudah divonis maupun yang masih dalam proses pantauan, penyelidikan, penyidikan, dan persidangan tampaknya telah menjungkirbalikkan teori tentang partai politik sebagai pilar demokrasi.

Selama 15 tahun reformasi, partai-partai politik di Indonesia sudah berubah menjadi pilar korupsi. Inilah “prestasi” paling signifikan dari reformasi politik, yang dibangga-banggakan oleh para politikus di Senayan.

Mereka telah merusak tatanan demokrasi Pancasila yang tidak mengenal partai politik sebagai pilar korupsi. Ini sama dengan pengkhianatan nyata oleh rezim reformasi terhadap Pancasila yang merupakan dasar negara, tetapi telah diubah menjadi pilar bangsa, yang kini sudah menjadi “proyek” MPR. Mudah-mudahan dalam pelaksanaan proyek itu tidak ada godaan untuk melakukan korupsi.

Coba Anda bayangkan, apa jadinya Republik ini ke depan kalau partai-partai yang sudah menjadi pilar korupsi itu kembali berkuasa setelah Pemilu 2014? Apa pula jadinya kalau pemilu presiden 2014 akan menghasilkan seorang presiden yang bersemboyan, misalnya, “Katakan tidak kepada Korupsi”, tetapi lemah dalam praktik hukum pemberantasan korupsi sehingga yang terjadi adalah “Lanjutkan Korupsi!?” Saya tidak bisa membayangkan Republik ini akan selamat, kalau ditopang oleh partai-partai politik sebagai pilar korupsi. So pasti pilar itu akan keropos dan cepat atau lambat Republik ini akan runtuh.

Lantas apa solusinya? Sebagai rakyat jelata, saya serahkan kepada sesama rakyat, sang pemilik kedaulatan pada pemilu 2014 untuk dengan bebas menggunakan hak politiknya. Saya juga tidak menganjurkan orang untuk golput.

Terserah padamu, mau pilih partai yang menjadi pilar korupsi atau apa. Yang jelas, hasil yang akan kita dapat hanyalah partai dan pemimpin yang minus malu. Mau tidak mau, ya terima saja dengan segala konsekuensinya yang akan terjadi, karena bagaimanapun negara ini harus tetap jalan. (Sumber : Sinar Harapan, , 6 Februari 2013)

Tentang penulis:
Peter Lewuk, peneliti senior The Adam Malik Center.

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,486,158 hits
Februari 2013
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: