Memaknai Jalan Layang

Oleh Sudharto P Hadi

Sebentar lagi kita bisa menikmati fly over Kalibanteng. Warga Semarang yang tinggal di wilayah barat, termasuk pengendara dari arah tersebut pasti akan merasakan manfaat kehadiran jalan itu. Mereka tak lagi harus menunggu antrean panjang traffic light di persimpangan terpadat di kota ini.

Di balik kelegaan itu, sesungguhnya kehadiran jalan layang merupakan warning bahwa kemacetan di Kota Lunpia menunjukkan tingkat serius. Ruas jalan langganan macet yang lain di antaranya turunan Gombel di Jatingaleh, Pedurungan, dan Genuk.

Keparahan kemacetan berbanding lurus dengan tingkat polusi. Jakarta misalnya, dalam setahun hanya memiliki 22 hari yang kualitas udaranya tergolong baik. Kadar pencemar udara di Ibu Kota mencapai 36 kali lipat standar WHO.

Beberapa parameter pencemaran udara di tiga simpul kemacetan Semarang ditambah dengan Jalan Pandanaran, A Yani, dan Jalan Brigjen Soediarto juga telah melebihi ambang batas. ’’Virus’’ jalan layang bukan tidak mungkin akan merembet di ruas-ruas padat tersebut.

Kita akui dalam jangka pendek jalan layang mampu mengurai kemacetan di sebuah simpul. Namun jika pertumbuhan kendaraan bermotor tak dikendalikan dan warga kota masih mengandalkan kendaraan pribadi maka daya tampung jalan layang akan terlampaui dan publik tak bisa menghindari kemacetan baru.

Sejauh ini, upaya Pemkot meningkatkan transportasi publik baru sebatas pengoperasian bus rapid transit (BRT) di dua koridor, yaitu Mangkang-Pedurungan dan Terboyo-Sisemut Ungaran. Sudah saatnya mengevaluasi BRT koridor 1 yang sudah berjalan sekitar tiga tahun dan koridor 2 yang belum genap setahun.

Busway di Jakarta yang menyita ruas jalan kendaraan umum dan malah bikin macet, hanya mampu menarik penumpang dari pengguna kendaraan pribadi 7%. Sebagian besar penumpang Trans Jakarta adalah peralihan pengguna bis reguler.

Bandingkan dengan Metro (sky train) di Bangkok yang mampu mengalihkan pengguna kendaraan pribadi sampai 35%. Persentase ini cukup signifikan karena pengadaan transportasi publik bertujuan mengatasi kemacetan lalu lintas melalui pengurangan jumlah kendaraan pribadi.

Sesungguhnya, pembangunan pedestrian di Jalan Pahlawan, Imam Bardjo, Gadjah Mada, Pandanaran, A Yani, dan Jalan Pemuda merupakan salah satu komponen dari environmentally sustainable transportation atau transportasi berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

Trotoar yang luas dan rapi diharapkan mendorong warga kota untuk berjalan kaki. Dari pengamatan selintas, trotoar lebih banyak dinikmati sebagai tempat nongkrong. Penertiban PKL dan penghijauan di sepanjang pedestrian rasanya perlu segera dilakukan. Jalur sepeda yang sudah dibuat di Jalan Pahlawan dan Pandanaran tampak tidak efektif dan optimal.

Tanpa Wajah

Jalur sepeda di Jalan Pahlawan dan Pandanaran sudah beralih fungsi sebagai tempat parkir, sehingga pesepeda harus beralih ke tengah dan membuat mereka merasa tak aman. Kondisi ini diperburuk dengan kelakuan pengendara motor dan pengemudi mobil yang umumnya tidak ramah dengan pesepeda.

Car free day bertujuan menata transportasi ramah lingkungan. Namun sejauh ini tidak lebih sebagai ajang rekreasi seperti pentas musik, drum band, senam, sepatu roda, bersepeda, bermain bola, kuliner dan media promosi. Se-mentara, beban kemacetan dan polusi beralih ke jalan dan gang sekitar lokasi car free day.

Seandainya, ratusan pese-peda pada car free day tiap Minggu pagi itu menggunakan sepeda secara fungsional untuk bekerja, sekolah, atau keperluan lain di jalur sepeda, sungguh kontribusi mereka mengurangi kemacetan dan pencemaran udara sangat bermakna.

Andai juga jumlah angkutan umum di kota ini memadai maka kita juga bisa mencegah penyebaran ’’virus’’ jalan layang. Kota yang penuh jalan layang dan jalan tol, seperti Los Angeles, Bangkok, dan Jakarta akan terlihat faceless atau tanpa wajah. Inginkah kota Semarang seperti itu?. (Sumber: Suara Merdeka, 21 Januari 2013)

Tentang penulis:
Sudharto P Hadi, dosen Manajemen Lingkungan Universitas Diponegoro, anggota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,435,127 hits
Januari 2013
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: