Solusi Pengangguran di Jateng

Oleh Abdul Muid Badrun

“Di SBM ITB, mahasiswa mendapat kesempatan mengajukan proposal studi kelayakan bisnis kepada perbankan”

Masalah pengangguran tidak saja menjadi isu daerah namun telah menjadi isu nasional. Pasalnya, bila angka pengangguran makin meningkat bisa mengancam stabilitas keamanan. Orang menganggur, lapar, dan tidak punya uang, akan dengan mudah berpikir praktis pragmatis untuk melakukan apa dan dengan cara apa saja asal bisa makan. Inilah yang membahayakan.

Hingga saat ini, jumlah penganggur di Jateng dan DIY sudah 10 juta orang dengan indeks kemiskinan 15%, di atas indeks nasional kemiskinan yang angkanya 10,5% (KR, 29/05/12). Ini menunjukkan risiko peningkatan angka kriminalitas jika masalah ini tidak segera diatasi.

Setidaknya ada dua solusi yang bisa dilakukan. Pertama; memperbanyak kurikulum kewirausahaan di perguruan tinggi. Sejauh ini, berdasarkan amatan saya, sudah banyak perguruan tinggi menerapkannya, antara lain Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang mengubah mata kuliah Kewiraan menjadi Kewirausahaan. Semua fakultas di PTS itu wajib mengambil mata kuliah ini.

Di Amikom dan STIE Widya Wiwaha Yogyakarta, Kewirausahaan juga menjadi mata kuliah wajib. Saya kira, banyak perguruan tinggi lain di Yogyakarta akan mengambil sikap serupa mengingat kewirausahaan dipandang sebagai salah satu alternatif jawaban akan tingginya angka pengangguran terdidik.

Sayang, kita sering terjebak pada pemahaman dan logika sederhana. Bahwa, dengan mengajarkan kewirausahaan pada mahasiswa maka dengan sendirinya mentalitas wirausaha (entrepreneur mentality) terbentuk.

Kita tidak pernah berpikir, bagaimana langkah konkret selanjutnya. Inilah salah satu kelemahan pada beberapa perguruan tinggi yang mengajarkan mata kuliah itu.

Padahal, substansi kewirausahaan adalah praktik, bukan teori. Ketika orang sudah menjalani usaha maka dengan sendirinya akan tahu bagaimana kewirausahaan (usaha atau bisnis tersebut) berjalan. Di sinilah muncul prinsip street smart (cerdas di jalan) dan learning by doing (belajar sambil bekerja). Dua prinsip tersebut berbeda dari banyak teori yang ada.

Praktik Langsung

Kedua; perlu tindak lanjut program itu mengingat selama ini pendidikan kewirausahaan cenderung tidak produktif. Mengapa? Banyak pendidikan kewirausahaan dilakukan oleh banyak perguruan tinggi namun masih sebatas transfer of knowledge alias sama dengan mengisi celengan kosong tapi bocor. Hari ini diisi, besok lupa lagi, dan ini telah berlangsung lama dan terus-menerus.

Tak ada salahnya perguruan tinggi di Jateng dan DIY belajar dari kesuksesan Program MBA School of Business and Management (SBM) ITB Bandung. Di SBM ITB, mahasiswa mendapat kesempatan mengajukan proposal studi kelayakan bisnis (SKB) kepada perbankan yang sebelumnya menjalin kerja sama. Proposal ini dikompetisikan antarmahasiswa. Jika layak, bank memberi pinjaman modal untuk membuka usaha sesuai dengan proposal. Agunannya berupa aset mahasiswa seperti HP, laptop, motor, mobil, atau barang-barang berharga lainnya.

Dengan cara itu, mahasiswa tertantang praktik langsung di lapangan dengan membuktikan ide dan gagasan yang diusulkan. Keberhasilan dan kegagalan di kemudian hari menjadi tanggung jawab mahasiswa. Inilah bentuk latihan tanggung jawab dan kemandirian mahasiswa yang mesti dilakukan oleh perguruan tinggi.

Praktikum kewirausahaan seperti itu mampu membekali dan melatih mahasiswa untuk berpikir dan bertindak kreatif produktif, mampu bekerja sama, belajar memimpin, dan makin berani mencoba. Inilah salah satu prinsip dasar wirausaha sehingga setelah menjadi sarjana ia tidak akan takut tidak mendapatkan pekerjaan. Bahkan, mampu memimpin dirinya menjadi pribadi yang punya semangat dan produktif. (Sumber: Suara Merdeka, 19 Juli 2012).

Tentang penulis:
Abdul Muid Badrun, warga Solo, dosen, konsultan bisnis dan motivator entrepreneur, alumnus Pesantren Al-Amin Mranggen Demak.

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,480,203 hits
Juli 2012
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: